Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Pengalaman dahulu


__ADS_3

Opik datang ke villa vian ingin menanyakan mau makan malam keluar atau mau dibelikan.


" pak maaf mengganggu, mau makan malam dimana." kata opik


" saya mau istirahat pik, jadi minta tolong kamu belikan saja ya saya mau makan nasi goreng. siapkan juga jagung sama daging untuk BBQ, kita makan malam bersama disini aja." jawab vian lalu menyerahkan uang kepada opik.


" baik pak kalau begitu." jawab opik. Lalu dia pergi untuk membeli makanan.


" mas mau dipijit lagi." kata bella


" enggak ah, nanti kamu minta macam macam." canda vian, lalu menyalakan rokoknya dan meminta diambilkan kopi kemasan di kulkas.


" ih, mas juga kan menikmatinya." kata bella, sambil membawa kopi yang diminta vian, setelah minum kopi vian pun menghisap rokoknya kembali. Setelah sholat magrib vian dan yang lainnya berkumpul di dekat villa disana pak dede dan putra sudah membuat panggangan untuk membakar jagung dan daging. Tak lama opik membawa makanan, mereka pun makan bersama dengan tambahan daging BBQ sambil mengobrol dan becanda.


" pik kamu dan isteri udah buat pasport belum." kata vian


" sudah pak, katanya minggu ini jadi." kata opik


" terus nanti anak anak sama siapa selama kamu pergi umroh." kata vian


" sama nenek dan kakeknya pak." jawab opik


" jadi udah aman anak anak ya." kata vian


" iya pak, mudah mudahan tidak ada halangan." kata opik


" oh iya putra, kelengkapan persyaratan untuk membuat pasport kamu udah siap belum." kata vian


" sudah ada pak, kemarin orang tua kirim melalui paket ke rumah bapak." kata putra


" haris juga sudah." kata vian


" sudah pak, kemarin hampir berbarengan sama saya." kata putra


" mungkin kita 3 hari lagi ke kantor imigrasinya, saya sudah minta bantuan pak bambang." kata vian


" pik, kamu juga harus bisa mendelegasikan kerjaan kamu ya, jangan sampai kamu pergi kerjaan berantakan." kata vian


" sudah pak sedikit sedikit, dan saya juga sudah koordinasikan sama tim LA." kata opik


" bagus itu pik, kalau pak dede gimana L-Trans sudah dikondisikan juga." kata vian


" sudah pak. Saya sudah koordinasikan juga sama tim, saya enggak mau keganggu urusan kerjaan nantinya, saya mau fokus ibadah aja." kata pak dede


" tumben pak dede ngomongin ibadah, saya salut deh." kata opik


" maklum faktor usia, yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita memperbaikinya. Mumpung ada kesempatan harus dimanfaatkan lebih baik lagi." kata pak dede

__ADS_1


" oh iya pak dede, yang akan berangkat kan kurang lebih 70 orang nih, sekitaran rumah ada hotel enggak ya, supaya nanti kita bisa berbarengan ke bandaranya, soalnya mess kan belum jadi." kata vian


" ada pak, nanti saya kan koordinasikan." kata pak dede


" kalau opik bisa di rumah saya, untuk distributor LNI khususnya yang akan menginap di hotel, nanti siapkan juga untuk kendaraannya, shin kamu nanti koordinasikan sama tim LNI ya." kata vian


" baik pak, saya nanti koordinasikan sama tim LNI." kata shinta


" saya kasih tugas ini ke kalian, soalnya saya minggu depan akan ke surabaya sama pak daryat untuk menyelesaikan pekerjaan pembangunan perumahan disana." kata vian


" L-Pro mau buka perumahan disana juga pak." kata opik


" iya pik, lumayan kan buat beli susu anak." kata vian


" itu banyak pak, apa perlu saya angkut ke rumah," kata pak dede sambil nunjuk ke kandang sapi. Mereka pun tertawa bersama


" boleh tuh, supaya bella bisa nyusu sapi." kata vian ketawa


" enak aja, mas kali yang suka nyusu." kata bella,


mereka pun selesai makan dan lanjut mengobrol.


" pik, kalau untuk mesin mesin pengolahan bagaimana." kata vian


" itu sudah di pesan sama tim pak. tim juga sedang menghitung berapa tenaga kerja yang dibutuhkan." kata opik


" bagus kalau sudah berjalan, anggarannya bagaimana." kata vian


" aamiin." jawab mereka


" selain proyek pabrik ini, rencana bapak mau apalagi." kata opik


" saya belum tau, seperti biasa ngalir aja, resort di bali aja belum saya optimalkan." kata vian


" habisnya yang mengelolanya bapak tarik ke jakarta." kata pak dede


" siapa gitu pak de." kata shinta


" itu ibu astrid kan dari sana, jadi kalau kamu ke KUA sama pak vian kamu urus aja dulu resort di Bali. Kamu mau." kata pak dede


" mau aja kalau benar bisa ke KUA lewat sana." kata shinta


" wah put, kamu kalah langkah lagi.. Masa pak vian duluan." kata pak dede


" wah pak.. Kasihani kami para jomblo." kata putra. Mereka yang ada disana pun tertawa


" makanya berani dong." kata vian

__ADS_1


" sudah pak, tapi kondisi tidak memungkinkan gimana." kata putra


" saya tidak akan melarang karyawan saya buka usaha lain selagi usahanya tidak mengganggu pekerjaan, yang jelas bisnis juga harus punya etika, ngerti kan." kata vian


" iya pak mengerti, saya enggak mungkin punya usaha seperti bapak palingan saya akan jadi distributor produk bapak." kata putra


" pintar kamu, etika tidak hanya dalam pergaulan tapi dalam bisnis pun harus beretika. Mengapa karyawan berlaku curang karena pimpinannya tidak bisa memberikan apa yang mereka mau, memang perusahaan tidak bisa memenuhi semua keinginan karyawan tapi setidaknya perusahaan harus bisa mengerti apa yang sedang dialami karyawannya." kata vian


" persis seperti yang kita alami waktu itu, makanya karyawan perusahaan dulu banyak pindah ke perusahaan Livi." kata pak dede


" kalau gitu karyawan livi karyawan buangan dong ya." kata opik


" tapi mereka sekarang merasakan sebagai manusia pak, mereka diberi kebebasan untuk mengaktualisasi kemampuannya, bukan di kekang." kata pak dede


" betul itu. Buktinya pak dede bisa jadi pemegang saham dan menjadi direktur utama." kata opik


" iya pik, dulu saya hanya sopir, padahal dulu juga saya kasih usulan yang sama ke perusahaan itu." kata pak dede


" karena pendapat pak dede didengarkan, bukan meminta pendapat orang lain tapi pendapat itu cuma hiasan aja." kata opik


" hanya disini saya merasa dihargai sebagai orang, pak vian tidak pernah melihat pendapat itu muncul dari siapa yang penting bisa menghasilkan, pendapat itu akan dilakukan." kata pak dede


" orang berpendidikan belum tentu bisa lebih baik dari orang yang enggak berpendidikan, apalagi orang itu suka mencari muka. Kalau difikir fikir ngapain kerja ya kalau mau cari muka, tinghal beli cermin aja." kata opik sambil tertawa, yang lain pun ikut tertawa.


" orang yang cari muka malah dipake, kita jadi tumbal orang yang suka cari muka itu." kata pak dede tertawa lagi.


" tapi kita bersyukur juga jadi tumbal, kalau gak kita mana bisa jadi direktur utama." kata opik


" iya kita harus berterima kasih ya pada mereka, saya mana mungkin bisa livi group dan isteri 3." kata vian.


" gimana ya nasib mereka orangborang yang suka cari muka itu, apa dia udah jadi direktur." kata pak dede


" mereka tau enggak ya, kita seperti apa setelah kita jadi tumbal mereka itu." kata opik


" pernah ada yang hubungi saya, mereka mau meminjam dana ke BLS, tapi saya suruh tolak aja. Saya suruh mereka kasih penjelasan ke mereka bahwa BLS tidak sanggup untuk memberikan dana ke perusahaan besar." kata vian


" bagus itu pak, karena dari dulu perusahaan itu kan digadang gadang perusahaan besar," kata opik


" jadikan pengalaman dahulu kita menjadi pelajaran jangan sampai kita juga melakukan hal yang sama seperti itu." kata vian


" mana mungkin kita bisa ketawa dan ngobrol bersama seperti ini tanpa ada kebohongan dibalik itu semua. Dulu memang bisa ketawa bersama sama bos, tapi di belakangnya siap siap jadi tumbal." kata pak dede


" jadi pak dede sama pak opik juga dulu kerja di investama." kata bella


" bukan di investama, tapi di perusahaan SO sebelum pak vian di investama," kata pak dede


" oh, dikira di investama." kata bella

__ADS_1


" walau sebentar di investama tapi dapat hasil devan dan de qinar." kata pak dede


mereka pun mengobrol sambil makan jagung bakar dan minum kopi. Menikmati suasana sambil merokok, mereka mengobrol tidak terlihat seperti atasan dan bawahan.


__ADS_2