Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Kunjungan Pak Menteri 6


__ADS_3

" ada lagi yang mau disampaikan. Ini kita jadikan pelajaran buat kita semua." kata pak menteri pendidikan


" saya mungkin baru mengenal keluarga om vian, disini kita mengambil hikmah atau pelajaran dari itu semua, selama saya mengenal om vian dan keluarga, saya banyak belajar dan pelajaran ini tidak akan didapatkan dimanapun walaupun saya sekolah diluar enggak saya dapatkan pelajaran ini, saya dulu berencana mengembangkan karir diluar, sampai akhirnya papah dan ibu mengenalkan saya sama keluarga pak vian, ibu bilang kamu akan kaget kalau nanti sudah kenal sama keluarga om vian, waktu itusaya dan adik diajak sama papah untuk silaturahmi ke rumah om vian, saya merasakan kekeluargaan, kebersamaan disana, jujur saja waktu itu saya kok nyaman ya ada disini, obrolannya pun santai sambil becanda tapi ada hasil dari semua itu, kak ika menanyakan masalah usahanya, om vian pun menjelaskan dengan santai sambil makan jagung bakar saya jadinya tertarik dan sampai saat ini saya betah tinggal disana, jadi dari obrolan pun bisa menghasilkan seauatu kalau kita benar benar bisa menyikapinya tentunya balik lagi gimana pergaulan kita, kalau kita hanya ngobrolin hanya seputar percintaan ya mungkin enggak akan ada hasil apa apa, tapi kalau kita ngobrol berdiskusi masalah ilmu yang kita dapatkan kita akan mendapatkan bertambahnya ilmu itu, kita harus baik terhadap sesama iya itu harus karena kita akan merasa aman dimanapun, saya mendengar bahwa orang bersedia mengorbankan nyawanya untuk membantu om vian. Coba kalau kita berbuat jahat jangan mengorbankan jiwanya, mereka akan mendorong kita supaya kita celaka, jadi disini saya bilang pintar pintarlah kalian dalam bergaul dan mencari teman, belajarlah lebih giat dan rajin. Ah kakak bisa bilang begitu karena kakak anak seorang menteri? mungkin iya karena kakak ada kesempatan disana tapi jujur itu menjadi beban dan saya belajar diluar juga sekalian bekerja, jadi saya merasakan bagaimana susahnya cari uang, hidup di negeri orang, jauh dari orangtua, kalau ada orang tua mau makan tinggal makan, ayo kita bangun masa depan kita sendiri, hargai kehidupan kita ini jangan sia siakan. Terimakasih.." kata anisa


" dari yang kakak kakak kalian bilang, kalian harus bisa bergaul dengan baik jangan sampai terbawa pergaulan yang enggak benar, kehidupan masa depan kalian ada dipundak kalian sendiri, belajarlah dengan rajin, berbuatlah sekecil apapun kebaikan, kita bisa dihargai kalau kita juga bisa menghargai orang lain." kata pak menteri pendidikan


" ada enggak nih kenang kenangan untuk adik adik atau bapak dan ibu guru disini dari kalian, atau ada dari bapak ibu atau adik adik yang ingin bertanya pada kakak kakak ini." kata pak gubernur


" perkenalkan saya ibu sofie saya guru bahasa disini, tadi pak vian sudah mengatakan bahwa SPI ini bergerak dibidang pakaian muslim dan muslimah, kalau boleh gau pabriknya dimana, pemasarannya bagaimana dan sudah kemana saja." kata ibu sofie


" pabrik kita ada di KBB ini dikawasan industri, untuk pemasaran kita melalui jalur distribusi dengan sistem distributor dan keagenan untuk offlinenya dan kita juga ada toko online, alhamdulillah produk kita sudah hampir ada di seluruh indonesia ini dan kita juga ada di negara tetangga." kata ika


" ini kenang kenangan dari kami bu." kata amira lalu membagikan paparbag berisi produk SPI, mereka pun membagikan kepada guru guru lainnya dan sebagian siswi


" bapak ibu dan anak anak sekalian karena sudah siang, kami izin pamit dulu, semoga dilain waktu kita bisa bertemu kembali." kata pak menteri pendidikan


" bapak sekarang mau kemana?" kata kepala dinas


" saya mau berkunjung ke kampungnya pak vian dulu." kata pak menteri pendidikan


" terimakasih pak atas kunjungannya ke sekolah kami." kata kepala sekolah dan guru guru lainnya. Vian dan yang lainnya pun pamitan dan kembali ke villa untuk makan siang, ibu athia ikut sama pak gubernur sedangkan ibu nurlaela dan ibu kayla ikut ke minibus, di dalam minibus shinta dan yang lainnya makan snack karena sudah lapar. Jam 12.27 menit mereka sampai di villa. Vian memperkenalkan kakek dan neneknya ke pak menteri.


" benar benar asyiiik nih, suasananya enak bener." kata anisa dan yang lainnya. Lily menyuruh mirna untuk menyiapkan makan siang dan menghidangkan makanan yang dibeli ika, setelah itu vian mengajak semuanya untuk makan siang terlebih dahulu.


" ibu, rujak ada kan." kata shinta


" ada nak, kamu makan aja dulu ya." kata bu ningsih

__ADS_1


" asyiiik, makasih ya bu." kata shinta


" buat aku juga ada kan bu, masa buat shinta aja." kata lily


" tentu ada dong... Semuanya pasti kebagian." kata bu ningsih


" makasih ya bu, ibu memang mertua aku yang baik." kata lily manja


" nah ini buat cucu nenek, pasti aa suka." kata bu ningsih


" apa nek, wah udang goreng aa suka banget, makasih ya nek." kata devan


" mau.... Mau...." kata de qinar


" iya sayang buat de qinar juga ada, akbar juga ada." kata bu ningsih


" nek enak banget ini, sama kaya masakan papah, tapi levih enak buatan papah sih." kata devan


" terimakasih atas kunjungan pak menteri ke kampung sini. Biasanya saya cuma melihat bapak di televisi, eh sekarang bertemu langsung" kata pak hardian


" sama sama pak, terimakasih udah nerima kami nih." kata pak menteri pendidikan


" kalian kok enggak makan." kata bu ningsih


" enggak bu, kita sebelum kesini kita makan dulu, makanya itu kita beli di tempat biasa kita makan." kata ika


" iya udah kalian istirahat aja di kamar atas, kalian bertumpuk aja ya, ada kasur tambahan kan." kata bu ningsih

__ADS_1


" iya bu terimakasih banyak, enggak apa apa biar hangat." kata silvi


" a nanti bakar bakar ya, pasti seru." kata ika


" iya udah disiapkan kok, kalau kurang nanti aa suruh opik kirim kesini." kata vian. Mereka pun makan siang dengan lahapnya. Selesai makan vian pun pergi keluar dan menyuruh para ajudan untuk makan, vian menyuruh mirna menyiapkan makan untuk mereka. Vian menyalakan rokoknya sambil minum jus strowbery.


" terimakasih banyak pak." kata mereka. Vian pun menelepon opik supaya mengantarkan jagung dan yang lainnya dikirim ke kampung. Para anak muda langsung berphoto ria


" kak ika enak banget disini, masih alami." kata anisa


" kita bisa bikin konten nih, gadis desa, nanti kita buat photo dan video di sawah sana, tuh ada saung." kata silvi


" sejuk banget, segar deh jadinya fresh fikiran." kata ibu citra


" iya bu, disinilah cikal bakal si aa, de qinar, de alea dan bayi dikandungan shinta." kata lily


" kok bisa gitu." kata bu citra


" enggak tau juga bu, tapi itu kejadian, pulang dari sini saya hamil aa dan de qinar, astrid, dilla dan shinta pun sama." kata lily


" jangan jangan pulang disini de qinar bakalan punya adik lagi dong." kata ibu citra


" enggak bu, kan udah ada shinta, dan enggak kefikiran aja." kata lily


" kayanya nazwa yang akan punya adik pulang dari sini." kata astrid


" pengen sih bu biar enggak sepi di rumah, nazwa pun udah besar," kata bu citra

__ADS_1


" memang enak suasananya saya suka alami banget." kata bu kayla


selesai makan mereka langsung makan rujak, sambil becanda becanda.


__ADS_2