
Pak gubernur mengajak vian untuk melihat lihat keluar kantor camat, setelah berkeliling dan pak gubernur sedang bicara dengan timnya, vian meminta diambilkan kopi kemasan kepada shinta, lalu vian pergi untuk merokok ke tempat yang sedikit jauh dari pak gubernur , vian meminum kopi kemasan yang diberikan shinta lalu menghisap rokoknya, shinta mengikuti vian.
" shin nanti kamu beli handphone ya buat urusan kantor sama nomornya yang bagus, kamu juga buat kartu nama livi group, buat saya dan kamu. nanti nomornya saya berikan, kamu minta ke bella untuk dibuatkan design kartu namanya, kasih logonya ke dia." kata vian
" iya pak, nanti saya beli handphonenya." kata shinta
" hubungi pak opik, beri tau dia bahwa kita akan kesana." kata vian
" baik pak." kata shinta
tak lama pak gubernur mengajak untuk pergi ke peternakan dan perkebunan. 37 menit perjalanan mereka tiba di peternakan, vian dan pak gubernur pun mengobrol dengan pemilik peternakan, vian juga meminta nomor kontak pemilik peternakan dan memberikan nomor kontak opik. Selesai dari sana mereka ke tempat perkebunan, setelah melihat lihat dan karena sudah sore mereka kembali ke kantor kecamatan.
" pak vian mau menginap dimana." kata pak gubernur
" saya ke villa di KBB saja pak." kata vian
" oke kalau begitu, besok kita bertemu di kantor gubernur saja ya biar sama sama kesananya, jam 7an." kata pak gubernur, dia langsung minta timnya untuk meminta pengawalan vian ke villa di pabrik LA.
" nanti akan ada patwal yang akan menunjukan jalan tercepat ke sana pak." kata pak gubernur
" terimakasih banyak pak." kata vian, dia pun berpamitan, vian pun pergi dengan pengawalan ke villa di pabrik LA.
" shin beri tau opik, tolong belikan makanan untuk makan malam." kata vian
" oke pak." kata shinta
setelah menempuh perjalanan 1 jam 20 menit mereka sampai di villa, vian mengucapkan terimakasih kepada anggota patwal dan memberikan uang. Vian juga meminta mereka untuk istirahat terlebih dahulu tapi mereka menolaknya, mereka pun pergi.
Vian menyuruh pak dede untuk membeli rokok dia, pak dede dan putra, vian pun memberikan uang kepada pak dede. Vian dan shinta membawa tas mereka pergi ke villa setelah dikasih kunci sama satpam yang di titipkan opik kepadanya. setelah masuk vian duduk di sofa menyalakan televisi dan menyalakan rokoknya. Shinta menutup Gorden.
" aa mau dibuatkan kopi." kata shinta
" boleh. Terimakasih ya." kata vian, shinta pun memanaskan air lalu membuat kopi dan membawanya ke vian. Dia pun duduk di sebelah vian
" aa mau mandi sekarang atau mau istirahat dulu." kata shinta, dia pun mengambil tas vian dan membawanya ke kamar dan mengambil baju tidur dan baju untuk besok dipakai
" istirahat dulu, kamu aja dulu." kata vian
__ADS_1
" enggak ah, aku mau bareng sama aa." kata shinta sambil merapihkan bajunya. Setelah itu duduk disebelah dan menyandarkan tubuhnya ke vian.
" pak... Pak... Pak, ini rokoknya." kata pak dede di luar, vian pun bangkit lalu menyuruh shinta ke kamar mandi untuk mengisi bathub, setelah itu membuka pintu villa.
" terimakasih pak de." kata vian sambil mengambil rokoknya lalu masuk kembali dan pergi ke kamar mandi. Shinta sudah berendam sambil memejamkan matanya. Mendengar vuan masuk ke kamar mandi dia pun membuka matanya.
" aa cape ya, sini aku sambil pijitin." kata shinta, vian pun masuk ke bathub lalu berendam, shinta pun memijit punggung vian
" kamu juga cape sayang." kata vian
" enggak apa apa àa, aku seneng kok bisa ngurus aa." kata shinta, setelah kurang lebih 5 menitan shinta memijit, vian menyuruh shinta untuk berhenti memijit dan menarik dia supaya duduk di depan vian, sambil berendam vian memeluk shinta, shinta pun memberikan ciuman setelah itu membimbing tangan vian supaya memegang bukit kembarnya membangkitkan gairah, permainan pun dimulai, mereka pun mendapatkan puncak bersama, setelah itu vian mengajak shinta mandi saling menyabuni lalu membersihkan tubuh mereka. Setelah selesai Vian berganti pakaian yang sudah disiapkan shinta. Lalu pergi ke depan villa sambil membawa kopi lalu duduk di kursi, vian pun menyalakan rokoknya. Tak lama opik datang membawa makanan.
" pak mau makan dimana." tanya opik
" di saung itu aja pik, kita makan bareng." kata vian, vian memanggil shinta untuk makan, mereka pun makan malam bersama.
" besok kita kemana pak." tanya pak dede
" besok ke daerah PA, jam 7an kita harus ada di kantor gubernur." kata vian
" siap pak, kita main di pantai put." kata pak dede
" udang dan bawal aja sih pak yang sudah kita jalanin, tapi kalau memang ada ikan lain dan kira kira bisa rutin ada oke aja." kata opik
" shin ingetin saya ya." kata vian
" baik pak." kata shinta
" oh iya pik, pasport kamu dibawa enggak." kata vian
" ada pak di mobil, tadi saya pulang dulu mengambilnya." kata opik
" iya udah nanti kasih shinta aja." kata vian
" siap pak, mau bakar jagung pak biar saya suruh disiapkan." kata opik
" boleh pik, terimakasih." kata vian
__ADS_1
selesai makan opik pun pergi ke depan memberitahukan karyawan disana lalu mengambil pasport, setelah kembali dia menyerahkannya ke shinta, shinta pun pergi menyimpan pasport opik ke kamar.
" pik nanti kamu follow up pemilik peternakan di daerah P ya," kata vian
" baik pak. Mau dibuatkan susu pak." kata opik
" boleh, sama yang lainnya." kata vian
" putra katanya mau langsung dari sapinya pak." kata pak dede
" udah sana put, biar kamu cepet gede." kata vian tertawa
" berapa orang yang akan berangkat umroh pak." kata opik
" kayanya lebih dari 100 orang, soalnya dari surabaya aja nambah 10 orang, orang tua temen temennya bella, tambah pak gubernur L sama keluarganya." kata vian
" ini perjalan umroh bersama para pejabat dong ya." kata pak dede
" memangnya siapa aja gitu pak de." kata opik
" itu pak bambang, pak gubernur B, pak Gubernur L, Pak gubernur D, Pak Bupati KBB." kata pak dede
" nanti kamu gantian gendong si aa sama haris, put." kat vian
" siap pak," kata putra
" akhirnya kita kesampaian umroh bareng ya, walaupun dulu kita ngobrol sambil becanda." kata opik
" kalau Allah menghendaki, dan melalui tangan pak vian kita bisa berangkat, inget dulu si ari sopir, pak vian kok merokoknya banyak banget padahal baru tadi saya lihat bapak buka rokok sekarang udah habis lagi, kata pak vian terus rokok yang kamu hisap dari bungkusan mana, dia bengong, terus dia bilang iya ya berarti pak vian tiap hari ngasih saya lebih dari 10 ribu." kata pak dede
" kangen juga ya masa masa itu, saya salut sih mah pak vian, dia merintis usaha dari nol dan beliau uni enggak lupa sama teman teman dulu, coba kalau enggak ada pak vian, kita nih mana mungkin kebeli rumah, beliau enggak dendaman kalau memang enggak benar benar nyinggung dan ngutik keluarga, jadi penyambung karyawan ke direksi, tempat curhat, bahkan jadi kambing hitam karyawan." kata opik
" kamu inget enggak pik yang waktu itu kita lagi breefing pagi, pak vian ngadat ke sekretaris karena dia ngeluarin Surat peringat ke Cindy yang sekarang di LNI dan sekretaris bilang ke anak anak bahwa dia bisa mecat karyawan, terus akhirnya pak vian di pindah ke gudang dan tak lama direksi pada nyamperin minta solusi ke pak vian." kata pak dede
" saya kaget tuh pak vian ngadatnya luar biasa, mungkin kalau bukan cewek bisa bisa dihajar ya." kata opik
" apalagi saya pik waktu itu baru berapa bulan kerja disana, pantes aja ya preman sini takut." kata pak dede
__ADS_1
" iya jelas jelas dia yang katanya membuat peraturan perusahaan tapi dia enggak baca, masa mengeluarkan SP1 dirut, kan udah jelas SP1, SP2 itu kewenangannya Manager, kalau sudah ada rekomendasi dari manager untuk mengeluarkan SP3 baru Dirut yang tanda tangan, pas ke gudang dirut saya tanya, bapak yang tandatangan ini, dia bilang enggak, walaupun itu bukan langsung orang yang bersangkutan yang tandatangan tapi pakai file tandatangan itu harus seijin yang punya tandatangan. Di tanya plin plan iya udah sikat." kata vian
Mereka pun mengobrol, bernostalgia dimana dulu mereka berjuang bersama.