Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Saya berusaha menjadi orang baik


__ADS_3

Vian dan Endris mengobrol di teras depan sambil mengenang masa lalu, jam 7.45 menit shinta datang.


" selamat pagi pak." kata shinta


" pagi juga, oh iya shin, minggu depan saya ada acara enggak ya, saya jadi kefikiran ke pabrik LNI yang di karawang saya sudah lama banget enggak kesana." kata vian


" yang saya tau enggak ada pak kalau urusan kantor tapi bukannya bapak sama ibu mau pergi membeli perlengkapan umroh ya." kata shinta


" tolong kamu jadwalkan aja, kasih tau hendra ya." kata vian


" baik pak." kata shinta


" papah disini, eh kamu shin sudah datang." kata lily


" iya bu." kata shinta


" pah, pak endris, shin kita sarapan dulu. Yang lain udah nunggu." ajak lily. Mereka pun masuk untuk sarapan, mereka pun sarapan bareng.


" pah jam berapa orang dari travel mau datangnya." kata lily


" jam 9an katanya." kata vian


" kalau mereka bawa perlengkapan semua kesini mau disimpan dimana pah." kata lily


" paling di paviliun dulu mah, kita enggak tempat lain." kata vian


" iya sudah kalau begitu, berarti indra harus beresin disana." kata lily


" kita juga perlu tambahan orang lagi buat yang bantu beresin mess dan kamar tamu." kata vian


" bi narsih, marni, evi, lilis, jika kalian ada saudara atau tetangga yang bisa kerja dan kalian tau karakternya bagus, kerjanya beres beres kamar, sama bantu yang lainya juga." kata lily


" iya bu nanti kita cari." kata mereka


" terus kalian sayank udah ada rekomendasi biat yang bantuin jaga anak kita nantinya." kata vian


" belum pah, ibu bilang sama dia aja, dia mau jaga cucu pertamanya." kata astrid

__ADS_1


" iya pah, kata ibu dia mau bantu kok." kata dilla


" ibu boleh bantu menjaga sekali kali, tapi kan enggak seterusnya mengandalkan ibu, masa kalian tega menyuruh dia jagaian anak kita seterusnya, kecuali kalian diam di rumah enggak kemana mana mengurus anak aja," kata vian


" enggak mau kalau terus tinggal di rumah, aku masih mau kerja pah." kata dilla


" iya pah aku masih mau kerja." kata astrid


" ibu mungkin enggak apa apa, senang aja ngurus cucunya, tapi kalau kalian mengandalkan ibu terus, ibu kapan istirahatnya kalau harus menjaga anak kita, mumpung masih ada waktu 4 bulanan lagi, kalau enggak kalian diam di rumah." kata vian


" iya udah kalian di rumah aja, mengurus anak ya." kata lily


" iiih mbak, bukan bantu cari buat pengasuh." kata astrid


" vian benar, kalian jangan sampai ada pemikiran, tenang aja ada ibu yang akan jaga anak kalian, ibu juga dulu sama waktu si aa lahir, tapi enggak boleh sama vian, khawatirnya keenakan terus akhirnya menganggap kita sebagai pembantu menyuruh seenaknya, ibu dulu juga keukeuh tapi setelah berfikir iya juga apalagi si lily kaya gitu yang biasa nyuruh, maksud vian baik enggak masalah ibu kalian ada disini tapi untuk jaga cucunya bukan yang menjadi prioritas utama, apalagi kita kan udah punya perusahaan sendiri juga memangnya anak muda aja." kata ibu retno


" ibu sendiri enggak masalah menjaga cucu, akan tetapi kalau ada yang fokus jaga mereka kan lebih baik, bi narsih sama mirna kalian mau jaga bayi enggak." kata ibu ningsih


" bibi lebih baik di dapur aja bu." kata bi narsih


" mirna mau aja bu, tapi kalau jagi 2 bayi takutnya enggak ke pegang kalau sendiri." kata mirna


" baik bu." kata mirna


" terimakasih ya bu. Bi narsih sama mirna." kata astrid dan dilla


" sama buat office boy atau office girl pah buat di kantor LCI." kata lily


" iya aa buat di SPI juga." kata ika


" masa hal seperti itu aja harus papah fikirin, kalian buka saja lowongan kerja kalau urusan di kantor." kata vian


" iya udah ika buka lowongan kerja sekalian staf admin." kata ika


" iya udah nanti kalau yang melamar banyak ke SPI, kakak minta ya." kata lily


" berarti biaya iklannya bagi 2 ya sama LCI." kata ika

__ADS_1


" kamu ya, perhitungan sama kakak." kata lily


" becanda kak." kata ika


" asyik ya bu, saya senang lihatnya segala sesuatu di bahas dirumah ini sama sama." kata ibunya endris


" ini ide vian bu, jadi kalau ada apapun kita obrolkan di meja makan ini. awalnya kita juga menanyakan kenapa kita harus tinggal disini dan kenapa beli rumah dan tanah kavling besar besar, eh ternyata buat seperti ini, jadi kita bisa menambah saudara. Bisa ketemu pejabat publik, jangan jangan kamu nambah isteri juga kamu udah ada rencana dari dulu ya." kata ibu retno


" enggak bu, saya enggak tau jalan hidup seperti ini, bisa kenal sama pejabat, dulu beli rumah ini karena enak aja, terus supaya kalau ada rapat kantor bisa disini juga." kata vian


" kayanya kita perlu bangun tempat makan sendiri deh pah. Kalau enggak ruang keluarga itu di rombak aja disatukan jadi ruang makan." kata lily


" iya udah nanti suruh pak daryat buatkan designnya." kata vian. Setelah selesai sarapan vian pamitan pergi ke teras depan, vian pun menyalakan rokoknya. Jam 9.17 menit ustadz ogi dari travel umroh datang bersama timnya.


" assalamualaikum pak ustadz, bagaimana kabarnya." kata vian


" waalaikumsalam, alhamdulillah baik pak, saya sangat bersyukur atas keselamatan pak vian, bukan karena saya khawatir enggak jadi berangkat, akan tetapi saya merasa masih banyak orang yang masih membutuhkan bapak, bimbingan bapak, bantuan bapak, saya mendengar bahwa karyawan karyawan bapak melakukan doa bersama untuk keselamatan bapak dan Allah menjawab doa doa mereka, saya iri ke bapak begitu banyak orang yang mencintai bapak, jarang sekali pemimpin yang dicintai bawahannya, alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan untuk bisa kerjasama sama bapak." kata ustd. Ogi


" terimakasih pak Ustadz, saya tidak seperti apa yang pak ustadz bayangkan, saya masih jauh menjadi seorang yang baik, tapi saya berusaha menjadi orang baik." kata vian


" bapak bisa saja, oh iya pak alhamdulillah semua yang terdaftar visanya sudah keluar dan insyaAllah kita akan berangkat akhir bulan ini." kata Ustd. Ogi


" Alhamdulillah, oh iya enggak apa apa ya kita mengobrolnya disini aja." kata vian


" enggak masalah pak." kata ustd. Ogi


" kita nanti ke medinah dulu atau langsung ke mekkah." kata vian


" sesuai pembicaraan waktu itu sama bapak dan kita berdiskusi sama tim lainnya, karena tujuan kita kesana itu untuk ibadah umroh maka kita langsung pergi ke mekkah pak, dan kita juga sudah sampaikan ke pihak berwenang disana, bahwa kita akan melakukan ibadah wajibnya terlebih dahulu mengingat ada orang tua dan perjalanan ke medinah kan hanya sunah saja." kata ustd. Ogi


" betul pak, saya khawatir terutama ibu ibu akan mengejar jalan jalan ke tempat pembelanjaan jadi pas yang wajib mereka tumbang. Kalau kita sudah melakukan yang wajibkan akan lebih santai." kata vian


" betul pak, dan kita juga sedang memikirkan apakah kita akan mengambil miqat di pesawat atau nanti setelah kita tiba di mekkah kita kembali ke tempat ambil muqat tersebut pakai bus, karena kalau kita sudah miqat ada beberapa larangan yang harus ditaati." kata ustd. Ogi


" iya betul pak ustadz, silahkan aja baiknya seperti apa, kalau kita ambil miqat di pesawat kita harus tau kondisi peserta juga, karena enggak akan mungkin juga kita langsung mengadakan rukun umroh kan." kata vian


" betul pak, makanya kedatangan kami kesini ingin berkonsultasi juga supaya ibdah kita ini bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun." kata ust. Ogi

__ADS_1


Mereka pun terus mengobrol, vian menyuruh shinta memanggil lily.


__ADS_2