Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Perjalanan Hidup


__ADS_3

Opik, pak dede dan yang lainnya ikut mendengarkan obrolan.


" pak de ada yang curhat nih." kata opik


" iya, melampiaskan unek uneknya." kata pak dede


" iya, habis masih kesel dibilang gaya hidup ketinggian, mengambil barang tanpa melihat tindakan perusahaan terhadap karyawan seperti apa, janji aja setinggi gunung, bawa bawa nama agama, sedangkan dia sendiri mengabaikan itu, yang saya paling kesel tuh pas omzet perusahaan turun, dia bilang kalau omzet mencapai segini akan dapat bonus berapa persen, eh saya udah berusaha bujuk anak anak dan omzet kecapai, mereka bilang harusnya melihat omzet pas enggak kecapai juga jangan pas omzet tinggi saja, hal seperti itu harusnya dibicarakan di awal jangan sampai melepas tanggung jawab pas sudah terjadi. pemotongan gaji meteka bilang karena perusahaan lagi mengalami kerugian, itu seharusnya tidak terjadi karena itu urusan direksi." kata vian


" makanya wajar menurut saya walau caranya salah juga karyawan mengambil barang perusahaan karena perusahaan sendiri tidak bisa memenuhi kewajibannya." lanjut vian


" benar pak saya juga masih sakit hati, disuruh kerja lembur eh uang lembur enggak dikasih, mereka bilang harus loyalitas." kata opik


" makanya kalian jangan sampai melakukan hal seperti itu, itu contoh yang kita alami sendiri." kata vian


" iya pak, saya selalu mengingatkan bagian keuangan dan HRD." kata opik


" sama di L-Trans saya enggak pernah perhitungan masalah bensin kalau memangnitu masih dianggap wajar dan uang jalan pun saya kasih yang layak menurut saya karena pengalaman tadi." kata pak dede


" memangnya pak opik sama pak dede itu dulu kerja bareng pak vian." kata pak bambang


" betul pak." jawab opik dan pak dede


" jadi pak dede itu yang pegang L-Trans." kata pak bambang


" iya pak betul, saya dikasih amanah untuk mengelola L-Trans." kata pak dede


" ternyata pak dede ini direktur L-Trans." kata pak bambang


" saya kasih tanggung jawab sesuai keahlian dan pengalaman mereka pak." kata vian


" di perusahan LNI itu direksinya teman teman kerja saya dulu pak, yang mereka terabaikan karena enggak bisa cari muka, mereka sudah menemukan mukanya jadi keluar dari perusahaan itu, dan mereka gabung di LNI." lanjut vian


" terus dulu pak vian gimana di perusahaan itu." kata pak bambang


" walaupun beliau atasan, beliau enggak pernah merasa atasan, ngopi ngerokok bareng sopir, security, office boy, pas pemotongan gaji pun beliau memberi uang dari kantong sendiri untuk tambah tambah katanya, beliau juga yang vokal membela karyawan pak." kata pak dede

__ADS_1


" pantesan sekarang pak vian memperlakukan karyawannya seperti ini." kata pak bambang


" terus kenapa pak dede masih mau menyopiri pak vian, padahal kan pak dede direktur." kata pak gubernur B


" direktur hanya jabatan saja pak, saya sudah nyaman jadi sopir beliau, lagian di L-Trans sudah ada yang menghandlenya saya hanya mengatur operasional saja." kata pak dede


" pak opik juga kan direktur, kenapa sampai mau sampai malam di tempat kerja, apa enggak dicari isterinya." kata pak bambang


" isteri tau, bahkan menyuruh pak kalau saya bilang ada pak vian ke pabrik, dia bilang ada bos di pabrik malahan di rumah bukannya menemani siapa tau perlu bantuan." kata opik


" memangnya pak vian sudah memberikan apa sampai segitunya." kata pak gubernur D


" alhamdulillah saya dikasih rumah, bisa beli kendaraan, di ajak umroh yang awalnya tidak mungkin bisa terlaksana eh berkat beliau menjadi mungkin, yang utama itu beliau enggak pernah menganggap kita karyawannya tapi menganggap kita ini seperti teman bahkan seperti saudara sendiri." kata opik


" apalagi saya pak, saya hanya lulusan SMP, hanya punya pengalaman di jalanan aja, tapi berkat beliau saya bisa berada di posisi seperti sekarang ini. Dulu hidup jadi kontraktor tapi alhamdulillah sekarang sudah memiliki rumah sendiri." kata pak dede


" kalau pak edi gimana." kata pak bambang


" saya dari dulu sopirnya bu lily pak, dan temannya pak vian waktu bekerja di investama. Alhamdulillah saya juga dibelikan rumah dan pak vian masih anggap saya seperti temannya aja bahkan keluarga." kata pak edi


" enggak mungkin tau pak, kita mainnya cantik." kata lily


" saya enggak tau awalnya seperti apa, tapi jujur aja saya pernah heran sama ibu tuh, ibu pesan ke saya enggak boleh ada orang yang boleh memakai mobilnya, makanya waktu itu pak vian pergi ke bank sampai naik motor bawa uang besar karena saya enggak berani pakai mobil ibu karena mobil lainnya di pakai, saya takut kena marah juga kalau pakai mobil ibu. Tapi pas itu pak vian mau ke bank dan ibu baru datang, ibu tanya ke pak vian mau pergi kemana, eh ibu menyuruh saya mengantar pak vian ke bank pakai mobilnya." kata pak edi


" pelit dia tuh pak ke karyawan." kata vian


" enak aja ya bilang pelit, itu setiap bulan saya kasih uang selain gajian apa, terus mamah suka bawa makanan untuk papah." kata lily


" oh itu tuh, mamah udah suka sama papah," kata vian


" enak aja, mamah kan dulu isteri orang walau enggak pernah disentuh sama si yacob." kata lily


" oh ibu pernah menikah sebelum sama pak vian." kata ibu nurul


" iya bu, tapi hanya status aja saya tinggal di rumah sendiri, dia di rumah sendiri, saya nikah karena menurut orang tua aja karena takut kewalat, eh sekarang malah selalu belain vian padahal dulu mereka tuh marah karena saya mau cerai." kata lily

__ADS_1


" sampai mau nikah sama vian pun masih enggaj setuju." lanjut lily


" memangnya beda berapa tahun umur ibu lily sama pak vian." kata ibu zahra


" 2 tahunan bu, saya lebih tua dari dia." jawab lily


" wah ternyata seperti itu perjalanannya." kata ibu athia


" itu perjalanan hidup saya bu." kata lily


" tapi kan sekarang ibu sudah bahagia sama pak vian." kata bu athia


" alhamdulillah bu, dan kita udah dikarunia devan dan de qinar." kata lily


" terus waktu itu papah sama elis pacaran mamah bilang mau kasih kado yang besar kalau sampai nikah, kok enggak cemburu." kata vian


" mamah tau kalian enggak bakalan nikah jadi bilang aja gitu, kadonya besarnya ya itu devan sama de qinar." kata lily


" kenapa enggak bilang aja suka gitu dari waktu itu, walau di marahin yacob kan enggak apa apa, sampai teman teman kantor tuh bilang si yacob cemburu sama kamu, jadi marah marah enghak jelas gitu." kata vian


" papahnya aja enggak sensitif, padahal setiap habis dimarahin orang itu mamah kasih makan." kata lily


" kok sampai enggak mau sama pilihan orangtua kenapa tante." kata silvy


" tante tau dia orang seperti apa, dia suka main cewek, kasar lagi. Makanya aku buat perjanjian sama dia enggak boleh satu rumah, dan dilersilahkan kalau mau cari cewek lain juga." kata lily


" ibu kan enggak tau, kalau si yacob kaya begitu, soalnya kalau ke rumah baik." kata bu retno


" makanya jadi orang tua jangan egois, hanya melihat dari tampilannya saja," kata lily


" iya habisnya kamu kaya enggak pernah suka sama cowok kita kan jadi khawatir." kata bu retno


" tapi kan kamu sekarang mendapat suami yang baik, yang bisa buat kamu bahagia." kata pak bowo


" iya mungkin itu perjalanan hidup aku yang harus aku jalani terlebih dahulu sebelum mendapat kebahagiaan seperti saat ini." kata lily

__ADS_1


__ADS_2