
selesai rapat dengan pak beni, vian dan pak bowo masih ngobrol di cafe, pak pamit duluan mau istirahat.
"kamu masih disini vian, bapak masuk ke kamar dulu ya mau istirahat." kata bowo
" iya pak, sambil lihat situasi disini seperti apa." jawab vian
" ya sudah, bapak masuk duluan ya." kata pak bowo
" baik pak." jawab vian
vian pun melihat lihat situasi di resort, situasi malam disana adalah waktu rame ramenya. sedang melihat lihat vian dihampiri astrid.
" belum istirahat pak." kata astrid
" belum, ini saya lagi lihat lihat situasi kalo malam hari disini. kamu sendiri." kata vian
" belum pak, saya biasa tidur malam, boleh saya temani ngobrol." jawab astrid
" boleh kenapa gak, lagian saya sendiri." kata vian
mereka pun asyik mengobrol dari hal pekerjaan sampai ke hal pribadi, tapi vian masih tidak membicarakan hal pribadi dan keluarganya.
" kamu asal dari mana." tanya vian
" saya dari Surabaya pak." jawab astrid
" kok bisa sampai kesini kerjanya." kata vian
" waktu itu saya lulus kuliah, ayah saya meninggal dan saya anak pertama harus menjadi tulang punggung keluarga, mencari kerja di kota asal susah dan saya mencoba melamar melamar ke luar kota. saya dapat panggilan kerja disini." jawab astrid
" berapa saudara memangnya kamu." tanya vian
" 3 bersaudara pak, bapak sendiri." tanya astrid
" saya juga anak pertama dari 2 bersaudara, adik saya masih kuliah waktu itu dia ikut kesini juga." jawab vian
" tapi bapak enak jadi orang kaya, lah saya pak masih jadi pegawai. ibu saya lagi sakit jadi apapun saya kerjakan yang penting halal." kata astrid
" sama saja, malahan mungkin saya lebih cape dari kamu. emang sakit apa ibu kamu." tanya vian
" kanker payudara pak, bulan ini harusnya di operasi tapi karena saya gak ada biaya jadi belum." jawab astrid sampai menahan tangisnya karena ketidak berdayaan akan situasi yang di hadapi.
__ADS_1
" memang perlu berapa untuk operasi ibu kamu, terus kamu pernah bilang ke kantor." kata vian
" katanya sih di 100jtan, saya hak enak pak saya juga kan pegawai baru disini." jawab astrid
" terus apa yang kamu lakukan untuk mengatasi semua itu." kata vian
" saya pulang kerja dari sini saya jadi pelayan di restoran cafe dekat kosan saya pak, lumayan buat tambah tambah." jawab astrid
" trus hari ini bagaimana." tanya vian
" hari ini kebetulan waktu saya off pak disana." jawab astrid
" ya sudah kamu berhenti kerja saja disana, cari kontrakan dekat sini fokus kerja disini, biaya pengobatan ibu kamu saya yang tanggung. nanti setiap bulan saya kasih kamu tambahan." kata vian
" gak perlu pak, biar saya cari sendiri saja, gak enak sama bapak." jawab astrid
" saya melakukan itu karena saya tau kerja kamu, jadi biar kamu fokus disini. gak berfikiran gak gak. saya ikhlas bantu kamu, saya salut sama kamu memikirkan kehidupan ibu kamu. saya aja belum tentu bisa." kata vian
" tapi pak.. saya bener gak enak sama bapak." kata astrid
" kenapa takut pacar atau suami kamu marah ya." kata vian
" jangankan suami pak, pacar aja belum punya siapa yang mau sama saya, lagian saya gak ada waktu untuk hal begitu." jawab astrid
" itu uang bukan sedikit lho pak, apa bapak sebegitu percaya saja atas omongan saya, apa bapak gak takut saya tipu." kata astrid
" emang kamu nipu saya gitu." kata vian
" iya gak pak, tapi kan kita aja baru deket sekarang aja." kata astrid
" walaupun saya bukan seorang fisikolog tapi saya tau kondisi kamu seperti apa, walaupun kamu nipu saya juga gak apa apa itu hak kamu, nanti akibatnya juga kamu tanggung sendiri." kata vian
" saya gak percaya aja pak, masih ada orang baik kaya bapak." kata astrid
" saya tidak sebaik yang kamu fikirkan masih banyak yang lebih baik. saya berusaha membantu saja sesuai kemampuan saya." kata vian
" terus nanti kalo ibu tau bapak ngasih uang ke saya bagaimana, saya gak akan enak pak." kata astrid
" nanti saya akan bilang ke dia tenang aja. ya sudah karena udah malam kamu harus istirahat, kamu besok minta izin beberapa hari terus ke tempat kerjaan yang itu bilang keluar dengan baik baik. saya minta nomor rekening kamu aja, nanti di kamar saya transfer." kata vian.
karena sudah malam mereka pun pergi ke kamar masing masing. astrid yang masih memikirkan hal itu pun fikirannya masih menerawang kemana mana. dia pun tiduran di kasur tak lama suara notifikasi hpnya bunyi, membuyarkan lamunannya, dia langsung memeriksa hpnya itu
__ADS_1
" mana nomor rekeningnya." pesan dari vian
" beneran ini pak?. " balasan astrid
" kenapa bohong, makanya kirim cepat nomor rekeningnya." kata vian
" baik pak ini. xxxxxxx610 bank XXX a.n astrid larita." jawab astrid
tak lama suara notifikasi hpnya bunyi lagi.
" sudah saya transfer ya. kamu cek aja." kata vian
astrid langsung membuka mobile bankingnya dan meriksa saldo rekeningnya. ternyata vian mengirim 120jt ke rekeningnya. lalu dia kirim pesan kembali ke vian
" pak apa ini gak salah kirim. gimana saya kembalikannya nanti." kata astrid
" iya gak, kamu pake aja gak usah fikirin gimana ngembalikannya. kamu kerja yang bagus saja disini." jawab vian
" saya bener gak enak ini pak. kalo masalah kerjaan pasti saya usahakan yang terbaik." kata astrid
" terus biar kamu gak enak gimana. apa harus saya nikahin kamu dulu gitu." jawab vian becanda
" emang bapak mau gitu nikahin astrid." kata astrid
" sudah kamu jangan fikirin macam macam cepat istirahat. trus cepat bawa ibu kamu berobat." kata vian
" saya jadi gak bisa tidur pak, jadi kefikiran." kata astrid
" kamu mikirin apa lagi. apa perlu saya nina boboin kamu." kata vian becanda. niat vian bevanda tidak dengan astrid
" kalo bapak mau saya iklas kok pak." kata astrid yang sudah diluar femikirannya
"saya sudah punya istri dan 2 anak. sudah kamu istirahat." kata vian. vian juga jadi kefikiran kemana mana gadis ini membuat godaan saja.
" saya bersedia melakukannya walaupun bapak sudah punya istri, saya juga gak apa apa jadi istri siri bapak." kata astrid
" gak usah berfikiran apa apa ya. kamu istirahat, fokus ke pengobatan ibu kamu." kata vian
" duh kok saya jadi ngelantur begini ya... maaf pak. saya akan istirahat." jawab astrid. dia pun melihat pesan yang udah dikirim ke vian, dia merasa malu atas pemikirannya itu. lalu dia menarik pesan pesan itu.
" kenapa di tarik, saya sudah baca kok." kata vian
__ADS_1
" ah bapak.. maaf pak." kata astrid dia merasa malu akan tindakannya itu.