Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Restu


__ADS_3

di malam sebelumnya astrid dan dilla membawa keluarganya makan malam di sebuah restoran.


" nak kenapa kita makan diluar, memangnya kamu ada uang, kalau ada uang kan bisa di tabung." kata pak wanto ayah dilla


" ada pak tenang aja, aku udah kerja bareng astrid dan ini gaji aku pertama pak. aku pengen nyenengin bapak sama ibu, adik juga." kata dilla


" maafin bapak ya nak, kamu jadi harus bekerja. kalian kerja dimana." tanya pak wanto


" aku sama astrid buka usaha cafe pak, nanti kita lihat lokasinya." jawab dilla


" katanya usaha kok kalian gajian, bapak jadi gak ngerti." kata pak wanto


" aku sama astrid buka usaha cafe, mas vian kasih kepercayaan kepada kita untuk ngelola dan ngembangin usaha itu pak. karena itu sebelum usaha itu jalan, kita di gaji dulu sama mas vian, dan nanti hasil usahanya juga buat kehidupan kita." kata astrid


" kok bisa gitu memang siapa mas vian itu." kata pak wanto


" mas vian bos saya dulu waktu di bali om, dan dia yang ngasih bantuan ke saya untuk berobat ibu." jawab astrid


" jangan jangan kamu ada hubungan spesial sama bos mu itu." kata bu sri ibunya dilla


" ceritanya panjang, waktu habis rapat dengan orang yang akan kerjasama sama tempat kerja saya itu, saya ngobrol dengan mas vian, saya ceritain bahwa saya selain kerja disitu juga kerja di tempat lain buat cari tambahan berobat ibu. dari situ mas vian langsung menawarkan bantuannya dan saya disuruh fokus kerja di tempatnya itu. nah pas kemarin dia ada kunjungan ke kota ini dia tertarik buka usaha dan saya ada tempatnya jadi dia langsung setuju. makanya saya ngajak dilla, tapi mas vian pengen usaha ini maju dan biar saya fokus dan bisa ngurus ibu, dia menyuruh saya untuk keluar dari tempatnya itu." kata astrid menjelaskan pertemuannya dengan vian


" pak bu sambil dimakan makanannya. nanti dingin." kata dilla


" terus kenapa hasil usahanya buat kehidupan kalian." tanya pak wanto


" om dan tante pasti berfikiran yang gak gak, selain dia memberikan bantuan saya juga suka sama dia, dan saya menawarkan diri saya untuk melakukan hal itu, tapi mas vian nolak dia gak mau mengambil mahkota saya sebelum ada ijab qobul. karena mas vian sudah berkeluarga saya juga menawarkan untuk nikah siri aja dulu sebelum istrinya mas vian menyetujui hubungan kita itu. mas vian setuju tapi dengan syarat dia tidak akan memberikan nafkah dari hasil usahanya sekarang dan dia gak mau karena keberadaan saya kehidupannya rusak. makanya dia membuka usaha cafe ini untuk awal mungkin kedepannya akan buka usaha usaha lainnya." kata astrid


" ibu mu merestui." kata bu sri


" ibu merestui selama saya yakin atas pilihan saya, karena yang akan menjalani kan saya, dan saya juga yakin mas vian bisa memberikan kebahagiaan buat saya." kata astrid


" ibu salut sama dia, walau udah diberikan kesempatan untuk mengambil mahkota kamu, dia menolaknya, laki laki luar biasa itu. jarang kan kaya gitu. kamu cari cowok kaya gitu nak." kata bu sri, dilla hanya tersenyum


" itu juga yang membuat saya tambah yakin tante." kata astrid


" nak kamu bilang tadi bahwa usaha cafe itu juga buat kehidupan kamu, apa maksudnya." kata pak wanto

__ADS_1


" walau aku baru pertama kali sama mas vian dan mendengar cerita astrid aku jadi suka sama dia pak, gak tau kenapa gak biasa aku seperti ini. dan aku udah ngomong sama astrid sama mas vian juga." kata dilla


" dia kan calon suaminya astrid teman kamu." kata bu sri


" aku udah ngomong sama astrid bu, dan dia setuju aku jadi istri ke 3 mas vian." kata dilla


" beneran kamu setuju untuk berbagi suami sama teman kamu ini." kata bu sri


" iya bu, karena saya fikir nanti saya kan sering sendiri karena mas vian juga ada kehidupan lainnya. saya pasti sering di tinggal, kalau dilla ada kan saya jadi ada teman." kata astrid


" ini kita sudah dibelikan cincin sebagai pengikat kita bu." kata dilla sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya.


" mas vian juga memberikan waktu supaya jangan sampai nantinya menyesal, tapi saya sudah yakin dan percaya sama mas vian, mungkin ini takdir dan jodoh yang harus saya jalani." kata astrid


" kapan memang kamu bercana menikah." kata bu sri


" kalau usaha cafe ini sudah berjalan dan berkembang tante." kata astrid


" gimana ibu dan bapak merestui hak hubungan saya dengan mas vian." kata dilla


" bapak juga sependapat sama ibu kamu, sekarang bukan zamannya siti nurbaya yang memaksa anaknya. bapak mertui kalau itu membuat kamu bahagia." kata pak wanto


" terimakasih pak bu undah merestui hubungan saya." kata dilla langsung memeluk orangtuanya itu


" kapan mas vian kalian itu akan datang kesini lagi." kata pak wanto


" mas vian bilang kalau cafenya sudah jadi pak, tapi kalau ada acara mendadak karena dia juga ada rekan bisnis di kota ini bisa aja lebih cepat." kata astrid


" ya udah karena makanannya juga sudah habis dan udah malam, kita pulang aja." ajak pak wanto


mereka pun pergi pulang tapi sebelum pulang dilla membawa orangtuanya melihat ke cafe. pak wanto tanya tanya soal cafe ini dari pangsa pasarnya dan tenaga kerjanya


" kenapa kalian buka cafe bukan usaha lain." kata pak wanto


" mas vian berfikiran karena disini dekat dengan kampus dan rumah sakit serta dekat dengan perumahan elit, cafe cocok buat mereka nongkrong dan ketemu rekan bisnis. dan yang sebelah buat toko buah buahan selain buat supply ke cafe orang yang akan menjenguk ke rumah sakit biasanya membawa buah buahan." kata astrid


" benar benar idenya luar biasa sampai memikirkan kesana." kata pak wanto

__ADS_1


" untuk chefnya juga sudah ada, jadi kalau sudah bisa beroperasi langsung launching cafenya." kata dilla


" kalau bapak sehat bapak ingin belajar sama mas vian kalian itu." kata pak wanto


" doakan saja pak bu semoga usaha ini berjalan lancar dan bisa ngangkat lagi kehidupan kita." kata dilla


" aamiin. bapak dan ibu hanya bisa mendoakan kalian." kata pak wanto


akhirnya mereka pun pulang ke rumah dilla karena astrid juga mau menginap di rumah dilla. sampai di rumah dilla langsung mengajak astrid masuk ke kamarnya


" makasih ya trid, kita jadi bisa terus bersama." kata dilla lalu memeluk astrid karena bahagia


" iya sama sama, tugas kita sekarang bagaimana mengelola usaha itu dengan baik, berkembang janhan sampai ngecewain mas vian, kalau dia kecewa kita gak akan bisa nikah sama dia." kata astrid


" besok aku akan kabari dia ah." kata dilla


" huuh, dasar kamu ya, nanti yangbhatus buka segel mahkota aku dulu, aku kannistri ke 2." kata astrid


" iya udah kita nikahnya bareng aja ya." kata dilla sambil mendelikan matanya


" boleh aja, nanti kita bahas lagi. kita harus fokus kerja dulu. kemarin aku udah ditanya mau maharnya apa lho." kata astrid bangga


" kamu jawab apa." kata dilla gak senang karena dia belum ditanya vian


" aku minta seperangkat alat sholat dan emas 7 gram." kata astrid


" iya aku sama juga deh." kata dilla


" iya lah kamu gak boleh lebih dari aku." kata astrid


" iya istri ke 2." kata dilla


" kok kita bisa kaya gini ya. mau berbagi suami lagi." kata astrid


" ini namanya pertemanan sehidup semati." kata dilla


karena kelelahan dan senang mereka pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2