Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Sungguh Kebetulan


__ADS_3

Setelah melihat lihat dan menikmati suasan disana pak jaka pun mengantarkan ke tempat lainnya. Mereka pun berkeliling ke beberapa tempat wisata, karena sudah malam vian meminta pak jaka supaya mencari tempat makan seafood yang enak. Pak jaka tadinya enggak mau karena merasa dia hanya seorang sopir tapi vian memaksanya karena vian enggak pernah membeda bedakan. Akhirnya pak jaka mau ikut bergabung bersama vian untuk makan malam bersama, selesai makan vian istirahat sambil merokok, pak jaka pun ikutan.


" terimakasih loh pak, baru kali ini saya bisa makan bersama bos tanpa dibeda bedakan." kata pak jaka


" biasa saja pak, memangnya saya siapa harus membedakan orang." kata vian datar, selesai makan mereka pulang, vian meminta untuk mengantar hilda dulu.


" Hilda besok kita tunggu jam 8an di resort ya." kata vian


" baik pak, sekarang saya siap siap." kata hilda dia pun turun dari mobil. Vian dan yang lainnya pulang ke resort.


" terimakasih pak sudah mengantar kita nih, besok saya minta antar lagi pak jam 8an ke tempat oleh oleh dan bandara." kata vian


" siap pak." kata pak jaka


Vian pun pergi ke kamar bersama shinta


" aa mau dibuatkan kopi lagi, mau ganti pakaian sekarang atau mau keluar lagi." kata shinta


" boleh, keluar dulu sebentar lihat kondisi di tempat jualan jagung." kata vian, shinta pun membuatkan kopi lalu membawanya ke tempat vian. Vian pun meminum kopi buatan shinta


Jam 9 vian dan shinta pergi melihat situasi di resort ke tempat jualan jagung, karyawan yang ditugaskan sedang sibuk melayani pembeli. Vian dan shinta duduk di tempat yang sedikit jauh dari lokasi. Suasana itu pun dimanfaatkan shinta untuk terus berdekatan dengan vian, dia duduk disebelah vian sambil memeluknya. Vian menerima pesan dari pak gubernur D.


" selamat malam pak, maaf ganggu nih, sekarang bapak posisi dimana ya." kata pak gubernur


" malam juga pak Gub, saya lagi di bali nih pak, beaok siang pulang ke jakarta. Gimana pak ada perintah." kata vian


" itu pak, mengenai penyuluhan apa bapak ada waktu hari Rabu dan kamis ini untuk mengisi acara." kata pak gubernur


" saya usahakan pak. Jam berapa ya mulainya." kata vian


" jam 10 pagi pak, nanti lokasinya saya share lokasinya, dan untuk kamis baru kita ke desa desa pak." kata pak gubernur


" oke pak siap. Sampai ketemu, sekalian saya mau minta pasportnya sekalian supaya dibuatkan visanya." kata vian


" baik pak, sampai ketemu." kata pak gubernur


" sayang ingetin ya besok ngasih tau nadhine dan ibu winda ya untuk buat pasport dan hari rabu saya harus ngisi acara di Bandung." kata vian


" iya sayang aku, aku di ajak ke bandung enggak, siapa nadhine." kata shinta


" nadhine karyawan Dillas besok dia dan yang lainnya mau bikin pasport." kata vian

__ADS_1


" mereka memangnya mau ikut umroh juga." kata shinta


" iya, pasport kalian udah disimpan di rumah, mau diajukan visa umrohnya." kata vian


" aa kita nikah siri pas umroh aja gimana. Nanti kan ada ustad dan ibu aku juga." kata shinta


" beneran kamu mau." kata vian


" iya aku mau." kata shinta


" bisa enggak di tempat kamu nembak akta nikah." kata vian


" nanti aku cari tau ya a." kata shinta


" iya udah kita masuk yu istirahat besok kan kita mau pulang, sama badan lagi enggak enak nih." kata vian


" iya udah aku pijitin ya." kata shinta, mereka pun pergi ke kamar. Shinta menyuruh vian berganti pakaian dulu.


" bajunya enggak usah di pake a, kan mau di pijit." kata shinta, shinta pun berganti pakaian, selesai berganti pakaian vian pun tiduran di kasur. Shinta mulai memijat vian, mulai dari kaki sampai badan lalu setelah itu kepala. Lalu vian disuruh terlentang, shinta memijat bagian depan, setelah memijit kaki dia memijit dada, dia duduk di atas pusaka vian sehingga menimbulkan gesekan antara mahkotanya dengan pusaka vian. Setelah melakukan permainan yang melelahkan mereka pun mencapai puncaknya bersama, setelah istirahat vian membersihkan tubuhnya dan kembali tidur, vian dan shinta pun tertidur. Di pagi vian bangun lalu mandi, setelah sholat, vian menelepon astrid membangunkan supaya sholat terlebih dahulu. Vian membangunkan shinta, setelah itu vian pergi ke halaman belakang duduk di kursi dan meminum kopi yang dia buat. vian memeriksa laporan di emailnya.


Jam setengah 8 setelah membereskan barang bawaannya, vian dan shinta pergi ke restoran sekalian membawa tasnya. Hilda sudah ada disana vian pun mengajak dia untuk sarapan terlebih dahulu. Vian mengirim pesan ke Nadhine mengingatkan supaya bertemu dengan bu winda. Vian juga mentransfer ke rekening bu winda untuk biaya pembuatan pasport.


" kalian beli oleh oleh juga, biar saya yang bayar." kata vian


" tapi pak, saya enggak enak merepotkan bapak." kata hilda


" kamu harus bawa oleh oleh buat keluarga kamu, apalagi sudah lama enggak ketemu." kata vian


" shin dan hilda kalian enggak beli buat keluarga kalian pakaian buat kenang kenang." kata vian


" enggak usah pak ini udah cukup." kata shinta dan hilda


" udah beli dulu sana, mumpung masih ada waktu." kata vian, shinta dan hilda pun mengambil baju buat keluarganya. Selesai dari sana vian pergi ke bandara.


" terimakasih pak jaka sudah antar saya." kata vian


" sama sama pak, ini udah tanggungjawab saya." kata pak jaka


" ini saya nitip buat keluarga ya, sampai ketemu nanti di surabaya." kata vian sambil memberikan uang.


" pak enggak usah." kata pak jaka

__ADS_1


" enggak apa apa, ini buat istri dan anak bapak." kata vian. Setelah pamitan ke pak jaka, vian check in dan pergi ke boarding pass. Tak lama menunggu vian, shinta dan hilda naik pesawat, vian dan shinta duduk bersebelahan sedangkan hilda duduk di belakang karena waktu beli tiketnya berbeda. Selama penerbangan shinta menggenggam tangan vian dan menyandarkan kepalanya ke bahu vian. akhirnya mereka pun tiba di jakarta. Vian menelepon pak dede untuk menjemputnya di lobby bandara. Setelah memasukan barang bawaan ke bagasi mobil mereka pun meninggalkan bandara


" kita langsung pulang atau kemana dulu pak." kata pak dede


" kita cari makan dulu pak de, terus antar hilda ke kampung M, terus antar shinta baru pulang." kata vian


" baik pak." kata pak dede, dia membawa mobilnya menuju restoran. Sesampainya disana vian menyuruh mereka memesan makanan. Sambil menunggu makanan vian merokok sama pak dede


" Rabu kita ke bandung pak de, ingetin saya nanti minta pasport pak gubernur dan pak bupati serta keluarganya." kata vian


" siap pak, saya dapat laporan dari pak wahyudi ada kiriman ke bali." kata pak dede


" iya pak de, alhamdulillah banyak yang minat untuk jagung bakarnya. Pak dede suruh pak wahyudi untuk mengkondisikan pwngiriman kesana." kata vian


" siap pak." kata pak dede


Vian dan yang lainnya pun makan siang, selesai makan pak dede melaju menuju kampung M.


" Hil, ibu kamu masih di rumah sakit Livi." kata vian


" ini saya dapat kabar bahwa ibu sudah pulang, ini mereka sudah sampai di rumah." kata hilda


" iya sudah saya enggak mampir dulu ya, beaok kamu jam 10an ke Livi Cafe di Ruko Perumahan C, nanti saya kasih lokasinya ke kamu, kita lihat perumahan kalau bisa sama bapak kamu." kata vian


" baik pak. Pak dede berhenti di dekat supermarket itu aja. Rumah saya masuk gang soalnya." kata hilda, pak dede pun meminggirkan mobil. Hilda pun turun setelah mengucapkan terimakasih. Vian pun melanjuykan perjalanan mengantar shinta.


" hilda itu siapa pak." kata pak dede


" dia karyawan di resort, kemarin ibunya masuk rumah sakit livi. Karena di tolak rumah sakit lain karena enggak ada biaya." kata vian


" sungguh kebetulan ya. Dia beruntung juga bisa ketemu bapak." kata pak dede


" alhamdulillah, saya beli rumah sakit enggak sia sia." kata vian


" oh iya pak besok saya ke kantor atau ikut ke perumahan livi residence." kata shinta


" ikut aja deh, biar hilda ada temannya." kata vian


" baik kalau begitu beaok saya ke ruko." kata shinta


mereka pun sampai di rumah shinta, setelah pamitan vian pun langsung pergi pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2