Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Pabrik SPI


__ADS_3

Mereka pun menikmati makanan yang sudah di hidangkan


" benar benar enak makanannya." kata ibu citra


" perlu di agendakan sebulan sekali kesini nih." kata ibu kayla


" kalau ibu negara sudah bilang, susah untuk merubahnya." kata pak menteri pendidikan


" tinggal di agendakan saja pak, apa susahnya toh enggak jauh dari jakarta." kata vian, selesai makan vian pergi duduk bersama pak dede dan yang lain, dia menyalakan rokoknya lalu minum es jeruk.


" habis dari sini kemana lagi pak." kata pak heri


" ke pabrik SPI, anak anak mau mampir dulu kesana katanya." kata vian


" satu arah jalan pulang kok kak heri." kata pak dede


" oh iya buat hari rabu siapkan bus untuk ibu ibu PKK, ibu Zahra pesan nanti tanya saja titik kumpulnya dimana, tujuannya ke pabrik LA." kata vian


" siap pak, nanti saya siapkan busnya." kata pak dede


" pah enggak ke kampung dulu." tanya lily


" enggak usah deh, nanti kalau kesini lagi aja, soalnya waktunya pasti buru buru juga." kata vian


" iya sudah kalau begitu, tapi minta opik untuk mengirim sembako aja pah buat kakek." kata lily


" iya sayank makasih, nanti papah suruh opik mengirim sembako ke kampung." kata vian


setelah semuanya selesai makan, vian dan yang lainnya pergi menuju ke pabrik SPI.


" besar juga pabrik SPInya." kata ibu kayla


" ini dulu pabrik LA dan LNI bu, karena LA sudah ada yang baru dan LNI juga sudah ada pabrik di karawang jadi ini diambil alih sama SPI." kata lily


" jadi ini sekarang aset SPI pak." kata pak menteri UMKM


" betul pak, sudah diambil alih sama SPI dari LA." kata vian


" luar biasa ini, kalian anak muda sudah memiliki aset seperti ini, karyawan sudah 100 orang." kata pak menteri pendidikan


" alhamdulillah om, untung kita bertemu om vian jadi kita bisa langsung memiliki perusahaan." kata silvy

__ADS_1


" siapa direktur utamanya SPI itu." kata pak menteri pendidikan


" kak ika om, adiknya om vian." jawab silvy


" sekarang sudah berapa omzetnya." kata pak menteri sosial


" alhamdulillah sudah diatas 4 milyar 1 bulan om." kata nirmala


" 4 milyar 1 bulan!!." kata pak menteri sosial kaget


" iya om, mudah mudah bulan depan bisa menyentuh ke 5 milyar." kata nirmala


" siapa aja yang ada disana." kata pak menteri sosial


" aku, kak ika, kak bella, kak mitha, kak lusi, kak silvy, kak febby, kak anisa dan kak amira." kata nirmala


" pak bambang silvia enggak dikasih saham di SPI." kata pak menteri sosial


" oh silvia di rumah sakit livi pak sesuai dengan jurusan kuliahnya, kalau ibunya di LCI." kata pak bambang


" jadi pak bambang ini udah jadi bagian livi group toh." kata pak menteri sosial


" dari sisi investasi sangat menguntungkan pak. Dari sisi sosial pun saya percaya ke pak vian dan ini buktinya bisa bisa bersilaturahmi seperti ini." jawab pak bambang


" pak, ibu juga mau bisnis ya sama ibu lily dan ibu sisil." kata ibu citra


" kalau LCI omzetnya sudah berapa bu." kata pak menteri pendidikan


" kita baru 3 milyaran pak per bulan, tapi dari cost kita levih sedikit dari SPI, kita belum terlalu besar besaran dalam melakukan promosi soalnya, tapi kuta juga akan mengambil segmentasi pasar selain kosmetik, saya yakin bisa nembus di 5 sampai 6 milyar bahkan lebih."kata lily


" kalau ibu astrid, ibu dilla dan ibu shinta perusahaannya apa nih." kata pak menteri pendidikan


" kita semua di LCI pak, dan saya sama dilla ada di surabaya PT. Dilas Maju Bersama bergerak di cafe dan supplier hasil pertanian seperti LA pak." kata astrid


" wow pengusaha semua ternyata ya, bapak dan ibu juga." kata pak menteri pendidikan


" kalau bapak bapaknya di yayasan pendidikan Livi, sedangkan para ibunya di PT. Besan Berkah Bersama, kita bergerak di bidang restoran, pengelolaan kantin dan asrama, catering rumah sakit livi. Doakan saja nanti akan dibangun restoran BBB dekat pabrik LA." kata ibu retno


"pak vian ini ya, betul betul pengusaha, orang tua, mertua, isteri, adik dann iparnya dibuatkan perusahaan." kata pak menteri sosial


" supaya ada aktivitas aja pak." kata vian

__ADS_1


" kalau ipar yang cowoknya perusahaan apa." kata pak menteri pendidikan


" mereka masih ikut ikutan aja pak, biar mereka memikirkannya." kata vian


" iya sih daripada dipaksakan nanti enggak akan maximal. Lagian mereka masih kuliah kan" kata pak menteri Pendidikan


" iya baru tahun ini masuk kuliah dan mereka kuliah di universitas livi." kata vian


" tapi setidaknya kita sudah fasilitasi, jangan ada bahasa kenapa saya enggak dikasih." kata pak bambang


" iya pak, itu sudah saya jelaskan ke mereka jangan sampai ada rasa iri irian." kata vian


Ika dan yang lainnya sudah masuk ke pabrik untuk mengecek kondisi disana, apa ada kendala dan laun sebagainya. Pak menteri UMKM melihat cara kerja anaknya dan yang lain merasa salut sekaligus bangga karena anak anaknya sudah bisa bekerja sendiri dan mampu memimpin dan berbaur dengan yang lainnya.


" pak aku juga mau gabung di SPI ya." kata Resya


" kamu kan masih kuliah, nanti ke ganggu kuliahnya loh." kata pak menteri sosial


" enggak apa apa pak, kan aku sudah mau selesai juga dan sebentar lagi magang kerja, jadi aku bisa sekalian menyelesaikan kuliah dan kerja sama kakak kakak lainnya. Kak nirmala aja masih kuliah kok pak, bulan depan aku sudah bisa mulai magang, jadi sekarang aku mau selesaikan semester ini lalu membuat aurat magang." kata resya


" iya nanti bapak bicarakan sama pak vian ya, tapi beneran kamu mau gabung di perusahaan SPI ini. Tumben loh kamu bisa secepat ini bisa akrab." kata pak menteri sosial


" iya kak, biasanya kamu itu paling sulit untuk akrab dengan orang lain." kata ibu kayla


" aku kan udah gede bu, lagian kakak kakak disini enak diajak mengobrolnya." kata resya


" terus nanti kamu mau tinggal dimana, pulang pergi atau mau cari kost." kata pak menteri sosial


" aku bisa tinggal di mess pak sama kak nirmala dan yang lainnya." kata resya, setelah otu dia pun pergi bergabung sama yang lainnya.


" apa saya bilang, kalau sudah bertemu dengan keluarga pak vian itu susah untuk lepasnya deh." kata pak bambang


" iya pak, tumben tumbenan anak ini mau jauh dari rumah," kata pak menteri sosial


" bicarakan saja sama pak vian nanti, kelihatannya masih ada kamar kosong di mess kalaupun enggak bisa sama anak anak yang lain tinggalnya." kata pak bambang


" iya nanti saya bicarakan sama pak vian kalau begitu, kalau saya larang pun takutnya nanti dia enggak akan semangat lagi." kata pak menteri sosial


" itu pak, kita sebagai orang tua hanya bisa memberikan dukungan, apalagi ini positif banget untuk kehidupan mereka kedepannya, itung itung investasi untuk mereka dan supaya mereka juga tau bagaimana susahnya mencari uang." kata pak bambang


" betul itu pak, daripada mereka bergaul enggak jelas hanya menghambur hamburkan uang orangtuanya, lebih baik disini sekalian mereka mengimplementasikan hasil kuliah mereka." kata pak menteri sosial

__ADS_1


vian dan pak dede duduk diluar sambil ngopi dan merokok, vian ingin memberikan keleluasan untuk mereka belajar dalam mengelola perusahaa.


__ADS_2