
Mereka berbaring di kasur, shinta memeluk dan menciumi vian. Mereka memulai permainan yang panas, sehingga cuaca dingin disana tidak terasa lagi. selesai mendapatkan puncak permainan, shinta menyandarkan tubuhnya di tubuh vian dengan nafas masih belum teratur.
" aku puas banget a, makasih udah sayang sama aku." kata shinta
" iya sayang, makasih juga udah menemani saya." kata vian lalu mencium kening shinta. Lalu mereka pun tertidur, vian bangun jam 5, dua buru buru mandi lalu sholat, setelah itu menelepon astrid, untungnya mereka audah bangun dari tadi.
" pah, kenapa kesiangan ya, kok tumben bangunin kita telat." kata astrid
" papah baru pulang malam dari daerah PA, papah mungkin kecapean jadi telat dan semalam pak bupati sama endris datang kesini silarurahmi." kata vian
" oh pantesan, papah pulang hari ini," kata astrid
" iya, sorean dari sini, pagi ini papah latihan nembak dulu baru ke lokasi pembangunan pabrik. Oh iya semalam endris ngasih kabar besok ada reuni SMA papah, kalian mau ikut atau enggak." kata vian
" ikut dong, nanti ada CLBK lagi." kata astrid
" iya udah kalau begitu, tapi besok papah ketemu sama orang dari travel dulu, acara reuninya jam 10an." kata vian
" iya udah, papah jangan cape cape ya, ini paket dari Nadhine dan pak Gubernur L juga udah sampai." kata astrid
" iya udah kalian juga jangan cape cape ya." kata vian
" iya papah sayang." kata astrid
vian membangunkan shinta supaya mandi dan sholat, lalu pergi ke ruang keluarga. Membuat kopi lalu menualakan rokoknya. jam 6.40 menit opik datang membawakan sarapan, vian dan shinta makan berdua di villa.
" aku ingin seperti ini terus a, bisa melayani aa, manja manja sama aa dan bisa melakukan itu......" kata shinta
" sabar ya sayang." kata vian, shinta hanya menganggukan kepalanya
" oh iya a, kampung kelahiran aa dimana sih." kata shinta
" dari sini 2 jam lagi ke arah tempat makan yang waktu itu sama bella." kata vian
" jauh juga ya." kata shinta
jam 8an vian dan yang lainnya pergi ke tempat latihan menembak. Karena sudah pernah kesana dan kenal sama penjaganya mereka tanpa ada halangan masuk kesana. Di lokasi latihan endris sudah menunggunya.
" dikira enggak datang." kata endris
" datang lah, saya kan udah janji." kata vian
__ADS_1
" udah sana, kamu mulai nembak." kata endris lalu menyuruh instruktur untuk mendampingi vian. Vian memakai pelindung telinga dan mata, saat ini menggunakan sejata laras panjang, lalu mulai membidik sasaran.
Cetar.... Cetar.... Cetar.... Cetar.... Cetar vian menembak jatuh sasaran, hanya 1 sasaran yang 2 kali menembak.
" gila ya, benar benar luar biasa sebagai pemula, kamu coba pakai pistol." kata endris, dia pun menyuruh instruktur untuk memberikan pistol. Vian perlu adaptasi lagi jadi waktu membidik sasaran pertama dia perlu 3 kali tembakan. Setelah sudah terbiasa, vian pun bisa menguasainya, walaupun tidak sebagus pakai senjata laras panjang.
" luar biasa, keahlian kamu, sering latihan aja kamu bisa mahir." kata endris
" iya nanti kalau saya kesini pasti latihan." kata vian
endris menyuruh putra mencoba menembak, tapi dia belum sehebat vian
" gimana ini, malahan yang harus kamu lindungi lebih jago." kata endris
" saya baru pertama pak." kata putra
" memangnya bos kamu sudah sering latihan, dia baru 2 kali ini kalau enggak salah dia latihan disini." kata endris
" saya baru megang senjata disini doang put, nanti kamu sama haris cari tempat latihan nembak di jakarta." kata vian
" kurang baik gimana coba bos kamu, tapi ingat kalau nanti kamu pegang senjata jangan sampai dipakai yang enggak enggak apalagi sampai buat so soan, berlaga jago karena pegang senjata." kata endris
" mau coba Rappelling bro," kata endris
" boleh, siapa takut." kata vian
" kamu juga ikut." kata endris ke putra
" kapan latihan terjun lagi." kata vian
" sebulan sekali bro, minggu kedua." kata endris
" saya ketagihan nih, kalau bisa 2 pengawal saya suruh ikut." kata vian
" jangan pak, saya belum nikah." kata putra
" bos kamu aja ketagihan. Tapi nanti kamu harus ikut latihan fisik ya, supaya bisa terjun sendiri." kata endris
" siap laksanakan, kabar kabar aja." kata vian.
endris membawa vian dan putra kemenara, dari tadi shinta hanya memotret dan membuat video vian yang sedang menembak. Tanpa rasa takut vian pun menuruni tebing kayu sampai ke bawah, putra sedikit gemetaran dia pun mulai turun.
__ADS_1
" kamu payah banget sih, masa jadi pengawal kaya gini kalah sama bosnya." kata endris. Putra akhirnya sampai di bawah walaupun dengan keringat dingin.
" sekarang kamu mau kemana pulang ke jakarta atau masih disini." kata endris
" nanti sore saya pulang, sekarang ke lokasi pembangunan pabrik," kata vian
" kamu mau bangun pabrik apalagi." kata endris
" pabrik minyak goreng, beras, tepung, mie instan." kata vian
" benar benar hebat bro, saya tau kamu melakukan itu bukan hanya semata untuk mencari keuntungan aja." kata endris
" kalau kamu perlu apa apa hubungi opik aja ya, saya harus ke lokasi pembangunan nih." kata vian
" siap, terimakasih." kata endris
" saya pamit deh." kata vian, vian pamit ke endris dan yang lainnya, lalu pergi ke lokasi pembangunan. Di perjalanan vian menelepon opik memberitahukan bahwa dia menuju ke lokasi pembangunan. Di lokasi pembangunan vian melihat lihat progres pembangunan, vian melihat progres pembuatan kilang minyak yang lama, opik menjelaskan dilakukan pemisahan antara pabrik minyak dan pabrik beras, tepung dan mie. Opik pun menjelaskan bahwa untuk pabrik beras, tepung dan mie bisa beroperasi 3 bulan lagi tapi kalau mesin yang di pesan cepat datang bisa lebih cepat lagi, karena pembangunan pabrik pakai kontruksi besi tidak pakai cor coran jadi lebih cepat.
" ini akan banyak mempekerjakan orang pak, terutama di pabrik mie, untuk di pabrik beras tidak harus memiliki keahlian khusus." kata opik
" kamu atur semuanya, oh iya saya sudah mentransfer dana ke rekening LA ya." kata vian sambil memperlihaykan bukti transfer.
" oh, baik pak, terimakasih, itu untuk pelunasan mesin mesin. Berarti uang dari bapak masuknya setoran modal ya." kata opik
" iya pik, nanti di awal tahun disesuaikan neraca awalnya dan pemilik bertambah pak bambang." kata vian
" baik pak." kata opik
" kamu udah membuat alur produksinya kan, supaya pas datang mesin bisa langsung di tempatkan tanpa banyak merubah posisi lagi." kata vian
" sudah pak, bahkan untuk di gudang juga sudah." kata opik, dia pun memperlihatkan design pabrik dan alurnya.
" bagus kalau udah kamu persiapkan, itu kirim ke saya ya." kata vian
" iya pak." kata opik, dia pun mengirimkan gambar tadi ke vian
" bapak mau makan siang dimana." lanjut opik
" di tempat makan biasa aja deh, kamu mau ikut sekalian." kata vian
" boleh pak." kata opik. Mereka pun pergi ke rumah makan yang biasa kalau vian pergi kesana, vian menyuruh semuanya untuk memesan makanan, sambil menunggu makanan di hidangkan vian pun merokok bersama pak dede.
__ADS_1