
" bella, sella, selly atau bimo dan ari bisa enggak kalian mengedit video dan membuat video yang bagus untuk di youtune atau sosial media perusahaan." kata vian
" bisa mas, yang terpenting kualitas video itu audah bagua kita hanya mengedit mana saja yang akan ditayangkan." kata bella
" kalau perlu kita buat perusahaan baru atau membentuk tim untuk chanel youtube ini, saya lihat memang banyak yang sukses juga dengan membuka akun youtube." kata vian
" keseharian kita, keseharian om dan tante itu juga bisa menjadi konten, apalagi om sudah memiliki banyak karyawan, om tinggal menyuruh mereka subscribe, like dan komen, itu keuntungan om sebenarnya." kata nirmala
" iya sudah kalian bentuk saja tim, peralatan yang kurang nanti beli saja, nanti kantornya bisa di gedung livi group." kata vian
" sama kalau ada teman yang bisa atau mengerit dibidang IT bisa kalian rekomendasikan." lanjut vian
" sekarang itu sosial media bisa masuk ke asset perusahaan juga, apalagi akun tersebut sudah memiliki banyak yang subacribe atau follower." kata amira
" kita tinghal tentukan saja core konten itu mau dimana, family, perusahaan, podcase, pendidikan atau lainnya." kata anisa
" saya setuju akan tanggapan kalian ini, yang jelas semua ini harus kalian kerjakan dengan baik, kalau pun enggak bantu untuk mencari tim yang fokus disana, baik konten creator, editing dan yang lainnya." kata vian
" baik om, nanti kita bahas sama yang lainnya." kata silvy
" kita bisa juga memasukan tutorial tutorial, misalnya cara memakai kerudung, kosmetik, pendidikan." kata febby
" kalau dari sisi manajemen apa kalian ada masukan." kata vian
" sebenarnya kita sudah bagus dalam hal manajemen tinggal bagaimana sumber daya manusianya bisa mendukung atau menjalankannya saja." kata anisa
" pada dasarnya pengelolaan perusahaan tergantung sumber daya manusianya juga." kata silvy
" tetapi setidaknya seorang pengusaha harus mengerti terutama dalam hal keuangan, mengerti alur perusahaan." kata vian
" saya setuju om, karena yang paling utama itu di laporan keuangan, sebaik apapun penjualan kalau menurut laporan keuangan rugi jelas perusahaan itu rugi, karena dari laporan keuangan tersebut bisa di lihat dari biaya biaya yang timbul untuk menghasilkan omzet tersebut, dari proses produksi sampai produk siap untuk dijual." kata anisa
" ini yang saya suka, anak muda kritis dan mentor yang baik, pantes saja SPI bisa berjalan dengan baik." kata pak menteri UMKM
" ilmu ini enggak akan bisa di dapat di bangku kuliahan, harus bayar mahal, disini gratis segalanya sampai konsumsi." kata pak menteri pendidikan
" tau disini ada mentor yang luar biasa, aku enggak harus jauh jauh kuliah." kata amira
__ADS_1
" enggak juga, justru kehadiran kalian membuka informasi yang enggak pernah saya dapatkan." kata vian
" supaya produk kita bisa di terima di luar, kuliatas produk harus terjamin bagus dan harus bisa menyesuaikan dwngan kondisi mereka, misalnya pakaian, harus mempertimbangkan bahannya tidak membuat alergi dan untuk menunjukannya itu harus bisa menunjukan sertifikat pengujian, dan di masing masing negara tentu berbeda beda kebijakannya." kata anisa
" misalnya disini harus lulus uji SNI produk yang akan dipasarkan terutama untuk pakaian bayi. jadi kita harus bisa menyesuaikan dengan kebijakan negara negara tersebut juga supaya produk kita bisa lancar untuk dipasarkan disana dan pembelinyanya pun menjadi yakin untuk membeli produk kita tersebut." kata amira
" untuk bisa melembutkan dan mencuci produknya pun ada pabrik pencucian yang bisa membantu kita sebenarnya, biasanya buyer akan mengadakan kunjungan ke pabrik pencucian tersebut untuk melihat dan mengevaluasi, sama halnya seperti ISO." kata vian
" betul itu om, teman kuliah orangtuanya memiliki tempat pencucian, jadi misal celana jean mau robek robek pun bisa disana, aku pernah memudarkan warna celana jean." kata nirmala
" coba saja kalian buka divisi baru untuk produk fashion, jangan membawa embel embel SPI yang sudah melekat sebagai produk muslimah." kata vian
" boleh om," kata anisa
" iya boleh silahkan aja demi kemajuan dan perkembangan SPI yang jauh lebih baik lagi " kata vian
" kalau begitu kita bisa mendesign yang umum juga jadi enggak spesifik, kalau di muslim kan ada yang panatik enggak mau gambar mahluk hidup." kata febby
" nanti juga segmentasi pasar SPI tidak akan terlalu dibatasi, tapi memang harus dibuat divisi baru." kata nirmala
" kalau begitu kita akan diskusikan di manajemen SPI." kata ika
" cari brand baru lagi aja yang bisa masuk ke kalangan umum dan bisa diterima di luar juga, kalau bisa identikan nanti di promosi bahwa brand ini barang luar." kata vian
" oh iya pak udah belum beli saham SPInya, aku lagi semangat nih." kata anisa
" sudah bapak komunikasikan dengan pak vian, bapak jadi semangat juga melihat seperti ini." kata pak menteri UMKM
" kita enggak usah terburu buru untuk menjadi perusahaan IPO atau terbuka, karena kita juga belum memerlukan modal tambahan modal dari luar, kita perbaiki saja dulu manajemen di internal SPI, dan untuk IPO itu perlu waktu juga." kata vian
" betul itu, enggak ada salahnya untuk memperbaiki manajemen, ada plus minus kita ikut IPO, dan itu perlu proses ." kata pak menteri UMKM
Sambil mengobrol mereka pun makan jagung bakar dan minum susu panas, vian pun meminum kopi lalu menyalakan rokoknya.
" terus untuk pengembangan LCI gimana dong pah." kata lily
" nanti bisa kita buat produk bundling tante antara SPI dan LCI, nanti kita bisa buat paket lengkap juga dan hampers untuk gift lebaran." kata nirmala
__ADS_1
" benar itu tante, wah dengan diskusi seperti ini pasti ada aja ide pengembangan, aku jadi tambah semangat, dan aku bersyukur bisa bertemu keluarga om sama tante, nanti kalau bisa kita adakan hal seperti ini ya." kata anisa
" boleh maximal kita adakan sebulan sekali, kalian ingatkan aja," kata vian
" baik om." kata anisa
" sebenarnya kalau anak anak dikasih ruang berdiskusi seperti ini akan keluar ide ide liarnya sehingga bisa memunculkan pengusaha pengusaha muda baru." kata pak menteri UMKM
" betul itu pak, ini bisa jadi contoh untuk anak anak muda lainnya." kata pak menteri pendidikan
" terus kalian ini enggak akan pulang pulang kerumah." kata pak menteri UMKM
" iya nih, kalian jadi betah disini." kata pak gubernur D
" sesekali kita akan pulang kok pak." kata anisa
" iya pak, kita sesekali akan pulang." kata nirmala
" terus ibu harus kesini terus dong kalau begitu." kata ibu nurlaela
" iya nih, masa ibu harus kesini kalau mau ketemu kalian." kata ibu athia
" bukannya ibu juga senang disini kan." kata anisa
" masa kita harus membeli rumah daerah ini juga seperti pak bambang." kata pak menteri UMKM
" jangan pak, saya aja mau jual tuh rumah, karena jarang ditempati, saya malahan sering menginap disini, apalagi tuh pak vian sudah menambah kamar, sayang juga kalau enggak di tempati. Gratis lagi." kata pak bambang
" nanti saya akan kenakan tarif kalau begitu." kata vian sambil ketawa
" iya ya, kita disini sudah dikasih tempat tinggal, makanan. Mantaap pokoknya." kata pak menteri UMKM
" sama isteri saya tuh, udah jauh jauh hari bilang, pak nanti hari sabtu kita ke rumah bu lily ya." kata pak menteri Pendidikan
" tapi bagus juga pak, jadi enggak pergi ke mall jadi hemat kan." kata pak gubernur D
mereka terus mengobrol, kehangatan seperti keluarga sendiri.
__ADS_1