
30 menit putra dan pak dede datang menghampiri kakek braja dan memberikan apa yang diminta tadi. setelah beristirahat kakek braja pun mendatangi vian di kamar dekat musholla. kakek braja menanyakan siapa orang tua vian
" maaf kalo boleh tau siapa orang tua dari cucu saya ini.?" kata kakek braja
" saya kek, saya ayah vian." jawab pak adi
" luar biasa, beruntung cucu ku ini di dampingi orang orang yang sayang kepada dia, kalo gak dia akan tidak ketolong. dan maaf saya menganggap dia cucu saya tanpa restu dari anda." kata kakek braja
" gak apa apa kek, saya bersyukur anak saya banyak yang sayang ke dia." jawab pak adi
setelah itu kakek braja seperti sedang menerangkan kepada seseorang "saya disini ingin membantu menjaga keturunan anda, saya sudah menganggap dia sebagai cucu saya.".
orang orang yang ada disana melongo membayangkan jika vian tidak bisa di tolong. hembusan nafas mereka terdengar lirih. lily sudah menangis dan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, tak lama devan datang kesana melihat ibunya menangis dan ayahnya terbaring kesakitan
" mah kenapa menangis, papah kenapa mah" kata devan
" mamah gak apa apa aa sayang, papah sakit lagi di obati sama kakek, aa main aja ya." jawab lily, lily menyuruh lilis membawa devan untuk main
" disini saya hanya membantu saja, karena leluhur dia sudah menyerang orang yang mencelakakan dia. bantu doa saja, semoga semua ini bisa cepat bisa diatasi." kata kakek braja sambil tersenyum menenangkan. kakek braja juga menyuruh supaya para ibu terutama lily untuk meninggalkan tempat itu. lily dan yang lainnya pergi dari sana menurut apa yang dikatakan kakek braja
kakek braja terlihat berdoa, menyalakan kemenyan, suasana disana jadi hening, kakek braja terus melapalkan doa doanya. di luar terdengar gemuruh seperti mau hujan dan langit pun mendung padahal tadi masih cerah cerah saja dan waktu masih siang. orang yang ada disana terus berdoa untuk keselamatan vian.
tak lama terdengar suara kakek braja marah, " Bangsat kamu, mau nyelakain cucu saya, saya musnahkan kamu dan kuhabisi orang yang menyuruh kamu.".
pak adi telepon pak lukman meminta bantuan, pak dede pun telepon pak heri. di luar suara petir bersahutan DAAAAR.......DAAAAR......... DAAAAAAR.... membuat suasana menjadi lebih tegang.
suara kakek braja terdengar meninggi dan marah "Haa haaa...haaa. kalian boleh banyak gak akan mundur, kalian yang jual, saya akan beli.".
1 jam kemudian pak lukman dan pak heri datang, mereka langsung ke tempat dimana vian di baringkan. mereka seperti memberikan salam lalu mereka juga bersila, keringat keluar dari dahi mereka. suara petir bersahutan DAAAAR....... DAAAAR......... DAAAAAAR.... semakin sering.
__ADS_1
"gak akan ku beri ampun kalian.. rasakan ini." kata kakek braja. setelah itu suara petir mulai menghilang, langit yang tadinya mendung mulai cerah kembali. kakek braja meminta golok dan membawa kelapa muda tadi keluar dan menyuruh untuk dibuatkan lubang. lubang digali sama indra, setelah selesai lubang itu dibuat, kakek braja langsung membelah kelapa tersebut. "mati kalian, kalian yang cari sendiri ku kabulkan sekarang. ini akibatnya menyakiti cucu saya." kata kakek braja. dari kelapa itu keluar darah.
kelapa itu beserta darah tadi di kubur di lubang tadi. kakek braja langsung mengambil wudhu dan pergi lagi ke tempat vian berbaring. vian sedari tadi tak sadarkan diri, mulai membuka matanya.
" gimana cu, kamu sudah baikan." kata kakek braja
" sudah kek, terimakasih atas pertolongan kakek, sampai kakek turun tangan begini." jawab vian
" ini sudah kewajiban kakek untuk melindungi kamu cu." kata kakek braja.
di tempat lain seiring dengan dibelahnya kelapa tadi orang yang menyakiti vian tergeletak dan bersimbah darah dan orang yang menyuruhnya pun memuntahkan banyak darah perlu lama untuk mengobati orang tersebut.
vian melihat disana juga ada pak lukman dan pak heri, vian juga mengucapkan terimakasih kepada mereka.
di ruangan keluarga lily dan orang tua dan mertuanya mendengar bahwa vian sudah siuman, gembira. bu retno dan bu ningsih menyuruh evi dan bi narsih untuk memasak buat makan malam.
" papah gak apa apa, papah jangan tingalin kita." kata lily sambil menangis
" papah gak apa apa sayank, papah gak akan ninggalin kalian, mamah jangan nangis ya." jawab vian sambil mengelus rambut lily dan mengecup keningnya
" maafin vian membuat kalian khawatir." kata vian kepada orang tua dan mertuanya. tak lama kakek braja, pak lukman, pak heri, pak dede, dan pak adi datang kesana.
" kamu benar benar seorang laki laki bertanggung jawab, kamu mengambil resiko untuk keluarga kamu. kakek bangga kepada mu cu." kata kakek braja
" maksud kakek apa." kata vian gak mengerti
" tujuan orang yang menyelakain kamu, tidak semuanya ditujukan ke kamu, tapi ada yang kekeluarga lainnya bahkan ke tempat usaha kamu." kata kakek braja
mereka mengobrol sambil meminum minum yang sudah disediakan. setelah magrib mereka pun makan malam bersama. vian meminta pak lukman, pak heri, serta kakek dan nenek menginap. mereka pun menyetujuinya karena khawatir masih ada serangan lain. vian sebenarnya mengetahui tentang kakek braja.
__ADS_1
setelah isya bu retno dan bu ningsih mengantar nenek untuk istirahat di kamar. sedangkan para bapak pergi ke gazebo untuk mengobrol sambil ngopi disana.
" sudah lama saya gak seperti ini, benar benar rasa kekeluargaan di rumah sungguh luar biasa." kata kakek braja
" iya seperti ini kek disini." jawab vian
" sama saya juga kek, tadinya saya merasa kesepian, tapi setelah menantu saya ini mengajak menetap disini jadi betah." kata pak bowo
" oh iya pak tadi saya ke rumah kakek memberikan kabar bahwa nanti beliau akan mengisi rumah yang sedang di bangun pak daryat di belakang villa kita di livi residence." kata vian
" bagus kalo begitu, bapak setuju." jawab pak bowo
" sebelum pindah ke sana kakek dan nenek tinggal saja dulu disini." kata pak adi
" o iya saya mengucapakan terimakasih kepada kakek, pak lukman dan pak heri sudah menolong anak saya ini." kata pak adi lagi
" sama sama di, kita sepatutnya saling tolong, lagian vian udah seperti anak saya." jawab pak lukman
" iya pak, apa yang bisa saya bantu insyaAllah saya akan lakukan." jawab pak heri
mereka asyik mengobrol bercerita satu sama yang lainnya. disaat itu vian merasakan tubuhnya menghangat kembali, dan saat itu pula kakek braja berkata:
" untung kita gak pulang, dan rumah ini sudah dibentengi, Masih ada orang yang ingin mencobanya, pantang buat dihindari dan dimaafkan.".
kakek braja minta air putih di botol di gazebo memang selalu tersedia. melihat bola bola api yang terbang ke arah rumah pak bowo yang awalnya tidak percaya akan hal itu, menjadi tertegun dan bicara dalam hatinya " zaman modern masih ada hal kaya begini, di dunia ini orang baik pun masih aja di musuhi.".
vian duduk bersila tak lama dia bicara tapi suaranya berbeda dan seperti memerintah, " Kesabaran saya ada batasnya, cucu saya terlalu baik, tapi kesabaran saya sudah habis apalagi ini menyangkut keluarganya. kalian MUSNAHKAAAAAAN.".
terdengar suara gonggongan anjing dan raungan harimau. Leluhur vian sudah tidak terima akan tindakan tindakan orang yang akan mencelakakan keturunannya itu.
__ADS_1