Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Kamu Anak Yang Berbakti


__ADS_3

Mereka pun mengobrol dan tak lama mobil dari L-Trans datang.


" papah habis dari livi residence kemana lagi." kata lily


" papah enggak kemana mana lagi, palingan nanti ketemu sama orang travel supaya megurus visa." kata vian


" bapak ibu kalau begitu kami permisi dulu karena ada tamu jadi enggak bisa temani bapak ibu kesana." kata lily. Lily, astrid dan dilla serta ibu sisil pun pamitan dan kembali ke kantor LCI


" hilda kapan kapan kita ketemu lagi ya dan ngobrol, maaf saya ada kerjaan jadi enghak bisa temani kamu." kata astrid


" iya mbak astrid, enggak apa apa saya ada kak shinta yang temani." kata hilda


" kita juga sekarang berangkat kok, kalian jangan cape cape ya." kata vian


" iya pah." jawab mereka


" aa ayo berangkat, salam sama mamah dulu." kata vian


" mah, aa berangkat ya." kata devan memberikan salam dan mencium mereka. Setelah itu mereka kembali ke kantor LCI


" hilda dan keluarga naik mobil itu ya, kamu shin naik sama saya aja." kata vian


" iya pak." kata shinta


" iya pak terimakasih, maaf jadi merepotkan." kata hilda. Mereka pun pergi dari ruko menuju livi residence. Di perjalanan vian meminta berhenti di supermarket untuk membeli makanan dan minuman, serta sembako untuk kakek braja. vian mengajak shinta turun membantu membwli barang barang tersebut.


" tante aa mau ice cream ya." kata devan


" ice cream apa aa, aa ikut aja deh sini tante gendong." kata shinta


" iya deh, biar aa bisa pilih ice creamnya." kata devan. Setelah belanja mereka pun melanjutkan perjalanan ke livi residence.


" papah boleh makan ice cream." kata devan


" aa tadi udah makan nasi belum." kata vian


" udah pah." kata devan


" oke... Boleh sayang." kata vian. Devan pun meminta bantuan ke shinta untuk membuka ice cream


" tante tolong bukakan ice creamnya." kata devan


" kenapa enggak sama lilis." kata vian

__ADS_1


" lilis biar istirahat pah." kata devan


" iya sini sama tante dibukakan sayang." kata shinta


" terimakasih tante cantik." kata devan


" sama sama aa ganteng." kata shinta


" aa enggak panggil mamah shinta aja." kata pak dede


" enggak pak aki, kan tantenya enggak di rumah tinggalnya." kata devan


" iya sudah minta papah suruh tante shintanya tinggal di rumah aa." kata pak dede


" kamarnya sempit kalau tante tinggal disana, semalam aja aa dipindahin sama mamah lily." kata devan


tak lama mereka pun sampai di livi residence, vian membawa mereka ke villa. Disana sudah ada orang tua dan mertua vian. Vian memperkenalkan mereka ke hilda dan orang tuanya. Devan langsung pergi ke kandang thunder, dia pun mengajak shinta katanya mau dikenalin sama thunder


" ini yang bekerja di resort itu." kata pak bowo


" iya pak, mungkin besok saya pulang kesana pak." kata hilda


" kamu disana sebagai apa." kata bu retno


" waitress bu, alhamdulillah saya bisa diterima kerja disana walaupun saya hanya lulusan SMA." kata hilda


" iya kalau memang diperlukan disini, saya enggak keberatan bu." kata vian


" gimana hilda kamu mau kan pindah kerja kesini, mau ya bantuin kita." kata bu retno


" saya sih senang aja bu, yang penting bisa kerja." kata hilda


" iya udah besok kamu beres beres barang disana, nanti biar vian yang urus kerjaan disana." kata bu retno. Pak bowo langsung telepon pak made, dia memberitahukan bahwa hilda akan dipindahkan ke jakarta.


" tuh udah urusan kerja disana, kamu tinghal beresin barang yang ada disana dan pamitan ke teman teman disana ya. saya yang akan tanggung tiket pesawatnya." kata bu retno lagi.


" iya udah kamu cek dulu rumah yang akan kamu tempati." kata vian


" ini urusan pembelian rumahnya gimana pak." kata hilda. Vian menelepon pak daryat. Tak lama pak daryat pun datang.


" bapak kira kira dapat uang penggusuran tidak." kata vian


" dapat pak tapi enggak besar, makanya itu saya juga bingung mau pindah kemana, eh hilda ngasih tau bahwa bapak mau bantu kami." kata bapaknya hilda

__ADS_1


" iya sudah bapak sama ibu lihat dulu mau rumah yang mana, untuk pembayarannya nanti bisa hilda cicil yang di pitong dari gajiannya, kalau bapak mau bayar dari hasil gusuran nanti bisa mengurangi harga pembelian rumahnya." kata vian


" iya pak. Terimakasih banyak sudah mau bantu keluarga kami." kata bapaknya hilda


" iya sudah kita lihat dulu rumahnya, supaya bapak dan ibu nantinya merasa nyaman tinggal disana." kata pak daryat


Mereka pun pergi melihat rumah yang berada di komplek perumahan livi residence.


" wah pak, ini terlalu bagus san besar buat kami." kata bapaknya hilda


" bapak serumah tinggal berapa orang." kata vian


" 5 orang pak." kata bapaknya hilda


" menurut saya ini cukup, nanti kalau ada rezeki bapak bisa renovasi lagi, sekarang rumah ini ada 2 kamar, itu cukup untuk bapak, dan kakak dan adiknya hilda aja, enggak bagus untuk privasi mereka." kata vian


" iya udah vian nanti hilda suruh tinggal di villa saja, lagian enggak pernah kita tempati." kata bu retno, dia sudah suka akan kepribadian hilda


" iya bu, saya berfikiran seperti itu dan nanti juga ada kakek braja yang bantu mengawasi." kata vian


" tapi pak ini pasti mahal, saya enggak akan sanggup mencicilnya. Soalnya kakak belum dapat kerjaan yang pasti." kata hilda


" memangnya kamu kerja apa sekarang." kata vian bertanya pada kakaknya hilda


" saya hanya kuli bangunan aja pak, itu juga kalau ada yang ngajak, kemarin ada yang mengajak kerja di proyek sekolahan daerah sini. Tapi karena ibu sakit saya enggak berangkat." kata iwan kakaknya hilda


" siapa nama yang mengajak kamu." kata pak daryat


" pak susilo, kebetulan dia tetangga rumah dan dia yang suka mengajak saya." kata iwan. Pak daryat pun menelepon tim L-Pro menyuruh memeriksa data pekerja bangunan. Setelah mengetahui pak susilo adalah pekerja di lingkungan pembangunan sekolah, pak daryat memanggilnya supaya datang ke livi residence


" udah pak pilih saja rumahnya, nanti untuk urusan pembayaran rumah bisa dibicarakan, yang terpenting hilda mau bekerja dan iwan juga." kata vian


" sekarangkan bapak sama ibu jualan makanan ibu nanti bisa jualan di dekat area mesjid kedepannya bisa jualan di kantin sekolahan." lanjut vian. Vian pun mengajak mereka melihat lihat rumah didalamnya.


" kelihatannya disini belum ada yang berjualan sayuran gitu ya bu, kita bisa jualan disini." kata bapaknya hilda


" iya ya pak, enak lagi lingkungannya, dekat sama mesjid pula." kata ibunya hilda


" bapak sama ibu suka yang ini." kata hilda


" iya nak tapi darimana uangnya." kata bapaknya hilda


" kalau bapak sama ibu suka, nanti biar hilda yang bayarnya pak, bapak dan ibu enggak usah khawatir." kata hilda, sebenarnya dia juga belum tau darimana uang itu, akan tetapi melihat kedua orangtuanya bahagia, makanya dia berkata seperti itu.

__ADS_1


" ibu salut sama kamu nak, kamu anak yang berbakti." kata bu retno


" iya udah pak daryat, tolong proses kepemilikan rumah ini kepada hilda ya." kata vian. mereka pun kembali ke villa, sedangkan pak daryat membawa hilda ke kantor L-Pro.


__ADS_2