
Vian dan yang lainnya pun pergi ke mesjid termasuk lily, astrid dan dilla, devan pun diajak bersama vian pergi ke mesjid. Pulang dari mesjid mereka berkumpul di tempat yang tadi sudah disepakati, vian izin dulu ke pak ustad ogi untuk pergi ke ATM bersama lily, setelah itu vian dan lily kembali berkumpul dengan yang lainnya.
" sore ini kita akan jalan jalan menikmati sekitaran hotel dan mungkin dari bapak ibu ada yang mau dibeli dipersilahkan. Setelah itu waktu bebas silahkan akan tetapi ingat jangan jalan sendiri sendiri terutama yang perempuan dan nanti kita berkumpul untuk makan malam setelah sholat isya." kata pak ustad ogi.
" mohon maaf mengganggu waktunya sebentar, untuk distributor LNI harap mendekat ke saya." kata vian, setelah mereka datang vian pun memberikan uang kepada mereka. lalu vian memanggil managemen LNI, vian juga memberikan uang kepada mereka.
Vian pun mendekati kakek braja dan memberikan uang
" kek, nek ini dari kami untuk kakek dan nenek barangkali ada yang kakek dan nenek mau beli." kata vian
" cu, kakek dan nenek udah bahagia bisa datang kesini, enggak perlu kamu repot repot seperti ini." kata kakek braja
" mohon diterima kek ya, kapan lagi kita kesini, barangkali ada yang nenek mau, kalau kurang bilang ke kami ya, kalau enggak berarti kakek dan nenek enggak menganggap kami cucu." kata lily, akhirnya kakek braja menerimanya sambil meneteskan air mata bahagia
Vian dan lily memberikan uang ke pak daryat, pak opik, pak hendri, murti, lalu ke orang tua teman teman bella, anak anak SPI, bi narsih, marni, evi, lilis, putra dan haris serta pak dede dan pak edi. Vian pun memberikan ke orang tua dan mertuanya serta neneknya lily dan bi rina. Terakhir vian memberikan uang ke shinta dan ibunya. Tak lupa pula vian juga memebri uang ke tim travel.
Setelah itu mereka pergi jalan jalan, astrid membeli kurma muda.
" untuk oleh oleh nanti saja ya, sekarang buat kita makan di hotel saja." kata vian
" iya pah." kata astrid
" kita cari makanan aja yu." ajak bu retno. Mereka berkeliling mencari makanan. Setelah puas mereka kembali ke hotel.
Magrib mereka kembali ke mesjid, mereka mencoba untuk bisa masuk ke Raudhoh. Selama di mesjid devan diajarkan berdoa dan mengenalkan tentang agama, Vian mengajak devan pergi ke raudhoh bersama haris dan putra, kakek, bapak dan mertuanya serta kakek braja. Pak bambang, pak menteri, pak gubernur dan pak bupati pun mengikuti vian.
Mujizat datang seperti pintu raudhoh terbuka untuk vian dan rombongan mereka bisa memasuki kembali, sampai sampai devan di elus dan dijaga sama askar dan dipersilahkan vian untuk sholat dan berdoa dekat makam nabi muhammad yang lain hanya bisa ditempat berbeda sama vian tak terkecuali haris dan putra. Vian mengajak devan sholat lalu berdoa disana, vian menjelaskan bahwa disana ada kuburan nabi muhammad kepada devan. Vian dan devan pun keluar, sedangkan yang lainnya sudah keluar dari tadi, disisi lain lily, astrid dan dilla serta yang lainnya pun bisa memasuki raudhoh. Mereka pun bertemu di luar.
__ADS_1
" papah, kita bisa masuk ke raudhoh." kata lily begitu gembira
" alhamdulillah, nenek juga bisa kesana." kata neneknya vian
" bapak juga sama bisa masuk, tapi kenapa aa enggak ajak kakek sholat dan berdoa dekat makam nabi muhammad." kata pak bowo
" iya aa hebat tadi sampai aa di jaga askar." kata pak adi
" tadinya kakek mau bilang loh aa, itu cucu kakek." kata pak bowo
" subhanallah pak vian bisa mendapatkan perlakuan seperti itu." kata ustad ogi
" aa tau askarnya bilang apa." kata pak bowo
" tau dong kek, dia bilang anak ganteng, anak sholeh, anak baik, disini aja sholat dan berdoanya sama papah." kata devan
" aa doain papah, mamah, dan keluarga supaya sehat sayang sama aa, aa jadi anak pinter, anak sholeh." jawab devan
" anak mamah pinter banget." kata lily
" aa hebat banget, sampai disayang sama askarnya." kata ustad ogi
" nanti kalau di mekkah, kalau memang memungkinkan kurangi sholat sunah dan baca al-qur'an, kita perbanyak tawaf sunnah saja." kata vian
" kok gitu pah." kata lily
" sholat dan membaca qur'an bisa kita lakukan di indonesia sedangkan tawaf enggak bisa, jadi kalau memungkinkan kita tawaf saja, tapi jangan memaksakan." kata vian
__ADS_1
" betul itu pak, ibu, tapi tadi kita juga harus lihat kondisi." kata pak ustad ogi, ustad ogi pun mereka pergi melihat lihat makam baqi, Makam Baqi terletak di sebelah timur masjid Nabawi. Di sini dimakamkan para istri nabi dan juga sahabat-sahabat nabi dan para syuhada. Mereka hanya melihat dari luar saja. Setelah itu mereka kembali ke mesjid untuk sholat isya. Selesai sholat mereka kembali ke hotel untuk makan malam.
Selesai makan vian pamitan ke luar hotel bersama pak dede dan yang lainya vian pun merokok disana. Sedangkan lily, astrid dan dilla bersama orang tua dan mertuanya serta shinta dan ibunya berkumpul bersama ustad ogi. Vian kembali masuk dan pergi ke kamarnya, de qinar sedang di tidurkan sama lily, sedangkan shinta dan dilla sedang di cek sama dr. Silvy. Vian pun bermain sama devan sampai dia ketiduran. Vian pun menyampaikan bahwa nanti pagi dia mau ke mesjid, setelah itu mereka pun tidur. Vian bangun jam 2 pagi lalu pergi mandi, setelah berpakaian rapih dia pergi ke mesjid, vian ingin benar benar memanfaatkan umroh kali ini untuk ibadah. Setelah selesai sholat syubuh dia kembali ke hotel.
Selesai sarapan mereka siap siap mau pergi berjiarah ke tempat tempat sejarah islam. Jam 9 mereka pun pergi dari hotel. Mereka kembali lagi ke hotel jam 4.37 menit. rutinitas sama seperti kemarin.
Di hari ke 3 disana, jam 10 pagi pak ustad mengajak bicara vian, lily, astrid dan dilla Bersama orang tua dan mertua vian serta shinta dan ibunya
" maaf pak vian saya mengajak bicara bapak nih, karena kemarin ibu lily dan yang lainnya sudah mengobrol dengan saya. Ada hal yang saya ingin tanyakan kepada bapak." kata pak ustad ogi
" iya pak ustad, mengenai apa ya." kata vian
" ibu lily, ibu astrid dan ibu dilla mereka setuju jika memang bapak mau menikah lagi, apakah bapak mau dan menyukai ibu shinta." kata pak ustad ogi. Vian diam, dia melihat lily, astrid dan dilla serta yang lainnya.
" iya pak ustad saya bersedia." kata vian
" apakah ibu shinta mau menerima pak vian menjadi suami ibu, walau ibu sudah tau kondisi pak vian." kata pak ustad
" iya pak ustad saya bersedia menjadi isteri pak vian." kata shinta
" apakah ibu sebagai orangtua ibu shinta merestui." kata pak ustad
" kalau memang ini jalan dari Allah jodoh anak saya, saya merestuinya pak ustad." kata ibu anita
" kalau begitu sudah tidak ada masalah ya, ini kita nikah secara agama, nanti setelah ini kalau.mau terdaftar secara negara pak vian dan ibu shinta bisa mengadakannua kembali, karena ayah ibu shinta sudah tidak ada maka saya akan meminta paman dari ibu shinta untuk memberikan izin mewakilkan kepada saya sebagai walinya." kata pak ustad ogi.
Shinta pun menelepon pamannya, yang memang sebelumnya audah diberitahukan.
__ADS_1