Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Hari Keberangkatan 2


__ADS_3

Selesai sholat, ada yang istirahat dan kebanyakannya mengobrol. shinta membuatkan kopi untuk vian. Vian juga menyuruh mereka yang mau kopi membuat sendiri.


" shin kamu sombong ya, sekalian dong buatkan kita juga." kata abe


" maaf pak ya buat sendiri aja, aku lagi belajar melayani suami." kata shinta


" beneran nih, kapan kok enggak undang undang sih." kata abe


" tunggu aja ya pak, sabar nanti di kasih tau deh." kata shinta, setelah itu dia pergi membantu cindy dan murti.


" gimana be, kok LNI enggak ada perkembangan produk baru ini." kata vian mengalihkan pembicaraan tadi.


" bulan besok pak ada produk baru, kita mau garap produk dewasanya juga seperti kaos, pakaian dalam wanita dan pria baik anak anak maupun dewasa


" iya sudah kalau begitu, soalnya saya perhatikan omzetnya hanya sekitar 6 milyaran aja, sedangkan LA udah mencapai 7 milyar loh." kata vian


" iya pak makanya kita mau garap ke produk dewasanya supaya bisa lebih luas lagi pangsa pasarnya." kata abe


" kalau begitu dra tetap beli itu lahan buat produksi pakaian dewasanya." kata vian


" baik pak." kata hendra


" mudah mudahan di semester 2 omzet bisa di 6 atau 7 milyar pak." kata abe


" itu harus, pasar bayi dan anak anak sebenarnya masih luas loh." kata vian


" iya pak, banyak yang tanya gendongan bayi yang kekinian itu, coba produksi." kata pak dodi


" kalian gimana ini tim riset dan pengembangan usahanya, walaupun kecil peluangnya kalau masih kita bisa produksi ambil kesempatan itu." kata vian


" baik pak, nanti saya sampaikan ke tim riset dan produksi untuk dibuatkan samplenya." kata abe


" jadi setiap ada produk baru langsung kirim ke distributor untuk test pasarnya, jangan nunggu diatributor pesan." kata vian


" jangan nunggu ide dari ide saya aja, kalian yang lebih tau dilapangan." lanjut vian


" ganggu enggak nih pembicaraan internal perusahaannya." kata pak menteri


" enggak kok, biasa kita ngobrol santai mumpung ketemu." kata vian, vian pun memperkenalkan mereka ke pak bambang, pak menteri, pak gubernur dan pak bupati


" sama anak anak kalian atau saudara yang mau masuk sekolah SD, SMP, SMA, SMK atau pun kuliah sekolahin atau kuliah di Yayasan pendidikan Livi aja." lanjut vian


" ada discount gak pak untuk karyawan livi." kata abe


" bikin malu aja kamu tuh be, masa direktur minta discount." kata vian


" siapa tau aja pak," kata abe


" iya pasti ada, sok aja kamu bicarakan sama tim YPL." kata vian

__ADS_1


" saya ada ponakan pak mau masuk SMA dan ada juga yang mau kuliah, apa udah buka pe daftarannya." kata aga


" udah kamu bawa aja kesana untuk lihat lihat dulu." kata vian


" baik pak nanti saya sampaikan." kata aga


" pik apa produk terbaru LA." kata abe


" kita mau bangun pabrik pengolahan air minum dan pabrik pengolahan makanan ringan, nanti LNI air minumnya dari kita ya." kata Opik


" bagus enggak airnya. Jangan sampai air limbah ternak lagi." kata abe sambil tertawa


" enggak lah murni dari air pegunungan, ini gunungnya mau LA beli." kata opik ketawa


" terus yang pabrik minyak gimana." kata abe


" itu ada yang urus pak Andi dan itu bukan tanggung jawab LA lagi." kata opik


" tapi itu masih punya pak vian kan, kapan mulai operasionalnya." kata abe


" masih dong, saya sama pak bambang, kemungkinan besar sama pak menteri juga. Mudah mudahan bulan depan sudah mulai operasional." kata vian


" wilayah surabaya saya daftar deh pak jadi distributornya." kata pak anam


" wilayah jabodetabek saya distributornya pak." kata pak dodi


" boleh. Bagus itu." kata vian


" mie instant, tepung terigu, beras." kata vian


" siap bulan depan kirim pak, soalnya saya rencana mau beli ruko yang sebelahnya." kata pak dodi


" soalnya ruko sekarang untuk produk LNI, SPI, LA sudah enggak bisa nampung lagi, lantai 2 khusus kantor." kata pak dodi


" nanti produk LA dan PBN bisa tuh disatukan areanya." kata vian


" betul pak, tenang aja pembiayaan ada BLS ini." kata pak dodi


" kantor cabang BLS surabaya kapan mulai pak." kata pak anam


" 2 bulanan lagi pak, semester 2 lah mulai operasional." kata vian


" pak dodi berapa omzet sekarang." kata pak menteri


" perbulannya 4-5 milyar pak, itu seluruh produk LNI, SPI, LA ya pak." kata pak dodi


" saya udah enggak ambil produk dari perusahaan S lagi pak sekarang semenjak SPI mengeluarkan kaoskaki." kata pak dodi


" sama saya juga pak dod, saya hentikan karena ada beberapa komitmen yang enggak jelas." kata pak anam

__ADS_1


" hanya omongan doang gede, praktek dilapangan kita dihabisi sama perusahaan itu sendiri." kata pak dodi


" mudah mudahan aja perusahaan SPI, LNI, dan LA terus melakukan seperti saat ini jadi membantu ke kitanya juga." kata pak anam


" enggak ikutan ah kalau udah urusan perusahaan itu, tali kalau perusahaan SPI, LNI, dan LA melakukan hal yang merugikan sampaikan ke saya aja, kalau mereka enggak tanggapi," kata vian


" saya percaya pak, enggak melakukan hal yang sama seperti perusahaan S itu." kata pak anam


" kita bertahan disana karena enggak ada aja yang lain, beberapa kali bos besar mau ketemu saya tolak." kata pak pak dodi


" sama kalau begitu pak dod, saya di janjikan sesuatu untuk pengembangan usaha, sampai sekarang belum, eh dibantu malahan dari pak vian." kata pak anam


" sekarang pembayarannya pun harus cash sedangkan kita aja ke agen kredit, beda di LNI, SPI dan LA kita ditalangin dulu oleh BLS, dan pengembaliannya dananya pun sesuai dengan keuntungan bersih kita." kata pak dodi


" itu yang saya bilang hanya omong kosong di perusahaan S, dan saya juga baru tau mereka menggunakan dana bank konvensional sedangkan mereka gembor gemborkan syariah." kata pak anam


" curhat nih, udah kita tatap ke depan saja biar itu menjadi pembelajaran kita semua," kata vian


" iya pak, kita kesel aja soalnya pak vian tau sendiri dulu bos besar mau mendepak saya katanya saya enggak komitmen, sedangkan dari perusahaan sendiri seperti itu, harus saling menguntungkan, eh ada distributor saya yang telepin kesana diterima juga." kata pak dodi


" tuh dengerin ya tim LNI, SPI dan LA jangan sampai kalian melakukan hal sama," kata vian


" iya a, insyaAllah kita komitmen." kata ika


" jangan sampai karena kalian hubungan persaudaraan saya sama beliau beliau hancur, karena itu yang mahal. Jangan tergiur untung yag kecil tapi mengorbankan komitmen." kata vian


" kita jadi lebih mengerti kenapa banyak karyawan yang keluar dari perusahaan S itu." kata pak anam


" saya sekarang lebih santai dan tenang pak dalam menjalankan usaha." kata pak dodi


" betul pak, dalam berbisnis kita harus memegang komitmen jangan sampai kita merasa saling menguntungkan ternyata dilapangan tidak terjadi, dan itu sebaiknya dibicarakan lagi." kata pak menteri


" itu sering kita lakukan pak, pas distributor gathering, pembahasan rencana kerja setiap semester, itu tadi hanya omongan saja." kata pak anam


" kita hari ini berangkat umroh nih jangan nambah dosa, kita bahas yang lain aja, untuk produk PBN pak dodi dan pak anam kira kira sudah kebayang mau menjual kemana dan sanggup berapa perbulan." kata vian


" insyaAllah minimal 1 milyar pak, pasarnya ke toko toko sembako yang terpenting harga bisa bersaing." kata pak dodi


" sama saya juga pak, karena itu sebagian kebutuhan pokok." kata pak anam


" siap kalau begitu, jadi omzet 2 milyar sudah ditangan." kata vian


" naikin lagi dong pak dodi dan pak anam produk SPInya." kata ika


" siap bu." kata pak dodi


" iya pak LNI juga." kata cindy


" nanti pulang dari umroh ya." kata pak anam

__ADS_1


mereka terus mengobrol, sampai pak menteri salut akan cara kerja vian dalam pengelolaan perusahaannya, dekat dengan karyawan dan distributor.


__ADS_2