
Vian memberitahukan bahwa lily dan dilla pergi ke LCI, Astrid pun duduk di sebelah vian dan menyandarkan tubuhnya.
" pah, tadi bella bilang katanya ada undangan kampusnya dulu, papah diminta menjadi narasumber." kata astrid
" tadi bella juga bilang, sebentar papah lihat handphone." kata vian lalu mengecek handphonenya, ternyata benar ada pesan dari rektor yang waktu itu bertukar nomer telephone. Vian juga melihat di group alumni yang membicarakannya.
" mamah jangan terlalu cape ya, terus gimana bayi kita." kata vian sambil mengelus perut astrid yang sudah mulai membuncit.
" alhamdulillah sehat pah, semoga aja perjalanan nanti baik baik aja." kata astrid
" aamiin." kata vian
" aku nerima pesan dari orangtua teman temannya bella, mereka mengucapkan terimakasih." kata astrid
" ini enggak apa apa pah, enggak ganggu keuangan, karena papah kan lagi banyak pengeluaran untuk pembangunan disini sama pembangunan pabrik." kata astrid
" enggak sayank, papah sudah alokasikan kok." jawab vian
" soalnya ibu juga bilang, katanya enghak enak jadinya sama papah." kata astrid
" bilang saja sama ibu, jangan menjadi fikiran, semuanya sudah papah perhitungkan, untuk pembangunan pabrik papah dapat dana dari pak bambang setoran modal dari pembelian sahamnya ke papah." kata vian
" pah, jangan tinggalin aku ya, jangan berkurang sayang papah ke aku," kata astrid
" kamu ngomong apa sih sayank, enggak lah mana mungkin papah ninggalin kalian, kecuali kalian yang mau ninggalin papah, papah enggak bisa berbuat apa apa kalau memang itu keinginan kalian. Papah akan terima itu, papah banyak kekurangannya papah sadar itu, papah enggak akan maksa supaya orang terus memberikan sayangnya, cintanya sama papah." kata vian
" bicara aja jangan takut, papah enggak akan mukul kalian kok, jangan sampai papah tau dari orang lain, selama ini papah selalu menjaga privasi kalian, papah enggak tau kalian behubungan sama siapa, papah enggak pernah cek cek handphone kalian karena papah percaya bukan berarti itu papah enggak sayang, kalian berhak mencintai dan dicintai tapi setelah ikrar ijab kabul papah ke kalian diucapkan kalian milik papah, jika kalian merasa tidak nyaman tidak bahagia, maka papah juga harus mengikrarkan lagi dan menyerahkan kalian ke orang tua kalian." lanjut vian sambil menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke arah lain.
__ADS_1
" aku enggak berhubungan sama pria manapun selain papah, kalau papah enggak percaya silahkan aja cek handphone aku, tanya ke semua yang ada di kontak aku," kata astrid
" kalau papah sudah mengecek handphone kalian berarti papah sudah tidak percaya lagi sama kalian, jujur sejak semalam kalian berubah semuanya. Papah enggak mau sampai berlaku kasar terhadap kalian, kalau seperti ini terus papah akan mengalah untuk kebaikan kalian." kata vian. Lalu dia berdiri dan pergi dari gazebo
" papah mau kemana..." teriak astrid, dia mengikuti vian yang masuk ke dalam rumah.
" pah tolong dengerin dulu, nanti mbak yang akan sampaikan ini ke papah." kata astrid
" dengirin apa, kalian sepakat mau mundur dari kehidupan papah kan." kata vian
" papah perlu menenangkan diri, papah enggak mau kasar kepada kalian. 1 hal tolong jaga anak dalam kandungan kamu, biar manapun mungkin itu darah daging papah. Tolong bilang sama dilla juga. Nanti papah akan bilang ke orang tua kalian kalau papah udah tenang," kata vian lalu pergi. Mengambil kunci mobil dan pergi. Astrid menghubungi lily mengabarkan bahwa vian pergi dari rumah. Dan menceritakan bahwa vian sudah mengira bahwa mereka bertiga bersengkongkol mau meninggalkan dia. Lily dan dilla pun bergegas pamitan ke shinta dan ibunya lalu pergi pulang.
Vian pergi ke L-Trans, setelah menelepon pak dede supaya ke kantor L-Trans, vian pun memesan tiket pesawat lewat aplikasi, vian meminta pak dede mengantarnya ke bandara. Setelah itu vian menelepon endris meminta data dia dan keluarganya serta orang tua sama mertuanya. Setelah itu mengirimakan data tersebut ke orang imigrasi dan meminta nomor rekeningnya untuk biaya pembuatan pasport. Vian memberikan nomor endris dan vian juga menyampaikan kepada endris nomor orang imigrasi dan minta maaf karena tidak bisa mendampingi besok ke imigrasi karena ada acara mendadak. Karena berkejaran dengan waktu penerbangan vian meminta pak dede mengantar dia ke bandara.
" kenapa pak ada masalah apa, kok sepertinya mendesak." kata pak dede membuka obrolan di perjalanan
" mudah mudahan enggak terjadi apa apa pak." kata pak dede
" aamiin." kata vian
jam 4.40 mereka tiba di bandara, setelah pamitan vian lalu check in. Vian melihat banyak panggilan telepon dari lily dan pesan baik dari lily, astrid dan dilla.
vian pun membalas pesan mereka.
" Maaf saat ini papah perlu sendiri menenangkan fikiran, dan menyelesaikan masalah terlebih dahulu supaya enak meninggalkannya, maaf ini terburu buru, enggak usah khawatirin papah, nanti papah akan suruh orang tua, adik, kakek, nenek pergi dari rumah kalian membawa devan dan de qinar." jawaban vian, setelah itu vian naik pesawat dan mematikan handphonenya.
Lily, astrid dan dilla pun panik di kamar, dia menelepon pak dede.
__ADS_1
" pak dede maaf, pak vian sama pak dede." kata lily
" sudah enggak bu, tadi setelah saya mengantar bapak saya pulang, memangnya ada apa ya." kata pak dede
" bapak pergi enggak ngabarin kita soalnya, kita khawatir ada apa apa, soalnya kemarin ada kejadian di ruko. Pak dede ngantar pak vian kemana" kata lily
" ke bandara bu, enggak tau mau kemana soalnya bapak sendiri yang membeli tiketnya dan tadi bapak bilang ada masalah jadi dia buru buru harus kesana." kata pak dede
" oh iya sudah makasih ya pak de." kata lily lemas, mereka bertiga pun menangis. Tak lama devan datang
" mamah lily, mamah astrid, mamah dilla kenapa kalian nangis, papah mana mah. Papah jahatin mamah ya." kata devan
" papah enggak jahat kok, papah pergi aja katanya ada kerjaan." kata lily. Devan pun pergi ke bawah memanggil neneknya
" nenek... Nenek..." kata devan
" iya aa, ada apa." kata bu retno
" nek, mamah lily, mamah astrid sama mamah dilla lagi nangis di kamar, aa enggak tau kenapa soalnya papah enggak ada pergi kerja kata mamah." kata devan. Ibu retno pun bergegas ke kamar anaknya itu.
" ly ada apa lagi." kata ibu retno
" vian pergi bu, kata pak dede barusan dia ngantar dia ke bandara tapi enggak tau mau kemana soalnya vian sendiri yang membeli tiketnya, sekarang handphone vian juga enggak aktif." kata lily
" kalian ada masalah apa, enggak seperti biasanya, vian seperti itu kecuali waktu kecelakaan itu dan waktu dia ulang tahun." kata ibu retno
Tak lama ibu ningsih dan devan datang ke kamar, lily pun menceritakan kejadiannya, astrid pun menceritakan kejadian sebelum vian pergi, lily pun memberitahukan jawaban vian di pesan yang ia kirimkan sebelum handphonenya enggak bisa di hubungi lagi.
__ADS_1