
Mereka seperti satu keluarga, tidak ada penghalang diantara mereka
" saya juga sebenarnya malas pulang, tapi tugas sudah menanti." kata pak gubernur
" oh iya pak bambang, untuk peresmian sekolah jadi hari jum'at minggu depan." kata vian
" siap, insyaAllah saya bisa hadir." kata pak bambang
" kalau untuk pak menteri pendidikan bagaimana pak, apa bisa dibantu." kata vian
" saya hampir lupa menyampaikan hal itu, tadi saya sudah bicara, beliau minta undangan resminya saja." kata pak bambang
" siap besok di buatkan dan langsung dikirim kesana." kata vian
" saya minta PDFnya juga ya, supaya saya biaa langsung todong beliau." kata pak bambang
" siap, terimakasih banyak pak." kata vian
" sama pak menteri UMKM beliau menyampaikan kepada saya ingin bertemu sama bapak, kira kira kapan ya biar saya bilang ke beliau." kata pak bambang
" benar benar ya pak vian ini, sampai sekelas menteri minta jadwal ke beliau." kata pak gubernur
" boleh hari kamis di BLS saja waktunya silahkan mau jam berapa, besok soalnya saya mau ketemuan sama pak gubernur D di karawang meninajau lahan pesawahan, saya juga sambil mencari pemasok gabah untuk di pabrik beras kita, sekalian saya mau ke pabrik disana." kata vian
" di daerah sana bapak ada juga pabrik." kata pak bambang
" ada pak, pabrik LNI ceritanya panjang bisa beli itu perusahaan." kata vian
" iya pak, karena syirik dia mengirim hal yang mistis sampai mengancam nyawa dia tuh." kata lily
" yang benar pak sampai segitunya." kata pak bambang, yang ada disana juga kaget
" betul pak, dia merasa usahanya tersaingi sama saya, dan pada akhirnya dia datang ke kantor LNI minta maaf, setelah saya jelaskan dia sadar dan menjual pabriknya ke saya." kata vian
" ternyata masih ada hal seperti itu ya." kata pak gubernur
" namanya hidup kita enggak tau walaupun kita berbuat baik pun belum tentu orang menerimanya baik juga." kata vian
" untung saja banyak menolong pak, temennya bapak, temennya pak dede dan kakek braja." kata lily
" ternyata kakek braja sakti juga." kata pak bambang
" alhamdulillah bisa pak, saya beberapa kali di tolong sama beliau" kata vian
" itu hasil dari perbuatan pak vian juga." kata pak bambang
" ini yang harus kalian contoh." kata pak gubernur
" jangan takut selagi menurut kalian itu benar dan tidak merugikan orang lain lakukan saja." kata vian
__ADS_1
" iya aa." kata ika dan yang lainnya
" emang sampai segitunya pah, sampai mau merenggut nyawa papah." kata astrid
" iya, kita udah pada nangis karena vian udah enggak bergerak sama sekali." kata lily
" alhamdulillah masih banyak yang mau menolong." kata vian
" saya percaya pasti banyak yang akan menolong pak vian, buktinya kejadian kemarin yang di ruko, kalau pak vian mau para penghuni rusun aja siap nyerbu tuh kantor ormas." kata pak bambang
" kalau kita sudah memenangkan hati orang, orang itu akan membela kita sampai mengorbankan nyawanya," kata pak bowo
" lumayan banyak ya pengalaman hidup pak vian ini." kata pak gubernur
" kita sampai memakai penjaga pun akibat vian diserang di kantor BLS oleh orang suruhan yacob." kata pak bowo
" dasar cowok pengecut aja itu." kata lily
" padahal saya enggak ngerebut isteri dia, isterinya aja yang mengejar ngejar saya, saya jadi kena imbasnya." kata vian meledek lily
" kenapa mau kalau begitu." kata lily
" oh iya ly, bapak mau tanya, kenapa waktu kamu ke bali kamu bohong sama kita, katanya ada kerjaan eh tau taunya kamu ngajak jalan vian kesana." kata pak bowo
" iya takut bapak enggak ijinin karena kita juga belum resmi, tapi kita enggak melakukan hal yang enggak enggak kok." kata lily malu malu
" iya. tadi bapak tanya soalnya." kata vian
" jadi kamu menggugat cerai yacob karena kamu udah punya calon toh." kata bu retno
" he..he..he.. Iya bu." kata lily sambil tersenyum
" kenapa enggak langsung kenalin ke kita." kata bu retno
" takut vian enggak serius, dan ibu setuju." jawab lily
" kok jadi ngomongin aku sih." lanjut lily
" oh iya bu ningsih, kenapa dulu mau nerima lily jadi menantu." kata bu retno
" awalnya saya juga takut, karena cewek yang vian kenalin ke kita itu ada sebelum nak lily, karena melihat kondisi keluarganya dia mundur, jadi saya bilang ke vian apa enggak akan terjadi seperti yang udah udah, tapi dia bilang lebih baik dia tau sekarang, kalau dia mau terima kita ya berarti jodoh kalau enggak mau terima ya sudah enggak usah diambil hati." kata ibu ningsih
" akhirnya dia nyesel sekarang, untung aku bukan seperti itu ya bu." kata lily
" iya, nak lily memang baik hati." kata bu ningsih
" kalau ika tau lily mau jadi kakak iparnya kapan." kata bu retno
" pas lamaran aja bu, orang kita dulu jarang ngobrol seperti ini." kata ika
__ADS_1
" bedanya jauh sih ya umurnya, jadi kondisinya berbeda. Tapi kan kalau malam ketemu" kata bu retno
" enggak bu, aa biasanya tidur sama kakek jadi jarang ketemu." kata ika
" alhamdulillah sekarang bisa bersama." kata bu ningsih
" itu perjalanan hidup, kita juga enggak nyangka bisa seperti ini." kata pak adi
" betul pak, saya juga enggak nyangka bisa bertemu pak vian dan keluarga dan saya merasa nyaman berada di keluarga ini." kata pak bambang
" sama pak, saya merasa nyaman jauh dibandingkan dengan keluarga sendiri." kata pak gubernur
" saya juga awalnya belum bisa menerima vian sebagai menantu, dan belum yakin dia bisa bimbing lily jadi isterinya, karena kita tau karakter lily seperti apa." kata pak bowo
" kalau waktu itu bapak nolak, bapak akan menyesal sekarang." kata lily
" iya, tapi karena takdir kita untuk bersama seperti ini lebih kuat." kata pak bowo
" karena takdir kita bisa berkumpul seperti ini." kata pak gubernur
" saya merasa tercerahkan setelah bertemu keluarga ini, biasanya saya diam aja di rumah." kata ibu sisil
" sama bu saya juga, semenjak bertemu ibu lily dan yang lainnya, saya merasa menemukan keluarga yang sudah lama hilang, saya merasa disini saya diterima sebagai keluarga juga." kata ibu nurul
" saya juga dulu waktu beli rumah ini tuh bilang ke vian, ngapain sih kita beli rumah besar memangnya mau punya anak banyak, eh taunya kurang juga, sampai kamar aja sempit." kata lily
" iya udah mbak pisah kamar aja kalau gitu." kata astrid
" oke, pah kita tidur di situ aja yu, biar astrid dan dilla tidur berdua disana." kata lily
" iya udah, mumpung enggak ada yang pake." kata vian
" kalian berdua berpelukan aja ya, kita mau honeymoon." kata lily
" sok aja, nanti kunci kamarnya kita umpetin." kata astrid
" kalian ya, bisanya saling goda aja, ngurus anak aja enggak bisa, sampai dia cari mamah baru lagi." kata bu retno
" jangan ngomong begitu dong bu, aku jadi merasa bersalah banget." kata lily
" makanya kalian harus perhatikan anak anak juga dong, dia juga perlu perhatian kalian." kata bu retno
" iya bu, aku akan perhatikan." kata lily
" habis shubuh kalian jangan tidur lagi, ajak main anak anak." kata bu retno
" iya bu, kita enggak akan seperti itu lagi." kata lily, astrid dan dilla
Karena sudah malam, mereka pun bubar dan masuk ke kamar masing masing.
__ADS_1