
Waktu sudah malam mereka pun pergi ke kamarnya masing masing, kegiatan itu setidaknya bisa menambah ilmu baru.
" pah aku ajarin masalah keuangan ya, cara membacanya." kata shinta
" iya boleh sayang, sambil papah memeriksa laporan ya." kata vian
" oh iya pah tadi ibu bilang katanya om dani mau datang dan saudara lainnya kalau memang dibelikan tiketnya sama kita." kata astrid
" berapa orang jadinya yang akan datang, mintakan photo KTPnya aja sekalian." kata vian
" 9 orang jadinya, iya nanti mamah bilang ke ibu." jawab astrid
" kalau keluarga kamu berapa sayang." kata vian
" ibu bilang sih 10 orang, iya nanti aku bilang ke ibu supaya mereka mengirim KTPnya juga." kata dilla
setelah mengobrol mereka pun tidur, di pagi hari seperti biasa vian dan shinta pergi naik sepeda, kali ini mereka berkeliling di komplek saja. Setelah merasa cape mereka kembali ke rumah, vian pun duduk di kursi teras depan, shinta membawakan air.
" pah hari ini mau kemana." tanya shinta
" papah belum ada rencana sih, memangnya kamu mau kemana." kata vian sambil menyalakan rokoknya
" tadi malam sih ibu ngajak pulang kerumah. Kan kita belum membereskan barang barang kita, katanya paman tanya terus soalnya kontrakan dia sudah mau habis." kata shinta
" iya sudah kita kesana aja jam 10an, banyak enggak yang harus dibereskannya." kata vian
" enggak kok pah sedikit," kata shinta
" barang barang dan surat surat penting seperti sertifikat rumah, ijazah kamu sama deni harus dibawa sama akte dan kartu keluarga juga." kata vian
" terus ibu tinggal disini senang enggak kelihatannya." lanjut vian
" kelihatannya ibu senang karena dia bisa berbaur dengan ibu ibu lainnya, dia merasa memiliki keluarga lagi." kata shinta
" syukur kalau begitu, papah ikut senang juga." kata vian
" iya si deni juga merasa ada teman karena ada ari dan bimo." kata shinta
" pah, kok aku belum hamil juga ya, apa aku enggak bisa hamil." lanjut shinta
__ADS_1
" kita nikah aja baru 2 bulanan, Allah belum kasih aja." kata vian
" tapi papah mau kan punya anak dari aku." kata shinta
" iya jelas dong sayang kok kamu berfikiran seperti itu sih." kata vian
" apa jangan jangan karena pengaruh obat waktu itu ya." kata shinta
" insyaAllah enggak sayang, kita berdoa dan berbuat aja insyaAllah nanti kamu hamil juga." kata vian lalu memeluk shinta dan mencium keningnya. setelah itu mereka pun pergi bersih bersih lalu sarapan bersama.
" papah hari ini mau kemana." tanya lily
" papah mau ke rumah shinta dulu ya, mau beres beres disana." kata vian
" papah aa ikut ya, aa mau makan ice cream disana soalnya." kata devan
" iya boleh sayang, tapi kan sama aja makan ice cream disini juga." kata vian
" beda ah pah, ebak kalau disana." kata devan
" iya boleh aa, nanti kita kesana ya, aa boleh makan ice cream disana." kata shinta
" enggak hanya beresin barang barang aja, dan membawa barang dan surat penting aja kesini." kata vian
" terus kapan kita mau beli untuk bingkisan acara aqiqah de avin sama de alea." kata lily
" nanti sore boleh kita belanjanya." kata vian
" iya sudah kalau begitu, mamah di rumah aja ya, mau bawa siapa untuk bantuin beres beresnya." kata lily
" bawa 1 orang aja deh untuk membantu membereskan disana." kata vian
" oh iya pah aku sudah kirim ktp saudara saudara yang mau hadir diacara aqiqah de avin." kata astrid
" aku juga udah kirim ya pah KTP saudara yang mau hadir di acara aqiqah de Alea." kata dilla
" iya nanti papah kirimkan ke pak dede untuk di booking tiket pesawatnya." kata vian. semalam pak menteri dan pak gubernur sudah bilang bahwa sehabis sarapan mereka akan pulang karena ada acara keluarga di siang harinya.
Jam 9.47 menit vian, devan, shinta dan bu anita pergi ke rumah shinta. Jam 10.27 menit mereka sampai disana, sebelumnya mampir dulu di toko membeli ice cream untuk devan baru setelah itu ke rumah, ibu anita merapihkan barang barang yang menurut dia berharga dan dimasukan ke kamarnya termasuk barang shinta dan deni disatukan di 1 kamar, surat dan barang berharga dibawa ke rumah vian. Shinta membuatkan kopi untuk vian dan pak dede. setelah membantu merapihkan barang barang shinta vian duduk di kursi depan rumah lalu menyalakan rokoknya dan meminum kopi buatan shinta.
__ADS_1
" pak perlu bawa mobil box enggak untuk mengangkut barang barangnya." kata pak dede
" enggak usah pak de, sedikit ini cukup kayanya di bagasi juga." kata vian
pak dede pun membantu memasukan barang barang ibu anita, shinta dan deni ke mobil. Tak lama pak sapto datang kesana.
" selamat siang nak vian, bagaimana kabarnya, saya dapat kabar bahwa nak vian dan keluarga datang kesini tadi saya belanja untuk tambahan di toko yang kosong, oh iya selamat ya atas kelahiran putra dan putrinya." kata pak sapto
" alhamdulillah paman baik, terimakasih atas doa doanya. oh iya kapan paman mau pindahannya." kata vian
" kalau memang sudah di izinkan kami akan mulai mencicilnya nak, supaya enggak repot nantinya, karena masih ada 2 hari waktu tinggal dikontrakan." kata pak sapto
" terus gimana perkembangan toko saat ini." kata vian
" alhamdulillah nak setiap hari ada aja yang belanja walaupun belum rame karena kemarin lama ditinggal ibunya nak shinta." kata pak sapto
" kalau yang barang barang prozen food dan yang lainnya paman bisa hubungi opik aja, paman urus saja segala sesuatunya, dan saya berharap paman bisa berkembang nanti juga untuk minyak goreng, mie instant, terigu dan beras paman bisa hubungi andi, tapi saya nitip jangan sampai ada tunggakan karena itu akan mempengaruhi kepercayaan." terang vian
" iya nak itu pasti paman perhatikan, paman juga enggak akan mengecewakan nak vian dan nak shinta," kata pak sapto
" maaf sebelumnya bukan saya mau saklek kepada saudara tapi ini namanya usaha, saya tau paman lebih berpengalaman daripada saya, saya saja toko yang dekat rumah enggak beda jauh, kalau harus bayar saya bayar juga." kata vian
" iya nak, paman mengerti dan paham soal itu." kata pak sapto
bu anita pun memanggil pak sapto untuk menjelaskan kondisi rumah. Bu anita pun meminta supaya merawat rumah tersebut dengan baik.
" saya juga menitip ini rumah untuk dijaga, kalau ada apa apa hubungi saja shinta ya paman, maaf saya enggak bisa lama lama karena harus belanja untuk aqiqah de avin dan de Alea." kata vian
" iya mas, aku nitip rumah ini, tolong dijaga dan dirawat ya ini peninggalan mas adi soalnya." kata bu anita
" baik dek, terimakasih atas kebaikan kalian." kata pak sapto
" sama sama mas, kita kan saudara, lagian saya sekarang sudah tinggal di rumah nak vian, semoga usaha mas juga lancar dan terus maju," kata bu anita
" aamiin, terimakasih doa doanya dek, mas akan jaga dan rawat ini rumah sampai mas nanti bisa beli rumah sendiri." kata pak sapto
" aamiin, bukan saya mau ngusir mas, mas harus bisa kebeli rumah buat keluarga mas." kata ibu anita
" iya dek, terimakasih banyak." kata pak sapto
__ADS_1
bu anita pun menyerahkan kunci, setelah itu mereka pergi pulang ke rumah.