
Bella dan shinta memijit vian, srtelah sekitar 30 menit mereka memijit vian disuruh terlentang supaya mereka bisa memijit bagian depan vian.
" wah enak banget pijitan kalian. Kata vian
" pijitan pake hati dan kasih sayang pasti enak mas." kata bella
" aku baru minit selain ibu aku loh." kata shinta
" saya jadi orang beruntung dong ya." kata vian
" iya karena aa adalah orang yang aku sukai dan sayangi." jawab shinta
" oh iya shin sebelum kerja di livi kamu kerja dimana." kata vian
" aku pernah kerja di salah satu supermarket menjadi kasir a." kata shinta
" kenapa kamu keluar dari sana." kata vian
" merasa gak nyaman aja pak, kalau kebagian shift kedua pulang malam, dan waktu itu ibu sakit gak ada yang jagain, saya enggak enak kalau terus izin jadi saya mengundurkan diri." kata shinta
" kok kak shibta bisa kerja di livi." kata bella
" waktu itu aku melamar sebagai resepsionis, baru berapa bulan aku diminta menjadi sekretaris sama pak vian." kata shinta
" wah ternyata mas udah main main ya." kata bella
" waktu itu memang mas lagi perlu sekretaris karena untuk menghandle kerjaan terutama di LNI, mas enggak bisa datang setiap waktu kesana karena sedang melakukan pengembangan usaha." jawab vian.
" terus kak shinta betah dan nyaman enggak kerja di Livi." kata bella
" betah, karena yang aku rasakan di livi itu kekeluargaannya bagus, walaupun pasti ada aja yang saling menjelekan satu sama yang lainnya. Yang cari muka kepada atasan. Iya dunia kerja mungkin dimana mana seperti itu." kata shinta
__ADS_1
" ada niatan untuk keluar dari livi." kata bella
" awal awal sih iya, sekarang aku udah nyaman apalagi bosnya baik." kata shinta
" memangnya kak shinta pernah dikasih apa sama mas." kata bella menyelidiki
" dia bos yang enggak pernah marah, kalau ada salah pun selalu mengkoreksinya dan enggak pernah marah didepan orang lain, itu yang luar biasa, jujur kemarin aku dibantu untuk biaya berobat ibu itu hadiah yang luar biasa buat aku, di saat aku lagi bingung dan ternyata aku tidak mengeluarkan biaya apapun di rumah sakit. Dan yang aku salut dia itu tidak pernah merasa bahwa dia itu bos." kata shinta. Vian hanya terdiam dan menikmati pijatan mereka berdua membuat dia mengantuk.
" kalau kamu bell apa. Udah dikasih hadiah apa." kata shinta
" ada deh, yang jelas hadiah enggak akan terlupakan deh." kata bella
" kok kamu bisa sedekat ini sih sama aa." kata shinta
" karena mas vian baik, ganteng, enggak pernah beda bedakan keluarga. mas memperlakukan aku sama seperti ke kak ika adiknya" kata bella
" eh kita mijitin, malahan tidur, mas bangun ah, aku belum dikasih hadiah nih." lanjut bella.
" udah kasian bell, pak vian cape perlu istirahat." kata shinta
" jangan jangan kamu dikasih hadiah itu iya." kata shinta sambil menunjuk ke arah pusaka vian
" iya, aku merencanakannya dengan matang, karena aku mau menyerahkan mahkota aku ini hanya ke mas vian, entah nanti kita bisa menjadi suami isteri atau enggak." kata bella jujur
" kapan kamu melakukan itu." kata shinta
" bulan kemarin waktu aku dinyatakan lulus, aku tagih janji mas uang akan memberikan hadiah apapun yang aku minta." kata bella
" apa kamu enggak takut." kata shinta
" takut apa, hamil, aku udah persiapan obat sebelumnya, kalau pun aku hamil nanti aku minta mas tanggung jawab." kata bella
__ADS_1
" apa enggak takut omongan orang lain kepada kamu." kata shinta
" kenapa peduliin mereka, aku yang merasakannya dan aku merasa bahagia sudah menyerahkan mahkota aku karena itu keinginan aku, aku puas, memang salah tapi aku merasa akan bersalah kepada diri aku sendiri karena terus memendam itu, aku merasa bahagia akhirnya menyerahkan itu ke mas." kata bella
" terus apa ada perubahan sikap pak vian kepada kamu setelah melakukan hal itu." kata shinta
" enggak malahan mas lebih sayang lagi, walaupun kalau di rumah kita biasa saja seperti enggak pernah terjadi apa apa." kata bella
" apa kakak kamu tau." kata shinta
" iya enggak lah, baru kak shinta aja yang tau, awas aja sampai bocor ya, aku udah anggap kak shinta kaya kakak aku sendiri. Tapi mbak tau kalau aku suka sama mas vian." kata bella
" aku juga enggak akan semudah itu menyerahkan mahkota aku walaupun dia pacar aku, tapi aku enggak tau ke mas vian aku percaya dan sayang aku bisa seperti ini." lanjut bella
" mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seperti kamu kalau memang ada kesempatan, karena pak vian sudah banyak bantu aku, aku juga mau memberikan hal spesial buat dia." kata shinta
" beneran kakak mau memberikan mahkota yang kakak jaga untuk mas vian ." kata bella
" kamu aja mau, kenapa aku enggak mau, dulu aku punya pacar dan pernah ngajak begituan, tapi aku merasa dia enggak layak buat mendapatkan itu, tapi enggak tau ke pak vian rasanya aku ingin banget ngasih itu, rasanya akan puas gitu." kata shinta yang sedikit memerah karena malu
" kalau aku kasih kesempatan kakak melakukannya hari ini, apa kakak mau melakukan itu." kata bella.
" kalau aku mau belum tentu pak vian mau kan." kata shinta
" apa kakak enggak akan menyesali itu." kata bella
" kenapa harus menyesali, toh itu keinginan aku, dan malahan aku akan merasa puas dan bahagia telah memberikan mahkota aku ke pak vian." kata shinta.
Waktu pun berjalan mereka pun tertidur berpelukan dibawah selimut. Di pagi hari vian bangun lalu pergi mandi setelah minum air putih. Lalu membangunakan shinta dan bella. setelah membangunkan shinta dan bella vian pergi ke sofa lalu menelepon astrid untuk membangunkan mereka, setelah selesai menelepon shinta datang
" a, mau dibuatkan teh atau susu." kata shinta
__ADS_1
" susu aja shin, terimakasih ya." kata vian, shibta pun membuat susu panas untuk vian lalu memberikannya ke vian, setelah minum susu vian menyalakan rokoknya, shinta kembali ke kamar untuk membersihkan dan merapikan tempat tidur. Bella dan shinta pun datang menemui vian dan mereka pun mengobrol.
Jam 6 vian mengirim pesan ke opik supaya dia membeli makanan untuk sarapan, shinta dan bella pun pergi untuk ganti pakaian. jam 7 vian dan yang lainnya pun sarapan bersama di saung. Selesai sarapan vian pergi ke lokasi pembangunan pabrik. Opik menjelaskan progres pembangunan kepada vian. vian meminta bella untuk mengambil photo dan video kondisi pembangunan pabrik tersebut.