
Di pagi hari seperti biasa vian dan shinta berolahraga dengan naik sepeda keliling komplek, selesai berolahraga vian duduk di kursi halaman depan rumah, shinta pun membawakan minum.
" pah ajarin aku ya bagaimana cara mengelola perusahaan." kata shinta
" iya, pada dasarnya kamu harus fokus kalau memang mau memulai usaha, kamu harus mengerti tentang laporan keuangan, alurnya seperti apa jangan sampai kamu dibodohi karyawan, melakukan perencanaan sumber input dan output produk yang akan kita jual. Paling minimal kamu mengerti laporan keuangan karena yang akan menjalankan bisa orang lain." kata vian lalu dia minum kopi dan menyalakan rokoknya
" belajar aja sedikit demi sedikit, nanti papah perlihatkan laporan keuangan, laporan keuangan yang wajib itu laporan laba rugi dan neraca, di laporan laba rugi kamu bisa melihat berapa omzet, biaya biaya tetap dan variable lainnya, serta berapa keuntungan kita, laporan keuangan ini wajib untuk sebuah usaha, jangan sampai kita merasa untung tapi malahan buntung, yang namanya sebuah usaha, pembukuan itu wajib kalau mau usaha itu berkembang, beda dengan pedagang, kamu dapat harga barang segini kamu jual langsung dapat lebihnya itu keuntungan, akan tetapi kalau kamu lihat bahwa untuk menjual barang tersebut kamu pakai tenaga, mengemasnya, mengirimnya kalau penjualan itu secara tidak langsung, terus kamu perlu listrik, internet kalau memang penjualan online, telepon, gaji karyawan itu juga harus kamu untung, apalagi produk itu dari nol, makanya ada namanya harga pokok penjualan, jadi semua biaya yang melekat terhadap produk itu sampai jadi harus kamu perhitungkan." lanjut vian
" susah juga ya ternyata jadi pengusaha itu." kata shinta
" enggak juga kalau memang itu dijalankan, makanya kamu jangan sampai merasa bahwa pengusaha itu gampang juga, langsung berprasangka yang enggak enggak, kamu mungkin pernah berprasangka enakan jadi bos ya harga sampai barang jadi misal 100 ribu di jual oleh perusahaan 200 ribu, jadi perusahaan mendapatkan untung 100 ribu, kalau perhitungan seperti itu sudah kaya pengusaha, apakah gaji karyawan, utilitas misal air, telepon, listrik dan lain lain enggak kamu anggap sebagai pengeluaran perusahaan, belum transportasi penjualan, promosi, belum discount untuk distributor dan agen perusahaan sudah bagus banget kalau bisa keuntungan diatas 20%, livi aja kadang kala hanya diatas 7%, keuntungannya." kata vian
" di neraca kamu harus bisa melihat aktiva lancar dan hutang lancar bagaimana rasionya, kalau hutang lebih besar itu harus benar benar menjadi pertanyaan." lanjut vian
" yang termasuk aktiva lancar itu apa saja pah." kata shinta
" aktiva lancar itu ada kas, bank, piutang, dan persediaan. Berapa lama piutang bisa dicairkan dari pelanggan yang bagus itu maximal di 2 minggu, kalau memang penjulan bisa tunai itu akan lebih bagus lagi, persediaan berapa lama barang itu mengendap di gudang karena itu akan mempengaruhi juga ke cashflow dan akan menyebabkan biaya penanganan barang tersebut menjadi lebih besar apalagi uang yang dipakai untuk membuat produk tersebut itu hasil dari pinjam ke bank. Jadi biaya bank itu harus kamu hitung juga terhadap harga produk tersebut." kata vian lagi
" wah aku jadi lebih bisa mengerti nih pah." kata shinta
" jadi dalam menentukan harga jual hal hal seperti itu harus kamu perhatikan, misalnya kamu jual tahu goreng isi daging, kamu harus hitung tuh harga tahu, harga daging, bumbu bimbunya, tepung, minyak goreng, gasnya, sangat detail itu sangat bagus." kata vian
" iya ya, terkadang kita orang luar hanya memikirkan garis besarnya saja, tidak memikirkan hal detailnya." kata shinta
" itu dia terkadang kita menyepelekan hal hal kecil tersebut, kita enggak mungkin bisa menguasai semuanya, tapi sebagai pengusaha kamu harus bisa mengerti dan memahami." kata vian
" iya pah terimakasih ya papah mau berbagi ilmu sama aku." kata shinta
" dasar itu dulu yang harus kamu ketahui dan pahami kalau kamu mau jadi pengusaha." kata vian
__ADS_1
selesai mengobrol mereka pergi bersih bersih lalu sarapan bareng
" papah hari ini mau kemana." tanya lily
" palingan papah ke yayasan livi sambil mengecek pembangunan yayasan yatim piatu." kata vian
" papah aa ikut ya, aa mau main sama thunder boleh." kata devan
" boleh sayang, jadi aa mau ikut papah." kata vian
" asyiiiiik aa bisa main sama thunder, makasih ya pah." kata devan
" enggak apa apa aa ikut pah." kata lily
" enggak apa apa, lagian papah kesana ngecek aja, dan nanti bisa main ditemani lilis dan pak zainuri juga disana." kata vian
" aa enggak boleh nakal ya, dan aa harus hati hati mainnya." kata lily
" aa makan dulu yang banyak ya supaya kuat." kata lily
" siap mah, aa makannya banyak terus, nih perut aa jadi gendut kaya mamah astrid dan mamah dilla." kata devan
" mamah astrid dan mamah dilla bukan gendut itu a, tapi busung lapar." kata lily
" enak aja mbak ini, masa kita dibilang busung lapar." kata astrid
" mamah godain mamah astrid dan mamah dilla terus nih, enggak boleh seperti itu mah, dosa." kata devan
" iya a ya, enggak boleh gitu." kata dilla
__ADS_1
sehabis sarapan vian menelepon pak dede lalu pergi siap siap untuk pergi ke yayasan livi. Jam 9.17 menit vian, shinta, devan dan lilis pun pamitan lalu pergi ke yayasan livi, di perjalanan vian meminta pak dede berhenti di supermarket untuk membeli sembako untuk kakek braja karena dia sudah kembali dari pulang kampungnya, vian juga membeli minuman dan makanan ringan serta rokok. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Jam 9.47 menit mereka sampai di villa livi residence, devan langsung ke tempat kandang thunder. Vian mengajak shinta untuk bertemu kakek braja dan vian menyuruh pak dede membawakan sembako yang tadi di beli.
" assalamualaikum kek, gimana kabarnya." kata vian memberikan salam ke kakek braja yang sedang membersihkan halaman rumahnya.
" waalaikumsalam, alhamdulillah cu, kakek dan nenek sehat, maaf ya kakek enggak ke rumah kamu dulu soalnya waktu itu kalian sedang pergi ke acara familly gathering jafi kakek dari stasiun langsung pulang kesini." kata kakek braja
" jagoan kakek mana, ikut enggak dia kesini." lanjut kakek braja yang menanyakan devan
" ikut kek, dia lagi main sama thunder, turun dari mobil langsung kesana. Gimana di kampung keluarganya kakek dan nenek sehat." kata vian
" alhamdulillah cu, terimakasih banyak kamu sudah memfasilitasi kakek dan nenek untuk pulang kampung," kata kakek braja, lalu memanggil nenek. " nek...nek... Nek ini ada tamu," lanjut kakek braja
" kamu nak, gimana kalian sehat sehat kan." kata nenek
" alhamdulillah nek, berkat doa dari nenek dan kakek." jawab vian sambil memberikan salam ke nenek di ikuti shinta
" nek buatkan kopi buat cucu kakek ini, kakek ingin mengobrol." kata kakek braja
" jangan nek, enggak usah repot repot," kata vian
" kamu harus ngopi disini, kalau di villa beda lagi, kamu jarang kesini." kata kakek braja
" iya nak, nenek buatkan kalau begitu." kata nenek lalu pergi masuk dan membuatkan kopi dan teh untuk shinta.
Vian, shinta dan kakek pun duduk di teras, vian menyalakan rokoknya lalu mengobrol lagi bersama kakek braja
" berkat kamu cu, kakek dan nenek masih bisa silaturahmi dengan keluarga kakek dan nenek." kata kakek braja.
__ADS_1
"sama sama kek, alhamdulillah kalau begitu." kata vian
Tak lama nenek membawa kopi dan teh serta oleh oleh dari kampung halaman mereka.