
Vian pun lanjut menjelaskan kepada Hilda, bahwa rumah sakit Livi harus memprioritaskan pasien terlebih dahulu.
" gimana kamu sudah merasa tenang." tanya vian
" udah hilda, jangan difikirkan lagi, saya rasa ibu kamu sudah baik baik aja, kamu enggak usah fikirkan lagi biaya rumah sakit, kemarin ibu aku juga dirawat disana dan enggak mengeluarkan biaya apapun." kata shinta, hilda masih terdiam dia merasa sedih bercampur bahagia karena kekhawatiran dia sudah bisa diatasi.
" iya kak enggak apa apa, aku masih kaget dan bahagia, apa yang aku khawatir bisa teratasi secepat ini, terimakasih pak." kata hilda
" sama sama, jadi bagaimana, kamu mau pulang dulu, atau masih perlu uang untuk keluarga kamu." kata vian
" enggak perlu pulang pak, nanti saja, tapi kalau boleh saya mau pinjam buat kirim orangtua dulu." kata hilda
" perlu berapa, kamu mau kirim berapa memangnya." kata vian
" 2 jutaan saja pak." kata hilda
" saya minta no rekening kamu, gimana kamu kerasan kerja disini." tanya vian
" iya pak, suasana kerja disini enak." kata hilda lalu dia memberikan nomor rekening. Vian pun mentransfer pakai uang pribadinya, vian merasa hilda anak yang baik yang mau memikirkan kehidupan orang tuanya.
" saya sudah transfer ya, pergunakan dengan baik, jangan semuanya dikirim ke orang tua kamu, kalau ada apa apa kamu ngobrol sama pak made kalau enggak ke shinta." kata vian sambil memperlihatkan bukti transfer ke hilda
" pak itu kebanyakan, saya enggak bisa bayarnya." kata hilda sambil mengecek mobile banking miliknya
" itu bukan pinjaman, itu hadiah dari saya karena kamu sayang sama orang tua. Kamu kerja yang baik saja, kamu jadi anak yang baik ya." kata vian
" pak... Saya jadi enggak enak ini pak, terimakasih banyak." kata hilda sambil terisak
" kamu sana kerja lagi, kamu jangan bilang ke yang lain ya. Kamu dulu kuliah dimana " kata vian
" saya enggak kuliah pak, saya lulus sekolah langsung mencari kerja." kata hilda
" kamu mau kuliah." kata vian
" mau banget pak, tapi kondisi keluarga tidak memungkinkan." kata hilda
" iya sudah kamu terus aja kerja disini dulu, nanti kamu bisa pindah ke jakarta dan kuliah di kampus livi." kata vian
" Shin kamu bertukar kontak sama hilda ya." kata vian
" iya pak." kata shinta, mereka pun bertukar nomor kontaknya
" kalau begitu saya permisi pak, terimakasih ya pak atas bantuan bapak." kata hilda
" sama sama, kamu jangan segan segan ya, kalau ada apa apa mengenai keluarga kamu juga kasih tau shinta ya," kata vian
" iya pak, sekali lagi terimakasih." kata hilda, dia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
" bapak tuh terlalu baik sama orang, apa bapak enggak takut dimanfaatkan." kata shinta
" saya belum baik, saya ingin orang mengingat saya akan kebaikan saya dan mendoakan saya, saya pernah mengalami hal seperti itu, bagaimana rasa di tolong orang waktu kita memang sedang membutuhkannya." kata vian. Vian pun mengajak shinta untuk pergi ke tempat wisata.
" aa kita coba naik wahana itu yu." kata shinta sambil menunjuk Banana boat.
" enggak ah, kalau enggak kita Snorkling aja." kata vian
" aku belum pernah a, tapi aku mau deh kalau sama aa." kata shinta. Vian dan shinta pun pergi ke tempat penyewaan. Karena pegawai wahana itu sudah tau vian, mereka pun menganjurkan supaya memakai pakaian berenang terlebih dahulu. disana juga ada tempat yang menjual pakaian renang. Vian membeli untuk dirinya dan shinta, setelah itu mereka diantar ke tengah laut memakai speedboat, sampai disana mereka pun terjun ke laut, vian dan shinta pun mulai menyelam dipandu orang dari tempat wahana yang vian pesan juga. Setelah 40 menitan bermain vian kembali ke daratan.
" aa aku mau naik banana boat," kata shinta
" iya udah kamu aja sana kalau mau naik." kata vian
" aku maunya sama aa." kata shinta manja
" iya udah." kata vian menuruti dan mereka pun naik banana boat. Setelah selesai vian dan shinta berganti pakaian, shinta merapihkan baju renangnya dan baju renang vian. Vian dan shinta kembali ke resortnya. Vian pun pergi ke kursi di halaman belakang resort, sedangkan shinta mencuci pakaian renang miliknya dan vian yang baru dibeli dan dipakai tadi lalu menjemurnya.
" sekarang kamu mau kemana lagi." kata vian sambil menualakan rokoknya setelah minum kopi yang tadi pagi belum habis
" aku pengen jalan jalan keliling aa, pengen tau keadaan disini. aa mau dibuatkan kopi dulu, itu kan yang tadi pagi." kata shinta
" iya udah nanti sorean ya, kita jalan jalan, boleh." kata vian
" terimakasih ya sayang." kata shinta lalu mencium pipi vian dan pergi membuatkan kopi, setelah memberikan kopi kepada vian, lalu duduk disamping vian
" ini pengalaman yang luar biasa, apalagi ditemani sama aa." kata shinta
" disini aja ya a, biar lebih santai." kata shinta
" iya sudah kamu pesan aja ya." kata vian sambil menghisap rokoknya, shinta pun menelepon untuk memesan makanan dan meminta diantar kesana. Enggak berselang lama makanan pun sudah diantar kesana, shinta membawa makanan tersebut ke meja di halaman belakang, mereka pun makan siang bersama. Vian pun mengirim pesan ke lily menanyakan apakah mereka sudah makan siang.
" mah lagi apa, udah makan siang belum." tanya vian
" ini lagi di restoran pah, aku, astrid, dilla dan bu sisil lagi makan, papah udah makan." kata lily
" iya syukur kalau begitu, papah juga lagi makan. Papah besok pulang ada yang mau dibeli disini enggak." kata vian
" enggak lah pah, iya udah kita makan dulu, papah jangan cape cape dan hati hati ya." kata lily
" iya sayank, kalian juga." kata vian. Vian pun mengakhiri chatan sama lily, tak lama ada pesan masuk.
" mas, aku udah di bandara mau ke jakarta sama sella dan selly, mas kapan pulang." kata bella
" iya udah hati hati ya, nanti kalau sudah sampai di jakarta kabari pak dede aja untuk jemput kalian di lobby, besok mas pulang." kata vian
" iya mas, terimakasih. Oh iya nanti ini pasport aku kasih kesiapa." tanya bella
__ADS_1
" kamu kasih ke mbak kamu aja, supaya disimpan dulu." kata vian
" iya udah kalau begitu." kata bella
Vian pun melanjutkan makannya
" chatan sama siapa hayo." kata shinta
" sama isteri, sama siapa lagi." kata vian
" ooh. Kirain sama siapa lagi." kata shinta. Selesai makan shinta menelepon supaya bekas makannya diangkat. Tak lama ada yang mengetuk pintu, shinta membuka pintu kamarnya.
" eh kamu hilda. Maaf ya merepotkan." kata shinta
" iya kak enggak apa apa kok, ini kerjaan aku kok." kata hilda
" gimana ada kabar lagi dari keluarga kamu." kaya shinta sambil berjalan menuju halaman belakang.
" sudah kak, alhamdulillah ibu baik baik aja dan aku juga sudah transfer yang pak vian kasih tadi." kata hilda
" syukur kalau begitu, oh iya kamu disini tinggal dimana." kata shinta
" aku kos kak sama teman teman yang lain, dari sini jalan kaki 15 menitan." kata hilda, mereka pun tiba di halaman belakang
" kamu.. Udah makan belum." kata vian
" belum pak, setelah ini baru mau makan." kata hilda
" gimana ada kabar dari ibu kamu." kata vian
" ada pak, dia alhamdulillah sudah baikan, mungkin besok sudah boleh pulang, terimakasih ya pak atas bantuannya." kata hilda
" oh iya kok kamu bisa kerja disini." tanya vian
" waktu itu saya cari kerja di jakarya susah pak apalagi hanya dengan ijazah SMA saya. Saya coba melamar dan saya diterima disini, walaupun awalnya berat jauh dari orang tua tapi karena kebutuhan saya beranikan diri saja." kata hilda
" iya sudah kamu kerja saja dulu disini habiskan kontrak, nanti kamu bisa kerja di jakarta sambil kuliah, mau kan." kata vian
" mau banget pak, terimakasih sebelumnya." kata hilda
" ingat kalau ada apa apa kabari shinta aja, oh iya kamu pulang jam berapa, kamu pernah keliling disini enggak." kata vian
" jam 4 sore pak, palingan kalau libur sama teman teman yang lain itu pun enggak jauh disekitar daerah ini aja." kata hilda
" nanti temani kami ya, untuk keliling bisa kan." kata vian
" bisa pak. Kalau begitu saya permisi mau bekerja kembali." kata hilda. Setelah merapihkan hilda pun membawa petalatan makan yang kotor dari sana.
__ADS_1
" awas iya kalau aa tertarik sama hilda." kata shinta yang posesif
" enggak dong, saya kan hanya membantu, saya salut akan kerja keras dia saja untuk membantu kehidupan orang tuanya." kata vian lalu menualakan rokoknya.