
Mereka berdua dikejutkan dengan suara Alarm, vian dan silvia pun bangun.
" terimakasih ya om udah memberikan sesuatu kepada aku walaupun ini hanya sebatas diluar saja, tapi aku bahagia, kalau om mau nanti bilang aja ke aku ya." kata silvia sambil mencium pipi dan bibir vian, vian hanya mengangguk. Vian dan silvia pun pergi ke kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu, di kamar mandi mereka saling menyabuni, dan mereka pun melakukan seperti tadi sampai keduanya mendapatkan puncaknya, selesai mandi mereka berganti pakaian. Vian pergi ke kamarnya untuk merapihkan pakaian, setelah itu pergi ke ruangan keluarga lalu membuat kopi dan menyalakan rokoknya. Vian mengirim pesan ke opik untuk membeli makanan untuk sarapan. Tak lama silvia datang lalu duduk disebelah vian dan menyandarkan kepalanya.
" maafkan om ya via sudah melakukan hal seperti tadi." kata vian
" enggak ada yang perlu dimaafkan om, aku malahan berterimakasih karena om udah mau memberikan yang aku mau walaupun hanya sebatas itu. Tapi om janji enggak akan membeci aku ya." jawab silvia. Vian menganggukan kepalanya.
" om mau dibuatkan apa, kopi atau susu." kata silvia
" om udah buat kopi, kamu aja kalau mau bikin, Terimakasih." kata vian, silvia pun bangkit lalu membuat susu untuk dirinya.
Jam 6.40 menit vian, silvia dan pak dede serta opik sarapan bersama di saung.
" pak maaf kemarin saya kecapean dan kurang enak badan, jadi saya istirahat." kata pak dede.
" enggak apa apa pak de, lagian saya enggak kemana mana, tapi sekarang sudah fit kan." kata vian
" alhamdulillah sudah pak." jawab pak dede
" syukur kalau begitu, kita jam 8an pulang ke jakarta ya, soalnya shinta sudah mulai kerasa kerasa mau lahiran." kata vian
" oke siap pak." kata pak dede
" oh iya pik tolong siapkan seperti biasa ya, sama bawa udang ya, soalnya si aa devan suka sekali makan udang." kata vian
" siap pak, setelah ini saya siapkan." kata opik. Selesai sarapan vian menyalakan rokoknya, opik dan pak dede juga sama. Setelah habis sebatang rokok opik pamitan pergi ke pabrik menyiapkan pesanan vian disusul oleh pak dede karena mau memasukan barang pesanan tersebut ke mobil. Vian dan silvia juga pergi ke villa mengambil barang bawaan mereka,
" om aku masih mau bareng sama om," kata silvia manja dia memeluk vian.
" tapi om harus pulang via." kata vian
" tapi kalau ada kesempatan boleh ya aku minta lagi." kata silvia
" iya." jawab vian karena enggak mau membuat silvia ngambek dan berbuat macam macam lagi.
" janji ya.." kata silvia, vian hanya mengangguk. Silvia mencium pipi lalu bibir vian.
__ADS_1
"cium disini dong tanda om sayang sama aku." lanjut via sambil menunjukan telunjuk ke keningnya, vian pun mencium kening silvia. setelah itu mereka membawa barang bawaan mereka pergi ke parkiran dan memaaukannya ke mobil.
Jam 8.17 menit vian dan yang lain pergi meninggalkan Pabrik LA pulang ke rumah. Setelah menempuh perjalanan 3 setengah jam vian sampai di rumah, silvia pergi ke kamarnya di asrama dan vian pun masuk ke rumah. Vian meminta pak dede supaya mulai nanti malam dia standbye karena kalau perlu ke rumah sakit sudah siap kapan pun. Di rumah hanya ada bu anita yang sedang menemani shinta di ruang keluarga.
" papah udah pulang, aku kangen banget pah." kata shinta yang melihat kedatangan vian, lalu dia menemui vian, memeluk dan mencium vian.
" kamu udah makan sayang." kata vian
" udah pah, mbak lily, kak astrid dan kak dilla pergi ke LCI jadi aku sendirian disini." kata shinta
" gimana kondisi kamu sayang,." kata vian
" ya begitu pah, sekarang tidur udah sulit terkadang suka sakit banget." kata shinta
" perasaan ibu sih nak, kamu akan lahiran besok, kalau melihat kondisi kamu seperti ini." kata bu anita
" iya kapan pun bu, yang terpenting ibu dan anaknya sehat dan selamat tanpa ada kurang satu apapun." kata vian
" aamiin." kata shinta dan bu anita. Tak lama handphone vian berbunyi, vian mengangkatnya
" pah, papah jadi pulang hari ini, pulang jam berapa." kata lily
" papah bohong yaaa, sebentar video call aja." kata lily, sambil memindahkan ke video call
" hallo mbak." kata shinta
" kenapa papah enggak bilang kalau udah pulang." kata lily, dia ngambek karena dia merasa tidak dikasih tau.
" papah baru sampai sayank, jelek tau kalau marah. Lagian kan papah udah di rumah." kata vian
" iya udah nanti mamah saya astrid dan dilla pulang." kata lily, dia pun langsung mematikan telephonenya.. Siang itu vian dan isterinya makan siang di rumah.
Di malam hari setelah makan malam, seperti biasa vian pergi ke gazebo, vian membuat kopi lalu menyalakan rokoknya, vian pun mengecek laporan dari perusahaan perusahaannya. jam 9.47 menit lily datang ke gazebo sambil terengah engah.
" pah... Pah shinta pah. Shinta mau melahitkan kayanya." kata lily. Vian mematikan rokoknya lalu pergi masuk ke rumah beraama lily, sampai di kamar sudah berkumpul orang tua dan mertua vian.
" pah sakit... Aduuuh sakit pah." kata shinta kesakitan
__ADS_1
" sabar ya sayang, kita sekarang ke rumah sakit." kata vian, vian menelepon pak dede supaya siap siap pergi ke rumah sakit.
" evi, tolong jaga de qinar ya, saya mau antar shinta ke rumah sakit, astrid dan dilla di.rumah aja dulu." kata lily
" baik bu," jawab evi. " iya mbak, kabar kabarin aja ya." kata astrid dan dilla. Lily hanya mengangguk. Vian membopong shinta turun ke bawah. Ibu anita dan yang lainnya membawa perlengkapan bayi yang sudah disiapkan jauh jauh hari. Pak dede sudah siap semenjak di telepon vian, vian membawa shinta masuk ke mobil, lily dan bu anita mengikutinya. Sedangkan ibu ibu yang lainnya menunggu sopir 1 lagi. Vian pun berangkat ke rumah sakit. Di perjalanan lily menelepon dr. Silvy memberitahukan bahwa dia sudah di perjalanan.
" terimakasih ya nak lily sudah memperhatikan shinta." kata bu anita
" sama sama bu, shinta kan bukan siapa siapa saya, jadi saya harus memperhatikan dia juga." kata lily. Setelah menempuh perjalanan 40 menitan mereka sampai di rumah sakit. Dr. Silvy sudah menunggu kedatangan mereka, vuan membopong shinta turun dari mobil lalu menidurkannya di blangkar rumah sakit, suster pun membawa shinta ke ruangan persalinan untuk di periksa. Setelah dilakukan pemeriksaan shinta memang akan melahirkan. Setelah dilakukan pemeriksaan shinta dibaaa ke ruangan rawat, Shinta sudah gelisah, rasa sakit yang terkadang muncul membuat dia kesakitan. Vian mengelus elus punggung shinta, shingga membuat shinta merasa nyaman. Vian menyuruh lily dan orangtua serta mertuanya istirahat, di ruangan itu hanya ada lily, bu anita, vian dan shinta. Bu anita dan lily selonjoran di sofa ruangan tersebut. Jam 1.47 menit pagi shinta merasakan sakit sekali, vian memanggil suster, suster pun cepat datang lalu memeriksa kondisi shinta. Setelah dilakukan pemeriksaan suster bilang bahwa sebentar lagi shinta akan melahirkan karena posisi kepala bayi dalam kandungan shinta sudah berada dibawah. Suster pun membawa shinta ke ruangan persalinan, dr. anita pun sudah ada disana. Hanya vian yang diperbolehkan masuk ke ruangan persalinan.
" pah.... Sakit banget pah.... Maafin aku ya pah." kata shinta
" sabar sayang, kamu pasti bisa kok dan enggak akan ada masalah apapun, dr. Anita aja sudah ada." kata vian menenangkan shinta
" iya bu shinta, ibu rilex ya, nanti ikutin instruksi saya." kata dr. Anita. Shinta terus memegang tangan vian sambil meringis kesakitan.
Jam 2.07 menit, sang bayi pun keluar dengan tangisan yang lumayan nyaring... Suster pun membawa sang bayi untuk di adzankan vian dan melakukan inisiasi dini kepada ayah dan ibunya.
" selamat ya bu.... Anak ibu ganteng banget." kata dr. Anita
" terimakasih dokter atas bantuannya." kata shinta sambil memeluk sang bayi yang sedang mencari cari ****** susu ibunya.
" terimakasih ya dokter suster atas bantuannya." kata vian
" sama sama pak, ini sudah menjadi tanggungjawab kami." jawab mereka
" oh iya berapa berat dan tingginya dokter." kata vian
" beratnya 3,04 kg, tingginya 51,7 cm." kata dr. Anita
" siapa namanya pak." kata dr. anita
" Razka Viansha Permana." kata vian. Lalu vian pun memberikan kabar kepada keluarganya.
" telah lahir putra kami Razka viansha Permana pada pukul 2.07 menit, dengan berat 3,04 Kg, tinggi 51,7 cm. Semoga menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada orangtua, agama, serta negaranya, menjadi anak yang dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan." tulis vian. Setelah dilakukan pemeriksaan shinta dan baby razka dibawa ke ruangan perawatan.
...*********** END *********...
__ADS_1
Terimakasih atas kesetiaan pembaca Perjalanan Hidup Anak Kampung, mohon maaf kalau ada kata kata yang tidak pantas, terimakasih atas dukungannya dengan memberikan Like, commen. terus baca dan mohon dukungannya kelanjutan kisah dari perjalanan hidup anak kampung dengan judul " ANAK KAMPUNG MENJADI PENGUSAHA ". Jangan lupa yaaa...... Terimakasih