Perjalanan Hidup Anak Kampung

Perjalanan Hidup Anak Kampung
Keinginan Kakek Braja


__ADS_3

Satu persatu tamu vian pamit pulang termasuk para distributor LNI. Setelah makan siang pak menteri, pak gubernur dan pak bupati serta keluarganya pamitan. Pak anam pun pamitan untuk pulang ke surabaya, Disana tinggal pak bambang dan pak gubernur L serta keluarga teman temannya bella. Rumah yang tadinya rame sekarang menjadi sepi.


" feb, kamu ikut pulang sama bapak besok." kata pak gubernur L


" enggak ah pak, aku disini aja, lagian aku kan masih PKL pak, vinna dan fenny besok mereka kesini." kata febby


" iya sudah gimana kamu aja, yang terpenting kamu jangan membuat malu keluarga dan merepotkan pak vian." kata pak gubernur L


" enggak kok pak, mereka sudah dewasa, pasti mereka tau mau yang baik dan buruk, apalagi mereka telah melakukan perjalanan ibadah umroh semoga itu bisa menjadi pengingatnya." kata vian


" kalau begitu saya mohon maaf akan merepotkan pak vian dan keluarga." kata pak gubernur L


mereka pun pergi ke kamar masing masing karena masih lelah.


Di sore hari vian bangun lalu pergi mandi dan sholat, setelah itu di pergi ke gazebo lalu membuat kopi dan menyalakan rokoknya, vian pun membuka daily report perusahaan yang selama di tanah suci enggak pernah dia lihat.


Sehabis sholat magrib mereka makan malam bersama. Selesai makan vian pamitan ke kursi depan untuk merokok dan santai disana. Vian memikirkan rencana kedepan untuk perusahaannya karena di pundaknya banyak yang menggantungkan kehidupan, dan dari perusahaannya pula banyak anak yatim dan orang yang membutuhkan uluran tangannya. Orang menganggap enak menjadi seorang pengusaha karena dia tinggal menunggu hasilnya saja, tapi sebagai pengusaha memiliki tanggung jawab yang jauh lebih berat. Disaat vian sedang menikmati rokok dan kopinya kakek braja datang menghampiri.


" cu, sedang apa kok melamun gitu." kata kakek braja


" saya sedang memikirkan perusahaan saja kek, kalau saya hanya memikirkan untuk diri saya dan keluarga saya rasa sudah sangat cukup, akan tetapi bagaimana kehidupan karyawan saya, bagaimana anak anak yatim dan orang orang yang masih membutuhkan uluran tangan saya." kata vian


" kamu begitu memikirkan mereka, itu yang enggak ada disetiap orang, kakek bangga ke kamu cu, terimakasih atas segala kebaikan kalian kepada kakek dan nenek, tetap jadi orang baik walaupun kamu dibeci orang." kata kakek braja


" iya kek terimakasih banyak." kata vian


" saya enggak tau apa yang saya lakukan ini benar atau salah, saya hanya menjalankan sebagai seorang pemain dalam kehidupan ini." lanjut vian

__ADS_1


" kamu jangan pernah mengharapkan penilaian dari orang, karena penilaian orang akan berbeda beda bagaimana mereka melihatnya, kamu tinggal mengharapkan penilaian dari Allah aja, tadi kamu bilang sebagai pemain dalam kehidupan ini, jadi biar Allah yang menilai permainan kamu itu, kamu jangan pernah merasa di atas karena angin akan begitu kuat menerjang kamu apalagi sampai kamu lupa sehingga menjadi sombong, itu akan menghancurkan kamu." kata kakek braja


" terimakasih ya kek." kata vian


" kakek hanya bisa mengingatkan kamu, sekarang kamu banyak di puji orang, bagus kalau itu membuat motivasi kamu menjadi lebih tinggi lagi untuk bisa membahagiakan orang lain, tapi kalau kamu salah dalam melangkah misalnya kamu menjadi angkuh, sombong, pujian itu akan menjadi cacian." kata kakek braja, tak lama pak adi, pak bowo datang juga kesana mereka pun ikut merokok dan mengobrol.


" oh iya kek, apa kakek di kampung enggak ada keluarga lagi, apa kakek enggak mau kesana, jika kakek mau kesana bilang aja nanti saya siapkan mobil dan sopirnya." kata vian, vian bicara seperti itu karena melihat ada keraguan untuk bicara


" oh iya kakek itu aslinya mana." kata pak bowo


" orang tua kakek dan nenek dari Solo tapi saya pengembara karena kejadian waktu itu, ada adik dan paman paman tapi enggak tau apakah mereka masih menerima kakek. tapi memang kakek ingin pergi ke makam orang tua sudah lama kakek enggak berziarah ke makam beliau, kemarin waktu umroh kakek teringat mereka." kata kakek braja sambil menahan tangis, bagaimana pun kuatnya seseorang kalau sudah membahas tetang orang tua pasti luluh, terkecuali orang tersebut sudah membatu hatinya.


" iya sudah kapan kakek mau pergi, supaya saya bisa siapkan mobilnya, kakek enggak usah memikirkan masalah apapun, kakek tinggal duduk manis saja, buktikan kemereka bahwa kakek berhasil." kata vian


" iya kek kalau ada apa apa bilang ke kami, insyaAllah selagi kami bisa kami akan bantu kakek." kata pak adi


" besok kakek mau berangkat kesana, saya telepon pak dede supaya dia menyiapkan mobil dan sopirnya." kata vian


" kalau memang kamu mengizinkan kakek dan nenek untuk pergi kesana kakek mau besok pergi, mumpung masih dalam suasana pulang dari umroh." kata kakek braja, vian menelepon pak dede supaya besok habis sarapan menyiapkan mobil dan sopir untuk kakek braja ke solo.


" kalau keluarga kakek disana tidak mengizinkan kakek menginap di rumah mereka kakek bisa mencari hotel, kakek enggak usah mikirin biayanya, nanti sopir L-Trans yang akan mengaturnya tinggal kakek bilang saja mau apa ya." kata vian


" terimakasih banyak cu, kamu sudah mengabulkan keinginan kakek dan nenek karena juga mau ke makam orangtuanya." kata kakek braja


" kakek mau balik dulu ke rumah atau langsung dari sini." kata vian


" langsung saja nak, baju sudah ada yang bekas dari umroh." kata kakek braja

__ADS_1


" iya sudah kakek, kakek siap siap, besok berangkat jam 8 dari sini." kata vian


" iya cu, kakek juga mau ngasih kabar bahagia ini ke nenek." kata kakek braja lalu dia pamit masuk ke dalam rumah.


Tak lama pak gubernur L datang menemui vian


" lagi asyik nih, oh iya pak vian saya mengucapkan terimakasih banyak atas segalanya dan saya juga mohon maaf telah merepotkan pak vian dan keluarga, besok pagi jam 7an saya dan isteri mau pamit pulang karena saya harus mulai bekerja." kata pak gubernur L


" tiketnya sudah dipesan pak, kalau belum biar saya suruh tim untuk membelikannya." kata vian


" sudah pak terimakasih banyak," kata pak gubernur L


" iya sudah kalau begitu, besok bisa diantar oleh sopir dari sini ke bandara." kata vian


" terimakasih pak, saya jadi merepotkan terus." kata pak gubernur L


" enggak apa apa pak, seperti sama siapa saja." kata vian, vian pun menelepon pak dede lagi supaya ada yang mengantar pak gubernur ke bandara, kendaraannya pakai mobil vian.


" oh iya pak, pembelian saham di perusahaan SPI untuk febby saya transfer minggu depan ya, tapi enggak apa apa ya kalau saya cicil, saya enggak enak kalau mematahkan semangat dia." kata pak gubernur L


" iya sudah enggak masalah pak, sesuai dengan yang waktu itu dibicarakan persentasenya." kata vian


" iya pak 5% saja, saya lihat dia itu semangat sekali." kata pak gubernur L


" iya sudah biar saya buatkan surat penyertaan saham di perusahaan SPInya, tapi nanti setelah RUPS luar biasa baru masuk ke dalam akta notaris perusahaan, ini hanya untuk pegangan saja," kata vian


" silahkan gimana bagusnya saja, saya percaya sama pak vian." kata pak gubernur L

__ADS_1


" iya nanti kalau sudah besar SPInya Febby kalau sudah enggak betah disini bisa buka cabang di surabaya, kalau enggak mau bekerja pun nanti kalau SPI menadapatkan keuntungan setiap tahunnya pasti mendapatkan deviden, nanti untuk prosesnya bisa dibicarakan lebih lanjut." kata vian, Setelah mengobrol mereka masuk ke rumah untuk istirahat


__ADS_2