
Vian menikmati kopi di saung sambil menghisap rokoknya
" gimana pak rasanya punya 4 isteri." kata pak dede
" sama saja pak de, yang beda adalah menambah tanggung jawab. Saya juga tidak pernah kefikiran bisa punya 4 isteri, pak dede tau sendiri saya gimana." kata vian
" iya juga ya, ini jalan hidup bapak, sama seperti kita ini, tapi saya salut sama bapak, dari dulu bapak enggak pernah berubah, bapaj tidak pernah memandang orang lain yang dibawah bapak rendah yang berada diatas bapak juga tidak segan segan kalau orang tersebut sombong angkuh apalagi dia berpendidikan tinggi tidak menunjukan kepribadiaan seorang yang berpendidikan, apalagi merendahkan orang lain karena pendidikannya. Bapak selalu bisa merangkul orang, contohnya aja si hendra yang dulu mau gebukin manager dan direktur gara gara mereka merendahkan hendra dan omongan mereka enggak ditepati." kata pak dede sambil menghisap rokoknya
" pas bapak keluar waktu itu, banyak omongan yang enggak enak yang ditujukan ke bapak, katanya bapak ngambil barang padahal kalau menurut saya wajar saja bapak ngambil juga toh bapak pakai untuk promosi perusahaan, saya saja sudah berapa kali di cegat polisi di jalan tapi setelah mereka tau bapak, mereka mengijinkan jalan lagi bahkan mereka hormat dan menitip salam, sampai orang polsek di gudang bilang saya malas ngontrol lagi ke gudang, dan waktu itu juga coba kalau bapak enggak kenal orang polsek waktu ada kejadian kecelakaan mana mau mereka membantu. harusnya perusahaan melihat kesana, jangan pernah mendengarkan orang yang suka mencari muka, dan melihat kesalahan orang hanya dari satu sisi, kita berbuat 10 kebaikan dihancurkan 1 kesalahan." lanjut pak dede
" waktu saya mengundurkan diri saya akui kesalahan saya karena enggak langsung bilang pas ambil barang karena enggak ada orang, saya juga bilang kalau saya mau ambil barang perusahaan buat apa hanya 5 lusin padahal saya bisa saja mengambil 1 gudang toh saya tau, dan tinggal bilang itu perampokan, saya kenal preman disana. Makanya pas ada security yang meninggal para preman itu nyamperin saya, mereka bilang bapak sudah enggak di kantor lagi ya, bodoh aja mereka melepas bapak, saya bilang ke mereka silahkan saja kalau mau berulah disana toh saya sudah enggak disana lagi." kata vian
" iya para pimpinan waktu itu enggak melihat gimana bapak mengeluarkan uang pribadi untuk meredam amarah para preman, gimana rasanya dikerumuni preman membawa golok, sekarang mereka tinggal enaknya saja, membantu karyawan yang kesulitan yang enggak dikasih pinjam dari perusahaan, melobi PLN supaya cepat dipasang jaringan listrik, sampai PLN memasang tiang dan gardu sendiri di gudang. Kalau di fikir setiap liburan lebaran gudang itu enggak pernah di jaga, tapi karena kedekatan bapak tetangga disana mau ikut menjaga dan pihak polisi pun mengontrol kesana, saya tau bapak mengeluarkan uang dan paket lebaran untuk mereka, seharusnya pimpinan otu melihat kesana, anak anak baru yang cari muka itu taunya sudah enak." kata pak dede
" makanya dari situ saya belajar pak de, dan pak dede juga jangan langsung menyalahkan karyawan yang melakukan kesalahan, tapi pak dede harus tanya kenapa mereka melakukan itu, kalau mereka melakukan itu karena keperluan keluarga dan benar benar gaji mereka itu habis untuk keluarganya bukan untuk kesenangan dia, kita yang harus intropeksi bahwa kita masih belum bisa memberikan kehidupan yang baik untuk mereka. Mereka di ingatkan saja jangam sampai melakukan hal itu lagi, kalau memang benar benar membutuhkan silahkan ajukan pinjaman ke perusahaan, dan pihak perusahaan pun jangan mempersulit mereka kalau memang itu untuk yang urgent, kalau perlu perusahaan membantu mereka." kata vian
__ADS_1
" saya sudah sampaikan hal itu ke karyawan L-Trans, dan alhamdulillah mereka sangat menyambut dengan baik, saya tau di jalanan itu seperti apa, mereka bilang kerja saat ini merasa diperlakukan seperti manusia, oh iya jadi ingat mereka ingin bertemu sama bapak, mereka ingin mengucapkan terimakasih secara langsung." kata pak dede
" iya sudah pak dede atur saja, mau di rumah sok aja kita adakan makan malam bersama, suruh ajak keluarganya." kata vian
" baik kalau begitu pak, oh iya pak si yudi bilang ke saya pak de, gimana ya caranya mengucapkan terimakasih ke bapak, sampai ibunya bilang awas aja kalau kamu kerjanya enggak benar apalagi merugikan bapak, misalnya sampai perusahaan enggak bisa gaji pun dia harus berjuang supaya perusahaan itu bangkit lagi katanya." kata pak dede
" bilang aja kerja yang benar aja, tanggung jawab atas kerjaan dia, pak dede juga bimbing dia sekarang dia sedang di atas jangan sampai terlena, nanti kalau ke surabaya saya bilang ke dia, karena kemungkinan bapaknya dilla enggak lanjut mengurus di dillas. Jadi saya mau nunjuk temannya bella untuk mengurus dan pak yudi membantu di dillas juga." kata vian
" saya sudah mau melepas beberapa tanggung jawab kaya di SPI dan LCI, saya akan fokus di LA dan PBN dulu, mungkin ke yang lain sesekali saja." lanjut vian
" pantes saja bapak sering kesini sekarang sekarang ini." kata pak dede
" dulu saya kira astrid dan dilla akan tetap di surabaya, eh malahan disini, rumah disana aja jadinya enggak efektif." lanjut vian
" bagus juga sih pak, bapak mulai sedikit demi sedikit melepas perusahaan perusahaan yang dirasa sudah bisa jalan tanpa bapak, karena nanti khawatir kalau bapak sama sekali enggak bisa ke perusahaan, perusahaan tersebut jadi enggak berkembang." kata pak dede
__ADS_1
" oh iya ngomong ngomong karyawan L-Trans kebanyak tinggal dimana." kata vian
" dulunya mereka ngontrak tetapi setelah livi residence membuka perumahan baru saya suruh mereka pindah kesana, saya sudah koordinasi sama pak daryat pak." kata pak dede
" yang tadi pak dede sampaikan karyawan L-Trans mau ketemu saya jadwalkan saja ke rumah, tapi pak dede sehati sebelumnya harus kasih tau ya, akhir pekan ini kita kesini peresmian PBN, kamis malam jum'at bisa juga tuh." kata vian
" kalau begitu boleh pak, karena kamis itu biasanya yang di luar kota sudah kembali." kata pak dede
" iya tanyakan saja dulu ke mereka." kata vian
" baik pak kalau begitu." kata pak dede
mereka pun bubar karena sudah magrib, devan dan shinta pun sudah di dalam, mereka pun sholat magrib bersama. Sehabis sholat vian bilang ke opik bahwa dia akan keluar mencari tempat makan dan nanti akan ke tempat endris.
vian dan yang lainnyanya pergi mencari tempat makan, jam 8.17 menit mereka pergi ke tempat endris. Di sana endris sudah menyambutnya lalu membawa vian dannyang lain pergi ke tempat acara di lapangan, disana sedang dilakukan aktraksi dari para tentara.
__ADS_1
" gimana a, senang enggak lihat aktraksi mereka." kata endris
" aa senang om melihat para tentara itu melakukan aktraksi." kata devan gembira, devan melihat aktraksi itu bersama devina dan febry anaknya endris, shinta bersama isterinya endris. Vian dan endris pun melihat lihat, setelah selesai para tentara aktraksi, mereka makan malam bersama menurut mereka itu makanan yang sangat luar biasa karena selama latihan mereka enggak menemukan hal seperti itu.