
Mereka pun mengobrol di halaman depan rumah sambil menikmati jagung bakar. Ika dan yang lainnya pun ikut gabung.
" o iya kek, 2 bulan lagi kami akan pergi umroh, kakek dan nenek mau ikut gak." kata vian
" kalau di tanya mau atau gak, semua muslim pasti mau dong, tapi dari mana kakek bisa pergi kesana." kata kakek braja
" kakek sama nenek sudah ada kartu keluarga dan kartu identitas di livi residence kan." kata vian
" iya sudah, kakek dan nenek sudah memilikinya, surat surat penting juga kakek selalu bawa dari dulu." kata kakek braja
" iya sudah minggu depan kita buat pasport bareng bareng ya. Nanti pak edi atau pak dede jemput kakek." kata vian
" Alhamdulillah ya Allah, kesampaian juga kakek bisa menginjakan kaki disana. Terimakasih banyak cu." kata kakek braja, nenek braja pun menangis memeluk lily
" sama sama kek, kakek sudah banyak menolong saya dan keluarga, dan mungkin ini jalan Allah memanggil kakek untuk kesana." kata vian
" kakek yang banyak ditolong sama kamu cu, kalau gak ada kamu mungkin kehidupan kakek dan nenek gak akan sebaik ini." kata kakek braja
" iya kek, karena kakek menjadi pintu untuk yang lainnya bisa memiliki hunian yang layak." kata pak bambang
" makanya kakek bingung kenapa masih ada aja orang yang mau menyakiti kamu cu, kamu usaha bukan semata mata buat dinikmati sendiri. Maunya itu orang apa." kata kakek braja
" memangnya kenapa kek, ada orang yang mau nyakiti pak vian." kata pak bambang
" iya pak, kecelakaan kemarin itu disebabkan ada orang yang ingin supaya dia celaka dengan mempengaruhi fikiran dan emosi dia." kata kakek braja
" keterlaluan itu orang, masih ada aja orang seperti itu, setau saya pak vian tidak pernah merugikan orang lain." kata pak bambang
" nah itu dia pak, tapi biarkan dia merasakan akibatnya sekarang." kata kakek braja tersenyum puas.
" oh iya cu, besok kakek ingin bertemu sama tetangga dulu di gubuk." kata kakek braja
" iya kek boleh, besok sekalian saja sama saya kesana, saya juga ingin membagikan sembako." kata vian
" pak de, besok pagi beli beras yang 5 Kg, gula yang 2 kg, minyak yang 2 liter, teh, telor, mie istant untuk 150 paket." lanjut vian
" siap pak, kira kira jam berapa mau kesananya." kata pak dede
__ADS_1
" jam 11an, soalnya pagi saya akan ke rumah sakit cek kondisi lagi, untuk telor 1 kg, mie instant 10 pcs per kantongnya." kata vian
" siap pak, untuk kemasannya mau pakai plastik atau goodybag pak." kata pak dede
" supaya bagus pakai goodybag saja." kata vian
" baik kalau begitu." kata pak dede
" saya ikutan nyumbang deh." kata pak bambang
" boleh pak. Bapak mau ikut kesana juga." kata vian
" boleh saya ikut kesana juga, saya belum pernah datang lagi kesana semenjak peletakan batu pertama waktu itu." kata pak bambang
" sama saya juga belum pernah kesana lagi." kata vian
" aa SPI ikutan nyumbang ya." kata ika
" LCI juga pah." kata lily
" iya boleh." jawab vian
" alhamdulillah pak, setiap hari omzet naik terus." kata ibu sisil
" sama SPI juga pak." kata silvy
" alhamdulillah, terus apa yang kamu dapatkan semenjak gabung dengan SPI." kata pak bambang
" jadi tau aja cara mengelola usaha, teamwork." kata silvy
" ke pakai gak ilmu yang di dapat di tempat kuliah." kata pak bambang
" iya ke pakai pak, jadi aku bisa mempraktekannya langsung." kata silvy
" syukur kalau begitu." kata pak bambang
Karena sudah malam pak bambang dan keluarganya pamit pulang, sedangkan vian kembali di pijat kakek braja untuk memastikan kondisi vian. Setelah di pijat vian pun mengobrol lagi sambil minum kopi dan merokok. Selesai mengobrol mereka pun pergi masuk untuk istirahat, vian pun kembali ke kamarnya, lalu disuruh minum obat terlebih dahulu oleh lily.
__ADS_1
" papah udah enakan badannya." kata lily
" udah sayank. Alhamdulillah." jawab vian
sebentar mengobrol mereka pun tidur dengan terlelap karena cape dan kurang tidur.
Seperti biasa dipagi hari vian bangun pergi ke kamar mandi, setelah itu membangunkan astrid dan dilla untuk sholat berjamaah, vian tidak membangunakan lily karena berhalangan dan dia kelihatan lelah. Selesai sholat vian duduk di sofa ditemani astrid dan dilla.
" mas mau minum apa." kata dilla
" mas udah minum air putih, nanti aja." jawab vian
" kok masih aja sih mas, ada orang yang mau mencelakakan mas, perasaan kita tidak punya musuh dan usaha kita juga tidak merugikan orang lain." kata astrid
" Dunia bisnis seperti medan perang, kita tidak bisa menilai kita benar dan mereka salah, yang paling penting kita tidak merugikan orang lain dan berusaha memberikan kebahagiaan buat orang lain." jawab vian
" kita fokus saja akan kehidupan kita, dan jangan pernah mengharapkan penilaian dari orang lain." lanjut vian
" iya mas." kata astrid dan dilla, mereka merebahkan kepala mereka ke bahu vian. Vian pun memeluk mereka berdua.
" mas de bayi pengen di tengok." kata astrid manja lalu mencium pipi vian, vian pun membalas ciuman tersebut, setelah mencium astrid lalu vian mencium dilla, tangan vian pun meraih bukit kembar milik astrid dan dilla.
" mas jangan mainkan ujungnya, kata dokter gak boleh." kata astrid, lalu dia membuka celana pendek vian, lalu tangannya memainkan pusaka vian lalu **********. dilla berciuman dengan vian. vian mengajak mereka ke kasur, adtrid dan dilla pun membuka pakaian tidur mereka.
Dilla mengambil alih pusaka vian, setelah itu menyuruh dilla untuk tiduran lalu memasukan pusakanya ke mahkotanya, tangan vian memainkan mahkota milik astrid.
" mas enak banget.." lenguh dilla dan astrid, karena sudah lama gak disentuh gairah dilla meninhkat dengan cepat. " mas aku sampai." kata dilla lalu badan dia mengejang. Vian mencabut pusakanya lalu memasukan ke mahkota astrid yang sudah basah. vian pjn menciumi astrid dan vian pun sefikit mempercepat permainannya, " mas aku gak kuat pengen sampai." kata astrid. Vian pun menambah lagi gerakannya lalu dia dan astrid mencapai puncaknya bersama. Vian memberikan kecupan di bibir dan kening astrid dan dilla, mereka pun berpelukan. Setelah beristirahat vian pergi ke kamar mandi bersih bersih, lalu astrid dan dilla. Vian pamit pergi ke gazebo sedangkan astrid dan dilla istirahat di kamar.
Di gazebo vian membuat kopi lalu menyalakan rokoknya. Tak lama kakek braja datang menghampiri vian
" gimana cu, sudah baikan." kata kakek braja
" alhamdulillah kek, terimakasih banyak atas bantuannya." kata vian
" kamu harus mengolah lagi pernapasan kamu, jangan terlalu cape." kata kakek braja
" iya kek." jawab vian singkat
__ADS_1
Mereka pun mengobrol sambil menikmati kopi di pagi hari itu.