
Karena sudah malam mereka pun masuk ke kamar masing masing, pak menteri, pak bambang, pak gubernur pun menginap disana karena isteri isteri mereka ingin menginap.
Di pagi hari vian pun pergi bersepeda dengan shinta mereka sekarang bersepeda ke luar komplek perumahan. Jam 7.17 menit mereka baru kembali ke rumah. Vian duduk di kursi teras depan, tak lama shinta datang membawakan air putih dan kopi, vian pun meminum air putih setelah itu baru minum kopi, vian pun menyalakan rokoknya, shinta pamit masuk ke rumah.
Jam 7. 37 menit vian dan yang lainnya pun sarapan, astrid dan dilla pun sama ikut sarapan bareng. Para gadis pun sama ikut sarapan setelah itu mereka melihat de avin dan de alea di kamar. Pak bambang, pak gubernur dan pak menteri pun pamit karena harus dinas.
Waktu begitu cepat bergulir, di akhir pekan setelah sarapan vian memberitahu kepada anak anak SPI dan yang lainnya bahwa nanti setelah makan malam akan mengadakan tukar fikiran dalam mengelola usaha, mereka pun semangat. Vian pergi ke gazebo membawa laptopnya, shinta pun ikut dan membuatkan kopi, vian menyalakan rokoknya lalu menyalakan laptop, vian membuat presentasi untuk acara tukar fikiran nanti malam.
" papah serius banget sih untuk acara malam." kata shinta
" enggak serius banget sih, tapi kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, mendapatkan ilmu itu tifak harus kita duduk di bangku sekolahan ataupun tempat kuliah." kata vian
" iya sih pah, aku juga dengan mengikuti papah banyak hal yang enggak pernah aku dapatkan waktu kuliah dulu." kata shinta
tak lama lily datang bersama de qinar, astrid dengan de avin bersama asri, begitu pula dilla dengan de alea bersama della. Mereka menjemur de avin dan de alea. Devan pun ikutan bermain
" papah sama shinta serius banget sih." kata lily
" ini lagi buat presentasi untuk malam mah, supaya obrolannya enggak kemana mana." kata vian
" oh iya pah untuk aqiqah de avin dan de alea mau bikin bingkisan enggak selain makanan." kata astrid
" bikin dong sayang, buatkan designnya supaya di cetak goodybagnya, suruh bella atau sella aja." kata vian
" mau buat berapa pah." kata dilla
" 300 buah aja kayanya cukup." kata vian
" tambahin aja logo LCI, kalau SPI mau ngasih juga tempel aja di goodybagnya sama livi group. Logo LCInya harus lebih gede ya," kata lily
" emangnya bingkisan promosi mbak." kata astrid
" memanfaatkan moment untuk meningkatkan Brand awareness." kata lily
__ADS_1
" kata katanya apa pah." kata astrid
" tasyakur bi'nimah Aqiqah Lavindra Trivian Permana dan
Aleandra Dilvian Permana, begitu aja." kata vian
" oh iya udah, nanti aku suruh bella buatkan." kata astrid
" pah kakek dan nenek braja di undang enggak." kata lily
" iya udah undang aja, terus saudara kalian di surabaya mau di undang enggak." kata vian
" kemarin sih ibu bilang pengen membagi kebahagian ini sama saudara tapi mereka kan jauh." kata dilla
" kira kira berapa orang dari keluarga kalian yang bisa dan mau datang kesini." kata vian
" palingan dari keluarga aku 10 orang." kata dilla
" paling 7 orang aja pah." kata astrid
" iya sudah kalian fix kan saja, dan mintakan KTPnya untuk dibelikan tiket pesawatnya." kata vian
" serius pah boleh." kata dilla
" buat apa papah bohong, mereka juga kan belum pernah kesini." kata vian
" iya sudah nanti kita kasih tau ke ibu ya." kata astrid
" apa enggak kita sewakan aja bus pah atau suruh naik kereta aja supaya enggak mahal." kata dilla
" enggak usah, kasian kelamaan kalau naik bus dan kereta pasti biaya diperjalannya akan jauh lebih mahal juga kan enggak mungkin mereka enggak makan dan minum di kereta, jadi mereka bisa merasakan naik pesawat juga bagi yang belum pernah." kata vian
" iya kalian itu pelit banget sih sama saudara, gaji kalian 2 bulan bisa buat mereka naik pesawat, lagian gaji kalian masih utuhkan." kata lily
__ADS_1
" iya mbak, masih." kata astrid dan dilla
" bapak aki dan emma enggak di undang juga pah." kata lily
" tergantung ibu aja, mau di undang atau enggaknya." kata vian
tak lama datang ibu asti dan ibu sri mereka pun menggendong de avin dan de alea.
" bu kata mas vian undang saudara di surabaya, kalau memang mereka mau datang nanti dibelikan tiket pesawatnya." kata astrid
" iya bu, fixkan saja siapa yang mau datang." kata dilla
" terimakasih banyak nak, saudara saudara disana memang mau datang tapi terkendala jarak." kata ibu sri
" iya sudah ibu tanyakan saja, siapa yang bisa datang di hari kerja itu, jadi mereka datang sehari sebelumnya dan pulang juga sama, tapi kalau mereka masih mau tinggal disini juga enggak masalah sampai hari minggunya jadi tiket pulangnya enggak akan di pesankan dulu." kata vian
" iya udah ibu akan kabari saudara saudara disana." kata ibu asti, dia sangat gembira begitu pula ibu sri
" kalau bisa om dani diundang juga bu." kata vian
" iya nak, ibu akan undang dia." kata ibu asti
astrid dan dilla pun membawa de avin dan de alea untuk masuk ke rumah.
Setelah sholat isya mereka berkumpul di taman untuk makan malam, pak menteri UMKM, pak menteri pendidikan, pak gubernur B dan pak gubernur D juga datang, mereka pun makan malam bersama, musik pun di nyalakan, vian juga sudah menyiapkan infokus. Setelah makan vian pergi untuk merokok, selesai merokok vian pun memulai acara.
" assalamualaikum, selamat malam semuanya, terimakasih kepada semuanya, malam ini kita akan bertukar fikiran bagimana cara mengelola perusahaan, acara serius tapi santai, saya berharap semuanya bisa memberikan tanggapan, kenapa saya mengadakan hal ini karena saya juga perlu masukan dari semuanya, apalagi di zaman sekarang yang sudah serba digital, saya juga berharap masukan dari anisa, amira, silvy, dan silvia bagaimana perusahaan perusahaan di luar sana menjalankan usahanya," kata vian, vian pun menyalakan presentasinya. Vian memperlihatkan perusahaan perusahaan livi, pertembuhan serta masalah masalah yang terjadi. Vian juga menjelaskan bagaimana pentingnya laporan keuangan untuk menentukan arah kinerja perusahaan kedepannya,
" menurut aku sih om, apa yang dilakukan group livi itu sudah bagus, perbedaannya dengan yang diluar sana persaingan disana tidak sehebat disini, pemakaian teknologi dan sumberdaya manusianya saja yang berbeda. Terus pasar disana itu mereka tidak begitu menganggap harga kalau produk itu bagus mereka akan membelinya apalagi sudah mempunyai brand." kata anisa
" itu betul om, kalau disini pasti melihat harga terlebih dahulu walaupun sudah memiliki brand terkenal, saya perhatikan dari pembelian SPI pasar yang besar disini itu menengah ke bawah, jadi mereka tidak melihat ke brand yang penting produk itu bagus harga murah mereka akan membelinya." kata silvy
" dari sisi promosi pun sekarang kita tidak perlu lagi untuk pasang iklan di majalah, di koran, kita cukup pasang di sosial media sudah cukup apalagi diaana bisa kita atur iklan kita ini untuk daerah mana saja, usianya berapa, dari sisi teknologi kita harus merubah itu, dan di SPI sudah dilakukan, kalau boleh saran kita membuka chanel youtube juga om. Selain kita bisa menampilkan produk kita disana kalau memang banyak yang melihat kita juga bisa mendapatkan keuntungan dari iklan yang tampil di chanel kita itu. Jadi saya harap om bisa memiliki tim yang mengerti ke hal seperti itu." kata nirmala
__ADS_1