Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Seratus Sembilan Belas "TSJC" °•° Lαst βαβ^•^`...`


__ADS_3

Setelah semalam mereka melakukan perjalanan ke Namsan Seoul Tower, perjalanan bulan madu mereka berlanjut.


Hari ini perjalanan mereka terus berlanjut, Riko mengajak Citra ke Istana Gyeongbokgung.


Disana Citra sangat senang karena dia bisa melihat sejarah dari kerajaan Joseon. Citra juga menyaksikan keseruan upacara pergantian penjaga istana, dan membuat Citra teringat dengan adegan drama korea bergenre kolosal yang pernah dia tonton.


Citra sangat bersenang-senang sampai acara tersebut selesai.


Kemudian setelah Istana Gyeongbokgung, Riko lalu mengajak Citra ke Desa Hanok Bukchon.


Masih dalam nuansa sejarah di negara Korea, tapi Citra masih sangat bersemangat, karena pemandangan dan bangunan-bangunan tradisional yang merupakan tempat tinggal para keluarga kerajaan.


Citra dan Riko berjalan mengelilingi bangunan tersebut sambil dipandu oleh seorang ahjumma, sementara Citra sibuk mengambil gambar dengan kameranya, dan Riko fokus mendengar semua penjelasan ajhumma tersebut mengenai sejarah tempat tersebut. Citra tidak memperhatikannya karena dia tidak mengerti bahasa korea meskipun dia selalu menonton drama korea.


Mereka terus berkeliling, sampai akhirnya mereka tiba pada bangunan penyimpanan barang-barang tradisional, Mereka kemudian masuk ke dalam bangunan tersebut, dan kembali Citra sibuk memotret barang-barang tradisional itu, sampai akhirnya dia melihat pakaian tradisional korea dan itu membuatnya tertarik untuk memakainya.


"Apakah anda ingin mencobanya?" tanya ahjumma itu kepada Citra saat melihat ekspresi Citra dan dia tidak memahaminya, lalu Riko menerjemahkan perkataan ahjumma tersebut dan Citra langsung mengangguk antusias.


Ahjumma tersebut langsung mengambil hanbok tersebut dan meminta Citra untuk menuju ruang ganti.


Riko berada diluar ruangan untuk menunggu Citra selesai memakai hanbok sambil dia memotret pemandangan didaerah tersebut, tidak lama kemudian Citrapun keluar dengan menggunakan pakaian hanbok. Seketika Riko langsung pangling melihat istrinya yang sangat cantik saat memakai hanbok.


Lalu Rikopun meminta Citra untuk mengambil pose untuk dia potret, dan akhirnya Citra mengambil pose tersebut.


***


Sekarang mereka sedang makan malam di salah satu restoran yang terkenal di Korea, setelah seharian mereka jalan-jalan di berbagai tempat wisata yang sangat terkenal di Korea.


Setelah mereka makan, Riko ingin mengajak Citra lagi ke suatu tempat yang selama ini Citra dambakan, yaitu Sungai Han.


Citra sangat ingin melihat pemandangan sungai han di malam hari, dan Riko sudah merencanakan sesuatu untuk Citra tanpa sepengetahuan Citra pastinya.


Tidak lama kemudian, supir Jeon tiba untuk mengantar mereka ke sungai Han.


Dalam perjalanan Citra sama sekali tidak bertanya kemana mereka akan pergi, karena Citra fikir mereka akan kembali ke Hotel.


Setelah beberapa menit berkendara dan jarak mereka sudah sangat dekat dengan sungai han, mobil yang mereka kendarai pun berhenti membuat Citra merasa heran.


"Kenapa kita berhenti disini kak?" tanya Citra penasaran.


"Kita mampir ketempat yang paling indah dan pasti kamu akan suka." ucap Riko dan Citra hanya terdiam karena dia memang sudah terlihat kelelahan.


"Udah kamu tenang aja, aku ngga akan ngecewain kamu." bujuk Riko lagi dan Citra hanya tersenyum mencoba mempercayai suaminya.


"Ya udah kita turun, tapi sebelum itu kamu tutup mata kamu dulu." ucap Riko sambil mengeluarkan sapu tangan untuk menutup mata Citra.


"Tapi kenapa kak? kenapa harus tutup mata segala?" tanya Citra lagi.


"Karna ini suprise." ucap Riko sambil menutup mata Citra dengan sapu tangan tersebut.


Setelah menutup mata Citra, Riko kemudian turun dari mobil lalu membuka pintu untuk Citra dan menuntun Citra turun dari mobil secara perlahan.


"Pak tunggu disini sebentar yah." pinta Riko kepada supir Jeon dan dia hanya mengangguk.


Lalu merekapun berjalan ke arah sungai han dengan Riko memandu Citra berjalan karena matanya ditutup.


Setelah beberapa menit berjalan, mereka sekarang berada di pinggir sungai han.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Citra sambil tangannya ingin melepas penutup matanya.


"Iya kita udah sampai, tapi kamu belum boleh membukanya." ucap Riko lagi karena dia sedang menunggu pancuran air keluar.


"Tapi kak mata aku udah sakit." keluh Citra.


"Ok, aku akan buka penutup mata kamu, tapi kamu janji setelah penutupnya terlepas kamu belum boleh membuka mata kamu." pinta Riko lagi dan Citra hanya mengangguk menurut.


Lalu Rikopun melepas penutup mata Citra, setelah terlepas Citra masih menutup matanya dan Rikopun segera menutup mata Citra dengan tangannya dengan Riko terus menerus mengecek kapan pancuran itu dimulai.

__ADS_1


Tidak lama ponselnya berdering tanda notif pesan masuk, dia kemudian mengecek ponselnya.


"Hitung mundur." isi pesan itu. lalu Rikopun mulai menghitung mundur.


"3...2...1..." batinnya, lalu dia menyingkirkan tangannya dari mata Citra. Perlahan-lahan Citra membuka matanya dan..


"Woooww.." gumam Citra kagum dengan apa yang dilihatnya, dan Rikopun tersenyum melihat istrinya senang.


Selama 5 menit Citra terus menatap pancuran air itu dengan kagum, sambil sesekali dia melirik Riko sambil tersenyum candid karena bahagia.


"Ya udah sekarang kita pulang." ajak Riko setelah pancuran itu berhenti.


"Sekarang?" tanya Citra heran, karena dia masih ingin berada di tempat itu. Dan Riko hanya mengangguk.


"Tapi kak, belum juga 10 menit kita disini, masa iya kita udah mau pulang aja." gerutu Citra sedikit kecewa.


"Sayang, kita udah seharian jalan-jalan, dan kamu lagi hamil, ini juga udah malam kita lagi di pinggir sungai nanti kalau kamu masuk angin gimana, kamu kan lagi hamil sayang, udah sekarang kita pulang yuk." ajak Riko lagi.


"Tapi aku masih pengen disini kak, apa kak Riko tau? tempat ini adalah tempat yang selalu ingin aku datangi, dan saat aku datang disini, baru 5 menit aku udah mau balik, pokoknya aku ngga mau." gerutu Citra lagi.


"Tapi sayang, kamu lagi hamil, kita pulang yah, kamu kan udah liat pemandangan sungai han dimalam hari, jadi sekarang kita pulang." bujuk Riko lagi.


"Ngga, pokoknya aku masih mau disini, please kak, 30 menit aja yah.. yah. yah yayayaa. please." bujuk Citra dengan memasang wajah imutnya sambil mengedip-ngedipkan matanya membuat Riko luluh dan tidak bisa menolak.


Akhirnya Rikopun mengalah, lalu dia kemudian membuka mantelnya lalu memasangkannya kepada Citra, agar Citra tidak kedinginan.


"Janji 30 menit aja." ucap Riko dan Citra mengangguk.


"Kita duduk disana." pinta Citra sambil menarik Riko untuk duduk di bangku panjang yang berada ditempat itu.


"Apa kak Riko tau? tempat ini adalah tempat yang paling romantis yang selalu muncul di dalam drama korea, setiap pasangan yang datang ketempat ini, mereka selalu melakukan hal ini dan mereka selalu berbagi cerita kepada pasangannya." ucap Citra sambil bersandar dipundak Riko.


Riko hanya mengangguk-anggukkan kepalanya merespon perkataan Citra.


"Kak Riko ngga mau melakukan hal itu?" ucap Citra lagi menuntut.


"Berbagi cerita sama aku." gerutu Citra lagi.


"Apa yang harus aku cerita sayang, kita itu suami istri, sejak aku bangun tidur sampai tidur lagi kamu tau semua ceritanya, apalagi yang harus aku cerita." ucap Riko bingung.


"Yah kak Riko cerita sebelum kita nikah, bukan cerita setelah kita nikah. aku penasaran dengan semua cerita hidup kak Riko sebelum kak Riko nikah." ucap Citra lagi.


"Cerita hidup aku ngga ada yang menyenangkan sampai aku ketemu sama kamu." bantah Riko lagi membuat Citra terlihat kesal dan memanyunkan bibirnya.


"Ya udah, kamu mau denger cerita yang mana dari hidup aku." bujuk Riko saat melihat ekspresi kesal Citra.


Mendengar ucapan Riko membuat Citra tersenyum antusias.


"Aku selalu penasaran, dengan apa yang selalu dikatakan Mita tentang kak Riko." ucap Citra.


"Mita? Mita mengatakan apa tentang aku?" tanya Riko bingung kenapa Mita menceritakan tentang dirinya kepada Citra.


"Mita itu penggemar amatir kak Riko, sebelum kita nikah." jelas Citra.


"Oh yah, kok bisa?" tanya Riko lagi tidak percaya.


"Karna kak Riko itu Young & Rich." ketus Citra.


"Hahaha, ada ada aja." ucap Riko merasa geli.


"Udah deh ngga usah bahas Mita." ketus Citra kesal, membuat Riko bingung karena yang membahas duluan adalah Citra.


"Ok, ok, emangnya apa yang kamu ingin tahu dari perkataan Mita." ucap Riko lagi.


"Aku tuh penasaran kak, menurut informasi yang Mita kumpulin kalau kak Riko itu ngga pernah menjalin asmara sama sekali, apa itu bener?" tanya Citra menyelidiki.


"Kok kamu tanya itu sih, kamu kan udah tau jawabannya sayang, berita itu bukan hoax, itu berita yang real." jelas Riko, seketika Citra terlihat berfikir dan membenarkan itu.

__ADS_1


"Maksud aku itu, kalau memang kak Riko ngga pernah berpacaran, pasti dong kak Riko pernah suka sama seorang gadis, ngga mungkin ngga pernah, secara yah kan, kak Riko ngga mungkin mengungkapkan privasi kak Riko ke publik, apalagi ini berkaitan dengan hati kak Riko. jujur aja?" tanya Citra nyolot, mendengar ucapan Citra membuat Riko terlihat berfikir karena bingung, apa yang harus dia ceritakan, sampai akhirnya dia memikirkan sesuatu dan ingin menceritakan tentang awal mula dia jatuh cinta kepada seorang gadis.


"Kamu serius mau denger ini?" tanya Riko dan Citra mengangguk yakin.


"Kamu ngga akan cemburu? ataupun marah kalau aku cerita." tanya Riko lagi.


"Ngga akan kak, aku ngga akan marah, kan aku yang minta kak Riko untuk cerita kenapa aku harus marah." jelas Citra yakin.


"Aku ngga yakin, pasti kalau aku cerita yang ngga jelas hatinya akan panas." batin Riko senang ingin menggoda istrinya.


"Aku harus mulai dari mana?" tanya Riko membuat ekspresi Citra berubah.


"Jadi dia beneran punya seseorang yang dia suka." gerutu batin Citra.


"Kak Riko bisa mulai, dari bagaimana dia dimata kak Riko, sifatnya dan seterusnya." ucap Citra.


Lalu Rikopun mulai berfikir dan membayangkan pertama kali Riko melihat Citra saat dipersimpangan jalan, saat Citra membantu wanita hamil menyebrangi jalan lalu seorang pengendara mobil memarahi mereka dan Citra balik memarahi pengendara itu dengan mamasang wajah judesnya. Mengingat momen itu membuat Riko mendengus ketawa.


"Dia itu perempuan yang baik, punya kepedulian sosial yang tinggi." ucap Riko dengan penuh penghayatan karena dia mengingat momen saat dia pertama kali melihat Citra.


"Dia juga suka menolong seseorang tanpa pamrih, meskipun orang itu bukan keluarganya, dia sangat lembut kepada anak kecil." ucap Riko lagi sambil dia mengingat momen saat dia bertemu dengan Citra di rumah sakit waktu Citra mengantar nenek Mina.


"Dia gadis yang keras kepala, dia juga gadis yang lemah dan sok kuat." ucap Riko sambil membayangkan Citra yang keras kepala dan sok kuat saat dia sedang sakit.


Riko terus menjelaskan secara rinci wanita yang dia cintai dengan penuh penghayatan dan rasa cinta yang sangat dalam, membuat Citra semakin cemburu dan kesal, hatinya sudah mulai panas tidak sanggup mendengar Riko untuk bercerita lagi, karena dia tidak tahu bahwa yang Riko maksud adalah dirinya.


"Sudah 30 menit, sekarang kita pulang." ketus Citra memotong perkataan Riko lalu beranjak pergi, Rikopun terkejut dengan suara Citra yang terdengar keras karena kesal.


"Aku tidak sadar dengan perasaan aku sendiri, bahkan setelah aku menikahinya." teriak Riko membuat langkah Citra terhenti lalu Citra berbalik kearah Riko dan kembali duduk disamping Riko.


"Apa maksud kak Riko, jadi perempuan yang dari tadi kak Riko maksud adalah aku?" tanya Citra dengan tatapan serius dan Riko hanya mengangguk.


"Kak Riko tau dari mana, tentang aku suka menolong punya kepedulian sosial yang tinggi, sepengetahuan aku, aku ngga pernah menunjukkannya kepada kak Riko, kak Riko tau dari mana?" tanya Citra serius.


Riko berfikir sejenak lalu memengang tangan Citra.


"Aku tanya sama kamu, kapan pertemuan pertama kita?" tanya Riko.


"Dirumah aku, waktu kak Riki dan orang tua kak Riko di undang sama papa mama aku makan malam dirumah." jelas Citra.


"Itu adalah pertemuan pertama bagi kamu, tapi bagi aku itu yang ke-3 kalinya aku lihat kamu." ucap Riko membuat Citra semakin bingung dan penasaran.


"Pertama kali kak Riko lihat aku dimana?" tanya Citra.


"Waktu kamu lagi nolongin ibu hamil nyebrangin jalan, saat itu kamu masih memakai seragam sekolah dan kamu tepat berada didepan aku." jelas Riko dan Citra mencoba mengingatnya selama beberapa detik lalu diapun mengingatnya.


"Ingat?" tanya Riko dan Citra mengangguk.


"Yang kedua?" tanya Citra lagi.


"Saat kamu datang ke rumah sakit, menggunakan ambulance dan ada anak kecil yang menangis dan kamu memeluknya." ucap Riko lagi dan Citra mengangguk mengingatnya.


Citra menatap Riko sambil tersenyum begitupun dengan Riko.


"Kok bisa kebetulan begitu yah." gumam Citra merasa terkesan.


Riko kemudian memegang tangan Citra dengan erat dan menatap mata Citra dalam.


"Cit, masa lalu aku dan masa lalu kamu itu rahasia kita dan Allah. Seberapa burukpun masa lalu kita dulu, itu adalah masa lalu dan itu udah menjadi rahasia untuk diri kita. Yang perlu kita syukuri adalah masa sekarang, dimana kita dipertemukan oleh Allah dengan caraNya yang indah." Ucap Riko sambil terus menatap Citra dengan tatapan yang tidak bisa ditebak dan Citra terus mendengar perkataan suaminya dengan terharu.


Cit, Aku ngga pernah menunggu kedatanganmu, kamupun ngga sengaja datang kedalam hidupku. Kita ditakdirkan bersama dan takdir itu sudah ditentukan oleh Allah, kamu hadir dan melukiskan hari-hari yang indah, memberi pelajaran yang paling berharga di dalam hidupku. Itu adalah skenario Allah yang paling indah, dan aku lupa untuk bersyukur. Aku lalai dalam mengingat segala nikmat yang diberikan olehNya hingga akhirnya aku sadar bahwa ternyata kamu adalah bidadari ku. Aku tak sengaja jatuh cinta kepadamu dan itu juga adalah anugrah yang harus aku syukuri. Terima kasih sudah hadir, terima kasih kamu sudah mau menerima segala kekurangan yang ada di dalam diriku. I love You istriku." ucap Riko panjang lebar lalu mengecup kening Citra dengan penuh perasaan dan Citra menghayati kecupan suaminya tersebut.


"Sesuatu hal yang paling menakjubkan yang pernah Allah berikan sama aku adalah, bagaimana ketika suatu hari seseorang masuk kedalam hidupmu dan tiba-tiba aku tidak bisa mengingat bagaimana bisa aku hidup tanpa dia. Dan orang itu adalah kak Riko dan anak kita." ucap Citra sambil mengusap perutnya dengan lembut dengan penuh penghayatan sambil terus menatap suaminya.


Dengan wajah yang sangat bahagia, serta mata yang sudah berkaca-kaca, Citra langsung memeluk suaminya dengan erat sambil menangis karena bahagia.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2