
Suasana damai terasa menyejukkan,beberapa keluarga inti berkumpul bersama dalam ruangan yg mewah.
Sore ini Lutfia menganjak anak menantunya untuk dinner disebuah restoran ternama pinggir laut.
Deruan ombak dan angin berirama menjadi satu menambah suasana segar dan asri begitu menyenangkan.
" Kakak kamu mana ?" Tanya Rafael kepada putrinya yg asik main hape.
" Gak tau Pa,mungkin udah dijalan " jawab Tania.
" Telfon " Balas Rafael tenang.
Tania diam masih sibuk dengan ponselnya.
" Tania " Tegur Rafael dengan nada dingin.
" I ya Pa,ak ku telfon " Kata Tania kelabakan.
Rafael mengangguk dan kembali duduk menikmati angin.
" Pa,lihat tuh " Ucap Lutfia menegur.
" Apa ?" Tanya Rafael mengernyit.
" Lihat Pa,anak kecil itu cakep banget " Jawab Lutfia seraya menunjuk pondokan lain.
" Oh iya " Jawab Rafael tersenyum.
" Enak kali ya Pa kalo kita punya cucu 1 modelan gitu " Kata Lutfia menghayal.
" Hm " Jawab Rafael cuek.
" Huh udah gak sabar aku Pa buat punya cucu " Kata Lutfia semangat.
" Ya minta aja sama anak kamu " Balas Rafael tenang.
" Iya makanya ini aku mau bicara sama mereka " Kata Lutfia memutar mata.
Rafael mengangguk setuju,keduanya melihat lagi bocah lelaki yg terlihat lincah bermain bola seorang diri didepan pondokan.
Tak lama yg ditunggu sampai,Samuel menempati janjinya untuk menjemput sang istri.
Meski ada sedikit cekcok diperjalanan,tapi kini keduanya sudah terlihat akur lagi bahkan Leni menggandeng lengan Samuel layaknya pasangan normal.
" Selamat Sore Ma " Ucap Leni menegur.
" Kenapa lama sekali ?" Tanya Lutfia.
" Macet Ma " Jawab Leni tersenyum.
" Hah macet ? yg bener ?" tanya Lutfia kaget.
" Hm " Jawab Samuel dingin.
" Oh ya udah " Kata Lutfia tak mau ambil pusing.
Samuel mendekati adiknya yg duduk lesehan di pojokan.
" Lagi liat apaan ?" Tanya Samuel kepo.
" Ini Kak Win...." Ucap Tini hampir kecoplosan.
Tania melotot dan langsung mencubit adiknya.
" Aduhhh " Ringis Tini kesakitan.
Samuel mengambil hape Tini dan terdiam melihat siapa yg dilihat adiknya.
" Winda " Gumam Samuel pelan.
" Maaf Kak " Ucap Tini merasa bersalah.
" Dia hamil lagi ?" Tanya Samuel menoleh.
Tania dan Tini mengangguk kecil.
" Kenapa kalian bisa berteman dengannya ?" Tanya Samuel heran.
" Kita emang temenan Kak " Jawab Tania jujur.
" Sekarang usia kandungan kak Winda udah jalan 6 bulan Kak,lihat tuh lucu banget kan " Kata Tini memperbesar foto Winda distts Wa.
__ADS_1
" Siapa ?" Tanya Leni tiba2 duduk disebelah.
" Astaga " Pekik Tania kelabakan.
Tini menutup hapenya dengan cepat agar tak terlihat oleh sang ipar.
" Loh ada apa ?" Tanya Leni kaget.
Samuel bersikap biasa bedahal dengan kedua adiknya yg memasang wajah panik.
" Apa yg terjadi ?" tanya Leni kepo.
" Gak ada apa2 Kak " Jawab Tini menggeleng pelan.
" Terus kenapa hapenya langsung dibalikin ?" Tanya Leni.
" Nah itu dia makanan kita udah sampe " Pekik Tania mengalihkan.
Samuel bangun dan mengambil posisi duduk dihadapan orang tuanya.
Tania dan Tini juga bangun,Leni mengernyit bingung dan memilih mengikuti sang adik ipar.
" Ayo makan dulu " Ucap Rafael membuka suara.
Semua orang mengangguk setuju,Samuel mulai mengambil piring tapi belum menyentuhnya Leni sudah merebut duluan.
" Biar aku saja " Ucap Leni tersenyum manis.
Lutfia mendongak dan tersenyum kecil dengan kepekaan menantu.
" Kamu mau makan yg mana ?" Tanya Leni lembut.
" Terserah " Jawab Samuel tenang.
" Baiklah,aku ambil semua ya " Balas Leni.
Pria itu mengangguk kecil.
" Oh iya Len,kerjaan kamu gimana ?" Tanya Lutfia seraya memakan makanannya.
" Baik Ma,semua berjalan lancar " Jawab Leni tersenyum.
" Hm terus kalian gak nunda kan " Ucap Lutfia ambigu.
" Ya apalagi kalau bukan momongan " Jawab Lutfia tersenyum manis.
Deg...
Leni melotot kaget dan detik berikutnya mengerjap mata dengan cepat.
" Momongan ?" Ulang Leni deg2an.
" Iya,tunggu apa lagi kalian berdua kan udah sama2 dewasa " Jawab Lutfia terkekeh.
Lutfia menyentuh Samuel meminta bantuan tapi lelaki itu tak merespon sama sekali.
" Sam " Panggil Lutfia melihat sang putra.
Rafael dan kedua adik Samuel pun menoleh melihat lelaki tersebut.
" Dalam proses " Jawab Samuel cuek.
" Hehe iya Ma " Celetuk Leni cepat.
" Tapi gak ditunda kan Len ? Mama mu udah tua loh mau cepet2 gendong cucu apalagi kamu anak tunggal " Kata Lutfia serius.
" Hehe iya Ma,nanti kita usahain lagi " balas Leni menunduk.
" Kamu gak lemah kan ?" Tanya Rafael melihat anaknya.
" Lemah uhuk uhuk " Ulang Samuel terbelalak.
" Ya gak lah Pa " Balas Samuel kesal.
" Ya siapa tau kan " Kata Rafael mengulum senyum.
" Lemah apa Pa ?" Tanya Tini memasang wajah polos.
" Lemah sahwat b3go " Bisik Tania gemas.
" Whattt ??" Pekik Tini melotot.
__ADS_1
" Ck aku kuat Pa,Leni aja yg le....
" Sam " Pekik Leni melotot.
Samuel terdiam,lelaki itu hampir saja kecoplosan membuka aib sang istri.
" Leni kenapa ?" Tanya Lutfia penasaran.
" Dia mudah cape " Jawab Samuel datar.
" Hah " Pekik Leni dan semua orang.
" Jadi kamu yg lemah ?" Tanya Lutfia kaget.
" Hah gak Ma,bukan itu tapiii..." Kata Leni kelabakan.
" Tapi apa Kak ?" tanya Tania kepo.
Wajah Leni berubah bingung,gadis itu tidak tau harus menjawab apa dalam kondisi sekarang.
" Hm Samuel kekenc3ngan " Jawab Leni bersemu.
" Apa !" pekik Samuel melotot.
Blushhh....
Wajah Leni bersemu merah antara takut dan malu yg bersatu padu.
" Kenceng ?" Ulang Tini mulai bingung lagi.
Leni menggaruk kepala,diri tak tau lagi harus keluar dari pertanyaan absurd keluarga suaminya.
" Hei Sam,jangan kenceng2 dong,yg tenang biar hasilnya maksimal " Tegur Lutfia menampar bahu putranya.
Samuel melirik Leni dengan sinis,sungguh ia tak menyangka gadis itu bisa asal bicara kepada orang tuanya.
" Iya Sam,Leni belum pengalaman,harus hati2 " Kata Rafael terkekeh geli.
" Sialan " Cicit Samuel geram.
" Duhh bakal mati aku kalo Samuel ngamuk dan bongkar semuanya " Batin Leni ngeri.
" Iya Pa " Jawab Samuel menghela nafas sabar.
Rafael dan Lutfia tertawa ngakak,keduanya merasa lucu dengan tingkah sang anak.
" Maaf ya Len,maklum udah lama gak kena service jadi bikin kamu kagetan " Kata Lutfia mengulum senyum.
" Hehe iya Ma " Jawab Leni mengangguk ngeri.
" Udah gak usah bahas itu lagi,ada anak dibawah umur " Kata Rafael menyudahi.
" Ck kita udah gede Pa " kata Tania tak terima.
" Iya,kasih cucu buat Papa aja udah bisa,iya kan Kak " Kata Tini tak mau kalah.
" Ehhhh " Pekik Rafael dan Lutfia bersamaan.
" Hahahahahaha " Tini tertawa ngakak.
Kedua gadis itu terlihat bahagia menjahili orang tuanya.
" Jangan macem2 kalian !" Kata Samuel tegas.
" Hehe iya Kak,becanda " Balas Tini menunduk.
Mereka kembali makan bersama menikmati sunset yg begitu cerah.
Setelah selesai,Samuel meminta pulang sesampainya dirumah lelaki itu kembali dingin seperti biasa.
" Sam " Panggil Leni menarik baju Samuel dari belakang.
Samuel diam tak berbalik.
" Kalau kamu mau,boleh aku akan mencobanya " Ucap Leni hati2.
Deg...
Samuel terbelalak tau maksud gadis asing tersebut.
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.