
Cemas dan kesal!! itulah yang dirasakan Mita saat ini. Yang dilakukannya saat ini hanyalah bisa pasrah mengikuti Doni yang kini tengah berdiri di sampingnya di dalam Lift.
Bukankah mereka ingin ke bioskop? kenapa menggunakan lift? Apakah bioskopnya di lantai yang tinggi?
Lift itu bukan membawa mereka menuju lantai dimana bioskop itu berada, melainkan menuju apartemen Doni.
Rencana awal mereka memang ingin menonton bioskop!! Namun, sesuatu hal terjadi saat dalam perjalanan tadi. Doni tiba-tiba ingat jika dia melupakan dompetnya di apartemennya. Itulah yang kemudian membawa mereka berada di dalam lift itu.
Awalnya Mita menolak untuk ke apartemen Doni, dengan alasan waktu sudah hampir sore dan juga saat ini langit di kota Bandung mendung!! Dan Mita juga meyakinkan Doni, biar semua ongkos ngedate mereka hari ini dia yang tanggung. Namun, Doni menolak dengan alasan dia pria yang memiliki harga diri tinggi! malu dong, masa kencan pertama cewek yang bayar.
Karena harga diri itulah yang kemudian membuat Mita kesal. Memang apa masalahnya coba! jika cewek yang membayar! pikirnya.
Selain itu, dia juga merasa cemas!! Karena ini adalah pengalaman pertama bagi Mita. Pacaran, kencan, bahkan saat ini dia harus pergi ke apartemen kekasihnya itu, dan yang lebih parahnya lagi, mereka hanya berdua saja!! Bukannya dia tidak mempercayai kekasihnya itu! Dia percaya, sangat percaya malahan! tapi mengenai hal ini, tetap saja dia merasa ragu.
Status pacaran adalah hal yang baru bagi Mita. Hal yang baru bukan berarti dia tidak tahu mengenai dunia berpacaran, berduaan-duaan dengan kekasih, pegangan tangan, pelukan, bahkan lebih dari itu!! Dia mengetahuinya, bahkan Mita sudah sangat hafal teori itu, hanya saja prakteknya baru terjadi padanya saat ini.
Mita termangu saat menatap Doni kini tengah mengetikkan kode pada pintu apartemennya, beberapa detik kemudian pintu itu terbuka. Saat Doni sudah ingin melangkahkan kakinya masuk, tiba-tiba saja dia tersadar saat Mita masih diam di tempatnya.
"Ayo masuk! titah Doni dan dijawab gelengan pelan dari Mita membuat Doni mengerutkan dahinya heran.
"Kamu masuk aja!! terus kamu cari dompet kamu!! aku tunggu disini." cetus Mita membuat kerutan itu semakin dalam.
Doni bertanya-tanya kenapa Mita seperti ini? dia terus menolak untuk ke apartemennya. pikirnya dan berusaha menerka melalui raut wajah Mita.
Berdetik-detik lamanya Doni masih menatap wajah Mita! lalu detik berikutnya. dia sadar, diwajah polos itu tergurat kecemasan dan keraguan.
Doni menatap tajam ke arah Mita lalu melangkah pelan mendekati Mita. Mita tersentak saat tubuh Doni perlahan-lahan semakin mendekatinya, membuat kakinya refleks melangkah mundur. Selangkah Doni maju selangkah juga Mita mundur, hingga akhirnya tidak ada ruang lagi, tubuh Mita terantuk didinding.
Mita meneguk salivanya dengan susah payah, tatkala Doni mendekatkan wajahnya ke wajahnya. Saat ini Mita sudah bisa merasakan hembusan nafas Doni mengenai wajahnya, saking dekatnya. Tatapan tajam Doni dan tatapan terbelalak Mita beradu sesaat sebelum akhirnya Mita terpejam erat begitu pula dengan bibirnya yang tertutup rapat tatkala dia merasakan Doni ingin menciumnya.
"Jangan meragukan aku!!
Mata Mita seketika terbelalak tatkala dia mendengar bisikan Doni di telinga kirinya dan juga helaan nafas berat yang menerpa telinganya, membuatnya merasa geli.
"Aku belum punya hak atas dirimu!! bisik Doni lagi membuat Mita kembali meneguk salivahnya dengan susah payah.
"Tunggu saja sampai hak itu berpindah dari ayahmu kepadaku, setelah ijab qabul nanti." Bisik Doni lagi lalu tersenyum simpul sementara tubuh Mita sudah bergetar dan matanya sudah semakin terbelalak saat mendengar ucapan Doni.
Masih termangu selama sepersekian detik untuk mencerna maksud dari bisikan Doni barusan, namun belum tertawab Doni sudah menarik tangan Mita melesat masuk ke dalam apartemennya.
^Δ^
"Kamu tunggu aku disini!! Titah Doni sesaat setelah mereka tiba di ruang tengah apartemennya.
Mita hanya mengangguk mengiyakan perkataan Doni lalu duduk di sofa berwarna navi itu.
"Aku cari dompet aku dulu!! ucapnya lagi lalu mengambil langkah menuju kamarnya.
Mita hanya menatap punggung Doni yang perlahan menghilang di balik pintu kamarnya. Detik berikutnya Mita mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan itu. Apartemen mewah dengan konsep minimalis berwarna netral dan juga terlihat perabotan-perabotannya yang sederhana. Memang style Doni. pikir Mita.
Mita lalu beranjak dari duduknya dan kembali melihat-lihat ruangan itu, sampai langkahnya membawanya ke balkon yang dibatasi kaca dan tertutupi oleh tirai.
Mita kemudian menarik tali agar membuat tirai blind berwarna coklat itu tertarik ke atas. Sejenak Mita menikmati pemandangan kota dari balik kaca itu. Meskipun mendung namun tak mengurangi keindahannya.
Mita lalu berbalik dan duduk di ayunan rotan mirip seperti sofa, yang berada di balkon itu. Dia terlihat lebih rileks menikmati waktu sendirinya saat ini sambil terus memandang bebas keluar.
^Δ^
"Dompet itu mana yah!? gerutu Doni mulai kesal, setelah dia mencari benda itu disetiap sudut kamarnya. Namun belum juga dia temukan.
Sejenak dia bergeming, memikirkan kembali dengan teliti, dimana persisnya terakhir kali dia menaruhnya.
Beberapa detik kemudian dia berseru "Aahhhh" saat sudah mengingat dimana benda itu.
Dia lalu keluar kamarnya menuju dapur. Yah dompetnya berada di dapur. Semalam Doni sempat ceroboh meletakkan blazernya di dapur saat dia tengah ingin memasak, dan dompetnya berada dalam kantong blazer itu.
Beberapa menit kemudian dia kembali dari dapur dengan menenteng blazernya. Langkahnya terhenti saat dia ingin masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan blazernya itu, Namun, pandangannya tertuju pada balkon yang tirainya terbuka, dan dia melihat pemandangan dari luar pembatas kaca itu tengah hujan deras.
__ADS_1
Dia termangu sejenak, memikirkan rencana nontonnya gagal!! menghela nafas pelan dia pun ingin kembali ke kamarnya namun kembali terhenti saat dia mengingat Mita. Dimana dia?
Doni mengedarkan pandangannya mencari sosok Mita yang tadinya ada di ruang tengah. Detik berikutnya dia berjalan kearah balkon dan mendapati Mita tengah berada diayunan dan saat ini dia tengah tertidur lelap.
"Manis sekali." gumam Doni saat memandang wajah teduh Mita.
Detik berikutnya Doni mengangkat tubuh Mita dari ayunan itu, untuk dia pindahkan!! karena hujan sangat deras membuat hawa terasa sangat dingin di balkon.
Doni membopong tubuh kecil Mita masuk ke dalam kamarnya, detik berikutnya Doni meletakkannya di atas tempat tidur dan menyelimuti tubuh Mita.
Doni duduk disisi Mita, menatap penuh kasih wajah gadis pujaannya dengan lekat, tangan kekarnya terulur merapikan rambut Mita yang menutupi sebagian wajah cantiknya.
"Mit!! asal kamu tau, kebahagiaan aku sangat sederhana!! hanya menatap kamu dari dekat seperti ini, sudah membuatku sangat bahagia." gumamnya lirih sambil mengusap pipi Mita.
"Maafkan aku!! karena sudah menjadi pria pengecut karena pernah membuatmu terluka!!" lirihnya lagi lalu mengecup kening Mita.
"Aku janji!! hal itu tak akan terulang lagi!!" ucapnya lagi lalu tersenyum lembut sebelum akhirnya dia melesat keluar dari kamar itu.
^Δ^
Mita yang masih terlelap, perlahan mengeliat meringkuk bersamaan dengan tangannya menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Sangat nyaman dan hangat. Namun, tiba-tiba saja hidungnya mengendus tatkala aroma selimut itu berbeda dari aroma selimutnya.
Matanya seketika terbuka, ingatan yang sepenuhnya belum kembali membuatnya harus berfikir hal baru lagi. Ini dimana? kok aku tidur disini? sejak kapan aku tidur disini? kok aku tidur? kenapa aku tidur? ini kamar siapa?. pertanyaan itu seketika memenuhi otaknya refleks tubuhnya langsung bangkit dan terduduk.
Melihat sekeliling, menerawang, mengingat-ingat. detik berikutnya dia menepuk jidatnya sendiri.
"Doni!? Nonton!? astaga!! gumamnya histeris lalu beranjak dari kasur dan melesat keluar kamar mencari sosok Doni.
"Doni!! teriaknya.
"Aku disini!! balas Doni dari arah dapur.
Mita pun segera menyusul sumber suara itu, dengan langkah gontai dan kepala menunduk merasa bersalah.
Doni yang tengah memasak makan malam, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 19.24 WIB, berbalik menatap Mita yang rambutnya terlihat berantakan.
"Kenapa minta maaf?" tanya Doni.
"Yah, karena aku ketiduran kita nggak jadi nonton!" ucapnya lagi.
"Kamu nggak salah kok Mit! aku yang salah!! kalau aku lebih teliti lagi dan tidak melupakan hal yang penting, mungkin kita tadi udah nonton." ucapnya lagi Membuat Mita mengangkat pandangannya menatap Doni.
"Maafin aku!! sambung Doni lagi lalu di angguki oleh Mita.
"Kamu lagi ngapain!? tanya Mita.
"Aku lagi main petak umpet!!" jawab Doni asal membuat Mita mengecutkan bibirnya.
"Aku lagi masak lah Mit! kan lagi di dapur." cetusnya lagi saat menyadari wajah bingung Mita, dan bibir Mita hanya membulat "O"
"Kamu lapar lagi!! padahal baru aja tadi kita makan siang dirum_
Kalimatnya terputus tatkala suara meringis dari dalam perutnya minta untuk segera di isi.
"Sepertinya aku yang laper!! hehe." cetusnya berhaha hehe.
"Bukan cuma kamu yang lapar, tapi aku juga!! ini kan memang udah waktunya untuk makan malam Mit!! cetus Doni membuat mata membulat heran.
"Hahh!! Malam!! beonya bingung dan diangguki oleh Doni.
"Ya udah!! mending kamu bantuin aku masak! biar cepat selesai dan kita makan." cetus Doni membuat Mita yang sejenak bergeming menjadi sadar.
"Ya udah!! aku cuci muka dulu." cetusnya lalu melesat pergi ke kamar mandi.
Doni hanya menatap sekilas kepergian Mita lalu detik berikutnya dia kembali fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Mita telah kembali dari kamar mandi dan kini tengah berdiri di samping sang master chef Doni.
"Apa yang bisa aku bantu?" cetusnya tiba-tiba membuat Doni yang tengah mengulek bumbu hampir saja mengulek wajah Mita. Tapi ngga jadi soalnya dia kembali terpesona dengan wajah bangun tidur Mita yang masih basah karena bekas air membuatnya terlihat sangat manis, ditambah lagi dengan rambutnya yang dicepol asal, semakin membuat Doni susah mengendalikan dirinya saat ini. Netra hitamnya tertuju pada leher jenjang nan putih halus Mita.
"Nih!! lanjutin uleknya!! Doni menyerahkan ulekan itu ke Mita.
"Sampai halus!! titahnya lagi, meski tidak siap, Mita mengambil alih pekerjaan Doni.
"Terus!! kamu ngapain sekarang!? tanya Mita masih mengulek.
"Goreng ikan!!
"Terus kenapa masih berdiri disitu!? tanya Mita heran karena Doni masih belum beranjak dari posisinya yang terus menatapnya.
"Ikannya Udah selesai di goreng!! cetusnya lagi.
Mita menghentikan aktivitas nguleknya lalu menoleh menatap Doni yang saat ini pandangannya tak bisa lepas dari Mita.
"Jadi!! kamu minta aku buat ngulek sambel, biar kamu bisa puas natap aku!! cetus Mita yang kemudian diangguki oleh Doni. Mita berdecak lalu kembali mengulek.
"Biarkan selamanya seperti ini Mit!! aku ingin terus melihat kamu dengan jarak yang seperti ini!
Kalimat yang terdengar lirih itu membuat Mita terenyuh sesaat.
"Mit!!! Doni kembali berucap dengan lirih sambil tangannya meraih tangan Mita dan menggenggamnya.
"Maafkan aku!!! lirihnya lagi menatap lekat netra hitam Mita.
"Kau tau? aku pernah mendengar sebuah kalimat yang mengatakan Pada akhirnya kita benar-benar terasing, kamu pergi dengan kekesalanmu, aku berbalik dengan segala penyesalanku. Dan yah, itu adalah kita. Kita yang awalnya bukan siapa-siapa menjadi ada apa! setelah kau pergi kita kembali menjadi bukan siapa-siapa dan menjadi terasing."
Kalimat itu keluar dengan lirih membuat Mita semakin terenyuh dan matanya pun sudah terasa panas, dengan sigap Mita langsung memeluk pria itu. Doni yang tidak siap dengan pelukan itu, membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Detik berikutnya dia merengkuh tubuh Mita, sangat kuat.
"Kau tau Mit? Tadi siang papah kamu dengan semangat menceritakan tentang putrinya yang selalu sama dimatanya, manja dan sangat lemah."
Doni mengingat obrolannya siang tadi bersama Handoyo.
"Dia berkata saat ini usianya sudah tidak muda lagi!! namun, dia selalu ingin memperlakukan hal yang sama kepada putri kesayangannya itu. Tapi bukan dia orangnya! tubuhnya sudah tak kuat lagi menopang rengekan putri manjanya itu. Dekapannya tak sekuat dulu lagi untuk merengkuh tubuh lemah putrinya."
"Dan kau tau? Dia memberiku kepercayaan untuk menjaga putri kesayangannya itu. Dia sangat mempercayaiku, Mit!! dia bilang tubuhku masih kuat untuk menopang rengekan manja kamu, dekapanku begitu kuat untuk merengkuh tubuh lemah lemah. Doni menjeda ucapannya.
"Apakah dia akan berkata hal yang sama jika dia tahu akulah yang membuat kamu lemah, bahwa akulah pria yang membuat selalu membuatmu menangis? hmm!! ucapnya Lagi dengan lirih.
Dalam dekapan Doni, Mita mengangguk yakin menjawab pertanyaan Doni. Detik berikutnya dia mengangkat pandangannya menatap wajah pria tinggi itu.
"Papah aku orang yang baik!! dia memiliki hati yang lapang! aku tau!! dia pasti tau keinginan putrinya, jika pria yang ku inginkan adalah kamu." ucapnya membuat Doni tersenyum lembut lalu sejenak mereka terhipnotis dengan tatapan dari keduanya. Perlahan Doni mengecup bibir Mita.
"Maafkan aku!! ucap Doni lagi dengan menatap Mita penuh kasih. Mita mengangguk lalu kembali memeluk Doni dengan kuat. Mita membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Menikahlah denganku Mit? aku akan selalu menjaga kamu, membahagiakan kamu selamanya! Aku berjanji, aku tak akan membuatmu menangis!! aku janji!!" tutur Doni lagi dan sekali lagi Mita mengangguk yakin dalam dekapan Doni.
Doni tersenyum bahagia, sangat bahagia!! dengan jawaban Mita, hingga semakin mempererat dekapannya. lalu detik berikutnya Doni menghujani kecupan lembut pucuk kepala Mita, saking bahagianya.
Begitupun dengan Mita, senyum di bibirnya terus mengembang, lingkaran tangannya pada perut Doni juga semakin dia eratkan.
Dua tubuh manusia itu semakin melekat tanpa ada celah lagi, seolah tak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka.
-tbc-
Author's Note π_π
...Gimana nih dengan part ini? apakah berhasil membuat kalian baper, atau biasa aja!!...
...Hari ini double up yah? sebagai ganti di dua hari yang lalu....
...Ok sekian yah! semoga kalian suka part ini!! Part selanjutnya proses lamaran Mita. Yehhh ❤❤❤...
...Jangan lupa tinggalin like dan komennya yah,, biar authornya makin semangat ngehalu. hehe....
__ADS_1