
Hari berlalu dengan cepat,tak terasa Nur dan Restu meninggalkan rumah sudah 1 mingguan.
Hidup Winda begitu sunyi,hari suram tanpa tawa kedua orang tercintanya tersebut.
Disebuah rumah sakit seorang pria terbaring lemah dengan beberapa alat bantu terpasang dibadannya.
Hari ini Restu menjalankan terapi yg kedua setelah terapi pertama dilakukan waktu ia sampai.
Lelaki itu banyak diam,memang Restu bukan tipikal pria yg banyak bicara apalagi dilingkungan asing.
" Sudah siap ?" Tanya Suster yg membantu.
" Hm " Jawab Restu mengangguk pelan.
" Baiklah,ini mungkin akan sedikit mengejutkan karna aliran energi dari selang ini akan menuju sel2 kulit " Ucap Suster memberitahu.
Restu kembali mengangguk paham,lelaki itu terlihat begitu tenang.
Dokter mulai memeriksa dan melakukan tugasnya.
" Akhhh " Pekik Restu kaget.
" Apa itu sangat sakit ?" tanya Dokter sigap.
" Mereka menyetrum " Jawab Restu menelan ludah kasar.
" Ya,memang begitu cara kerjanya " Balas Dokter tenang.
Suster meminta pria itu menarik nafas panjang untuk tenang,tak lama alat2 yg terpasang kembali menggetarkan tubuh lelaki itu.
Restu tak tau metode apa yg dipakai para dokter,lelaki itu hanya bisa pasrah karna dirinya juga tak bisa kabur dari sana,bahkan untuk bangun pun Restu harus dibantu beberapa orang.
Hampir setengah jam lelaki itu jatuh pingsan karna lemas.
Para Suster terlihat iba,tapi mereka tak bisa membantu banyak.
" Ini akan sulit " Ucap Dokter menghela nafas lesu.
" Apa kemungkinan untuk sembuh itu sedikit Dok ?" Tanya Suster.
" Saya tidak yakin akan normal kembali,beberapa titik uratnya benar2 sudah mati " Jawab Dokter.
Suster terdiam,mereka semuanya melihat kearah Restu yg sudah menutup mata.
Ditempat lain,seorang gadis menangis tersedu2 saat dirinya diminta Dokter untuk berjalan tanpa alat bantu.
Gadis kecil itu juga melakukan perawatan intensive karna Lutfia begitu menginginkan Nur cepat berjalan kembali.
" Gak papa sayang,ayo coba melangkah " Bujuk Lutfia lembut.
" Huhu gak bisa Nek huhu " Jawab Nur terisak.
" Kamu bisa Sayang,ayo " Kata Lutfia memaksa.
" You can Girl,dont worry ( Kamu bisa Nak,jangan khawatir )" Ucap Dokter membujuk.
Nur menggeleng pelan,selain takut melangkah Nur juga takut melihat tampang bule didepannya karna lelaki itu begitu tinggi dan brewokan.
Bunyi langkah kaki terdengar nyaring,semuanya menoleh dan terdiam melihat seorang lelaki dewasa berlari kearah mereka.
" Kakek huhuhu " Ucap Nur dengan tangis pecah.
" Nur...." Panggil Rafael ngos2an.
" Yank kok kamu disini ?" Tanya Lutfia kaget.
__ADS_1
" Aku gak jadi pergi " Jawab Rafael memegang tangan Nur yg menempel di dinding.
" Kenapa ?" tanya Lutfia mengernyit.
Rafael tak menjawab,lelaki itu melihat kearah Nur dan tersenyum kecil.
" Aku tidak tenang jika meninggalkan bidadari ini sendirian " Ucap Rafael lembut.
Nur mendongak menatap lelaki tua tersebut dengan wajah lugunya.
" Aku bisa menjaga Nur Pa " Jawab Lutfia terkekeh.
" Ya aku tau,hanya aku saja yg tidak tenang " balas Rafael.
Brughh....
Kaki Nur tak bisa bertahan lagi,gadis itu ambruk dilantai membuat semua orang syok.
" Sayang kamu gak papa ?" tanya Rafael khawatir.
" Kaki aku sakit Kek " Jawab Nur menunduk.
Rafael menghela nafas dan mengusap betis gadis tersebut.
" Disini ?" tanya Rafael.
" Semuanya,aku tidak bisa berjalan tanpa tongkat " jawab Nur ingin menangis.
" Oke,Kakek tidak akan membiarkan kamu berjalan sendirian lagi " Kata Rafael tegas.
" Dia harus bisa Pa,Nur gak boleh bergantung pada tongkat terus " Sahut Lutfia.
" Dia belum kuat Yank " Balas Rafael lemah.
" Iya aku tau,makanya dia harus belajar " Kata Lutfia gemas.
" Kamu tega lihat bahu dia bengkak terus tiap malam,nanti yg ada tangannya juga gak berfungsi dengan baik !" Gerutu Lutfia.
Rafael melihat Nur dan mengusap kepala gadis itu lembut.
" Mau belajar lagi ?" Tanya Rafael hati2.
" Mau Kek,tapi harus pake tongkat,Nur gak bisa jalan tanpa itu " Jawab Nur melas.
" Oke,nanti kita coba lagi ya " Balas Rafael ramah.
Nur mengangguk tersenyum,lelaki tua itu sangat mengerti dirinya membuat Nur sangat nyaman dan tak terlalu menangis saat merindukan orang tua dan sang adik dirumah.
Dokter menganjak ketiganya keruangan,Rafael dengan sigap langsung menggendong Nur menuju lokasi.
Lutfia tak menolak ataupun membenci gadis kecil itu,wanita dewasa itu mencoba bersikap profesional karna ia pun menginginkan kesembuhan untuk gadis yg sudah ia anggap cucu sendiri.
Sesampainya diruangan,Dokter langsung memberitahu kendala apa saja yg akan Nur hadapi.
Karna Nur tak bisa bahasa inggris,gadis itu diam saja dengan wajah polosnya.
" Kita masih punya waktu sampai dia masuk sekolah " Ucap Dokter dalam bahasa barat.
" Ya,saya ingin anak ini bisa berjalan sebelum dia sekolah " Jawab Lutfia tegas.
" Ya Dok,kami tidak mau dia nanti menjadi bahan bulian teman2nya " Sahut Rafael.
" Baik,kami akan melakukan yg terbaik untuk dia " Jawab Dokter menyanggupi.
Pasangan itu mengangguk,mereka pun menandatangani beberpa berkas penting yg berhubungan dengan nyawa dan uang.
__ADS_1
Disebuah rumah,seorang wanita diam memperhatikan putranya yg dikelilingi 2 bocah ingusan dengan mainan masing2.
" Kakak kamu gak pulang ya ?" tanya Suci melihat Afdhal.
" Iya,aku udah lama gak lihat Nul " Jawab Sutar mengkrucut.
" Kamu kangen ya sama dia " Goda Suci mencolek bahu lelaki itu.
" Ih siapa yg kangen olang cuma nanyak doang " Balas Sutar kesal.
" Siapa yg kangenn ?" tanya seseorang dari belakang.
Ketiga bocah itu berbalik badan dan melotot melihat Histi datang dengan teh hangat dinampan.
" Mereka tanyain Nur " Jawab Winda terkekeh.
" Wah2,anak Mama kangen sama Nur ya ?" Tanya Histi melihat anaknya.
" Kok aku ?" Tanya Sutar bingung.
" Ya terus siapa lagi ?" Tanya Histi balik.
Sutar melihat kiri kanan dan menggaruk kepala bingung.
" Dia akan kembali saat kalian udah gede " Ucap Winda terdengar berat.
Histi menoleh melihat wanita itu memikul beban yg berat.
" Gede ?" Ulang Suci.
" Ya,saat kalian beranjak dewasa,Nur akan kembali dan menjadi teman kalian lagi " Jawab Winda terkekeh.
" Wah2 memangnya Nul kemana Te ?" tanya Suci kepo.
" Diaaa em diaa sedang menjemput bahagianya " Jawab Winda menerawang.
" Bahagia ? wah sepeltinya aku juga halus belangkat " Kata Suci mangut2.
" Eeeehh gak berlaku buat kalian " Potong Histi dengan mata besarnya.
" Kenapa Bi ? kan halus jemput kebahagiaan,iya gak Sutal ?" kata Suci minta pendukung saudaranya.
" Hah em ya em ya,halus !" Balas Sutar ngeri2 sedap.
" Tuh Sutal aja setuju,jom kita belesin baju " Ajak Suci menarik Sutar bangun.
" Ehhh " Pekik Histi dan Winda bersamaan.
Sutar berdiri melihat Mamanya yg menganga.
" Sutal mau pulang kampung aja,kan Sutal lahilnya di utan " Kata Sutar mendengus.
" Hah !" Pekik Histi terbelalak.
" Hmm kalau kamu pulang ke Hutan,telus aku kemana ?" Tanya Suci bingung.
" Kamar mandi " Jawab Histi terkekeh
Suci diam begitupun Sutar,Winda menelan ludah kasar melihat aura aneh anak sahabatnya tersebut.
Tak tunggu lama,keduanya pun berlari menuju tempat asal mereka.
" Ehhh jangannnnnnnnnn " teriak Winda dan Histi kelabakan.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.