Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Empat Dua "TSJC"


__ADS_3

Riko masih terus berlari di belakang Citra sambil terus minta maaf, sampai mereka tiba di halaman rumah.


Citra segera masuk ke dalam rumah, dan berhenti di ruang tamu sambil menatap kekacauan karna ulah Riko.


Riko kemudian menyusul Citra dan berhenti tepat di samping Citra.


"Kita udah sampai di rumah, tapi kamu belum juga maafin aku." ucap Riko masih ngos-ngosan.


"Gimana aku mau maafin kak Riko, rumah berantakan kayak gini akibat ulah kak Riko." ketus Citra sambil menatap ruang tamu yang sangat berantakan.


Riko kemudian mengalihkan pandangannya melihat ruang tamu. Dia sendiri juga merasa stress melihatnya.


"Ok, aku akan membersihkan semua ruang tamu ini, tapi setelah ini kamu maafkan aku." ucap Riko.


"Tergantung mood aku gimana." ucap Citra santai lalu duduk di sofa.


Riko kemudian membersihkan ruang tamu, mulai dari dia memungut sampah, terus menyapu lalu mengepel.


Sementara Citra, dia tidak menghiraukan Riko lagi, dia sudah asyik menonton tv sambil tertawa. Riko sudah selesai melakukan semua pekerjaannya, dia kemudian menatap Citra yang sedang menonton sambil tertawa lepas.


"Bagaimana mungkin moodnya bisa cepat berubah, seolah-olah tidak terjadi apa-apa." gerutu batin Riko.


"Cit, aku udah selesai, gimana sekarang kamu udah mau maafin aku?" tanya Riko tapi Citra tidak memperdulikannya dia masih fokus nonton.


Riko kemudian berdiri tepat di depan tv, sehingga Citra tidak dapat melihat gambar di tv kecuali hanya Riko.


"Kak Riko, ngapain kak Riko berdiri disitu, udah minggir-minggir." gerutu Citra sambil mengibas-ngibaskan tangannya tanda agar Riko tidak menutupi layar tv.


"Aku udah selesai membersihkan." ucap Riko lalu bergeser sedikit.


"Ya udah sekarang kak Riko bawa koper aku naik ke kamar aku." perintah Citra lagi.


Riko merasa sangat kesal dengan Citra, emosinya sudah mau meledak, tapi dia coba bersabar.


"Lo hanya perlu bersabar sedikit lagi, agar usaha lo tidak sia-sia." batin Riko sambil mengelus dadanya.


Karna pikirnya kalau sampai dia marah lagi, terus Citra makin kesal bisa berabe urusannya, jadi dia memilih mengalah.


Riko mengambil koper Citra lalu berjalan menuju ke kamar Citra tanpa bersuara.

__ADS_1


Citra mendengar langkah kaki Riko di tangga, membuat dia bingung.


"Kok kak Riko jadi penurut gini sih." batin Citra tidak percaya.


Sampai di kamar Citra, Riko meletakkan koper Citra di samping lemari.


"Kalau bukan karna mama sama papa, aku ngga akan melakukan hal ini." gerutu Riko kesal lalu kembali ke bawah.


Citra sudah mematikan tv, dia sedang duduk di sofa menunggu Riko sambil melipat tangannya di dadanya.


Setelah Riko sampai di bawah, Riko kemudian duduk di samping Citra.


Citra kemudian membalik badannya menghadap Riko.


"Sekarang kak Riko jelasin, maksud dari perkataan kak Riko tadi, kenapa aku liburan ke Korea?" tanya Citra penasaran.


Riko tidak menjawab pertanyaan Citra, Riko hanya menelfon mamanya dengan panggilan video call.


"Halo sayang, kamu udah buka paketnya?" tanya mama Ayu.


Citra menatap Riko heran yang sedang video call dengan mertuanya.


Riko melirik ekspresi kesal Citra.


"Udah mah, dan Citra ngga mengerti maksud dari tiket ini, mama jelasin deh." ucap Riko lalu menyerahkan ponselnya ke Citra.


Citra kemudian mengambil ponsel Riko, lalu menyapa mertuanya. Kemudian mama Ayu mengatakan bahwa tiket itu adalah hadiah pernikahan mereka dari papa Indra selama 3 hari di Korea.


Citra kemudian mengerti dengan perkataan mertuanya, kemudian Citra ingin menyerahkan ponsel Riko, tapi Riko menolaknya


"Udah kamu bicara aja sama mama." ucap Riko.


"Aku udah selesai, sekarang giliran kak Riko, nihh." Ucap Citra sambil menyodorkan ponsel Riko tapi Riko tidak mau mengambilnya.


Mama Ayu yang melihat tingkah mereka heran.


"Kalian ini kenapa sih, kok ngga ada yang mau bicara sama mama?" ucap mama Ayu sedikit kesal.


"Bukan gitu mahh.." ucap Citra sambil mengarahkan ponsel ke wajahnya.

__ADS_1


"Kalian ngga lagi berantem kan?" tanya mama Ayu lagi.


"Ngga kok mah, kita baik-baik saja, iya kan." ucap Riko tiba-tiba dan bergabung di depan layar ponsel sambil merangkul pundak Citra.


Citra terkejut dengan tindakan Riko.


Citra hanya tersenyum ke mertuanya sambil berusaha menyingkirkan tangan Riko dari pundaknya, tapi Riko semakin mempererat rangkulannya.


"Mah, gimana keadaan papa?" tanya Riko.


"Papa udah membaik sayang, tapi belum boleh diijinin pulang sama dokter." ucap mama Ayu.


"Syukur deh." ucap Riko.


"Ya udah yah sayang, mam harus nyiapin obatnya papa, kalian senang-senang yah di Korea, ingat besok kalian udah berangkat." ucap mama Ayu mengingatkan.


"Tapi, mah gimana dengan kuliah Citra, Sekarang kan perkuliahan udah mulai aktif maa..?" tanya Citra khawatir.


"Kamu ngga usah khawatirin itu sayang, semuanya sudah di atur sama sekretarisnya papa." ucap mama Ayu.


"Tuuhh, ngga usah khawatir, kata mama." ucap Riko tiba-tiba sambil berbalik menatap Citra yang masih dia rangkul sambil menaik turunkan kedua alisnya dan tersenyum lebar.


Citra hanya menatap Riko sinis. Mama Ayu kemudian tersenyum melihat tingkah mereka, yang menurutnya imut.


"Ya udah, mama matiin yahh." ucap mama Ayu.


"Iya mah, mama jaga kesehatan disana." ucap Riko kemudian sambungan terlfon pun berakhir.


Riko masih merangkul Citra, Citra kemudian memukul tangan Riko yang merangkulnya dengan keras.


"Awwww... keluh Riko sambil mengelus tangannya yang perih karna pukulan Citra.


"Makanya kak Riko jangan modus." ketus Citra.


"Tadi itu kondisi darurat, gimana kalau sampai mama tau kalau kita lagi berantem, kan berabe urusannya." ucap Riko membela dirinya.


"Ngga usah cari alasan, lagian mama juga ngga liat rangkulan kak Riko di layar tadi, kak Rikonya aja yang modus." ketus Citra lagi, lalu meninggalkan Riko menuju kamarnya.


Riko hanya menatap Citra yang meninggalkannya di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2