
Suasana ruangan begitu ramai,Winda berontak ingin keluar dari ruangan meski perutnya begitu sakit.
" Aku gak mau Sam huhuhu " Ucap Winda memelas didepan Samuel.
" Aku mohon Winda,kamu harus tenang " Balas Samuel memegang tangan wanita itu.
" Suami aku Sam,anak ku hiks hiks " Ucap Winda menutup wajahnya dengan tangan.
Samuel menghela nafas dan menarik wanita itu dalam dekapan hangat.
" Semua akan baik2 saja,kamu harus berjuang demi mereka,nanti Restu akan kecewa jika kamu tak mau melihat anak kalian " Ucap Samuel mengusap kepala wanita itu.
Para suster terlihat kebingungan,mereka tidak mengerti akan status pasangan didepan mereka.
" Apa itu bukan suaminya ?" bisik Suster menegur temannya.
" Aku rasa bukan " Balas gadis lain pelan.
" Baiklah,sudah waktunya " Ucap Dokter menegur.
" Kamu harus percaya sama aku Win,anak dan suami mu akan bangun dan kalian akan berkumpul bersama lagi " Kata Samuel memegang tangan Winda.
Wanita itu terisak dalam,bahkan Winda tak punya tenaga lagi untuk melahirkan masa depan ia dan suami.
" Ayo,menurut lah " Pinta Samuel lembut.
Dengan wajah tertunduk,Winda mengusap lembut perut besarnya disertai air mata yg tidak berhenti mengalir.
" Apa dia akan selamat Dok ?" tanya Samuel kepada Dokter.
" Kita akan coba persalinan normal dulu Pak,nanti jika ibu ini merasa tak sanggup maka terpaksa kita ambil jalan operasi " Jawab Dokter melihat kondisi Winda yg cukup memprihatinkan.
" Apa setelah ini dia akan baik2 saja ?" Tanya Samuel ngeri.
" Kita akan pantau terus perkembangannya " Jawab Dokter tegas.
Samuel mengangguk dan melihat kearah Winda yg mulai berbaring dibantu oleh 2 suster.
" Tenang ya Bu,ibu harus fokus untuk lahiran " Ucap suster lembut.
Winda mengangguk pelan dan menatap langit2 kamar.
Ntah apa yg dirasakan wanita itu saat ini hanya ia dan Tuhan yg tau.
Rasa sakit yg bertimpa2 seolah tak sanggup lagi ia rasakan,hati dan pikirannya benar2 sudah sangat kacau.
Samuel mendekati Winda dan mengusap sisa air mata wanita tersebut.
" Aku akan menemani kamu saat ini,jadi cobalah untuk tenang " Pinta Samuel lembut.
Winda tak menjawab dan terus menatap kearah lain.
" Ya Tuhan,dia yg lahiran kenapa aku yg panas dingin gini ya ?" Batin Samuel bingung sendiri.
Kaki nya sudah gemetar apalagi lelaki itu melihat secara gamblang beberapa alat bedah yg sudah disiapkan depan mata.
__ADS_1
" Baiklah Ibu,ambil nafas panjang dulu lalu hembuskan " Ucap Dokter memberi arahan.
" Ayo lakukan bersama sama " Kata Samuel menegur.
Winda mengangguk dan melakukan apa yg diperintahkan.
Hening....
Tak ada lagi suara berisik atau rengekan sakit,Winda seolah sudah pasrah akan hidupnya.
" Mas,jika ini jalan untuk kita tetap bersama,aku akan melakukannya demi kalian,jika aku tidak selamat dalam perjuangan ini,maafkan aku,maafkan aku karna harus meninggalkan anak kita " Batin Winda teringat akan suaminya.
Rasa nyeri yg luar biasa kembali ia rasakan,Samuel merasakan genggaman tangan Winda yg mengerat,tapi lelaki itu berusaha tenang dan mengusap keringat Winda yg mulai bercucuran.
Dokter kembali melakukan arahan,saat Winda mulai mengedan,Samuel terlihat panik.
Lelaki itu sangat takut dengan apa yg ada depan matanya saat ini,apalagi Winda terlihat begitu kesakitan.
" Win ayo berjuanglah " Pinta Samuel menyemangati.
" Ayo Bu dorong " Pinta Dokter semangat.
Winda mengeluarkan seluruh tenaganya,meski ia tak tau hasil akhir yg akan ia dapatkan nanti.
Ditempat lain,seorang wanita jatuh pingsan saat mengetahui anak pertamanya kecelakaan.
Rumah Sindi kembali ramai,belum selesai dengan Doni kini ibu Restu ikut nimbrung.
Sindi menangis histeris begitupun adik Restu yg juga terkejut mendengar kabar.
Yg lebih melukai hati mereka ialah mendengar cucu semata wayang juga kritis.
" Kakak hiks hiks hiks " Ucap Doni terbangun dan mendengar bisik2 tetangga.
" Tenanglah Nak,kakak mu akan baik2 saja " Sahut tetangga menenangkan Doni.
Lelaki itu bangun dan mencoba melangkah.
Meski dihalangi tapi ia tetap keluar kamar.
Alangkah terkejutnya lelaki itu melihat tetangga rumahnya mengkipasi ibu Restu yg terbaring diruang tamu.
" Mama huhuhuhu " Doni melihat Sindi dan langsung menangis.
Sindi menatap wajah putranya dan semakin berderai air mata.
" Kakak Ma huhuhu " Ucap Doni tak kuasa.
Sindi memeluk anaknya dan menangis bersama.
" Apa yg harus kita lakukan Ma ?" Tanya Doni lemah.
" Kita akan kesana Nak, kamu ingin tinggal atau ikut ?" Tanya Sindi merapikan rambut anaknya.
" Aku mau ikut Ma " Jawab Doni sedih.
__ADS_1
" Tapi kamu lagi sakit " Kata Sindi lesu.
" Aku gak perduli Ma,aku harus lihat Kakak " Kata Doni kekeh.
" Aku akan ikut Bi " Celetuk adik Restu tegas.
" Jika kamu kesana,bagaimana dengan ibu mu ?" tanya Sindi menatap gadis itu.
" Emak akan ikut juga,kami tidak akan tenang berada disini " Jawab Anggi serius.
Sindi diam dan melirik suaminya yg sedang berpikir keras.
" Bentar " Kata Sindi melepas putranya.
Wanita itu mendekati Malvin dan terdiam mengetahui lelaki itu juga menangis.
" Mas " Panggil Sindi lembut.
" Mengapa belum berakhir juga ?" Gumam Malvin nanar.
" Mas " Ucap Sindi bergetar.
" Aku tidak tau kesalahan mana lagi yg belum terselesaikan,kenapa sekarang malah Restu dan Nur juga tertimpa sial kita " Kata Malvin frustasi.
" Mas jangan ngomong gitu gak baik !" Kata Sindi syok.
" Lalu apa kalau bukan itu Sin !" Bentak Malvin kesal.
Sindi terkejut,begitupun para tetangganya yg tak tau apapun masalalu mereka.
" Kita harus tenang,kamu telfon orang tua mu untuk menjaga mereka sementara " Kata Sindi berusaha tetap waras.
" Mereka semua dirumah sakit,Kak Sita juga sudah jalan kesana " Balas Malvin ketus.
Sindi mengangguk kecil,detik berikutnya Sindi berjalan kekamar menyiapan sesuatu.
" Kita akan berangkat setelah ibumu sadar " Ucap Sindi menepuk bahu adik Restu.
" Iya Bi " Jawab gadis itu mengerti.
Malvin masih duduk ditempatnya,lelaki itu benar2 seperti kehilangan arah.
Kabar mengejutkan yg ia terima begitu menyakitkan,belum hilang lelahnya di kebun tadi kini lelaki itu dipaksa harus berjuang lagi.
Tak lama ibu Restu sadar,wanita itu kembali menangis mengingat putranya dan sang cucu,,apalagi mengetahui Winda juga sedang melahirkan.
Tak ada yg tau bahwa yg menemani Winda lahiran merupakan mantan suami wanita tersebut,Risa dan Rudi terpaksa menyembunyikan fakta itu takut2 Malvin dan orang tua Restu mengamuk.
Hingga sore hari,2 keluarga itu masih dalam perjalanan.
Semuanya diam tanpa suara,Doni 2x muntah mabuk perjalanan tapi lelaki itu berusaha kuat agar bisa bertemu kakaknya.
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Comeñt ya.
__ADS_1