Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
492


__ADS_3

Hari H tiba,pagi ini Winda dan Restu sudah bersiap2 akan berangkat ke kota.


Doni juga sudah bersiap,pria itu terlihat sangat bersemangat akan mengikuti turnamen bola yang sudah ia idamkan selama ini.


Winda yang tak mau mengecewakan adiknya harus ikut andil mengantarkan karna setiap pemain harus didampingi oleh keluarga terdekat,maklum Doni masih duduk dibangku Smp.


" Semua udah beres ?" tanya Sindi melihat Restu keluar kamar.


" Udah Ma,tinggal mandiin Nur " Jawab Restu tersenyum.


" Loh kenapa gak dimandiin dari tadi ?" tanya Sindi mengernyit.


" Nur masih males banget Ma dibangunin malah nangis,jadi aku biarin aja tidur lebih lama " Jawab Restu terkekeh.


" Oalah anak itu " kata Sindi ikut terkekeh.


" Ya udah ayo sini kita ngopi dulu sama Papa " Ajak Sindi.


Restu mengangguk setuju,memang setiap pagi rutinitas mereka diawali dengan kopi hangat yang akan membangkitkan semangat hidup mereka,Sindi yang dulunya tak pernah mengopi tapi sekali tinggal dikampung selalu menyenduhkan hal tersebut..


Winda keluar dari kamar mandi dengan keadaan fresh,wanita itu selesai membersihkan dirinya.


" Wah udah pada nongkrong " Ucap Winda melihat 3 serangkai duduk berseblahan dengan gelas kopi masing2.


" Iya nih " Jawab Restu tersenyum.


" Bagi dong " rengek Winda manja.


" Gak boleh " Jawab 3 serangkai bersamaan.


Winda seketika mengkrucut,hanya dirinya yang dilarang minum kopi dirumah itu karna orang tua dan suaminya takut Winda kambuh,maklum wanita itu punya ginjal bekas donoran.


" Ih pelit " Cibir Winda berjalan menjauh.


Restu menggeleng pelan,istrinya jika sudah merajuk pasti menampilkan wajah menggemaskan.


" Lihat tuh istri kamu kek anak kecil " Ucap Malvin terkekeh.


" Iya Pa,tapi dia imut kayak gitu " Balas Restu malu.


Sindi mengulum senyum geli,ia akan malu sendiri dengan menantunya yang selalu mengangungkan Winda layaknya seorang ratu apalagi Nur yang menjadi buah cinta mereka.


Selama menikah dengan putrinya,tak sekali pun Sindi mendengar Restu mengeluarkan kata kasar meski terkadang dongkol,Sindi begitu berharap hubungan anaknya dengan sang menantu tetap berjalan dengan baik.


" Assalamualaikum " Sapa seseorang dari luar.


" Waalaikumsalam " Jawab Mereka serempak.


" Siapa bertamu pagi2 gini ?" tanya Malvin mengernyit.


" Aku lihat dulu Pa " Jawab Restu bangun dari duduknya.


Malvin dan Sindi mengangguk,Restu pun melangkah keluar dari dapur.


" Emak " panggil Restu melihat seorang wanita masuk kerumah dengan daster dan jaket.


" Mertua kamu mana ?" tanya wanita tersebut hangat.


" Ada didalam lagi ngopi " Jawab Restu.


" Emak " Panggil Winda keluar kamar.

__ADS_1


" Eh Winda,baru selesai mandi ?" tanya Emak Restu bernama Mia.


" Iya Mak hehe " jawab Winda malu.


" Ya udah pake baju yang bener " Kata Mia menegur.


Winda mengangguk dan menutup dadanya yang diselimuti kain.


Mia berjalan kedapur dan bertemu dengan orang tua Winda.


" Eh San,ayo sini ngopi bareng " Ajak Sindi ramah.


" hehe gak usah San,aku kesini mau anterin pisang goreng " Jawab Mia terkekeh.


" Wah repot2 banget San " kata Malvin takjub


" Ngak kok San kebetulan lewat aja,aku denger Doni mau ke kota ya ?" tanya Mia.


" Iya San,mau tanding bola,Winda sama Restu yang anterin kesana sekalian nginep dirumah Neneknya " Jawab Sindi panjang lebar.


" Oh iya,udah lama juga mereka gak jalan2 kasihan Nur dikampung terus " kata Mia tersenyum.


Malvin dan Sindi saling melihat dengan senyum kecil,mereka memang tak pernah lagi kekota sejak perpisahan Winda karna khawatir anak mereka kembali terpuruk dengan kisah masa lalunya.


" ya udah San,aku anter ini aja masih banyak kerjaan dirumah,cucian adik Restu banyak banget " Pamit Mia.


" Maklum San anak gadis " Balas Sindi terkekeh.


" ya gitu lah San,kadang suka males juga aku " kata Mia lesu.


Restu hanya tersenyum mendengar gundahan hati ibunya,pria itu punya 1 adik perempuan yang kini mulai dewasa,Restu anak pertama dari pasangan Mia dan Sukri tapi sang ayahanda sudah meninggal sejak ia berumur 13 tahun.


Mia pun pamit pulang dan tak sempat bertemu dengan cucunya yang masih tergolek dikamar.


Malvin dan Sindi mengantar anak2 mereka didepan pintu dengan wajah yang sulit dimengerti.


" Hati2 ya Nak " Ucap Malvin mengusap kepala Doni.


" Doain aku ya Pa biar bisa menang " Balas Doni berharap.


" Iya sayang " jawab Malvin tersenyum.


" Cucu Kakek mau pelgi ke kota ya ?" Goda Malvin kepada Nur.


Bocah kecil itu mengangguk malu2 bersembunyi didada bidang Papanya.


" Ayo salim dulu " Tegur Restu.


" Sini muah dulu sama Nenek " Kata Sindi mendekat.


Nur setuju dan mencium pipi Sindi dengn hangat.


" Ulu2 pinternya " Balas Sindi membalas kecupan.


Malvin juga mendapatkan perlakuan yang sama,pasangan itu sungguh tak menyangka bayi yang dulunya sangat kristis kini aktif dan sehat luar biasa.


Kehamilan Winda benar2 sebuah ujian yang besar untuk mereka semua dimana Winda dan Nur berjuang mati2an untuk hidup.


Setelah acara pamitan selesai,Winda dan rombongan langsung berangkat ke terminal.


Mereka akan menaiki bus berjam2 lamanya untuk sampai dikota.

__ADS_1


" Nur yang kuat yang Nak " ucap Winda mengusap pipi putrinya yang terlihat kebingungan.


" Gak papa,dia pasti kuat kok " Balas Restu yang menggendong bayi itu didepan.


Winda mengangguk tersenyum,perjalanan panjang pun dimulai.


Ditempat lain,sepasang anak manusia sedang bersantai didepan tv dengan kaki bersilang dan susu dibotol masing2.


" Wah2 enaknya pagi2 nonton kartun " tegur seorang pria yang tak sengaja lewat.


Keduanya menoleh dan terdiam melihat Romi duduk disofa menatap mereka.


" Kakek " panggil Suci tersenyum.


Sutar diam melihat lelaki tua itu menatapnya dalam.


" Boleh ikutan gak ?" tanya Romi tersenyum.


" Ih Kakek tan udah tua maca mau ikut kita " Jawab Suci aneh.


" Ya gak papa dong Kakek ikutan,iya gak Sutar " Kata Romi meminta pendapat cucunya yang satu lagi.


Sutar diam tak menjawab,bocah itu kembali menghadap tv sambil menyedot susunya.


" Ck nih bocah masih kecil udah jutek aja " Cibir Romi gemas.


Sudah 2 hari Sutar dirumah,tapi bocah itu masih enggan memberi muka ntah apa yang dipikirkan membuat Romi bingung sendiri.


Seorang gadis tiba2 mendekat dan menjatuhkan dirinya disamping Sutar,sontak membuat bocah itu melonjak kaget.


" Uhhh sini sayang sama Onty " Ucap Byanca memeluk Sutar erat.


" Ndak auu " Kata Sutar mendorong wajah Byanca.


" Kenapa gak mau,Onty butuh pelukan nih dingin banget " Kata Byanca memaksa.


" Ndak auuuuuu !" pekik Sutar menekok wajah Byanca dengan botol susunya.


" Aduhhhh " Ringis gadis itu kaget.


" Kok Onty digetok sih " Kata Byanca kesal.


" Auuu ukan muhlim " Ucap Sutar tegas.


" Whatt ???" Pekik Byanca melongo.


" Tuh denger,main peluk2 aja bukan muhrim " Cibir Romi membenarkan kata2 cucunya.


Sutar bangun dan melongos gitu aja.


Romi menahan tawa,Sutar benar2 diluar dugaan lelaki itu,kadang ia bingung sendiri Sutar mendapatkan kata2 ajaib tersebut dari mana.


Byanca masih mengkrucut didepan Romi yang malah menertawai dirinya.


" Yahhh kacian Onty di olak Sutal " Kata Suci prihatin.


" Haisttty " Byanca mendengus dan menjal2 dikarpet.


Romi kembali tertawa,diusianya yang sudah tua lelaki itu sangat butuh hiburan seperti yang trrjadi sekarang.


❤❤❤❤

__ADS_1


Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya


__ADS_2