
Sebagai salah satu momen yang sangat istimewa bagi setiap pasangan, tentu menggelar pesta pernikahan dengan sebaik-baiknya merupakan impian bagi banyak kalangan. Tiap-tiap pasangan senantiasa berupaya untuk merencanakan dan menggelar pesta pernikahan dengan sebaik-baiknya agar momen istimewa tersebut menjadi berkesan bukan hanya bagi mempelai yang bersangkutan namun juga bagi para tamu undangan yang turut hadir menyaksikan momen bersejarah itu.
Dan yah, itulah yang dilakukan oleh Doni, pria tampan yang terlihat sangat manis, yang identik dengan rambut tebal dialisnya. Dia pria yang penuh pesona berkepribadian lembut dan tenang serta memiliki tanggung jawab yang sangat besar.
Demi membahagiakan sang pujaan hati yang akan menjadi pendamping hidupnya, Doni rela menguras otak dan tenaganya untuk mempersiapkan acara pernikahannya yang waktunya sangat singkat.
Yah! dua minggu adalah waktu yang sangat singkat untuk dia bisa membuat perencanaan dan persiapan dengan matang. Karena ingin menyiapkan sebuah event pernikahan yang berkesan, membuatnya tidak bisa santai barang sedikitpun, itulah mengapa dia tidak bisa memberi kabar kepada calon istrinya beberapa hari terakhir.
Namun, akhir dari usaha dan kerja kerasnya itu terbayar tidak sia-sia, dia mampu menyelesaikan perencanaannya tepat waktu bersama dengan WO profesional yang dia sewa. Karena memang kesepakatan dari kedua belah pihak yang menyerahkan seluruh persiapan pernikahan kepada Doni, tapi sesekali Risal selaku calon kakak iparnya juga terkadang ikut membantunya.
Dan hari ini adalah puncak dari segala kerja kerasnya. Pesta pernikahannya akan digelar di dalam sebuah gedung yang sangat megah.
Gedung ini semakin bertambah kemegahannya tatkala vendor telah mendekorasinya dengan konsep bernuansa mewah nan elegan dan pada setiap desainnya di dominasi dengan warna silver dan gold. Kesan glamornya semakin terasa dengan tambahan aneka jenis lampu gantung kristal.
Dan sebentar, sejarah akan tercetak menjadi sebuah kenangan yang sangat berkesan bagi pasangan Doni dan Mita hingga mereka menua nanti.
Ralat!!
Memang benar, hari ini adalah puncak dari kerja keras Doni, Namun!!! acara perhelatan yang sebentar lagi dimulai ini tidak akan menjadi momen yang berkesan, melainkan momen yang pahit pagi pria beralis tebal itu. Setelah kejadian kemarin, tidak mungkin saat ini dia baik-baik saja bukan!?
Hanya saja dia tetap bersikap tenang, karena dia sangat mencintai gadisnya itu, yang sebentar lagi akan menjadi wanitanya.
Mendekati dimulainya acara, para tamu dan keluarga inti dari kedua belah pihak sudah memenuhi setengah dari kursi yang sudah tersusun rapi.
Dan kedua calon pengantin juga sudah selesai berhias di ruangan yang terpisah dan tengah menunggu acaranya dimulai.
Hari ini Doni masih sama seperti biasa sangat tampan dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam, kemeja putih dengan tambahan dasi kupu-kupu, hiasan bunga di kerah jasnya menjadi pemanis serta membuatnya semakin bersinar, walau hatinya suram.
Terlebih lagi dengan sang mempelai wanita bak seorang putri di negeri dongeng, dengan mengenakan gaun ball gown warna cokelat muda berhiaskan swarovski. Hijab dan veil tulle warna senada jadi pemanis, dengan make up yang tidak terlalu tebal namun menegaskan kecantikannya. tidak sia-sia Doni menyewa MUA yang sangat profesional.
Namun ada yang berbeda dari wajah Mita, terasa ada yang kurang. Dan yah, seperti yang dirasakan Doni. Tak ada rasa kebahagiaan sedikitpun yang tergambar di wajah itu, hanya ada kecemasan dan rasa bersalah.
Dan perlu ditegaskan bahwa, suasana hati Mita sudah seperti ini sejak kemarin!?
Flashback on
Saat dia kembali dari taman menemui David, Dia kembali ke rumahnya, dia termangu sesaat di depan anak tangga paling bawah. Sepupunya memanggil lalu menghampirinya sambil menyodorkan kantong keresek berwarna hitam yang berisi sekotak martabak coklat.
Mita mengerut heran. Dia bertanya siapa yang membawa makanan ini!? dan sepupunya menjawab jika yang membawanya adalah Doni.
Terbelalak kaget, Mita langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Atensinya langsung tertuju pada benda pipih yang tergeletak diatas tempat tidurnya. Tidak butuh waktu lama dia meraih dan memeriksa benda pipih itu.
Betapa terkejutnya Mita saat melihat lebih dari 10 panggilan tak tertawab dari Doni beserta empat chat terakhirnya yang tidak dia pahami apa maksudnya!!
Detik berikutnya dia kembali berlari ke lantai bawah untuk menghampiri sepupunya, dan bertanya mengenai apa yang dia katakan pada Doni.
Dan sepupunya itu hanya, memberitahu Doni jika Mita pergi dengan terburu-buru mengendarai motor menuju taman.
__ADS_1
Termangu dengan raut wajah bersalah, saat kini dia menyadari arti dari pesan terakhir Doni.
Karena mengetahui kesalahannya, Mita pun berusaha menghubungi Doni, terus dan terus!! Tapi nihil!! Doni mengabaikan panggilannya.
Flashback off
Mita masih termangu, dia sibuk dengan pikirannya yang mengganggunya sejak kemarin. Karena lamunannya itu!! membuat dia tidak sadar jika ternyata acara telah dimulai.
Seketika tubuhnya terlonjat kaget, tatkala suara berat Doni dari sound system menginterupsi pendengarannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mita Arsinta Purnama binti Handoyo Purnama dengan mas kawin logam mulia 150 gram sama uang tunai Rp 1.805.021 dibayar tunai."
Doni berucap lantang dengan sekali tarikan nafas, membuat atensi Mita berkaca-kaca, ada rasa bahagia yang tersirat dalam benaknya, namun rasa cemas tetap mendominasi.
Hanya dengan satu tarikan nafas itu, seketika merubah statusnya menjadi istri. jika dulunya dia harus patuh kepada setiap perkataan papah dan mamahnya, kini hak itu berpindah ke suaminya, jika dulu dia harus merendahkan nada suaranya di depan orang tuanya, kini Doni lebih berhak atas itu. Jika dulunya dia harus izin kepada orang tuanya saat hendak keluar rumah, kini suaminya lah yang berhak atas izin itu. Seluruh hak orang tuanya atas dirinya kini berpindah alih ke Doni suaminya. Dan dosa yang dia terima jika membangkang pada kedua orang tuanya pun kini berlaku jika dia melakukan hal yang sama pada suaminya.
Ditengah suasana haru menyelimutinya, tiba-tiba pintu coklat ruangan itu terbuka menampilkan dua sosok wanita yang sangat dia kenal, salah satunya adalah ibunya.
Sinta tersenyum simpul menatap putrinya itu begitupun dengan Mita, meskipun senyumnya terkesan dipaksakan. Detik berikutnya mereka bertiga keluar dari ruangan itu.
Mita berjalan dialtar dengan diapit oleh tante dan mamanya menuju pada sosok yang tengah menatapnya.
Raut wajah Doni memang terlihat begitu tenang seperti tidak terjadi apapun dan juga senyuman sabit yang menghiasi bibir itu membuat orang yang melihatnya, mereka adalah pasangan yang bahagia di hari ini. Namun bagi Mita tindakan Doni itu terlihat sangat memilukan netra hitam Mita.
Acara kembali berlanjut setelah kini Mita duduk berdampingan dengan Doni. Dengan melakukan serah terima mahar lalu selanjutnya nasehat pernikahan bagi kedua mempelai. Lalu berlanjut lagi ke acara sungkeman.
Semua orang yang menyaksikan serta mendengar tangisan Mita yang terdengar pilu itu, pasti merasa iba.
Mereka mungkin berfikir jika tangisan Mita saat ini adalah tangisan yang tak rela berpisah dari sang mamah, namun pada kenyataannya tangisan Mita adalah sebuah tangisan penyakit yang sejak kemarin menggumpal di rongga dadanya hingga membuat saluran pernafasannya terasa sesak.
Sementara Sinta juga merasa heran dengan gelagat putri ini. Kenapa tangisannya terdengar sangat pilu. Ada apa? pikirnya dengan masih menenangkan putrinya, lalu bertanya melirik Doni yang terlihat biasa saja.
Drama antara ibu dan anak itu bertahan selama beberapa menit lamanya. Setelah Mita tenang acara kembali di lanjutkan dengan sesi foto bersama, lalu dilanjutkan dengan acara resepsi.
^Δ^
Batin Mita sakit seperti teriris benda tajam, sangat perih. Rongga dadanya terasa sesak. Air mata di pelupuk matanya sejak tadi sudah mendesak ingin keluar, namun Mita tahan.
Bagaimana Tidak!? Acara pernikahan yang kata orang adalah acara yang paling sakral dan istimewa, momen yang paling membahagiakan dan sangat berkesan, momen yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
Sepertinya itu tidak terjadi pada Mita, justru yang dia dapatkan di hari yang kata orang adalah hari bahagianya, hanyalah kekecewaan.
Bagaimana tidak!? Sejak acara resepsi berlangsung hingga acara resepsi selesai, Doni terus saja mengabaikan Mita. Pria yang kini berstatus suaminya itu sama sekali tidak menyapanya, tidak berbicara kepadanya, Doni sibuk dengan sahabat dan rekan kerjanya sementara Mita yang juga berada di tengah-tengah sahabatnya, hanya mampu melirik pilu ke arah Doni yang terlihat asyik.
^Δ^
Ruang tengah apartemen mewah milik Doni terlihat sangat berantakan, akibat ulah seluruh keluarganya. Tujuan mereka datang ke apartemen ini adalah mengantar sang pengantin baru. Namun Arman dengan ide konyolnya mengajak mereka kembali berpesta, setelah itu mereka lalu meninggalkan tempat itu begitu saja.
Namun setelah kepergian mereka, sejak sejam yang lalu, tempat itu kini berubah menjadi hening, hanya terdengar bunyi jarum jam yang menempel di dinding dan sudah menujukkan pukul sebelas malam.
__ADS_1
Namun tempat itu sangat sunyi, seperti tak berpenghuni!! tak ada suara sama sekali. Karena memang pasangan baru yang masih hangat ini tengah melakukan perang dingin.
Mita yang berada di dalam kamar tengah terpaku, dengan raut wajah sedih disertai dengan tatapan sendu, saat dia kembali teringat momen pahit tadi siang.
Apakah akan seperti ini selamanya!? bukankah dia begitu mencintaiku!? tapi kenapa dia mengabaikanku seolah aku ini adalah orang lain!? pikirnya dengan dada yang terasa sesak.
Atensi Mita tertuju pada ranjang berukuran king size, berseprai putih dan hiasan kelopak bunga mawar bertabur rapi di tengah ranjang itu, detik berikutnya atensinya beralih menatap dirinya sendiri yang saat ini hanya mengenakan lingeria yang sangat tipis dan transparan.
Saat ini dada Mita berdenyut sakit lalu dengan langkah gontai dia mendekati ranjang itu, lalu detik berikutnya dia berjongkok dan terduduk di lantai dengan bersandar di ranjang itu, Mita meringkuk memeluk kedua lututnya lalu membenamkan wajahnya diantara pahanya. detik berikutnya isakan terdengar dari balik ringkukannya itu. "Kenapa ini harus terjadi!? jika masih ada keraguan, kenapa pernikahan ini tetap terjadi!? Gumam Mita dalam ringkukannya itu sambil menangis tersedu, sangat pilu bahkan bahunya bergetar.
Perlahan Mita mengangkat wajahnya, lalu berbalik menatap taburan bungan itu. "Untuk apa semua persiapan ini!?" Mita bergumam frustrasi sambil tangannya terulur menyibakkan kelopak bunga itu menjadi berantakan, lalu dia beralih menatap frustasi *l*ingerianya, detik berikutnya dia menariknya dengan kasar hingga sobek pada bagian lehernya, karena memang terbuat dari bahan yang tipis, jadinya sobek.
Lalu dia kembali meringkuk dan membenamkan wajahnya lagi.
^Δ^
Jika kegelisahan dan kesedihan dirasakan oleh Mita, begitu halnya dengan Doni.
Mengasingkan diri di ruang kerja dengan maksud untuk menenangkan pikirannya sambil berusaha mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan laporan terakhirnya sebelum benar-benar resign dari kantor Riko.
Tapi dia tidak bisa!! alih-alih pikirannya teralihkan, malah sekarang kepalanya semakin pusing, saat pikirannya yang sejak tadi dipenuhi oleh sosok pria bule yang ditemuinya kemarin lalu ditambah lagi dengan pekerjaannya.
Menghela nafas berat lalu menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi kerjanya, detik berikutnya matanya terpejam sambil tangan kanannya memijit pelan pelipisnya, dengan deru nafas yang beraturan.
Namun, dia kembali menghela nafas berat tatkala dia teringat istrinya yang saat ini berada di dalam kamar samping ruang kerjanya. Dia merasa bersalah sekarang.
"Dia sed__
Doni tersentak kaget sebelum dia berhasil menyelesaikan kalimatnya itu, saat seseorang tiba-tiba saja duduk dipangkuannya. Sontak Doni langsung membuka matanya dan melihat sosok Mita kini duduk dipangkuannya. Sesaat Doni menatap wajah polos Mita yang terlihat sangat sembab. Dia habis nangis!! pikirnya sesaat sebelum akhirnya dia mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Karena jujur saja saat ini jantung Doni sudah berdetak tidak karuan, otaknya seketika lumpuh dan tak mampu lagi berfikir jernih, seluruh tubuhnya menjadi menegang, apalagi tubuh bagian bawahnya terasa dingin semua terutama pada bagian kaki.
Bagaimana tidak!? tadi Doni melihat bagian tubuh atas Mita begitu terekspos, karena memang pakaian Mita sangat tipis.
Dada dan juga leher putih Mita langsung terngiang-ngiang di otak Doni hingga membuat dia menelan salivanya dengan susah payah, saat ini dia berhasrat karena pikirannya sudah semakin liar. Yah, dia adalah seorang pria normal apalagi di usianya yang saat ini memang sudah sangat matang.
Namun Doni berusaha mengontrol dirinya, dia tidak mungkin langsung membabi buta di saat situasi sedang tidak baik seperti sekarang. Dia tidak ingin menyakiti istrinya dengan nafsunya. Dia ingin melakukannya dengan cinta, atas dasar mau sama mau, suka sama suka.
Berdetik-detik lamanya, mereka masih di posisi yang sama. Mita duduk dipangkuan Doni sementara Doni bergeming, atensinya tertuju pada hal lain, sementara Mita terus menatap lekat wajah suaminya yang mengabaikannya. Detik berikutnya Mita mengaitkan kedua tangannya di leher Doni dengan mesra lalu membenamkan wajahnya di leher jenjang suaminya itu.
Doni masih termangu masih belum merespon Mita sama sekali, sampai akhirnya Mita semakin mempererat kaitannya pada leher Doni, membuat Doni terenyuh perlahan dia melirik ke arah Mita hingga pipi mereka menempel satu sama lain.
-tbc-
Author's Note π_π
...Part ini semakin gaje, semoga kalian suka yah guyss,, dan tersisa satu lagi part spesial dari mereka, lalu berakhir. tetap tungguin yah!! jangan pernah bosan!...
... happy reading ❤...
__ADS_1