Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Tujuh Lima "TSJC"


__ADS_3

Rani pun duduk setelah bersalaman dengan Riko, dia kemudian fokus dengan seseorang yang duduk di samping Riko sambil menutup wajahnya dengan daftar menu.


Riko melihat ekspresi wajah Rani yang bingung melihat Citra, dan dia kemudian sadar ternyata Citra menutup wajahnya.


"Kenalin kak, dia istri aku, yang mama ceritain waktu itu." ucap Riko memperkenalkan Citra kepada Rani sambil berusaha menyingkirkan daftar menu itu dari wajah Citra, tapi Citra menggenggamnya sangat kuat.


"Aku udah tau kok Rik, dia yang mengaku sebagai anaknya bi Ina kan." Ucap Rani tiba-tiba dan membuat Citra salting.


"Anaknya bi Ina?" gumam Riko.


"Iya, dia memperkenalkan dirinya ke aku sebagai anaknya bi Ina, iyakan Cit?" tanya Rani kepada Citra yang masih menutup wajahnya.


Citra yang sudah ketahuan, menyingkirkan daftar menu itu dari wajahnya sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Eh kak Rani." ucap Citra canggung.


Citra kemudian melirik Riko yang sedang menatapnya meminta penjelasan.


"Waktu itu aku ngga sengaja bertemu dengan kak Rani saat aku lagi anterin bi Ina ke rumah sakit, waktu itu aku juga ngga tau kalau kak Rani tau tentang pernikahan kita, makanya aku mengaku aja sebagai anaknya bi Ina waktu itu kan kita masihh... Ucapan Citra tertahan sambil mentap Riko.


"Terikat kontrak." gumam Citra pelan dan Riko mengetahui apa yang Citra maksud. Rikopun tersenyum melihat istrinya.


"Ya udah, kak Rani kenalin dia Citra istri aku." ucap Riko memperkenalkan Citra kepada Rani kedua kalinya.


"Hy Cit, aku Rani kakak kelas Riko waktu SMA." ucap Rani lembut sambil meyodorkan tangannya.


"Citra kak." balas Citra menyalami tangan Rani dan tersenyum.


"Sekarang kan kamu udah tau kalau kak Rani itu kakak kelas aku, jadi kamu ngga usah cemburu lagi sama kak Rani, aku sama kak Rani cuma teman, aku udah anggap kak Rani sebagai kakak aku." jelas Riko kepada Citra


"Dia cemburu sama aku? ya ampun sampai segitunya." ucap Rani pura-pura lupa.


"Ngga kok,, itu ngga bener." bantah Citra berbohong karna malu.


"Kamu ngga usah bohong sayang,, kamu bahkan sampai nangis-nangis waktu itu." ejek Riko lagi membuat Citra salah tingkah karna Rani sudah tertawa.


"Siapa bilang aku nangis karna cemburu." bantah Citra lagi dengan kesal.


"Emang kamu nangis karna cemburu kan, bahkan hidung kamu penuh dengan ingus." ejek Riko lagi membuat Citra semakin kesal dan malu.


"Ihh kak Riko apaan sih." ucap Citra kesal sambil memukul lengan Riko dan menatapnya sinis. Riko yang tau istrinya sedang kesal kemudian menenangkannya dengan mengacak rambut Citra lembut.

__ADS_1


"Iya aku minta maaf." ucap Riko lembut menenangkan istrinya, dan Rani hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang menurutnya lucu.


Kemudian Riko dan Rani pun melanjutkan obrolan mereka, tentang berbagai hal yang mereka lalui selama mereka tidak pernah bertemu, dan Citra hanya terus mendengar pembicaraan mereka dengan wajah yang kusut, mata yang hampir tertutup.


Sekali-kali Citra tertawa receh saat mendengar lelucon mereka yang menurutnya ngga lucu tapi dia paksakan untuk tertawa.


Tiap menit terus berlalu, tapi belum ada tanda-tanda pembicaraan mereka akan berhenti, sesekali Citra melirik sinis suaminya dan Rani yang sangat dekat, berbicara dengan santai, dan Citra merasa kesal karna Riko lebih terbuka kepada Rani daripada kepadanya.


Citra terus menerus mendengus kesal dan sesekali menguap mendengar mereka berbicara tidak ada habisnya, Rani melihat tingkah Citra yang sangat tidak bersemangat.


"Sayang, kamu ngga ppa kan? kamu kelihatan lemas." tanya Riko khawatir kepada Citra.


"Ngga kok kak, terusin aja pembicaraan kalian, aku ngga ppa kok, aku tadi cuma ngantuk sedikit karna dengerin dongeng kalian yang ngga ada habis-habisnya." ketus Citra menyinggung mereka karna moodnya sedang tidak baik.


Riko mengerutkan dahinya mendengar perkataan istrinya sementara Rani hanya tersenyum mendengar perkataan Citra.


Rani kemudian meraih pergelangan tangan Citra dan memeriksa denyut nadi Citra, sontak Citra terkejut saat Rani memegang tangannya.


"Kak Rani lagi ngapain?" tanya Citra penasaran.


Rani tidak merespon, dia terus fokus memeriksa denyut nadi Citra, tiba-tiba ekspresinya menjadi serius dan sedang menganalisa keadaan Citra, dia sesekali menghela nafas karna dia takut analisanya salah.


"Ada apa kak? apa Citra baik-baik saja?" tanya Riko sedikit khawatir.


"Ngga kok kak,, aku hanya sedikit lemas dan selalu ngantuk, dan aku juga malas ngapa-ngapain." jelas Citra menjelaskan keadaannya, karna memang beberapa hari terakhir ini, semenjak mereka kembali dari korea, dia sangat malas ngapa-ngapain dan bawaannya dia hanya ingin terus tidur.


Rani hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan Citra.


"Dia kenapa kak?" tanya Riko sedikit khawatir.


"Dia ngga ppa Rik, dia hanya kelelahan, dia butuh istirahat yang cukup." ucap Rani.


Semenjak Citra dan Riko berpisah waktu itu, istirahat Citra memang sangat kurang, kurang tidur, kurang makan dan banyak pikiran. dan Riko menyadari hal itu.


"Jadi aku harus gimana kak?" tanya Riko meminta saran dari Rani yang seorang dokter...


"Kamu hanya perlu menjaga dia, memperhatikan pola makan dia, selalu beri dia vitamin dan buah, biar dia segar dan juga ajak dia olahraga sesekali biar dia ngga ngantuk." saran Rani.


Rikopun mengangguk mengerti.


"Makanya Rik, kalau jadi suami harus peka, ya udah sekarang kalian pulang aja, kasian istri kamu bawaannya pengen tidur mulu." ucap Rani lagi.

__ADS_1


"Dia beneran ngga ppa kan kak?" tanya Riko lagi ingin memperjelas.


"Kamu ngga percaya sama aku,, kamu anggap apa aku ini Rik, aku kan dokter." ketus Rani.


"Hehe maaf kak, ya udah aku pulang dulu ya kak." ucap Riko lalu menggandeng tangan istrinya hendak pergi, tapi Rani menahnnya.


"Rikk." gumam Rani sambil menyentuh lengan Riko.


Citra yang melihat Rani memegang tangan suaminya, cemburu otaknya tiba-tiba mendidih saat Rani menyentuh suaminya, dia tidak menerima hal itu, dan Riko hanya santai tidak mengetahui bahwa istrinya sedang terbakar cemburu.


Rani melihat ekspresi Citra yang sudah membara, diapun segera melepaskan tangannya dari lengan Riko.


"Ada apa kak?" tanya Riko penasaran.


"Ada yang mau aku sampaikan Rik, ini penting." ucap Rani serius.


"Ya udah kak Rani ngomong aja." pinta Riko.


Citra yang sudah gerah hati dan body, melepaskan genggaman tangan Riko.


"Aku tungguin kak Riko di mobil." ketus Citra lalu meninggalkan mereka.


Riko ingin menahan istrinya, tapi Citra sudah keburu pergi, akhirnya Rikopun duduk kembali untuk mendengarkan Rani.


Citra yang sudah berada di mobil, memperhatikan mereka yang sedang berbicara, karna memang Citra bisa melihat mereka dari arah parkiran. Citra terlihat cemberut saat melihat suaminya begitu bahagia dan antusias.


"Mereka lagi ngomong apa sih,, segitu pentingnya yah, sampai-sampai kak Riko sesenang itu." gerutu Citra kesal lalu menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


Skip.


"Kak Rani serius, Citra hamil." ucap Riko antusias.


"Aku ngga yakin Rik, tapi dari analisa aku mengatakan sih iya. Terus ciri-cirinya juga sama, Dia lemas malas ngapa-ngapain terus moodnya berubah-rubah." jelas Rani.


"Iya sih,, hari ini moodnya berubah-rubah, tadi dia bahagia, manja, ceria. tapi sekarang dia sensitif." ucap Riko.


"Ini sih masih analisa aku aja Rik, kamu jangan langsung percaya, karna takutnya nanti kamu kecewa." ucap Rani lagi.


"Terus aku harus gimana kak?" tanya Riko lagi.


"Gini kamu coba tanya Citra, kapan terakhir dia datang bulan soalnya ciri-ciri dia sekarang juga seperti orang yang sedang datang bulan. jadi kamu tanya dia dulu yah." saran Rani.

__ADS_1


Riko hanya mengiyakan perkataan Rani, lalu Rikopun berpamitan kepada Rani untuk segera pulang, karna istri tercinta sudah menunggunya di mobil, apalagi sekarang Riko mengira Citra sedang hamil.


Saat Riko masuk ke dalam mobil, Riko mendapati Citra sudah tertidur akibat terlalu lama menunggu Riko. Sebenarnya Riko hanya membuat Citra menunggu selama lima menit, tapi karna Citra yang sedang bad mood, lima menit menurut Citra terasa 5 jam.


__ADS_2