Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Dua Tujuh "TSJC"


__ADS_3

Skip..


Jam istirahat Kevin sibuk mencari Citra. Dia bertanya ke Doni tentang Citra dan Doni hanya mengatakan kalau dia hanya mengantar Citra ke ruangan perawatan sampai Citra sadar, setelah itu Doni tidak tau lagi.


Kevin menuju ruang perawatan mencari Citra, tetapi sampai disana dia tidak melihat Citra.


"Dia dimana sih." batin Kevin khawatir.


"Kamu siapa?" tanya Luna penasaran.


Kevin berbalik melihat Luna lalu menghampirinya.


"Citra dimana kak?" tanya Kevin.


"Dia udah pulang, tadi ada temannya yang anterin dia." jelas Luna lalu duduk.


"Teman?.. Teman siapa kak?" tanya Kevin lagi.


Luna mengerutkan keningnya melihat Kevin yang panik ngga jelas.


"Kamu siapanya Citra,, kok panik sampai segitunya?" Tanya Luna heran.


"Aku juga temannya Citra kak." ucap Kevin.


"Kamu juga temannya, tapi dengan tingkah kamu yang seperti ini, sangat kelihatan bahwa kamu sedang tidak mencari seorang teman, melainkan seorang pacar yang hilang karna diculik." Ketus Luna yang membuat Kevin salah tingkah karna ketahuan kalau dia memang suka sama Citra.


"Temannya Citra itu kalau ngga salah namanya Indah." Ucap Luna lagi.


"Indah.." ucap Kevin menatap Luna, dan Luna hanya menganggukkan kepalanya.


Kevin segera keluar dari ruang perawatan menuju kantin mencari Indah, karna dia tadi melihat Indah berjalan menuju kantin.


Indah yang sedang makan di kantin kaget dengan kedatangan Kevin yang tiba-tiba.


"Kamu anterin Citra pulang?" tanya Kevin.


"Ngga,, aku tadi cuman anterin dia sampai depan kampus untuk nungguin taksi, lalu dia pulang sendiri." jawab Indah.


"Dia pulang sendiri, apa dia sudah baik-baik saja." tanya Kevin khawatir.


Indah menatap ekspresi Kevin yang sangat khawatir dengan keadaan Citra.


"Kamu ngga usah khawatir Vin dia udah baik-baik aja, dia hanya butuh istirahat aja." ucap Indah menenangkan Kevin. tapi sebenarnya Indah juga khawatir dengan keadaan Citra sekarang.


Skip..


Kantor Riko.


Riko yang sudah tiba di kantornya segera masuk ke dalam ruangannya dan di dalam sudah ada Romi yang menunggu Riko.


Silfa menyapa Riko dengan ramah, tapi seperti biasa Riko hanya melirik Silfa cuek.


"Ngapain lo disini?" tanya Riko datar kepada Romi lalu duduk di kursi kerjanya.


"Lo ngapain aja di rumah, kok sampai telat ke kantor sih." tanya Romi penasaran.


"Gue berendem di bak sehari semalem." ketus Riko.

__ADS_1


"Heeee.." ucap Romi terkejut.


"Ngga jelas amat sih lo Rik,, gue nanya serius." ucap Romi.


"Lo yang ngga jelas,, lo tuh nanya nanya gue seolah olah lo tuh bos gue.." ketus Riko sambil menandatangani dokumen di atas mejanya.


"Yah sorry Rik,, gue cuman heran aja, ngga biasanya lo tuh telat ke kantor." ucap Romi.


Riko hanya menatap Romi sekilas..


"Ehh Rik, lo udah tau gosip belum?" tanya Romi antusias.


Riko tidak menghiraukan Romi yang sedang bicara ngelantur. Riko tetap fokus dengan pekerjaannya.


"Kayaknya kampus lo bakalan jadi tempat pembulian mahasiswa baru deh, Buktinya si Citra hari ini di hukum karena telat dan disuruh lari keliling lapangan sebanyak 3x sampai dia pingsan " ucap Romi bercerita dengan semangat.


Riko yang dari tadi fokus menandatangani dokumen terhenti dengan perkataan Romi.


"Lo ngomong apa barusan?" tanya Riko menatap Romi dengan tatapan serius dan nada yang sedikit tinggi.


"Rik,, kok tatapan lo kayak gitu sih,, gak biasanya." ucap Romi sedikit takut melihat ekspresi Riko yang tiba-tiba serius.


"Ulangi perkataan lo barusan." ucap Riko berusaha tenang.


"Gue bilang, Citra pingsan di kampus karna di suruh lari keliling lapangan sebanyak 3x." ucap Romi.


"Siapa yang ngelakuin hal itu?" tanya Riko khawatir.


"Awalnya yang memberi Citra hukuman adalah Doni, Doni menyuruh Citra berlari 1x putaran, tapi tiba-tiba Lusi datang dan protes karna hukuman Citra tidak sesuai dengan aturan yang sudah mereka tetapkan,, Lusi menyuruh Citra lari sebanyak 3x putaran." Jelas Romi yang juga mengetahui info itu dari Anton.


"Apa apaan sih mereka, sampai segitunya." gumam Riko khawatir.


"Lo sakit yah Rik,, ekspresi lo mengatakan kalau lo itu sedang khawatir banget, lo lagi khawatirin Citra." tanya Romi mencari tau..


"Apaan sih lo,, ngapain gue khawatirin orang yang ngga gue kenal, gue khawatir sama reputasi kampus gue, gimana kalau nanti akredisasinya turun gara-gara kasus ini." ucap Riko berusaha meyakinkan.


Romi percaya dengan ucapan Riko, karna menurut Romi ngga semudah itu Riko perduli sama orang yang ngga dia kenal secara dia manusia es.


Riko berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, karna dia sudah kepikiran dengan Citra. Dia kembali teringat dengan wajah Citra yang terlihat sangat pucat saat dia pulang tadi.


"Selesai." batin Riko senang.


Riko menghubungi sekretarisnya dan menanyakan apakah masih ada dokumen yang harus dia tanda tangani dan Silfa mengatakan sudah tidak ada.


Kemudi Silfa mengatakan bahwa Riko ada pertemuan dengan investor dari Bali.


Riko hanya menyerahkan pekerjaan itu kepada Romi karna dia percaya bahwa Romi bisa menanganinya dengan baik.


Riko kemudian mengambil jasnya dan pergi meninggalkan Romi yang masih menatapnya heran.


Romi menatap Riko heran, karna Riko pergi tanpa alasan yang jelas, yang katanya ada urusan penting yang harus dia kerjakan di rumah dan menurut Romi itu adalah alasan yang absurd. Romi merasa kalau Riko sedang menyembunyikan sesuatu.


Skipp.


Rumah Riko.


Citra meringkuk di lantai sambil memegangi perutnya, dia sangat kesakitan akibat nyeri haid di perutnya sampai dia keringat dingin.

__ADS_1


Sementara Riko yang sudah tiba di rumahnya, buru-buru turun dari mobilnya lalu bergegas masuk ke rumah menuju kamar Citra.


Riko membuka kamar Citra dan mendapati Citra meringkuk dilantai sambil menahan sakitnya.


Riko yang panik segera menghampiri Citra lalu mengangkat Citra dan membaringkannya di kasur.


Riko menatap wajah Citra yang sangat pucat. Riko kemudian berniat pergi, tapi tangannya di tahan sama Citra.


"Kak Riko mau kemana?" tanya Citra dengan nada yang lemas.


"Aku mau telfon dokter dulu." ucap Riko melepaskan tangan Citra tapi Citra kembali meraih tangan Riko.


"Ngga usah kak, aku ngga apa apa kak, aku baik-baik aja." ucap Citra.


"Ngga apa apa gimana, muka kamu udah pucat banget, terus kamu juga udah keringat dingin, kamu bilang kamu ngga apa-apa." ucap Riko khawatir.


"Ini memang penyakit bulanan aku kak, nanti juga sembuh sendiri." ucap Citra.


"Emangnya ada sakit perut bulanan?" tanya Riko bingung dan Citra hanya mengangguk.


"Terus aku harus ngelakuin apa, biar perut kamu membaik." tanya Riko.


Citra kemudian menarik tangan Riko, membuat Riko terduduk di tepi ranjang Citra. kemudian Citra mengangkat tangan Riko ke arah perutnya, Citra mengarahkan tangan Riko untuk mengelus-elus perutnya. Riko terkejut dengan tindakan Citra.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Riko bingung menatap Citra.


"Tadi kak Riko mau ngelakuin sesuatu biar perut aku baikan, ini caranya." jelas Citra.


"Caranya Gini." ucap Riko menekankan dan Citra hanya mengangguk.


Riko melakukan apa yang Citra inginkan, Riko mengusap perut Citra dengan lembut. Beberapa menit kemudian nyeri haid di perut Citra perlahan mulai berhenti dan membuat Citra tertidur.


Riko melihat Citra sudah merasa baikan dan sudah tertidur pulas. Riko berhenti mengelus perut Citra, Riko kemudian berdiri lalu menyelimuti Citra.


Riko meninggalkan Citra dan membiarkan Citra istirahat, Riko kemudian turun ke lantai bawah, dia berniat untuk membuat makanan untuknya sekaligus untuk Citra karna tadi pagi dia hanya memainkan sandwich.


Tapi saat sampai di lantai bawah Riko tertegun melihat Ruang tamu yang sangat berantakan akibat ulah nya sendiri.



Riko mengalihkan rencananya yang tadinya mau memasak menjadi bersih-bersih.


Riko sibuk merapikan ruang tamu akibat ulahnya sendiri.


"Anda aja gue tau, bakalan gue yang akan merapikan semua ini, gue ngga akan ngeberantakin." gerutu Riko menyesali perbuatannya.


Riko merapikan ruang tamu selama 20 menit.


"Akhirnya rapi juga,, ok Kita ke dapur." ucap Riko menatap Ruang tamunya yang rapi lalu berjalan menuju dapur.


Sampai di dapur Riko kembali tertegun karena kondisi dapurnya sama dengan kondisi ruang tamunya yang berantakan akibat ulahnya sendiri.



Riko membuang nafasnya kasar lalu bergegas merapikan dapurnya. Setelah itu Riko kemudian mencuci peralatan masak yang dia pakai tadi pagi.


Setelah membersihkan semuanya Riko sudah tidak sanggup lagi untuk masak karna kelelahan, akhirnya Riko berinisiatif untuk kembali makanan diluar.

__ADS_1


Riko berjalan ke ruang tamu dan mengambil kunci mobilnya lalu keluar untuk membeli makanan, sekaligus obat untuk Citra.


__ADS_2