Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Tujuh Delapan "TSJC"


__ADS_3

Riko masuk kedalam kantornya dengan ekspresi dinginnya.


"Selamat pagi pak." sapa Meli lembut kepada Riko yang sedang lewat di depannya, tapi Riko hanya melirik meli dengan tatapan dinginnya.


Meli terlihat kecewa dengan tatapan dingin Riko, dan Desi yang menyaksikan itu tersenyum karna malu melihat Meli di cuekin.


"Bagaimana bisa pak Riko dingin lagi." gumam Meli kecewa karna waktu itu Riko ramah dengannya, tapi sekarang...


"Makanya kalau menghayal jangan ketinggian, liat kan sekarang, lo jatuh. sakit kan." ejek Desi dan tertawa.


"Apaan sih lo, bukannya ngehibur gue, malah di ketawain. teman apaan lo." ketus Meli mengerucutkan bibirnya kesal.


Saat Riko sudah dekat dengan ruangannya, dia melihat Silfa yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Kamu sudah sembuh Sil?" tanya Riko saat hendak melewati Silfa.


Silfa merasa heran dengan perhatian Riko yang tiba-tiba, karna biasanya Riko hanya meliriknya tak acuh saat lewat di depannya.


"Iya pak, saya sudah sehat." jawab Silfa sedikit canggung.


Riko sebenarnya tidak mau menanyakan hal itu kepada Silfa, cuma dia merasa heran, kenapa dia sudah masuk kerja, terus bagaimana dengan Romi. Apa Romi tidak berhasil menyatakan perasaannya. Kalau tidak berhasil Riko merasa sia-sia dengan cuti yang sudah dia berikan. batin Riko.


"Bagus kalau gitu,, ucap Riko santai lalu hendak masuk kedalam ruangannya.


"oh ya Sil, hari ini aku ada pertemuan dengan pak Aaric, kamu urus semuanya yah." ucap Riko yang masih di ambang pintu ruangannya.


"Baik pak." ucap Silfa, lalu Riko pun menghilang masuk ke dalam ruangannya.


Tidak lama Romi pun muncul, dan berjalan ke arah ruangan Riko. Romi pun melihat Silfa sudah ada di ruangannya. Romi merasa canggung untuk mendekati Silfa karna kejadian kemarin, tapi dia tetap melangkahkan kakinya menuju ruangan Riko.


"Riko udah dateng?" tanya Romi santai.


"Iya, dia di dalem." ketus Silfa tanpa melihat Romi, dia hanya fokus ke layar komputernya, Dia sudah tau kalau yang bertanya kepadanya adalah Romi, makanya dia tidak mau melihat ke arah Romi, karna masih kesal dengan sikap Romi kemarin.


Romi merasa kecewa dengan sikap Silfa yang cuek, dia merasa Silfa sama sekali tidak menghargai pengorbanannya kemarin.


"Lo udah sembuh, udah ngga sakit lagi?" tanya Romi yang hendak masuk ke dalam ruangan Riko.


Silfa menatap Romi dengan malas.


"Lo ngga liat sekarang gue udah disini, itu artinya gue udah sembuh." ucap Silfa jutek.

__ADS_1


"Santai aja dong, ngga usah nyolot gitu,, gue cuma mau bilang sama lo, lo ngga mandi yah,,


Mendengar kata tidak mandi membuat Silfa salah tingkah karna kesal dengan perkataan Romi.


"Kenapa lo perduli, solah gue mandi atau ngga." ketus Silfa kesal.


"Pantesan, itu bekas iler lo masih nempel di ujung bibir lo." ejek Romi lalu masuk ke dalam ruangan Riko.


Mendengar perkataan Romi, Silfa segera mengambil kaca di dalam tasnya, dan melihat pinggir bibirnya, dan melihat pinggir bibirnya bersih, Silfa pun merasa kesal dengan Romi, karna Romi mempermainkannya.


Saat Romi masuk ke dalam ruangan Riko, Riko sudah menatap Romi dengan malas sambil menghela nafas dengan kasar.


"Lo kenapa Rik?" tanya Romi heran dengan ekspresi Riko.


"Gue merasa sia-sia ngasih lo cuti. ngga ada hasilnya." ketus Riko.


"Yah gimana mau ada hasil, kalau dia aja ngga peka." ucap Romi membela dirinya.


"Gimana dia mau peka, perlakuan lo aja kayak gitu ke dia.".ketus Riko karna mendengar semua pembicaraan mereka tadi.


"Eh, Rom, perempuan itu butuh kepastian, lo harus ungkapin perasaan lo secara langsung, bukan malah tarik ulur kayak gini. Lo tuh harus banyak beri dia perhatian, kalau ngomong lembut, bukan kaya lo." ucap Riko memberi saran.


"Kenapa. lo jadi menggurui gue kayak gini, kayak lo bisa aja." ketus Romi.


"Ya iyalah gue bisa, orang gue udah alamin semuanya, gue udah praktek langsung. Nah sedangkan lo, materi aja ngga kelar." ejek Riko.


Mendengar perkataan Riko membuat Romi kalah, karna Riko memang benar, dia tidak punya pengalaman sama sekali tentang percintaan dengan perempuan.


******


Di kampus Doni, Arman dan Anton masih mengekor di belakang Citra, membuat Citra merasa risih karna mereka.


"Emm, kenapa kak Doni, kak Arman dan kak Anton ikutin aku?" tanya Citra canggung.


"Kita mau anterin kamu sampai ke ruangan kamu." ucap Doni.


"Iya, kita pengen jagain kamu, sesuai perintah Riko." ucap Arman datar sambil terus merangkul dengan Anton.


"Iya, kita ngga mau terjadi sesuatu dengan kamu dan keponakan kita, uwaaaaa.." ucap Anton sok sedih, lalu membenamkan wajahnya di pundak Arman dan Arman hanya menepuk-nepuk pundak Anton dengan ekspresi datarnya.


Citra semakin risih melihat mereka, dia ingin segera menghilang dari hadapan mereka.

__ADS_1


"Amit-amit jabang bayi, jangan sampai anak aku seperti mereka." batin Citra sambil mengelus perutnya.


"Kalian bisa ngga sih, ngga bertingkah kayak gitu." ketus Doni kesal dengan tingkah mereka.


"Lo ngga ngerti perasaan kita, coba deh lo yang diposisi kita, pasti lo bakalan kayak gini." ucap Arman membela diri.


"Aku mau minta maaf sama kak Anton dan kak Arman, kalau kak Arman dan kak Anton merasa kecewa dengan aku, tapi coba kak Anton dan kak Arman pikirin, di dunia ini bukan cuma aku satu-satunya perempuan kak, masih banyak yang lebih cantik dari aku dan lebih baik dari aku. lagian selama ini aku juga ngga pernah ngasih kak Anton dan kak Arman harapan. Takdir aku sama kak Riko, sementara kak Arman dan kak Anton takdirnya sama perempuan lain." jelas Citra.


"Bener tuh, kata Citra." ucap Doni menyetujui.


Sedangkan ekspresi Arman dan Anton pun merasa. setuju dengan saran Citra, bahwa takdir mereka dengan perempuan lain.


Sementara di pintu masuk kampus, sudah ada Mita, Indah dan Kevin yang berjalan masuk.


Tiba-tiba mata Mita tertuju pada Citra yang sedang ngobrol dengan Doni, Anton dan Arman.


"Citraaa.." teriak Mita lalu berlari menghampiri Citra. Indah pun terkejut mendengar teriakan Mita dan mencari-cari Citra kemudian melihatnya.


Citra pun menoleh ke sumber suara dan melihat Mita sudah berlari ke arahnya, Indah juga berjalan ke arahnya. Sementara Kevin dia sudah pergi ke jalur yang berbeda, karna dia ada kuliah.


"Ahhhh,, gimana kabar kamu Cit? aku kangen banget." ucap Mita sambil memeluk Citra dengan erat.


"Aku baik-baik aja, aku juga kangen sama kamu." ucap Citra sambil melepaskan pelukan Mita yang sangat erat, membuat dia susah bernafas.


Citrapun menoleh ke arah Indah yang sudah berada di dekatnya, sambil menatapnya denga penuh rasa kasihan, Lalu Citra pun memeluk sahabat yang paling disayanginya itu.


"Kok kamu kurus banget sih Cit? kamu ngga makan yah." ucap Indah kasihan melihat kondisi Citra yang memang berat badannya turun drastis, semenjak dia di pisahkan dari Riko, apalagi sekarang dia sedang hamil dan itu membuat berat badannya sulit untuk bertambah.


"Aku minta maaf yah Cit, disaat kamu lagi ada masalah, aku ngga ada didekat kamu." ucap Indah lirih.


Citra terkejut dengan perkataan Indah dan langsung melepas pelukan Indah dan memberi Indah kode supaya tetap diam, Karena yang Citra tau Mita tidak mengetahui permasalahan Citra sama sekali.


Mita melihat kode Citra kepada Indah dan mengerti arti dari kode itu.


"Aku udah tau semuanya, jadi ngga usah di sembunyiin lagi." ketus Mita kesal.


Citra kembaki terkejut dengan pengakuan Mita, dan menatap Indah dengan tatapan menyelidiki.


"Maaf Cit, waktu itu aku di jebak sama Mita, jadinya ngga ada jalan lain, selain menceritakan semuanya." ucap Indah merasa bersalah karna merasa dirinya tidak amanah.


Hai Readers, maaf yah kalau ngga crazy up, soalnya Author lagi ada kesibukan, selain sibuk daring, juga ada kesibukan pribadi,, tapi tenang aja yah, Author janji akan crazy up lagi, tapi kalau kesibukan Author udah mulai berkurang, hehehe, tetap sabar yah..

__ADS_1


__ADS_2