
" Maaf cari siapa ?" Tanya Salsa sekali lagi.
" Om Romi ada dirumah ?" Tanya lelaki itu tenang.
" Ayah lagi kerja " Jawab Salsa polos.
" Ayah ?" Ulang lelaki tersebut kaget.
" Em maksudnya Pak Romi lagi kerja " Ucap Salsa meralat.
" Oh ya sudah,ini ada titipan dari Tante Sindi " kata lelaki itu tenang.
" Sam " Panggil seseorang dari arah belakang.
Samuel melihat dan terdiam menatap seorang lelaki dengan bokser dan baju kutang sedang menggunakan masker diwajah.
" Ada apa ?" tanya Alexi mendekat.
Salsa melotot melihat Alexi berpakaian tak sopan depan tamu.
" Apa sih Sa ?" tanya Alexi gemas melihat gadis itu menghalangi jalannya.
" Kamu gak malu apa pake begituan,duhh " Kata Salsa kesal.
" Apa sih,biarin lah dia gak tertarik sama aku " Balas Alexi cuek.
" Ck aku malu Lex,cuci muka dulu kek atau pake baju,ini ya ampun keliatan " Kata Salsa mencubit pent*l Alexi.
" Auuuu sakit Sa " Pekik Alexi meringis menyilang dadanya.
Samuel yang melihat cekcok pasangan tersebut meringis ngeri.
" Dah sana minggir aku mau nyamperin Sam " Kata Alexi mengusir gadis itu.
" Gak harus pake baju dulu " Kata Salsa menarik pria itu masuk.
" Eeeh sebentar " kata Sam menahan Alexi ikut.
" Nanti lah " kata Salsa tak perduli.
" Bentar,aku cuma mau ngasih ini aja " Kata Samuel masuk kerumah dengan sepatu lengket dikaki.
Salsa menunduk menatap sepatu lancang lelaki itu menginjak lantai yang baru ia pel.
Glekkk....
Samuel menelan ludah kasar menatap gadis itu mengangkat wajah dengan mata tajam.
Alexi memberi kode untuk mundur membuat Sam seketika mundur cepat.
" Hehe maaf,em ini undangan " kata Samuel dari luar pintu.
Salsa mendekat dan mengambilnya.
" Hah kamu dan Winda ?" Pekik Salsa terbelalak.
" Iya em undangan nya cuma 1 tapi untuk seluruh keluarga " Kata Samuel menggaruk kepala.
" Yang benar ? astaga Lex,Winda beneran mau nikah " Kata Salsa heboh.
Alexi mendekat dan mengambil undangan dari tangan mantan istrinya.
" Iya,dia akan menikah " kata Alexi nanar.
" Winda tak sempat kesini,dia sedang bersama Mama di butik " Kata Samuel tenang.
Alexi menatap lelaki itu dan menghela nafas pelan.
__ADS_1
" Kau serius dengan ini ?" Tanya Alexi.
Samuel diam tak menjawab.
" Sam !" Tegur Alexi tegas.
" Aku tidak tau,ini urusan kami kau tak perlu ikut campur " Balas Samuel.
" Sam kau tau Winda itu lemah jangan membuatnya semakin sulit " Kata Alexi memohon.
Samuel hanya diam saja,Salsa terlihat bingung dengan obrolan 2 lelaki itu.
" Ada apa Lex ?" tanya Salsa menegur.
" Permisi " Ucap Samuel menunduk sopan dan berjalan menjauh.
" Ya Tuhan,akan jadi apalagi ini " Gumam Alexi mengusap wajah kasar.
" Lex ada apa,kenapa dengan Winda ?" tanya Salsa mendesak.
" Nanti aku ceritakan " Jawab Alexi tenang.
Pria itu berjalan menjauh menuju dapur.
" Ada apa sebenarnya ? bukankah itu pria yang donorin ginjal buat Winda ?" Gumam Salsa menebak.
Samuel masuk kedalam mobil dan menarik nafas berusaha tenang.
Berhadapan dengan Alexi membuatnya sedikit berkeringat dingin,bukan karna takut tapi Samuel merasa ikatan Winda dan pria itu sangatlah kuat.
" Aku tidak perduli,ini sudah terjadi " Gumam Samuel mencengkram stir.
Pria itu pun menghidupkan mobilnya melesat ke jalan raya.
Disebuah rumah terlihat sanak keluarga berkumpul didepan sebuah mobil truck mengangkut barang.
" Aduh Neng udah penuh " Kata si supir kelelahan.
" Masih banyak ini Pak,pokoknya semua harus diantar ke tempat tujuan " kata Ana tegas.
" Ya tapi masuk kampung jalannya jelek Neng " Kata si bapak ingin menangis.
" Saya kasih bonus buat bapaknya,tenang aja " Kata Ana memainkan sebelah mata.
Prito yang melihat tingkah sang istri hanya diam saja bedahal dengan sang Anak mengkual jiji dengan tingkah sang ibu.
" Cari baru aja Pa yang kalem " kata Jack menarik baju Prito.
" Eeehh gila kamu,bisa mati Papa " Kata Prito melotot.
" Pengen Mama baru Pa " rengek Jack.
" Shuttt diem !" kata Prito membekap mulut bocah itu.
Jack ingin tertawa,bocah lelaki itu sangat suka menjahili Prito yang begitu takut dengan Mamanya.
Ana masih nyerocos memasukkan semua barang.
Nisa keluar rumah dan tersenyum kecil menatap banyak sekali peralatan bayi didalam mobil.
" Gimana apa semuanya lengkap ?" tanya Nisa.
" Sudah Bun,lampus cas juga udah aku sediain 50 biji " Kata Aktam melihat kertas list ditangannya.
" Ini mau ngasih cucu apa jualan ? banyak banget " Kata Archi terbelalak melihat lusinan beras dan kawan2.
" Kamu nyumbang apa ?" Tanya Azura kepada sang kembaran.
__ADS_1
" Aku gak punya uang buat beli barang,jadi aku kasih camera aja tapi masih bagus kok " Kata Archi cengengesan.
Aktam melirik anaknya dan tersenyum kecil.
Didikan Aktam berjalan dengan lancar,seperti ajaran Nisa dulu Archi hingga besar tak pernah memegang uang banyak karna Aktam tak mau anaknya boros dan besar kepala.
Lelaki itu pun diajarkan untuk ikhlas terlebih dahulu sebelum segalanya meski itu hanya hal kecil.
" Gak papa kan Pa hehe " Kata Archi kepada Aktam.
" Iya gak papa asal masih layak " Balas Aktam.
" Nanti kalo aku dah kerja aku bakal kasih yang lebih bagus buat Sutar " Kata Archi semangat.
Aktam mengangguk tersenyum.
" Kamu kasih apa ?" Tanya Aktam kepada Azura.
" Hehe tadinya mau kasih hijab sama baju gamis Pa,tapi aku lupa kalo Sutar cowok hehe " Kata Azura malu.
" Astgaaaa jangan bikin perkara deh,ntar diamukin Histi " Kata Aktam menepuk jidat.
Azura tertawa geli dengan anggukan kecil.
Tak lama Yuni datang dan supir kembali dibuat pusing dengan banyaknya barang yang akan dijadikan hadiah.
" Astaga,bakal heboh nih kampung kalo gini caranya " Gumam Bapak Sania menggeleng pelan.
Lelaki itu baru kali ini melihat keluarga besar Histi,terlihat berbanding terbalik dengan keadaan wanita itu dikampung..
Setelah semua selesai terisi,mobil pengangkut itu pun mulai melakukan perjalanan panjang.
**
Disebuah butik,seorang gadis terdiam melihat banyaknya gaun pengantin didepan mata.
Hari ini Lutfia menganjak Sindi dan Winda memilih gaun untuk dipakaikan pada hari pernikahan.
Sindi tak jadi mengecek keadaan Winda karna pagi tadi Winda muntah2 membuat Lutfia meyakini bahwa gadis itu beneran hamil,padahal itu biasa terjadi jika gadis itu terlambat makan.
" Yang ini cantik " kata Lutfia menunjuk 1 gaun yang cukup terbuka di dada.
" Jangan " kata Sindi tak setuju.
" Kenapa ?" tanya Lutfia.
" Sam bilang dia kurang suka gadis terbuka " Jawab Sindi asal.
" Kurang suka ? tapi dia membuka segel anak mu duluan " Ucap Lutfia terkekeh.
Deg...
Sindi dan Winda terdiam mendengar ucapan wanita itu.
" Eh maksudnya em anu mm...
" Iya gak papa " Kata Sindi paham.
" Segel apa Ma ?" bisik Winda bingung.
" Bukan apa2 " Kata Sindi tak ingin membahas.
" Apaan segel,emang aku produk apa ?" Batin Winda heran.
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1
Maaf gak bisa update teratur,author lagi sakit 🥴