
Restu mengambil hapenya dan diam sejenak.
Winda masih menunggu dengan wajah yg sangat polos.
" Dia siapa Mas,kenapa mengirim pesan seperti itu ?" Tanya Winda tenang.
" Win " Panggil Restu pelan.
" Hm ?" Jawab Winda.
" Jangan salah paham,ini tidak seperti yg kamu pikirkan " Ucap Restu hati2.
" Salah paham apa ? dan apa yg aku pikirkan ?" Tanya Winda balik.
Restu diam sejenak,wajah istrinya begitu lugu membuat Restu merasa sangat berdosa.
" Mama " Panggil seseorang dari arah pintu.
Keduanya menoleh dan diam melihat Afdhal berdiri disana..
" Sini sayang " Kata Winda melambaikan tangan.
Afdhal merangkak dengan sangat semangat.
Winda mengangkat tubuh bocah itu duduk dipangkuannya.
" Lanjutkan Mas " pinta Winda sudah siap.
Restu mengangguk,lelaki itu menarik nafas panjang sebelum memulai.
" Em em dia em..." Ucap Restu ragu.
" Dia apa ?" Tanya Winda mengrrnyit.
" Dia em dia " Kata Restu deg degan.
" Dia siapa Mas ? kamu selingkuh ?" Tanya Winda terkekeh.
Deg...
Restu tersentak melihat wajah istrinya malah tertawa.
" Tidakk " Jawab Restu menggeleng.
" Lalu ?" tanya Winda lagi.
" Kau tau dulu ada orang yg merawat ku selama diluar kota " Kata Restu perlahan.
" Iya " Jawab Winda mengangguk.
" Hm itu dia,dia orang nya " Jawab Restu tak bisa berbohong.
" Tapi kenapa isinya bilang kangen ?" Tanya Winda.
" Ya mungkin dia rindu hehe " Jawab Restu menggaruk kepala.
Winda diam sejenak,wanita itu meminta lagi hape suaminya dan Restu tak bisa mengelak.
" Sepertinya kalian sering chattan ya ?" Tanya Winda menscrol bersama Afdhal.
" Hm ya kalo eh gak juga " Kata Restu bingung.
Winda menghela nafas dan tanpa diduga wanita itu langsung menelfon nomor tersebut.
" Ehh Win " pekik Restu kaget.
__ADS_1
" syyutttt !" kata Winda menaruh jarinya dimulut.
Restu seketika terdiam,Afdhal terlihat bingung dengan kedua orang tuanya.
" Halo " Sapa seseorang dari seberang.
Winda memberi hapenya kepada Restu dan meminta lelaki itu yg bicara.
" Yank " Tegur Restu menggeleng.
" Angkat saja " Kata Winda tenang.
Glek...
Restu menelan ludah kasar,pria itu terlihat begitu ketakutan dan Winda tau reaksi suaminya.
" Ha halo " sapa Restu pelan.
" Kak Restu,Saras kangen " ucap seseorang disana.
Deg...
Restu langsung melotot,sedangkan Winda memasang wajah datar.
" Saras nanti dikasih libur Kak,Saras pengen main kesana boleh ?" Tanya Saras polos.
Tut.
Restu langsung mematikan ponselnya dan menaruh benda itu menjauh.
" Win " Panggil Restu bersimpuh didepan sang istri.
" Kenapa kamu matikan ?" Tanya Winda tenang.
" Itu tidak penting " Jawab Restu memegang tangan Winda dengan gemetar.
" Gak,aku gak bohong sama kamu Win,aku gak selingkuh " Jawab Restu cepat.
" Kenapa kamu mikirnya kesana ?" Tanya Winda mengernyit.
" Aku tau isi kepala kamu,tapi beneran ini gak bener " Kata Restu tegas.
Winda menghela nafas berat,sejak Restu pulang dari sembuhnya lelaki itu memang sesekali menyendiri.
Tapi Winda tak ambil pusing karna ia pikir Restu punya privasi sendiri,tapi dengan adanya ini mmebuat Winda merasa dibohongi oleh orang yg sangat ia percayai.
" Maafin aku Win,aku gak jujur sama kamu,dia itu Saras yg rawat aku selama disana " Ucap Restu jujur.
" Ya aku bersyukur untuk itu karna dia bisa bikin kamu pulih " Kata Winda tersenyum.
" Tapi Mas " Lanjut Winda menggantung.
Restu menatap manik istrinya yg bening menandakan ketulusan.
" Aku disini sakit,kamu dan Nur pergi bersamaan ninggalin aku dan Afdhal,kami harus berjuang mati2an untuk bertahan hidup tanpa kalian,pernahkah kamu berpikir tentang kami ?" Tanya Winda menahan tangis.
" Aku selalu memikirkan tentang kamu dan anak kita,sumpah Win aku gak ada hubungan apapun sama gadis itu,dia juga masih sangat muda " Kata Restu mengingat.
Winda kembali tersenyum,fakta gadis itu masih muda membuat otak ibu 2 anak tersebut melayang2.
Tanpa bicara,Winda bangkit dari duduknya membawa Afdhal pergi.
" Win,Win kamu mau kemana ?" Tanya Restu kaget.
" Aku ingin menenangkan diri Mas,tolong jangan larang aku " Jawab Winda mengibas pelan tangannya.
__ADS_1
" Jangan pergi Win " Kata Restu menahan.
Winda melepas lagi tangannya dan berlalu dari kamar penuh kenangan tersebut.
Afdhal menatap ibunya nanar,bocah itu seperti merasakan apa yg sedang Winda rasakan.
" Mama gak papa Nak,kamu bantuin Mama kerja yuk,kita nyuci " Ajak Winda tersenyum.
" Mama " Panggil Afdhal berkaca kaca.
" Mama gak papa Sayang,kamu tau kan Mama ini sangat kuat,jangan bikin Mama sedih ya " Ucap Winda kepada putrnya.
Afdhal mengangguk dan memberikan pelukan hangat.
Winda memejamkan mata,wanita itu tidak ingin menangis meski dadanya terasa sesak.
Rasa kecewa pasti ia rasakan,tapi ini bukan yg pertama untuk wanita strong itu,Winda pernah mengalami badai yg luar biasa dari ini.
" Nanti kalo kamu dah gede,doain Mama ya biar bisa lihat kamu dan Kakak mu tumbuh dewasa,punya pekerjaan yg bagus,hidup berkecukupan,punya keluarga yg baik anak yg sehat,uhhh Mama pasti sangat bahagia " Ucap Winda menghayal.
Afdhal tertawa sambil memaikan buih sabun disamping ibunya.
Winda mengecup lembut kepala bocah itu,hanya Afdhal penguatnya saat ini,ia tak tau seperti apa hubungan yg disebutkan suaminya tadi,Winda seolah tak ingin tau lebih banyak takut hatinya terluka.
Dari kejauhan,Restu terdiam melihat sang istri mencuci baju orang ditemani putranya.
Rasa bersalah begitu sangat ia rasakan,pria itu sampai menitikan air mata yg tak bisa dibendung.
" Maafin aku Wind " Ucap Restu lirih.
Lelaki itu mengeratkan ponsel ditangannya dan membawa benda itu keluar.
Restu tau Winda bukan tipe perempuan yg mengamuk2 jika adanya kesalahan,Winda akan memendamkannya sendiri hingga ia lelah.
Tapi dengan keterdiaman Winda itulah yg membuat Restu takut,karna menurutnya jika wanita pendiam sudah bersuara maka hasilnya hanya satu yaitu pergi dan tak kembali.
Restu tak ingin terulang lagi,ia cukup tau penderitaan wanita yg memberinya 2 anak tersebut selama ini.
Kebesokan paginya,seperti hari sebelum Winda bersikap biasa seolah tak ada yg terjadi.
Ia tetap memasak menyedikan sarapan pagi yg enak untuk keluarga kecilnya.
" Win hari ini aku mau keluar sebentar" ucap Restu hati2.
" kemana ?" Tanya Winda tenang.
" Hm....sambil cari kerjaan lagi siapa tau dapat " Jawab Restu ambigu.
Winda mengangguk paham.
" Dan masalah semalam aku...."
" Bertahanlah jika masih kuat Mas,bukan untuk aku tapi Afdhal dan Nur " Potong Winda tenang.
Jeddeerrrrr.....
Bagaikan petir menyambar disekujur tubuh pria itu mendengar ucapan istrinya.
" Kenapa kamu ngomong gitu !" kata Restu marah.
Winda tersenyum kecil dan melihat putranya yg terkejut dengan suara keras sang Papa.
" Karna kamu butuh mereka suatu saat nanti " Balas Winda mendongak melihat lelaki tersebut.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.