
Setelah rapat dengan kliennya, Romi pun menuju ruangannya, saat dia hendak menuju ruangannya Silfa memanggil-manggil Romi sambil mengejar Romi.
Romi pun berbalik saat mendengar suara Silfa. Silfa yang sudah dekat dengan Romi dan masih berlari kemudian terpeleset, refleks Romi langsung menimang pinggang Silfa dan mereka bertatapan selama beberapa detik.
Silfa segera berdiri dengan canggung, begitupun Romi.
"Ada apa?" ketus Romi.
"Sekretaris Pak Aaric nelfon aku lagi, katanya lusa Pak Aaric akan ke Indonesia untuk membahas lebih lanjut mengenai investasinya dalam proyek yang sedang pak Riko jalankan, dan dia hanya ingin bertemu dengan pak Riko langsung, jelas Silfa bingung.
"terus kita harus gimana sekarang? Pak Riko kan sampai sekarang belum balik juga. lo belum tau dia dimana?" tanya Silfa khawatir.
Romi hanya terdiam mendengar perkataan Silfa, dia sendiri juga pusing harus bagaimana, karna dia belum bisa menghubungi Riko sampai saat ini.
Silfa menatap Romi curiga.
"Jangan bilang lo belum tau Pak Riko dimana, lo gimana sih Rom, lo kan asisten pribadinya masa lo ngga tau keberadaan dia." gerutu Silfa.
"Kok lo nyalahin gue sih,, lo sendiri gimana? lo juga ngga tau keberadaan dia kan." gerutu Romi membela dirinya.
"Ya iyalah gue ngga tau, gue kan cuma sekretarisnya, sedangkan lo asisten pribadinya, harusnya lo lebih tau." ketus Silfa.
"Kalau gue asisten pribadinya, apa gue harus tau semua tentang dia." ketus Romi lagi membela dirinya.
"Ya iyalah, lo kan asisten pribadinya yang selalu ada buat dia sekaligus sahabatnya pak Riko,, sahabat apaan lo ngga perduli sama temen." ketus Silfa kesal.
Romi juga kesal dengan Silfa, Silfa juga kesal dengan Romi, mereka pun saling melempar tatapan membunuh.
"Udah kalian ngga usah berantem, kalau kalian terus berantem kayak gini, nanti om nikahin kalian berdua." ucap papa Indra yang datang tiba-tiba..
Romi dan Silfa terkejut dengan perkataan papa Indra yang datang tiba-tiba, membuat mereka salting.
"Eh om Indra,, ada perlu apa om datang ke kantor?" tanya Romi sambil mengikuti Papa Indra yang berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Papa mau membahas tentang pekerjaan yang sudah om perintahkan ke kamu waktu itu, gimana? sudah ada hasil?" tanya papa Indra sambil duduk di sofa ruangan Romi.
__ADS_1
"Iya om,, semuanya sudah beres, aku sudah membeli semua saham yang om perintahkan kepadaku waktu itu. Tapi om,, itu saham siapa?" tanya Romi penasaran.
"Itu saham milik perusahaan Alex. dan kita tunggu sebentar lagi, perusahaannya akan bangkrut, apabila pak Aaric mau bekerja sama dengan perusahaan kita dan mau menginvestasikan modal yang besar untuk perusahaan kita." jelas Papa Indra.
"Oh, jadi saham itu punya Alex, pantesan om menyembunyikan hal ini dari Riko." ucap Romi sambil mangguk-mangguk paham.
"Ya sudah,, tugas kamu sekarang adalah hubungi Riko dan segera suruh dia kembali, karna om dengar Pak Aaric akan datang." perintah papa Indra lagi.
"Tapi om,, Riko tidak mau mengangkat telfon dari aku, dan dia juga tidak membalas pesan dari aku om." ucap Romi putus asa.
"Jangan putus asa Rom,, itu sudah menjadi tugas kamu, sebagai asisten pribadi sekaligus sahabat Riko, pokoknya kamu harus membawa Riko sebelum pak Aaric tiba di jakarta." ucap Papah Indra serius, dan Romi hanya mengangguk pasrah.
Papa Indra pun meninggalkan ruangan Romi,, Romi mengacak-acak rambutnya kesal, karna ulah Riko yang nyusahin menurut Romi.
*****
Citra masih tertidur lelap di bawah selimut tanpa pakaian, Citra masih merasa lelah dengan pertempuran semalam.
Sementara Riko terlihat sedang menelfon dengan seseorang dengan serius.
Citra tersenyum menatap wajah tampan Riko yang sangat serius saat menelfon, dan Citra merasa bangga karna orang itu adalah suaminya.
Setelah menelfon, Riko berbalik dan melihat Citra sedang menatapnya sambil tersenyum.
Riko menghampiri Citra lalu mencium bibir Citra.
"Selamat pagi sayang." sapa Riko sambil mengelus pipi Citra lembut.
"Pagiii." balas Citra tersenyum menatap suaminya.
"Kak Riko tadi telfonan sama siapa?" tanya Citra penasaran.
"Ahh, itu soal kerjaan sayang." ucap Riko lagi.
"Ya udah sekarang kita mandi,, habis itu kita jalan-jalan lagi, terus pulang." ucap Riko lalu hendak menggendong istrinya masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Citra menahan tangan Riko yang hendak menggendongnya.
"Kak Riko mau ngapain?" tanya Citra bingung.
"Mau gendong kamu masuk kamar mandi, kita mandi bareng." ucap Riko lalu kembali mencoba menyingkap selimut yang menutupi tubuh telanjang Citra, tapi Citra menahannya lagi.
"Kak Riko duluan aja mandinya, aku belakangan." tolak Citra, karna Citra malu untuk mandi bersama Riko.
"Kenapa? kamu malu." tanya Riko menatap Citra.
"Citra ngga pernah mandi dengan seseorang, Citra malu, kalau harus mandi di depan kak Riko tanpa pakaian." ucap Citra menunduk malu.
"Orang mandi memang ngga pakai baju,, mereka telanjang saat mereka mandi, lagian kamu ngapain malu sama suami kamu sendiri, toh aku sudah melihat semua tubuh telanjang kamu." ucap Riko, Citra pun semakin tertunduk malu mendengar perkataan Riko. Pipinya memerah sambil menggigit bibir bawahnya.
Riko kembali menatap tingkah Citra yang selalu menggigit bibir bawahnya saat dia malu. Apa itu kebiasaan dia. Pikir Riko.
"Kamu jangan pernah melakukan hal itu di depan lelaki lain." titah Riko terus melihat tingkah Citra.
Citra mengangkat kepalanya dan menatap Riko bingung dengan perkataan Riko.
"Melakukan apa kak?" tanya Citra bingung.
"Melakukan ini." ucap Riko lalu menggigit bibir bawah Citra.
"Ahhhh. pekik Citra kesakitan karna ulah Riko.
Mereka bertatapan selama beberapa detik, kemudian Riko langsung ******* bibir Citra, Citra pun menikmatinya, kemudian Riko pun mengangkat tubuh Citra berjalan masuk ke kamar mandi sambil terus berciuman.
Riko menurunkan tubuh Citra di dalam bathub, Citra pun kembali risih karna Riko terus menatap tubuhnya tanpa pakaian.
Rikopun menyalakan keran untuk mengisi bathub, setelah terisi penuh, Rikopun masuk bersama Citra, Riko lalu menyabuni seluruh tubuh Citra, Citra merasa geli karna tubuhnya belum pernah disabuni sebelumnya oleh orang lain.
Sesekali Citra mendesah saat Riko meremas gemas dada Citra. Membuat Riko semakin antusias membuat juniornya bangkit.
Rikopun meraih tangan Citra untuk menyabuni tubuhnya juga. Citra pun menuruti Riko. Citra menyabuni dada, perut Riko. Seketika Riko menarik tangan Citra untuk menyabuni juniornya, Citra terkejut saat menyentuh junior Riko yang sudah sangat mengeras, dia merasa aneh memegang benda keras itu.
__ADS_1
Mereka melakukan pemanasan selama beberapa menit, kemudian Riko sudah tidak bisa menahannya lagi, maka terjadilah wik.. wikk...