Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
182


__ADS_3

Kebesokan paginya hubungan Serkan dan Histi terasa begitu canggung,keduanya sama2 diam tak bersuara.


Sejak kejadian kemarin Serkan bersikap biasa tapi Histi merasa ada keganjalan dihatinya.


gadis itu merasa tak enak hati.


" Kamu kerjakan yang ini saya mau kerumah sakit sebelah " Ucap Serkan memberikan tugas kepada gadis itu.


" Dokter mau ngapain kesana ?" tanya Histi nanar.


" Ada operasi kecil " Jawab Serkan seraya bersiap siap.


" Apa aku gak boleh ikut ?" Cicit gadis itu pelan.


Serkan tak menjawab,lelaki itu pun memakai tasnya dan berlalu keluar.


Setelah pintu tertutup rapat,Histi menghela nafas panjang.


Gadis itu terduduk di kursi pasien menatap nanar pintu.


" Ya Tuhan ada apa dengan ku,kenapa aku selalu memikirkan lelaki ini ?" Gumam Histi merasa lelah


Dari semalam gadis itu tak bisa tidur bahkan saat kedatangan temannya pun Histi banyak diam tak seperti biasanya.


Drt drt drt...


Hape gadis itu berdering,Histi melihat nama dilayar dan kembali menghela nafas.


" Halo " Sapa gadis itu lesu.


" Halo,Kakak dimana ?" tanya seorang pria disebarang.


" Kamu udah selesai ?" Tanya Histi.


" Udah Kak,aku bingung ini jalan keluarnya mana ?" tanya pria tersebut.


" ya udah tunggu disana Kakak jemput " Jawab Histi.


Tut.


Panggilan dimatikan sepihak,gadis itu menarik nafas tenang dan melangkah keluar.


Hari ini Juna periksa kesehatan karna bocah itu akan kembali lagi sekolah lusa.


Beberapa hari Juna demam tinggi,anak kedua Bara itu memang sering sakit sebenarnya keluarga besar melarang Juna untuk melanjutkan sekolah dipesantren tapi lelaki itu tetap kekeh mau sekolah disana,jadilah Bara mengizinkan demi masa depan anaknya.


Histi mendekati pria tinggi menggunakan topi hitam yang terlihat kebingungan.


" Adek " Panggil Histi.


Lelaki itu menoleh dan tersenyum melihat Kakanya sudah datang.


" Gimana pemeriksaannya ?" Tanya Histi.


" Baik " Jawab lelaki itu singkat.


" Mana ? coba Kakak lihat " Kata Histi menadahkan tangan.


" Gak usah,ayo pulang " Kata Juna mengalihkan.


Histi mengernyit melihat lelaki itu menyembunyikan amplop.


" Kenapa ?" Tanya Histi bingung.


" Gak papa cuma demam biasa " Jawab Juna tenang.


Histi merebut paksa amplop itu dari tangan adiknya.


Juna ingin merebut tapi Histi menatap nyalang penuh peringatan.


" Kakak jangan " kata Juna gugup.

__ADS_1


Histi tak menghirau,gadis itu membuka amplop dengan cepat.


" Apa ini ?" Gumam Histi membaca laporan adiknya..


Juna diam tak bersuara.


" Kekurangan darah putih ?" Ucap Histi terbelalak.


" Aku cuma kurang istirahat " Jawab Juna cepat.


Histi menatap lelaki itu nanar,dirinya kuliah di dunia kesehatan jadi Histi kurang banyak tau apa yang diderita adiknya.


Gadis itu meraba kepala Juna dan memejamkan mata.


" Kakak " Panggil Juna pelan.


Histi langsung memeluk pria itu dengan erat seraya menangis.


" Juna huhuhu " Kata Histi menangis tersedu sedu.


" Aku gak papa Kak " Kata Juna bingung.


Histi menggeleng,gadis itu tak menyangka adiknya menderita Leukopenia yang merupakan kondisi rendahnya jumlah sel darah putih dalam tubuh.


" Kakak kenapa ?" tanya Juna semakin bingung.


" Kita pulang ya,tunggu Kakak ambil tas dulu " Jawab Histi berusaha tenang.


" Lah bukannya Kakak lagi magang ?" Tanya Juna kaget.


" Ayo ikut Kakak " Jawab Histi menarik tangan adiknya.


Pria itu mengangguk lalu mengikuti langkah sang Kakak yang sangat cepat.


Pikiran Histi makin kacau balau,belum selesai masalah hatinya kini gadis itu diuji lagi dengan kesehatan adiknya.


Meski jarang bertemu tapi gadis itu begitu menyayangi Juna seperti 2 adik kembarnya yang lain.


" Halo Paman,aku mau izin " Ucap Histi to the point.


" Ada apa Histi ?" Tanya lelaki diseberang.


" Adik ku sakit,aku akan pulang sekarang " Jawab Histi jujur.


" Baiklah " Jawab lelaki itu paham.


" Terima kasih Paman "


tut.


Panggilan terputus,dari semua orang yang berada dirumah sakit hanya gadis itu yang berani menghubungi kepala disana tanpa izin dari pihak menagemen.


Kakak beradik itu pun langsung pulang.


Zaiva tak bisa menemani Juna periksa karna keduanya disibukkan dengan acara sekolah si kembar,sedangkan Bara sedang keluar kota bersama Kakeknya memantau perusahaan yang sedang berkembang jadilah Histi yang harus menemani adiknya sambil magang.


Sesampainya dirumah,Histi langsung bergerak cepat menuju dapur mengambil sesuatu yang bisa dimakan.


Juna terlihat kebingungan tapi pria itu hanya diam.


" Ini makan lah " Kata Histi memberi susu,tahu,sayur dan buah.


" Aku udah makan Kak " Jawab Juna kaget.


Pria itu melihat sayur kol,daun selada dan beberapa temannya yang masih segar,seketika tubuh pria itu merinding.


" Kamu harus makan ini biar sehat " Kata Histi tegas.


" Aku bukan kambing Kak,masa iya harus makan sayur mentah " Kata Juna menggeleng.


Histi melihat menu yang ia bawa,seketika gadis itu terdiam.

__ADS_1


Juna kembali merasa pusing,pria itu mengurut pelan kepalanya.


Histi membawa membersihkan meja,tiba2 pintu rumah terbuka,gadis itu menoleh dan terkejut melihat Papanya sudah pulang


" Hay anak Papa " Sapa Bara hangat.


" Astaga laporannya " Gumam Histi kelabakan.


Bara mendekat dan duduk bersama Putranya yang berbaring disofa panjang.


" Masih sakit Boy ?" tanya Bara tenang.


" cuma pusing Pa " jawab Juna pelan.


Bara merasai kening anaknya dan memang terasa panas.


Histi terlihat mengendap mengambil berkas,melihat gerak gerik anaknya yang mencurigakan pria itu pun merebut duluan membuat Histi kaget.


" Apa ini ?" Tanya Bara.


Kedua anak itu tidak menjawab,Juna melihat Kakaknya tapi Histi hanya diam.


Karna penasaran Bara pun membuka amplop dan membaca isinya.


Seketika manik lelaki itu terbelalak.


" Juna,apa ini benar ?" Tanya Bara nanar.


" Iya Pa,itu laporan dari Dokter " Jawab Juna polos.


" Astaga " kata Bara lemas.


" Memang nya kenapa Pa ? apa aku sakit keras ?" tanya Juna bingung.


Bara melihat putrinya,terlihat Histi menunduk dengan manik berkaca kaca.


" Jangan beritahu Mama mu " Kata Bara tegas.


" Kenapa ?" tanya Histi dan Juna bersamaan.


" Mama mu akan sangat sedih,dan jangan beritahu Nenek juga " Kata Bara menghela nafas.


" Apa aku akan meninggal ?" tanya Juna nanar.


" No !" kata Bara tegas.


Histi mulai menangis,adiknya sangat polos bahkan wajah tanpa dosa itu begitu menyayat hati.


Bara diam menyugar kasar rambutnya,tiba2 bayang Andrew saat sakit dulu berputar dikepalanya.


Meski sudah bertahun2 lamanya tapi pria itu tak akan lupa bagaimana perjuangan keluarga menyelamatkan anak itu hingga akhirnya Andrew benar pergi dari sisi mereka.


" Kamu tidak akan meninggalkan siapa pun,kamu akan sembuh,Papa akan menyelamatkan kamu !" kata Bara tegas.


" Tapi kondisi Juna sudah parah Pa,bagaimana jika terjadi komplikasi " Kata Histi takut.


" Itu tidak akan terjadi,setelah kamu lulus sekolah kita akan melakukan pengobatan secara rahasia,Papa minta sama kalian cukup kita yang tau,Mama mu sangat lemah jangan buat dia bersedih " Kata Bara menguatkan hatinya.


Histi dan Juna terlihat serius mendengar titah sang kepala keluarga tersebut.


Tak lama,ucapan salam pun terdengar,seorang wanita terlihat begitu girang melihat anak dan suaminya pulang.


" Wah2 ada acara apa ini ?" tanya Zaiva dengan senyum hangatnya.


Deg..


Bara langsung menyembunyikan amlop anaknya kedalam tas kerja.


" Halo sayang,aku pulang " kata Bara berdiri menyambut wanita berjilbab itu.


Zaiva tersenyum menerima pelukan dan kecupan mesra suaminya.

__ADS_1


Histi dan Juna menghela nafas panjang,kedua ny pun merasa tak tega jika senyum penuh surga ibunya digantikan dengan kesedihan.


__ADS_2