
Dirumah sakit,seorang gadis terbangun dari tidur panjangnya.
Winda mengerjabkan mata membuat Sindi yang sedang menunggu langsung heboh.
" Sayang kamu udah sadar ?" tanya Sindi lembut.
Winda menatap Sindi dengan manik sendu dan mengantuk.
" Mama " Panggil Winda pelan.
" Iya sayang,Winda mau apa ?" Tanya Sindi bergetar.
" Aku kenapa ?" tanya Winda sangat lemah.
" Hm kamu em.." Jawab Sindi tak sanggup.
" Haus Ma "
" Iya,bentar Mama ambilin " Kata Sindi langsung bergerak.
Winda menatap langit2 kamar dengan bingung dan mendapati hidungnya terpasang selang oksigen.
" Aku kenapa ?" Gumam Winda heran.
Gadis itu tak tau bahwa dirinya masuk rumah sakit bahkan sudah tidur selama hampir 3 hari.
Sindi memberikan minum dengan hati2 sambil menatap wajah Winda yang masih pucat.
" Ada yang sakit ?" tanya Sindi.
" Disini " Jawab Winda menunjuk daerah ginjalnya.
Sindi mengangguk menahan tangis,wanita itu sebenarnya ingin marah tapi melihat kondisi Winda membuat Sindi mengurungkan niat apalagi ia dan Malvin sudah setuju tak mau terlalu memaksakan Winda dalam keadaan lemah.
" Kamu tunggu bentar ya,Mama mau panggil Papa sama Dokter dulu " Ucap Sindi mengusap kepala Winda.
Winda mengangguk kecil.
Sindi berjalan cepat keluar,saat pintu terbuka terlihat Malvin sedang makan menyuapi anak lelakinya di kursi taman.
Wanita itu terdiam melihat sang suami sedikit ceria dengan kehadiran Doni.
Sindi menahan tangis,dirinya begitu menyayangi anak dan suaminya.
" Mama " Pekik Doni melihat Sindi dibelakang mereka.
Sindi tersenyum dan mendekati keduanya.
" Mas,Winda udah sadar " Ucap Sindi tersenyum.
" Hah anak ku sudah sadar ?" tanya Malvin kaget.
Sindi mengangguk,lelaki itu pun langsung berlari kearah ruangan Winda.
" Kakak beneran udah sadar Ma ?" Tanya Doni polos.
" Iya,ayo lihat Kakak " Jawab Sindi mencubit gemas pipi anaknya.
" Tapi aku belum selesai makan " Kata Doni mengkrucut.
" Ya udah,Mama suapin ya " kata Sindi lembut.
Doni mengangguk semangat,keduanya pun berjalan mendekati ruangan Winda.
__ADS_1
Dokter datang dan langsung memeriksa keadaan gadis itu.
Winda hanya diam,apalagi ia melihat wajah Malvin yang begitu khawatir.
" Aku baik2 aja Pa " Ucap Winda mengusap tangan Malvin yang menggenggam jemarinya.
" Iya kamu memang harus baik2 saja " Balas Malvin tegas.
Winda mengangguk pelan.
" Kondisi tubuhnya mulai membaik Pak,tapi kita harus cepat menemukan donor karna jika kita terlambat,takutnya malah menyebar ke organ lain " Ucap Dokter tegas.
" Donor apa ?" tanya Winda bingung.
Dokter melihat Malvin,pria itu menatap Winda dengan tatapan dalam.
" Kamu gagal ginjal Nak,dan Dokter bilang harus operasi karna keduanya bermasalah " Ucap Malvin sedih.
" Apa " Ucap Winda terbelakak.
" Bukankah hanya 1 yang bermasalah ?" tanya Winda tak percaya.
" Kamu sudah mengetahuinya lebih awal ?" tanya Dokter.
Winda terdiam dan melihat Malvin.
" Kenapa kamu menyembunyikan ini dari Papa Nak ?" tanya Malvin hampir menangis.
Winda menunduk dan detik berikutnya langsung meringis kesakitan.
" Dok2,tolong Winda kenapa lagi ?" tanya Malvin seketika panik.
Winda mengerutkan kakinya merasa sakit yang luar biasa.
" Sayang tenang lah " Ucap Malvin memegang bahu Winda.
Dokter langsung bergerak,tak lama 2 orang suster masuk dan Malvin kembali disuruh keluar.
Malvin kembali panik melihat ruangan tertutup lagi padahal ia baru melihat dan mendengar suara anaknya.
" Loh Mas kenapa ?" tanya Sindi baru keluar dari kamar mandi bersama Doni.
" Winda kambuh lagi " Jawab Malvin ketakutan
" Apa !" Pekik Sindi terbelalak.
Malvin berjalan mondar mandir,Sindi membuka pintu Icu dan kaget melihat 2 suster menahan tubuh Winda yang memberontak.
" Ya Tuhan,anak ku " Ucap Sindi menutup mulutnya tak percaya.
Pasangan itu kembali panik,Doni yang tak tau merasa bingung hingga Romi datang membawa bungkusan makanan.
" Ayahhh " Pekik Doni mendekati Romi.
" Papa sama Mama kamu kenapa ?" Tanya Romi bingung.
" Tadi Kakak bangun Yah,terus sekarang kambuh lagi " Jawab Doni polos.
" Bangun ?" Ulang Romi kaget.
Doni mengangguk,Romi menemui Malvin yang terlihat begitu takut.
" Ada apa Malvin ?" tanya Romi.
__ADS_1
" Winda bangun Bang,tapi mengobrol sedikit dia mengaduh sakit lagi " Jawab Malvin lemah.
" Astaga " Kata Romi menyugar rambutnya.
Mereka semua menunggu didepan ruangan untuk mengetahui hasil laporan Dokter.
Disebuah rumah,semua keluarga berkumpul.
Berita anak pertama Malvin terdengar hingga ke keluarga besar lelaki itu.
Seorang pria terlihat khawatir mengetahui keadaan sang cucu begitu lemah saat ini.
" Lihat kan,apa Mama bilang anak itu akan membawa masalah bagi Malvin " Ucap seorang wanita tua kesal.
" Iya Ma,heran deh sama Kak Malvin udah tau dari awal istrinya itu punya riwayat sakit mau aja dikawinin " Balas saudara Malvin ikut kesal.
" Kalian gak boleh gitu,Winda itu anak Malvin " Ucap Papa Malvin membela.
" Papa selalu aja belain menantu kesayangannya,Papa gak tau apa Sindi itu licik Pa " Kata Kakak Malvin geram.
" Iya nih Papa dikit2 belain Sindi mulu padahal gak ada bagusnya,udah jelek gak kerja,muka dua gak ada yang apapun yang bisa di banggain " Sahut adik Malvin.
" Jangan memandang orang seperti itu " Ucap Papa Malvin menghela nafas.
" Udah lah,kamu gak usah belain Sindi terus,emang kenyataannya gitu,kehadiran Winda itu menjadi malapetaka tau gak! gara2 dia Malvin sampai membunuh suami Reni !" Ucap Mama Malvin tegas.
Papa Malvin terdiam,kisah masa lalu membuat semua orang terdiam.
Reni yang disebut menunduk mengenang suaminya yang telah berpulang saat berkelahi dengan Malvin dihadapan keluarga besar.
" Terserah kalian saja,tapi Papa gak pernah setuju jika kalian membenci Winda,dia gadis yang baik,jika mau membenci,Malvin yang kalian benci bukan istri dan anaknya " Kata Papa Malvin tegas.
" Malvin tidak akan seperti itu jika Sindi tak menjadi istrinya !" Sahut Kakak Malvin geram.
Papa Malvin bangkit dan berjalan menjauh.
Berdebat dengan anak2nya hanya akan membuat lelaki itu kehilangan kontrol diri.
Didalam keluarga hanya Sang Papa yang membela Sindi dan anak2nya.
" Kek " Panggil seorang lelaki baru masuk kedalam rumah.
Pria tua itu menepuk bahu sang cucu dan berjalan keluar.
Lelaki tampan itu terlihat bingung apa yang sedang terjadi,apalagi melihat wajah para bibinya kesal.
" Ada apa ?" tanya lelaki itu tenang.
" Biasa " Jawab sepupu lelaki itu memutar mata.
" Om Malvin ?"
" Hm,anak pertamanya masuk rumah sakit gagal ginjal " Jawab gadis remaja itu malas.
" Hah beneran ?" tanya lelaki itu kaget.
" Ya,Mama bilang butuh donor dan Kakek menganjak buat jenguk tapi mereka semua gak mau "
" Kenapa ?"
" Kayak gak tau aja " Jawab gadis itu meninggalkan si pria dengan rasa penasaran dikepalanya.
Pria itu sangat bingung,ia tau keluarga besarnya tak menyukai Malvin yang berprofesi sebagai dosen S2 saat ini,tapi pria itu tak tau siapa anak dari Malvin sendiri.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.