
Hampir larut,Winda dan anaknya baru sampai kerumah.
Mereka pulang tidak dengan tangan kosong melainkan membawa beberapa makanan dan minuman.
Suasana rumah sedikit sepi,Winda meminta Nur untuk segera kekamar nya.
" Sudah pulang ?" Tanya Restu melihat Winda masuk.
" Udah,kamu udah makan ?" tanya Winda.
" Sudah,tadi Mama masak sayur bening " Jawab Restu tersenyum.
" Aku bawa makanan,mau makan lagi gak ?" tanya Winda mengeluarkan kantongnya.
" Makanan apa ?" tanya Restu mengernyit.
Winda menunjukkan satu persatu makanan yg ia bawa.
" Kamu dapat uang dari mana ?" tanya Restu terkejut melihat menu.
" Hm kami tadi ditraktir orang " Jawab Winda jujur.
" Siapa ?" Tanya Restu kaget.
Winda hanya tersenyum dan merapikan tidur putranya diranjang.
" Kamu gak aneh2 kan ?" tanya Restu menyelisik.
" Emangnya aku aneh ya ?" tanya Winda balik
" Ya enggak sih,cuma kamu beda aja " Jawab Restu.
Winda diam,tak lama putrinya masuk membawa paperbag.
" Papa " Sapa Nur hangat.
Restu menoleh dan tersenyum kecil.
" Itu apa sayang ?" tanya Restu melihat Nur kesusahan membawa paperbag.
" Aku punya mainan baru Pa " Jawab Nur semangat.
" Siapa yg beli ?" tanya Restu hati2.
" Kakek " jawab Nur tersenyum.
" Kakek ? Kakek siapa ?"
" Siapa Ma nama Kakek tadi ?" tanya Nur melihat Winda.
" Rafael " Jawab Winda singkat.
" Apa !" Pekik Restu terbelakak.
" Kamu ketemu Pak Rafael ?" tanya Restu syok.
" Iya Mas " jawab Winda jujur.
" Kenapa ?" Tanya Restu tak percaya.
" Gak papa,cuma kebetulan ketemu " Jawab Winda berbohong.
" Win " Tegur Restu tegas.
__ADS_1
" Kamu berharap apa Mas ?" tanya Winda kesal
" Kamu gak minta apapun dari mereka kan ?" tanya Restu ngeri.
" Kamu pikir aku bakal ngapain ?" tanya Winda tersulut.
Restu diam,nada bicara istrinya mulai tinggi.
Nur yg masih disana melihat kedua orang tuanya dengan wajah bingung.
" Baiklah,nanti bicara lagi " Kata Restu mengalah.
Winda melongos pergi keluar dari kamar.
" Papa marah ya ?" tanya Nur melihat Restu menyugar rambutnya.
" Gak kok,Papa gak marah " Jawab Restu tersenyum.
" Kakek baik kok Pa,tadi kami ketemu Istrinya juga,aku dibeliin boneka sama baju baru " Kata Nur menunduk.
" Coba Papa lihat " Pinta Restu.
Nur mengangguk dan naik keranjang mendekati Papanya.
" Ini Pa,bajunya Nur suka " Ucap Nur memamerkan baju tidur tersebut.
Restu melihat2 dan terdiam saat maniknya menatap merk disana.
" Pasti ini sangat mahal " Gumam Restu menghela nafas.
Lelaki itu menatap putrinya dengan nanar,sungguh hatinya sedikit sakit melihat Nur dibahagiakan oleh orang lain,tapi dirinya tak bisa berbuat banyak karna ia tau saat ini dirinya tak berdaya sama sekali.
" Nanti minta Mama dicuci dulu ya " Kata Restu mengusap kepala Nur.
" iya Pa " Jawab Nur ramah.
" Mama yg beli ?" Tanya Restu mengernyit.
" Iya,awalnya Kakek yg mau bayar,tapi Mama menolak,ya udah jadi Mama pake uang didompet buat beliin ini semua " Ujar Nur.
Restu diam,ia kembali terkejut ternyata Winda tau dirinya kurang suka dikasihani.
" Oke sayang,bisa tolong Papa buat ambilin satu ?" Pinta Restu kembali semangat.
" Dengan senang hati " Jawab Nur tersenyum.
Bapak dan anak itu tersenyum manis menikmati makanan,didapur Winda diam dimarahi ibunya habis2an.
" Kamu ngapain ketemu sama Pak Rafael hah ?" tanya Sindi emosi.
" Aku gak sengaja ketemu " Jawab Winda cuek.
" Gak usah bohong sama Mama Win,mereka bukan orang sembarangan yg bisa kamu temui dijalan !" Bentak Sindi emosi.
Malvin hanya melihat saja tanpa menyela atau memarahi anaknya.
" Apa yg kamu harapkan hah ? kamu ingin Samuel iba kepada mu ?" tanya Sindi sinis.
" Ma aku gak gitu "
" Lalu apa !" Bentak Sindi geram.
Winda menghela nafas panjang dan menatap wajah Mamanya.
__ADS_1
" Iya,aku memang sengaja menemui mereka " Aku Winda lemah.
Jedder....
Sindi dan Malvin terasa tersambar geledek mendengar pengakuan anaknya.
" Untuk apa ?" tanya Malvin membuka suara.
" Aku minta bantuan mereka untuk membiayai Mas Restu dan Nur hingga sembuh " Jawab Winda menunduk.
" Apa !" Pekik Sindi terbelalak.
" Aku gak bisa tinggal diam Ma,aku gak sanggup lihat Mas Restu hanya bisa berdiam diri seperti mayat hidup dikamar,kasihan mereka Ma,masa depan Nur dan Mas Restu bergantung sama aku " Kata Winda sambil menangis.
" Tapi caranya gak gitu Win " Kata Malvin melemah.
" Aku harus gimana lagi Pa ? Kita gak punya uang,sedangkan Mas Restu dan Nur harus cek up tiap bulan dengan dana yg gak sedikit,aku harus menunggu berapa lama lagi hiks hiks "
" Kamu sama aja menjual dirimu Win " Kata Sindi bergetar.
" Aku gak perduli sama aku lagi Ma,biarlah aku hina dimata mereka asalkan anak dan suami ku bisa seperti semula " kata Winda mengusap air matanya.
Wanita itu terlihat begitu pasrah,menemui Rafael bukanlah keputusan yg cepat,Winda sudah memikirkannya berbulan2,dan hari ini keputusan wanita itu sudah bulat.
" Lalu apa jawaban mereka ?" tanya Malvin tenang.
" Pa !" Pekik Sindi tak terima.
" Mereka setuju,Mas Restu akan berobat dengan dokter ahli dan Nur akan dibawa Mama Lutfia ke LA untuk pengobatan modern " Jawab Winda.
" Apa ! Nur akan dibawa keluar negeri ? apa kamu sudah gila ?" tanya Sindi syok.
" Aku tau ini keputusan sulit,tapi Nur harus melakukannya,dia tersiksa Ma,dia setiap hari mengeluh bahunya sakit dan kakinya bengkak setiap berjalan !" Kata Winda sedikit berteriak.
" Mama lihat sendiri bukan bagaimana ia menangis sepanjang malam saat rasa sakit itu muncul,hati aku terluka Ma,kalau bisa mending aku saja yg menanggung semuanya huhuhu "
" Kamu harus sabar Nak " Kata Sindi mengusap bahu putrinya.
" Aku gak bisa berdiam diri terus,Nur tahun depan harus sekolah dan aku gak mau anak aku terhambat dan jadi bahan olokan teman2nya " Kata Winda tegas.
Malvin mangut2 mengerti,sedangkan Sindi diam berpikir keras mencari solusi.
" Kapan mereka akan membawa Nur ? apa Samuel tau hal ini ?" tanya Malvin.
" Tidak,Samuel tak ada hubungannya dengan ini semua "
" Apa kau masih punya rasa sama dia ?" Tanya Sindi menyelisik.
" Ma " Tegur Winda kesal.
" Kamu membuat Mama berburuk sangka Win " Ucap Sindi serius.
" Jika aku masih punya rasa,untuk apa aku menolong Mas Restu,aku bisa saja membiarkan dia mati begitu saja dengan keadaannya " Kata Winda kesal.
" Ingat Winda,Restu orang yg menerima kamu tanpa melihat kekurangan dan masa lalu kita " Kata Sindi tegas.
" Iya,kamu harus setia dan patuh sama suami,Restu sudah berkorban banyak " Sahut Malvin.
Winda diam,kedua orang tuanya pun berjalan menjauh dengan pikiran yg semberaut.
Winda mengusap wajahnya kasar,ia benar2 dilema akan hidup yg penuh dengan lika liku.
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Hay guyys,masih setia gak nih nungguin cerita selanjutnya ???
Ceritanya sedikit ruet ya,hehe tapi tenang aja nanti juga bakal ketemu titik akhirnya,so tetap stay disini ya dan jangan lupa Vote,Like,Coment