Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
BAB Dua Delapan "TSJC"


__ADS_3

Riko melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya menuju restoran dan apotik.


Riko memberhentikan mobilnya di depan apotik, Riko kemudian turun dari mobil lalu masuk ke dalam apotik.


"Mba,, apa mba punya obat sakit perut bulanan." tanya Riko membuat penjaga apotik itu terkekeh.


"Kenapa mba ketawa, apa saya salah." ucap Riko sewot.


"Ngga kok mas, lucu aja mas cari obat sakit perut bulanan." ucap penjaga apotik itu.


"Terus saya harus bilang apa?" ucap Riko bingung.


"Harusnya mas bilang obat pereda nyeri haid." ucap penjaga itu lalu mengambilkan riko obat nyeri haid.


"Nyeri haid.." ucap Riko bingung.


"Iya mas,, emang yang sakit Cewek atau Cowok." tanya penjaga itu.


"Cewek.." ketus Riko.


"Berarti saya benar, karna hanya cewek yang mengalami haid, ngga mungkin cowok mas." ucap penjaga apotik itu.


Riko hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan penjaga apotik itu yang semakin ngaco.


"Ya udah ini berapa?" tanya Riko.


"15.000 mas." ucap penjaga apotik itu.


Riko berfikir sejenak dan dia menyadari kalau persiapan obat di rumahnya sudah sangat sedikit, jadi Riko membeli berbagai macam obat untuk dirumahnya. Riko juga membeli obat demam.


"Jadi semuanya berapa?" tanya Riko datar.


"150.000 mas." ucap penjaga apotik itu.


Riko mengambil uang di dompetnya. Penjaga apotik itu menatap Riko.


"Siapa yang sakit mas, Pacar mas.." tanya penjaga apotik itu.


"Bukan." jawab Riko acuh.


"Istri mas." tanya penjaga apotik itu penasaran dan membuat Riko salting.


"Udah ngga usah kepo." ucap Riko salting.


"Ya ampun mas itu perhatian banget sih sama istri mas." ucap penjaga apotik itu tersenyum aneh ke Riko.


Riko segera menyerahkan uangnya lalu pergi meninggalkan penjaga apotik yang gesrek itu.


"Semoga istri mas cepat sembuh." teriak penjaga apotik itu ke Riko.


Riko tidak menanggapinya, Riko segera masuk ke dalam mobilnya lalu menuju restoran untuk membeli bubur untuk Citra.


Setelah Riko membeli makanan untuk Citra dan dia,, Riko segera mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.


Sampai di rumah Riko membawa belanjaannya ke dapur. Riko menyimpan semua obat yang di belinya ke dalam kotak P3K. Lalu Riko menyiapkan makanannya. Riko bermaksud makan malam dulu, terus dia akan membawakan makanan Citra beserta obatnya.


Setelah makan Riko menyiapkan bubur Citra beserta obatnya, lalu dia membawanya naik menuju kamar Citra.


Riko masuk ke dalam kamar Citra dan melihat Citra masih tidur, Riko meletakkan makanan Citra di atas lemari nakas, lalu mencoba membangunkan Citra.


Tapi Citra terlihat sangat kedinginan dan wajahnya kembali pucat, Riko menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Citra dan sangat panas.


"Dia demam." gumam Riko khawatir.


Riko segera turun ke lantai bawah dan mengambil es batu untuk mengompres Citra. Riko mengompres Citra sambil terus menatap Citra.


"Kok bisa kayak gini sih,, katanya sakit biasa, kok bisa sampai demam." gumam Riko khawatir.


Citra mengeliat dan nafasnya tidak teratur, dia berusaha mencari sesuatu yang bisa dia peluk.


"Dingin.." gumam Citra yang masih memejamkan matanya.


Riko tidak begitu jelas mendengar suara Citra, Riko mendekatkan dirinya ke Citra.

__ADS_1


Citra lalu menarik tangan Riko lalu berbalik badan dan membuat Riko tertarik.


Riko terlihat bingung dengan tingkah Citra. Citra kemudian kembali bergumam.


"Dinginnn.." gumam Citra.


Riko mendengar perkataan Citra, Riko kemudian memperbaiki tidurnya dan memeluk Citra dari belakang.


Dan mereka tertidur dengan posisi itu sampai pagi.


Next pagi Hari..


Citra mengeliat dan merasakan gerah karna pelukan Riko yang sangat erat. Citra memutar badannya menghadap Riko, dan Riko hanya mengeliat, dan masih memeluk Citra.


Citra menatap wajah Riko yang sedang tertidur pulas. dan mengingat semua perhatian Riko saat Riko mengelus perutnya, saat Riko mengompresnya.


Citra tersenyum menatap wajah Riko dari mata hidung dan bibir. Citra berusaha ingin menyentuh bibir Riko yang pernah mengecup bibirnya.


Saat Citra hendak menyentuh bibir Riko, tiba-tiba ponsel Riko berdering membuat Riko mengeliat,, Citra segera memenjamkan kembali matanya saat Riko terlihat membuka matanya.


Riko membuka matanya dan melihat Citra masih tertidur. Riko melepaskan pelukannya lalu duduk di pinggir ranjang Citra sambil meraih ponselnya di lemari nakas Citra.


"Halo.." ucap Riko dengan suara seraknya.


"Rik,, lo ngga lupa kan, hari ini kita berangkat ke Amrik pukul 8 jadi lo siap-siap. ok." Ucap Romi di seberang telfon.


"Iya gue inget.. ya udah gue tutup." ucap Riko memutuskan sambungan telfonnya.


Citra menatap Riko dari belakang yang sedang mengacak Rambutnya dan mengusap wajahnya. Citra kembali menutup matanya saat Riko berbalik melihat jam weker.


"Udah jam 05.00." ucap Riko lalu berbalik lagi melihat Citra yang masih tidur.


Riko kembali memeriksa suhu tubuh Citra.


"Syukur deh demamnya udah turun." Gumam Riko, Lalu ponsel Citra berbunyi tanda pesan masuk.


Riko melirik Citra yang masih tidur lalu mengambil ponsel Citra dan melihat pesan yang ternyata dari Kevin.


Isi Pesan: Kevin


"Cit,, gimana keadaan kamu,, kalau kamu udah baikan, nanti aku jemput yah, kita ke kampus bareng.."


"Cihh,, sok perhatian banget sih.." Gerutu Riko sewot.


Riko kembali melirik Citra yang masih terlihat tidur, lalu Riko meninggalkan kamar Citra dan membawa ponsel Citra.


Citra segera membuka matanya dan segera masuk ke kamar mandi dan tidak menyadari kalau ternyata ponselnya di bawa oleh Riko.


Sementara Riko berada di ruang tamu terlihat sedang menelfon. setelah menelfon Riko menuju dapur untuk membuat sarapan.


Citra yang sudah tapi ingin ke kampus, segera turun ke dapur untuk membuat sarapan juga, dia fikir Riko masih di kamarnya.


Citra tiba-tiba menghentikan langkahnya saat berada di ambang dapur, Citra terkejut saat Riko sedang memasak sesuatu. Citra mendekat Riko perlahan dan berdiri di samping Riko.


Riko tidak menghiraukan Citra dia hanya fokus memasak nasi goreng.


"Aku aja yang masak kak." ucap Citra menawarkan diri.


"Ngga usah.." ucap Riko cuek tanpa melihat ke arah Citra.


Citra memonyongkan mulutnya kesal.


"Kamu ngapain berdiri disitu mending kamu duduk." ketus Riko tanpa melihat Citra.


Citra berjalan menuju meja makan sambil sesekali melirik Riko.


"Dia itu punya kepribadian ganda yah, kadang baik kadang cuek, kadang ngeselin." batin Citra kesal sambil mulutnya komat kamit seolah-olah meniru perkataan Riko lalu duduk.


Citra terus memperhatikan punggung Riko sambil menopang dagu, Citra kembali tersenyum saat mengingat raut wajah khawatir Riko, tiba-tiba dia menyadarkan pikirannya lagi..


"Tidak-tidak dia itu makhluk aneh, kepribadiannya susah di tebak." batin Citra menggerutu.


Citra segera memalingkan wajahnya saat melihat Riko sudah selesai menyiapkan sarapan dan membawanya ke meja makan.

__ADS_1


Riko meletakkan sarapan Citra di depan Citra, dan Citra hanya melirik Riko sekilas. Riko juga menyiapkan segelas susu untuk Citra.


"Indahnya kalau setiap hari dia kayak gini." batin Citra berharap sambil terus menatap Riko.


Riko menyadari Citra menatapnya.


"Dimakan sarapannya, ngga usah natap aku terus." ketus Riko membuat Citra sadar dan tertunduk malu karna ketahuan.


Riko sudah memakan sarapannya tanpa memperdulikan Citra.


Citra juga memakan sarapannya sambil sesekali melirik Riko heran.


"Dia itu kenapa sih, semalam dia hangat kok jadi beku lagi." batin Citra heran.


"Ngga usah ngomong sama arwah." ketus Riko.


"Aku ngga ngomong sama arwah kak." bela Citra kesal.


"Udah sarapannya di habisin, habis itu kamu beresin barang-barang kamu." ketus Riko membuat Citra tersedak karna terkejut.


"Kak Riko ngusir aku." tanya Citra penasaran.


Riko mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan bodoh Citra.


"Siapa yang ngusir kamu, ngga usah ngaco." ucap Riko.


"Terus,, maksud kak Riko nyuruh aku beresin barang-barang aku itu apa kalau bukan ngusir." ucap Citra.


"Hari ini aku berangkat ke Amrik untuk perjalanan bisnis selama 3 hari, aku mau kamu tinggal di rumah mama selama aku ngga ada." ucap Riko.


"Ngga usah kak, aku disini aja ngga apa apa kok." ucap Citra santai.


"Ngga bisa,, kamu ngga bisa disini sendirian nanti terjadi apa apa sama kamu seperti semalam, katanya cuma sakit perut biasa tapi sampai demam." ucap Riko dengan nada sedikit tinggi.


"Ahh itu,, itu kan semalam kak sekarang aku udah ngga apa apa kok, aku udah sehat." ucap Citra santai lalu mencoba memasukkan nasi goreng ke mulutnya tapi tertahan karna Riko marah.


"Kamu itu keras kepala banget sih,, kamu ngga tau apa bagaimana khawatirnya aku saat kamu sakit." bentak Riko yang membuat Citra tertegun.


Riko melihat wajah terkejut Citra dan menyadari kalau suaranya terlalu keras membentak Citra.


Riko membuang nafasanya kasar, lalu pergi meninggalkan Citra menuju kamarnya.


Citra menelan ludahnya ngga percaya.


"Kak Riko tadi bilang kalau dia khawatir." gumam Citra dan dia menyadari kalau memang dia cukup keras kepala dan merasa bersalah.


"Kamu bodoh, ngga tau diri, ngga tau terima kasih,, liat kan gara gara kamu kak Riko jadi marah." ucap Citra menghardik dirinya sendiri.


"Sekarang gimana caranya aku bujuk kak Riko, supaya ngga marah." gumam Citra khawatir.


Sementara Riko sudah berada di kamarnya sambil mengemasi pakaiannya yang akan dia bawa ke Amerika. Riko dengan kasar memasukkan pakaiannya ke dalam koper karna kesal.


"Dia itu ngga tau diri banget sih gue udah baik sama dia, udah ngerawat dia. Udah bagus gue nawarin dia untuk ngga tinggal di rumah ini sendiri, eh dia malah keras kepala. Dasar kepala batu." gerutu Riko kesal.


Disaat Riko sedang memasukkan pakaiannya ke dalam kopernya dengan tidak beraturan. Citra mengetuk pintu Riko dan membuka pintunya.


"Ada apa?" ketus Riko tanpa melihat Citra.


Citra masuk ke dalam kamar Riko dengan wajah merasa bersalah.


"Aku minta maaf kak,, aku tau aku salah, karna udah ngga nurut sama perkataan kak Riko, maafin aku." ucap Citra lembut.


Riko menatap Citra dan Citra pun tertunduk saat Riko menatapnya. Riko segera menghampiri Citra dan langsung memeluk Citra. Citra terkejut dengan perlakuan Riko.


"Aku juga minta maaf karna udah bentak kamu tadi, aku ngga bermaksud buat bentak kamu, tapi itu karna kamu yang keras kepala. kamu tau aku khawatir banget sama keadaan kamu." ucap Riko memeluk erat Citra.


Citra heran dengan perkataan Riko. Citra berusaha melepas pelukan Riko dan Riko melepaskan pelukannya dan sekarang mereka berhadapan.


"Kak Riko ngga salah ngomong kayak gitu." ucap Citra heran dengan perubahan Riko yang tiba-tiba.


Riko menatap Citra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, dan Citra tertunduk malu saat Riko menatapnya dan kembali menggigit bibir bawahnya.


Tanpa basa-basi Riko langsung ******* bibir Citra. Citra membelalakkan matanya terkejut dia berusaha melepaskan diri dari Riko, tapi tenaga Riko begitu kuat dan akhirnya Citra pun pasrah.

__ADS_1


__ADS_2