Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
TSJC Extra Part 5


__ADS_3

5 Bulan kemudian


Saat ini usia kandungan Citra sudah memasuki usia 9 bulan dan usia kandungan Silfa sudah 7 bulan.


Kenapa usia kandungan Silfa sudah 7 bulan, sementara pernikahan mereka baru 6 bulan?


Flashback On


Setelah Romi mengetahui kehamilan istrinya itu, mereka lalu memeriksakan kandungan Silfa ke dokter kandungan, dan setelah melalui pemeriksaan dokter menyatakan bahwa usia kandungan Silfa sudah menginjak usia dua bulan, dan hal itu sontak membuat mereka berdua terkejut terlebih lagi Romi.


Raut wajahnya sudah berubah cemas dan pikirannya pun sudah negatif terhadap istrinya.


Silfa menyadari keraguan suaminya itu. "Aku tidak pernah melakukannya kepada siapapun, kamu yang pertama. Bukankah kamu harusnya percaya sama aku, kan segel aku kamu yang buka." jelas Silfa meyakinkan Romi.


Dokter itu tersenyum tipis, menyaksikan pertengkaran kecil pasangan didepannya ini.


"Bapak tidak perlu ragu dengan istri bapak, kasus yang dialami oleh ibu Silfa ini, bukan hanya terjadi pada ibu Silfa saja, tapi sudah banyak terjadi. Dan kehamilan bu Silfa ini bukan terjadi di luar nikah." jelas Dokter itu Membuat Romi sedikit bernafas lega.


Lagian kenapa juga dia ragu dengan istrinya, yang memang ternyata segelnya dia yang buka, dasar otakku, batinnya menghardik pikirannya sendiri.


"Lalu kenapa bisa seperti itu dokter?" tanyanya penasaran.


Dokter itu kembali tersenyum karena melihat ekspresi Romi yang terlihat tidak sabaran.


"Begini pak Romi, bu Silfa. usia kehamilan itu bukan ditentukan dari tanggal terjadinya pembuahan ****** dan ovum sesasat setelah berhubungan badan melainkan dihitung berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT)." jelasnya.


Romi hanya manggut-manggut saja walaupun tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu, tapi intinya adalah anak yang ada dalam kandungan Silfa itu adalah anaknya.


Sementara Silfa hanya tersenyum mendengar ucapan dokter itu.


Flashback Off


......***......


Citra terlihat sedang sibuk, dia sedang bersiap untuk pergi kesuatu tempat. Setelah merasa semuanya telah selesai dan memastikan tidak ada yang ketinggalan, diapun keluar kamar dengan menenteng paper bag ditangan kanannya. berjalan keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh pak Cecep supir dari mertuanya.


Sebelum berangkat ke tujuan, terlebih dahulu Citra menjemput Silfa ke rumahnya, karena semalam mereka sudah janjian untuk pergi bersama dan mereka juga sudah meminta izin kepada suami mereka.

__ADS_1


Tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke rumah Silfa, hanya membutuhkan waktu 15 menit saja.


Saat mobilnya sudah dekat dengan rumah Silfa. Citra melihat dari jendela mobil ternyata Silfa sudah berada di depan rumah, dengan paper bag, yang menggantung di jarinya.


Mobil berhenti tepat di depan Silfa, tidak butuh waktu lama Silfa pun naik ke dalam mobil dan duduk disamping Citra, pak Cecep pun kembali melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuan ke dua ibu hamil ini.


"Kak Silfa udah nunggu lama?" tanya Citra khawatir.


"Ngga juga kok Cit, tadi aku baru aja keluar rumah terus kamu udah sampai aja." jawabnya dan Citra hanya tersenyum.


"Eh, Gimana dengan perkembangan dedek bayinya kak?" tanya Citra lagi sambil mengusap lembut perut Silfa.


"Alhamdulillah, dedeknya makin aktif bun." jawabnya dengan candaan membuat mereka tertawa bersama.


"Kalau kamu sendiri gimana?" Silfa bertanya balik.


"Alhamdulillah, nendangnya makin kuat bun." Citra juga menjawab dengan bercanda membuat mereka kembali tertawa.


Kedua ibu hamil ini, memang sangat dekat setelah pernikahan Romi dan Silfa.


Mereka berdua sering menghabiskan waktu luang bersama, layaknya seperti adik dan kakak saat hang out bareng, pokoknya bebas. Bahkan saat mereka hamil seperti ini pun mereka masih selalu keluar bersama.


Tidak ada lagi yang disembunyikan oleh keduanya, tidak ada rahasia-rahasiaan. Sama halnya Riko dan Romi yang bersahabat tanpa ada batasan, begitu juga dengan istri-istri mereka.


Dalam perjalanan mereka selalu asyik mengobrol, mereka tidak peduli tempat dan waktu, mereka itu tak pernah kehabisan cerita. bahkan pak Cecep pun hanya geleng-geleng kepala saja sebagai seorang pendengar.


Karena saking asyiknya mereka bercerita, mereka bahkan tidak menyadari bahwa saat ini mereka sudah tiba di tempat tujuan mereka yaitu "Tempat kebugaran dan kesehatan Jasmani ibu dan bayi".


Yah, mereka ingin melakukan senam untuk ibu hamil. Setelah sadar bahwa mereka sudah tiba di tempat tujuan, akhirnya merekapun turun dan langsung masuk menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka dengan pakaian senam.


***


Sementara di kantor, setelah melakukan rapat. Riko dan Romi bersantai di ruang kerja Riko. mereka hanya bercerita tentang pengalaman mereka menghadapi istri mereka yang tengah hamil.


Mereka berdua itu tidak jauh berbeda dengan ibu-ibu kompleks yang suka ngerumpi, cuman bedanya, ibu-ibu kompleks selalu menceritakan kesalahan-kesalahan tetangga mereka. Berbeda dengan calon bapak ini, mereka sibuk nyinyirin istri mereka.


Setelah puas nyinyirin istri mereka, yang katanya semakin hari semakin membuat pikiran mereka lelah, karena banyak maunya. Jika ada maunya mereka pasti bersifat sangat manja dan sangat lengket, namun jika mereka tidak ada maunya, boro-boro manja, dilirik aja enggak. hadeh, sabar yah pak.

__ADS_1


Pembahasan mereka kini berlanjut kearah anak-anak mereka. Mereka berdua terlihat sangat bersemangat menceritakan setiap perkembangan yang mereka rasakan kepada calon anaknya, Riko bercerita bahwa anaknya semakin aktif di dalam rahim Citra, setiap kali dia mengelus perut Citra pasti anaknya selalu merespon dengan tendangan yang kuat. Sementara Romi juga sama, hanya saja tendangannya lemah.


Setelah puas bercerita dan tertawa, mereka kembali ke pikiran mereka masing-masing. dan tiba-tiba saja suasana jadi hening.


"Rom, gue minta tolong dong, cariin gue asisten rumah tangga yah." Riko kembali membuka suara setelah beberapa saat hening.


Romi yang tadinya fokus ke ponselnya beralih menatap Riko, dengan ekspresi bingungnya. "Lo butuh?" tanyanya.


Riko mengangguk. "Perut Citra udah makin gede, gue ngga tega liat dia dalam kondisi seperti itu terus-terusan bekerja, mengurus rumah. Dan juga, gue jadi lebih lega ninggalin dia kalau di rumah dia ada yang nemenin." Jelasnya.


Romi mangguk aja tanda paham. "Tapi kenapa lo baru nyari sekarang? ngga dari awal." tanyanya lagi.


Riko menghela nafas berat, "Sebenarnya gue udah lama pengen cari ART, tapi Citra selalu nolak, katanya dia masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri sekaligus ngurusin gue! ya udah gue nurut aja, tapi sekarang beda, perutnya makin besar dan itu membuat dia gerak aja udah susah banget, gue ngga tega." jelasnya.


"Ok deh, nanti sore gue akan nyari ke Yayasan ART untuk lo. emang lo mau yang kayak gimana?" tanyanya lagi, lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Kriterianya seperti bi Ina." ucap Riko.


"Kenapa lo ngga ambil bi Ina aja." saran Romi.


"Ngga bisa lah! kalau bi Ina ikut sama gue, yang ngebantuin mama gue siapa." Sungutnya sedikit kesal.


"Yah santai dong, bro. Ngga usah ngegas. kan gue cuma ngasih saran, diterima sukur, ngga di terima sabar." Cetusnya membela diri.


"Ya udah, nanti gue cariin yang masuk kriteria lo." sambung Romi lagi.


"Lo sendiri gimana?" tanya Riko.


"Gue sih pengen juga, tapi Silfa sama Citra ngga jauh beda." keluhnya.


"Lo ngga usah nurutin mereka, mereka emang kayak gitu, katanya ngga butuh! tapi selalu mengeluh kecapean. mending lo pekerjakan ART aja!! buat jaga-jaga, sekalian buat bantuin pekerjaan istri lo." ucap Riko memberi saran.


"Lo bener juga!! ya udah deh nanti gue sekalian." tuturnya lagi lalu melesat pergi meninggalkan Riko.


-tbc-


...-Extra Part masih akan terus berlanjut-...

__ADS_1


__ADS_2