Tak Sengaja Jatuh Cinta

Tak Sengaja Jatuh Cinta
TSJC Extra Part 6 "Doni&Mita" Belum bisa move on


__ADS_3

Suasana kampus Mita di Amerika Serikat siang ini terlihat sangat ramai, mahasiswa/i masing-masing sibuk dengan kegiatan mereka setelah pembelajaran di dalam ruangan selesai. Ada yang sedang berkumpul berdiskusi bersama di halaman kampus, ada yang sedang bermain musik, membaca buku di bawah pohon dan ada juga yang masih melakukan pembelajaran di dalam kelas.


Dan Yah, itu Mita. Saat ini Mita sedang fokus mempersentasekan karya terbaiknya di depan seluruh teman kelas dan juga dosennya.


Dengan kefasihannya berbahasa Inggris, persentasenya berjalan mulus dan sangat bagus, diakhir persentase dia mendapat A+ dari semua teman-temannya, hal itu membuat Mita tersenyum bangga, dia merasa puas dengan hasil dari kerja kerasnya yang berjalan sesuai keinginannya, dia merasa bersyukur.


Mita masih mengemas perlengkapan yang tadi dia pakai untuk persentasi.


"your work is very good."


Mita terkesiap saat seseorang menyentuh pundaknya dan berbicara kepadanya, sementara dia sedang berbenah.


"Ohh, thank you, your work is also very beautiful and you also did your best." balasnya dengan senyuman yang mengembang kepada wanita itu, yang ternyata adalah teman sekelas Mita.


Wanita itu membalas senyum Mita sambil menepuk pelan pundak Mita, lalu setelah itu diapun melesat pergi meninggalkan kelas.


Mita menatap punggungnya sekilas lalu kembali fokus ke pekerjaannya, saat ini dia tengah memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya. Karena posisi yang tidak beraturan membuat salah satu buku terjatuh ke lantai saat dia memasukkannya sekaligus. Mita berjongkok berniat mengambil buku tersebut, namun, tiba-tiba saja dia merasa sedih saat netra hitamnya menatap buku itu yang ternyata adalah buku pemberian dari Doni.


Yah, buku bercover warna pink, jika dilihat sekilas buku itu terlihat seperti majalah, tapi ternyata bukan karena setiap isi dari halaman di balik covernya itu hanya berisi kata-kata mutiara dan motivasi.


Dia juga tidak menyangka ternyata buku itu masih dia simpan. Dengan perasaan campur aduk, antara sedih dan muak, dia meraih buku itu lalu memasukkannya dengan kasar ke dalam tasnya.


Mita mengusap sudut matanya yang terasa sembab. Menghela nafas berat dia merutuki dirinya sendiri yang terlihat sangat menyedihkan. Bagaimana bisa hanya karena sebuah buku dia menjadi cengeng, kenyataannya bukan karena buku itu dia seperti itu, tapi tentang siapa pemberi buku tersebut.


Yah, dia terlihat menyedihkan karena pria itu, pria yang berparas tampan, memiliki tatapan tajam hingga membuat Mita menjadi lemah selemah-lemahnya.


Setelah selesai dengan aktifitas mengemasnya, dia menenteng tas besar itu lalu perlahan melangkah keluar dengan pikiran yang masih kalang kabut.


"Biar aku yang bawa!!"


Mita kembali terkesiap, ketika seseorang tiba-tiba merebut tas besar dari tangan kanannya.


Dia terkejut saat mendapati pria tinggi berparas bule tersebut sudah berdiri dihadapannya. Sejak kapan dia disitu. pikirnya.


"Kamu itu ngagetin aku tau!!" sentaknya membuat pria tampan itu mengernyitkan dahinya bingung.

__ADS_1


"Aku sudah disini sejak tadi, kamu saja yang tidak sadar." ketusnya lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Mita yang masih terlihat bingung.


Mita lalu mengejar pria bule tersebut, lalu menyamakan langkahnya.


"Itu karena kamu hanya diam ditempat, makanya aku ngga sadar kalau kamu ada." bantahnya membuat langkah mereka terhenti.


Netra abu milik pria itu menatap lekat netra hitam milik Mita, sesaat kemudian pria itu langsung mengalihkan pandangannya dan kembali melesat pergi meninggalkan Mita. Menghela nafas berat karena kesal Mita kembali mengejar pria dengan langkah panjangnya.


"David!!! kenapa sih kamu selalu ninggalin aku." gerutunya sesaat saat langkah mereka kembali seimbang, sambil Mita memukul lengan kekar pria itu dan Pria itu hanya tersenyum kecut.


Pria bule yang fasih berbahasa Indonesia tersebut adalah sahabat dari teman sekolah Mita. Mereka kenal setelah di perkenalkan oleh Vino sahabat David dan teman sekolah Mita.


Sejak perkenalan singkat itu, mereka menjadi akrab. Meskipun mereka berbeda jurusan tapi itu bukan alasan bagi mereka untuk tidak dekat.


Dan sejak saat mereka dekat itulah, David menaruh harap lebih terkait hubungan mereka.


Pria berambut pirang itu selalu memberi perhatian, bertingkah manis dan selalu melindungi Mita, berharap suatu saat Mita nyaman kepadanya.


Iya, Mita nyaman dengan hal itu, Mita merasa sangat bersyukur bisa mengenal pria itu disaat dia tidak memiliki siapapun dia negara rantau ini, namun apakah rasa nyaman itu, nyaman yang diharapkan David? Bukan! rasa nyaman yang Mita rasakan hanya rasa nyaman seorang sahabat tidak lebih.


Terluka namun tak berdarah, perih iya. Pria bule itu merasa tertolak sebelum menyatakan perasaannya yang sebenarnya. Akhirnya dia memutuskan untuk memendam perasaannya sendiri agar hubungan mereka terus membaik.


David memiliki keyakinan, bahwa yang berjuang yang akan menang.


-Semoga aja yah mas-


...***...


Seorang pria bertubuh tinggi tegap, berparas rupawan dengan alis tebalnya, tengah sibuk menata pakaiannya dengan rapi ke dalam koper.


Setelah aktivitas packing nya selesai, dia kemudian duduk termenung di tepi ranjang. Terlihat jelas dari raut wajahnya saat ini dia sedang khawatir. Entah hal apa yang membuat dia khawatir, bukankah harusnya dia itu bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu sang pujaan hati.


"Kak Doni!!!


Seruan seorang gadis membuatnya terkesiap dan tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Ada apa dek?" tanyanya saat mendapati adiknya berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Semua yang aku butuhkan sudah aku packing kak, dan aku mau izin keluar sebentar untuk membeli sesuatu." tuturnya lembut dan hanya diangguki oleh Doni.


Gadis itu tersenyum lembut sebelum akhirnya dia melesat pergi.


Malam ini Doni dan Dian adiknya memang akan terbang ke Jakarta dengan tujuan bekerja. Bekerja adalah tujuan ke duanya untuk ke Jakarta, sementara tujuannya yang sebenarnya adalah untuk bertemu sang pujaan hati.


Yah, dan pujaan hatinya itu adalah Mita. Dia sangat merindukan gadis bertubuh mungil pemilik senyum manis yang berhasil meluluhkannya.


Dia sudah merencanakan sesuatu saat mereka bertemu nanti. yang pertama kali yang akan dia lakukan adalah dia ingin meminta maaf kepada Mita karena sudah menyakiti perasaannya dan meminta maaf karena sudah menjadi pria yang pengecut.


Hal itulah yang kemudian membuat pria ber alis tebal ini merasa khawatir, bagaimana jika nantinya Mita tidak akan memaafkannya, bagaimana jika Mita sudah tidak ingin bersamanya dan sudah memiliki orang lain sebagai pengganti dirinya.


Memang hubungan diantara mereka tidak ada kejelasan, alias Friendzone. namun Doni sangat yakin jika mereka saling mencintai. terbukti saat Doni memintanya untuk menunggunya! bahwa setelah wisuda nanti, dia akan memperkenalkannya kepada mamanya, hal itu membuat Mita tersipu malu dan sudah jelas bahwa Mita juga menyukainya.


Namun, sangat disayangkan ternyata mamanya menjodohkannya dengan seorang gadis yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri yaitu Dian.


Doni merupakan anak tunggal dan yatim, sementara Dian yatim piatu yang dirawat oleh mamanya Doni.


Sehari sebelum wisudanya dilangsungkan, dia mendapat kabar jika ibunya sedang sakit dan memintanya untuk segera pulang.


Setelah kembali, betapa terkejutnya dia, saat ibunya tiba-tiba meminta dia untuk menikah dengan Dian. Doni menolak karena menurutnya itu tidaklah masuk akal, bagaimana mungkin dia menikahi gadis yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri dan lagipula dia tidak mencintainya.


Mamanya tetap bersikeras memohon agar Doni menikahinya, dengan alasan menjaganya karena Dian tidak memiliki siapa-siapa.


Karena merasa iba dengan ibunya yang memohon bahkan menangis, membuat dia tidak tega dan akhirnya menerima permintaan ibunya.


Namun, sesuatu terjadi sebelum pernikahan berlangsung, mama Doni meninggal lebih dulu, membuat pernikahan mereka tertunda.


Setelah 1 bulan mama Doni meninggal, Doni membatalkan pernikahannya, karena dia tidak bisa menikahi orang yang tidak dia cintai, lagian mereka itu saudara, apapun yang terjadi, Doni yang bertanggung jawab menjaga adiknya itu sebelum akhirnya di jaga oleh suaminya sendiri, tapi itu bukan dirinya.


Seperti yang terjadi sekarang, dia membawa Dian untuk ikut bersamanya. Awalnya Dian menolak karena dia tidak ingin merepotkannya. Tapi dia memaksa agar tetap ikut bersamanya, karena Dian adalah adiknya sendiri dan dia tidak mungkin meninggalkannya sendiri karena sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga Dian sebagaimana yang diinginkan oleh ibunya.


-tbc-

__ADS_1


......Semoga kalian suka, dan tunggu extra para selanjutnya. ......


__ADS_2