
Disebuah rumah seorang wanita terlihat mondar mandir dikamar dengan wajah panik.
2 hari ini Zaiva tak enak badan,otak wanita itu terus memikirkan anak pertamanya yang jauh disana.
" Duh Histi kenapa ya ?" Gumam Zaiva tak tenang.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka masuklah seorang pria dengan pakaian hitam putih.
" Mama " Panggil Juna mendekat.
" Iya ada apa ?" tanya Zaiva menoleh.
" Mau salim Ma,aku disuruh Papa ikut interview di perusahaan " Jawab Lelaki itu tersenyum.
" Interview ?" Ulang Zaiva kaget.
" Iya Ma,Papa minta aku datang kesana,udah rapi belum ?" tanya Juna berdiri tegap.
Zaiva menyelisik penampilan lelaki itu dan mengangguk pelan.
" Emang harus ya ? kan bisa langsung masuk ?" tanya Zaiva heran.
" Gak tau,Papa yang suruh " Jawab Juna polos.
" Ck Bang Bara sama anak sendiri aja perhitungan banget " Gerutu Zaiva kesal.
" Aku berangkat dulu ya Ma " Kata Juna menyalami Zaiva.
" Sama supir ?" tanya Zaiva.
" Gak,bawa motor hehe " jawab Juna cengengesan.
" Mau gonceng cewek ya " Tuduh Zaiva.
" Ih gak Ma,males aja diantar supir mau kayak yang lain gitu ngelamar kerja " Kata Juna tak terima.
" Ya udah hati2,nih buat ongkos bensin " Kata Zaiva mengambil uang di balik branya.
" Ihh Mama kebiasaan deh naruh uang disana !" kata Juna kesal.
" Ck biar aman dari kedua adik kamu " Decak Zaiva.
" Ya udah deh,tambah lagi " Kata Juna pasrah.
Zaiva kembali mengambil ditempat rahasia dan memberi uang 50 ribu masih hangat sentosa.
Juna meringis ngeri dan buru2 memasukkan uang kedalam saku celananya.
Lelaki itu melesat keluar.
Zaiva diam sejenak hingga kembali memikirkan Histi yang belum juga hilang dari kepalanya.
Zaiva terpaksa menaruh uang di kantong ajaib karna dirumah mereka ada tuyul kepala hitam yang sering mencuri uang kecil untuk jajan.
Twins sekarang begitu nakal membuat Zaiva sering naik darah,bagaimana tidak saat ia menaruh uang disembarangan tempat maka menit berikutnya uang itu akan raib karna manik kedua anaknya mengalahi cctv.
Salma dan Salim begitu kompak mengambil uang yang diangai sembarangan,tapi itu hanya berlaku untuk Zaiva dan Juna saja,mereka tak bisa mengambil uang dari Bara karna lelaki itu kini sudah pintar,Bara tak pernah membawa uang cash ia selalu menggunakan kartu untuk transaksi,Salma dan Salim yang masih bocah tak butuh kartu ajaib tersebut.
" Gimana caranya aku bisa tau kabar Histi ya ?" Gumam Zaiva mencari cara.
Mereka tak bisa menghubungi wanita itu karna sulitnya sinyal yang menjadi penghalang.
__ADS_1
Kadang Zaiva merasa sangat kasihan dengan anaknya tapi apa boleh buat Histi sudah bersedia menerima semua konsekuensi hidup bersama Serkan dalam susah maupun senang.
Ditempat lain,sepasang anak manusia bersembunyi didalam lemari.
Didepan rumah keadaan sangat ramai,awalnya hanya Samuel saja yang disuruh sembunyi tapi pria itu tak mau sendirian jadilah Winda ikut bersamanya dalam sempit2an.
" Geser napa engap nih " Kata Winda menggeser bokongnya kesamping.
" Aku juga engap Win " Jawab Samuel banjir keringat.
" Lagian ngapain kamu ajakin aku sih,coba sendirian aja jadi tempatnya luas " Balas Winda kesal.
" Ck gak mau lah sendirian,sepi " Jawab Samuel.
" Kalo rame bukan sembunyi namanya !" Balas Winda memutar mata.
Samuel diam menarik nafas berusaha tenang.
Winda membuka sedikit lemari mengintip keluar tapi pintu kamar masih tertutup rapat.
Saat makan siang tadi,rumah mereka kedatangan anggota polisi semobil penuh.
Sontak acara makan siang itu seketika kacau saat melihat para pria berbaju coklat tersebut.
Beruntung Malvin saat itu ada dirumah untuk makan siang bersama jadi Sindi tidak terlalu panik sendiri.
Mereka pun langsung mencar,Sindi mengutamakan Samuel yang harus diselamatkan lebih dulu tapi lelaki tersebut terlihat santai saja mempereteli ayamnya.
Karna sudah panik,dengan sangat terpaksa Sindi merebut ayam itu dan menyeret Samuel ke lemari untuk bersembunyi karna waktu mereka sudah tak ada lagi untuk keluar.
Winda yang awalnya adem ayem juga harus terseret oleh Samuel dengan alasan takut gelap meski harus merendahkan harga dirinya.
Diluar masih ramai,beberapa orang mengobrol kepada Malvin.
Beda hal dengan Sindi memasang tampang diam dengan jantung dag dig dug.
" Em Mba boleh permisi cuci tangan ?" ucap salah satu anggota kepada Sindi.
" Hah !" Kata Sindi syok.
Malvin menoleh kearah istrinya yang terlihat begitu terkejut.
" Tidak juga gak papa,tadi habis megang lalang " Kata Polisi ngeri.
" Eh em iya maksud saya boleh gak papa " Balas Sindi kelabakan.
Wanita itu melirik suaminya,Malvin melihat Sindi dengan wajah sedikit khawatir.
" Duh semoga Samuel gak keluar " Ucap Sindi dalam hati.
Sindi pun masuk kerumah mempersilahkan polisi tersebut masuk kedapurnya.
Terlihat ada lima piring makan disana,polisi mengernyit karna tadi saat di interview Malvin mengaku punya 2 anak saja..
" Kenapa Pak ?" tanya Sindi berhenti melangkah.
Polisi itu masih diam memperhatikan porsi makanan dipiring.
" Aduhh jangan bilang nih pakpol curiga " Batin Sindi kembali kelabakan.
" Oh em gak papa Mba,anaknya ada berapa ?" Tanya Polisi sambil memutar keran wastafel.
" Ada 2 eh 3 " Jawab Sindi menghitung piring.
__ADS_1
" Tadi Masnya bilang ada 2 " Balas polisi tenang.
" Hah masa sih,duh suami saya emang gitu Mas suka lupa sama anak sendiri " Balas Sindi pura2 kesal.
" Hem ya mungkin salah omong Mba " Jawab Polisi terkekeh.
" Biasalah Pak,urusan bikin nomor 1 tapi pas berojol eh dilupain tuh " Kata Sindi terus acting.
Polisi diam merasa tersindir juga.
" Pak pol gitu gak sama istri ?" tanya Sindi.
" Hm gak sih Bu,anak saya baru 1 masih kecil " Jawab polisi tersebut tersenyum.
" Tambah lagi Pak biar berasa jadi bapak2nya " Ucap Sindi terkekeh.
Polisi itu tersenyum geli.
Sindi menghela nafas panjang berhasil mengalihkan obrolan.
Keduanya berjalan keluar tapi saat melewati kamar polisi itu kembali berhenti melangkah karna mendenģar suara obrolan dari dalam.
Sindi ikut mendengar dan deg...
Wanita itu terdiam mendengar suara Winda marah2 dan Samuel menyahutnya.
" Mereka didalam ?" Tanya Polisi menoleh ke Sindi.
" Hah em iya Pak biasa lah adik Kakak " Jawab Sindi berusaha tenang.
" Tapi kenapa pintunya dikunci dari luar ?" Tanya Polisi itu penuh selidik.
" Boleh saya lihat ?"
" hah buat apa ?" tanya Sindi melotot.
" Sejujurnya saja saya curiga dengan keluarga kalian " Jawab Polisi tenang.
" Cu cu riga kena pa ?" tanya Sindi deg degan.
Pria itu berjalan keluar,Sindi masih terdiam melihat lelaki tersebut memberitahu teman2nya.
" Ya Tuhan bagaimana ini ?" Gumam Sindi panik sendiri.
Dari luar masuk 2 orang polisi,Malvin melihat kearah Sindi dengan mata melotot.
" Boleh dibuka pintunya Bu ?" Tanya komandan disana sopan.
" ini kamar anak saya " Jawab Sindi pucat.
Malvin mendekat dengan arakan 2 polisi lain.
" Buka pintunya !" Ucap komandan tersebut kepada sang anak buah.
" Siap Ndan !" Jawab polisi tadi paham.
Sindi menggeleng pelan,wanita itu menoleh kearah suaminya.
Malvin sudah terlihat begitu pasrah dikawal 2 orang berseragam yang siap menyeretnya ke kantor polisi.
❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1