
Citra masih sibuk membuat kue dengan bi Ina. Bi Ina hanya membantu Citra sambil terus menatap Citra heran.
"Non,, non nggapapa, kita ke rumah sakit yah non,, mata non bengkak banget." ucap bi Ina khawatir.
"Ahhh, ini nggapapa kok bi, nanti juga sembuh.." ucap Citra santai lalu memasukkan kue ke dalam panggangan.
Citra lalu berjalan menuju kulkas lalu membuka bagian freezernya dia mengambil sendok makan yang sudah dia bekukan lalu menempelkannya ke matanya.
"Nahh,, cara ini efektif biar mata ngga bengkak bi." ucap Citra menempelkan tanpa melihat bi Ina, karna matanya tertutupi oleh sendok itu.
"Non dapat ide dari mana?" tanya bi Ina bingung melihat tingkah non Citra.
"Citra biasa liat adegan ini di drama korea bi, kalau si cewek habis nangis dia ngelakuin ini." ucap Citra meyakinkan.
"Ada ada aja yah non." ucap bi Ina geleng-geleng kepala.
Citra tertawa melihat ekspresi bi Ina, lalu mereka kemudian kembali melanjutkan aktivitas mereka. Citra tidak mencari-cari Riko karna dia fikir Riko sudah bertemu dengan Rani.
Padahal Riko berada di rumahnya sedang berfikir keras, bagaimana caranya dia meminta maaf dengan Citra.
Otaknya blenk, tatapannya kosong, dia merasa sudah tidak sanggup memikirkannya lagi.
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara ponselnya ternyata Romi yang menelfonnya.
Riko meraih ponselnya dengan malas, dia berniat untuk merijek panggilan Romi, karena menurutnya Romi sudah merusak konsentrasinya.
Tapi tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di otaknya. Riko kemudian mengangkat panggilan telfon Romi dan memerintahkan Romi untuk segera ke rumahnya sekarang.
Romi yang mendengar perintah Riko merasa heran, kenapa Riko menyuruh dia ke rumahnya tiba-tiba, padahal semalem Riko kan lagi di rumah orang tuanya.
Romi tidak ambil Pusing dia segera meraih switernya lalu keluar kamarnya menuju rumah Riko.
Mita yang dari tadi pagi merengek kepada Romi terus mengejar Romi.
"Nanti gue urus semuanya, biar lo bisa kuliah disini, sekarang jangan ikutin gue lagi." ucap Romi pasrah karna Mita terus menerus mengekor di belakangnya.
Mita yang mendengar perkataan Romi tiba-tiba berhenti mengikuti Romi. Lalu Romi pun berlalu meninggalkan Mita menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
Romi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Riko, dia juga ingin meminta penjelasan Riko mengenai Citra.
"Ada hubungan apa mereka." gumam Romi lalu melajukan mobilnya.
Setelah beberapa menit berkendara menuju rumah Riko, Romi pun sampai di pekarangan rumah Riko.
Romi segera turun dari mobilnya dan berlari masuk ke rumah Riko. Dia langsung menuju ke kamar Riko, karna tadi Riko mengatakan bahwa dia berada di kamar.
Braakkk.
Romi mendorong pintu dengan keras membuat Riko menatap tajam ke arah Romi.
"Lo apa-apaan sih Rom, bisa ngga kalau masuk ke rumah orang tuh permisi dulu." ketus Riko.
"Ngga bisa Rik, itu ngga penting sekarang, sekarang yang sangat penting lo jelasin semuanya ke gue." ucap Romi ngos-ngosan karna berlari.
__ADS_1
Riko mengerutkan keningnya heran menatap Romi.
"Jelasin apaan?" ketus Riko.
"Lo ada hubungan apa sama Citra, dari semalem gue ngga bisa tidur nyenyak mikirin hal ini, kenapa lo tiba-tiba nyebut dia di dalam tidur lo?, dan yang lebih parahnya lagi, gue lihat dia di rumah orang tua lo dan lo jatuh di pelukannya. Jelasin sekarang ngga usah cari alasan lagi." ucap Romi tegas lalu duduk di depan meja Riko.
Riko membuang nafasnya kasar, lalu dia menjelaskan semuanya ke Romi tentang perjodohan mereka, penyebab mereka di nikah kan tanpa persetuan mereka.
Riko menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun, karna menurutnya lebih bagus kalau Romi mengetahui hal ini, karna tujuan Riko memanggil Romi ke rumahnya adalah meminta saran kepada Romi, bagaimana cara meminta maaf dan membujuk Citra biar dia ngga marah.
Lagian Romi juga sudah tau setengah dari hubungan mereka. Jadi, apa salahnya kalau dia mengetahui seluruhnya. Pikir Riko
Riko kemudian menjelaskan kepada Romi bahwa mereka sedang ada cekcok sedikit, dan Riko meminta saran Romi.
Romi hanya mangguk-mangguk mendengar cerita Riko.
"Ahhhh, jadi kalian berdua berantem." ucap Romi.
"Gue ngga berantem, cuma cekcok sedikit." ucap Riko tidak menerima kata berantem, karna menurutnya itu perkara yang besar.
"Sama aja Rik." bela Romi.
"Beda." ketus Riko.
"Ok,, Jadi lo mau minta maaf sama Citra?" tanya Romi lagi.
"Iyaa.." ketus Riko.
Romi kemudian menatap Riko dengan tatapan berbeda. Romi melihat sisi berbeda dari Riko, yang tiba-tiba perduli dengan perasaan perempuan.
Riko mengerutkan keningnya menatap Romi yang juga sedang menatapnya.
"Ngomong apaan sih lo,, siapa yang suka sama dia, gue tadi udah bilang ini demi papa gue." ucap Riko.
"Gue ngga percaya kalau ini demi papa lo Rik, dari kemarin sikap lo beda,, waktu kita di Amrik lo ngga konsen dengan kerjaan, sampai-sampai lo sakit gara-gara siapa?, gara-gara Citra kan." ketus Romi.
"Itu bukan perasaan suka, itu karna gue khawatir sama dia." ucap Riko membela.
"Lo memang khawatir sama dia, tapi khawatir lo tuh beda Rik." ketus Romi lagi.
"Udah deh Rom,, udah cukup lo ceramahin gu,, dari tadi gue dengar ceramah mulu. Kalau lo ngga mau ngasih gue saran, mending lo pulang sekarang, lo bikin kepala gue tambah Pusing tau ngga." gerutu Riko kesal.
"Okk,, tenang, gue akan bantuin lo biar lo baikan sama Citra." ucap Romi yakin.
Lalu Romi pun memberikan pelajaran kepada Riko bagaimana caranya biar Citra bisa langsung luluh dan memaafkan Riko.
Romi menjelaskannya dengan sangat yakin seperti orang yang sangat ahli dalam bidangnya, kenyataannya dia juga belum pernah melakukannya.
"Lo yakin cara ini berhasil." ucap Riko ragu-ragu dan Romi pun mengangguk yakin sambil mengacungkan jempolnya.
Next
Sore hari Riko kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya untuk menjemput Citra untuk kembali ke Rumahnya.
__ADS_1
Dalam perjalanan Riko menatap bunga yang sudah di belinya, dia merasa ragu dengan ide Romi, tapi dia segera menghilangkan prasangka itu.
"Usaha aja dulu, lagian Romi tadi udah bilang kalau cara ini akan berhasil 100℅." batin Riko mencoba mempercayai Romi.
Sementara Citra yang sudah selesai membuat kue dengan bi Ina, sedang berendam di bath up untuk merilexsasi tubuh dan pikirannya.
Tidak lama kemudian Riko pun tiba di rumah orang tuanya, dia pun meraih buket bunga lili yang indah itu lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Bi Ina melihat Riko berjalan dengan hati-hati masuk ke dalam rumah.
"Den Riko tidak apa-apa?" tanya bi Ina tiba-tiba membuat Riko terkejut.
"Ehh, bibi, iya bi Riko nggapapa, oh yah bi Citra mana?" tanya Riko sambil melihat-lihat sekeliling.
"Non Citra lagi di kamar den." ucap Bi Ina.
Riko langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya, sampai di depan pintu kamarnya Riko tidak langsung membuka pintu, karna ini saran dari Romi.
"Kalau misalnya dia di kamar, lo ngga boleh langsung masuk, tapi lo ketuk pintu kamar itu, buat dia penasaran, kemudian dia akan membuka pintu dan... tadaaaaa.. dia akan terkejut." Riko membayangkan perkataan Romi.
Riko pun semakin gugup saat ingin mengetuk pintu kamarnya sendiri dan merasa kalau perbuatannya tidak masuk akal.
"Ini demi papa.." gumam Riko lalu mengetuk pintu kamarnya sendiri.
tok... tok.. tok..
Citra yang sudah selesai berendam dan selesai memakai jubah di tubuhnya, merasa heran siapa yang mengetuk pintu.
"Apa itu bi Ina." gumam Citra lalu keluar dari kamar mandi dan beranjak membuka pintu dan terkejut saat Riko menyodorkan seikat bunga ke wajahnya. Kemudian Citra menatap Riko yang sudah tersenyum canggung ke arahnya dan membuat dia semakin bingung.
"Kak Riko lagi ngapain?" ucap Citra datar.
Riko terkejut dengan respon Citra yang biasa-biasa saja, malahan tatapan Citra seperti sedang menertawainya. Ekspektasi Romi tidak sesuai dengan realita yang dihadapi Riko saat ini, kemudian Riko murka dengan Romi.
Citra masih menatap Riko sinis, seketika Riko malu dan salting dia tidak tau lagi harus berkata apa, semua rencananya gagal.
"Apa bunga ini untuk aku?" tanya Citra dingin. karna Riko masih menyodorkan bunga itu kepada Citra.
Riko menurunkan bunga itu dari hadapan Citra.
"Bukan,, bunga ini untuk bi Ina. aku cuma mau minta pendapat kamu, apa bunga ini bagus atau tidak?" ketus Riko.
"Emm..." gumam Citra ingin memberi tanggapan tapi langsung di potong Riko.
"Bunga pilihan aku pasti bagus, ngapain harus minta pendapat kamu." ketus Riko lalu meninggalkan Citra menuju dapur menemui bi Ina.
Citra masih berdiri di ambang pintu sambil menatap punggung Riko yang sudah meninggalkannya.
"Dia itu kenapa sih.." gerutu Citra kesal.
Sementara Riko yang berjalan menuju dapur.
"Ngapain gue ngelakuin ini semua, percuma lagian dia juga udah baik-baik aja, dasar perempuan ngerepotin, dan Romi awas aja lo yah, tunggu pembalasan gue." gerutu Riko kesal sambil berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Sampai di dapur Riko tidak melihat bi Ina, dia kemudian membuang bunga itu kedalam tempat sampah.
Jangan lupa Vote, Like dan Comentnya yah Readers (>y<).