
Pagi hari Riko sudah rapi dengan pakaian kantornya, sementara Citra masih tertidur pulas, karna dia masih sangat kelelahan.
Riko terlihat sedang menelfon dengan Silfa sekretarisnya, setelah menelfon Riko perlahan-lahan mendekati istrinya kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut, lalu beranjak meninggalkan kamar menuju ruang makan.
Riko sengaja tidak membangunkan istrinya, karna Riko ingin istrinya istirahat yang cukup.
Sementara di ruang makan Mama Ayu dan Bi Ina masih menyiapkan sarapan di meja, sementara papa Indra duduk di meja makan sambil membaca koran dan menunggu istrinya selesai menyiapkan sarapan. Tidak lama kemudian Riko pun muncul.
"Selamat pagi, mah, pah." sapa Riko kepada orang tuanya.
"Pagi sayang." jawab mama Ayu yang masih sibuk menuang susu di gelas.
"Pagi bi." sapa Riko juga kepada bi Ina.
"Pagi den." jawab bi Ina kemudian kembali meninggalkan meja makan saat semuanya sudah siap.
"Istri kamu mana sayang? Kok ngga ikut turun sarapan bareng kita." tanya mama Ayu penasaran sambil duduk.
"Citra masih tidur mah." jawab Riko.
"Dia ngga ppa kan sayang?" tanya mama Ayu lagi, sedikit khawatir.
"Ngga kok mah,, dia cuma butuh istirahat yang cukup, karna dia masih kelelahan." jawab Riko santai sambil menggigit sandwichnya.
Sementara Mama Ayu dan Papa Indra sudah salah paham dengan perkataan Riko, membuat mereka saling bertukar pandangan dengan canggung.
Riko kemudian melihat kedua orang tuanya melamun.
"Mama sama papa kenapa? Kok melamun." tanya Riko bingung.
"Ehh ngga Rik, papa hanya bangga sama kamu, sangat bangga, hehe. Iyakan mahh." ucap papa Indra dan meminta persetujuan istrinya dan mama Ayu hanya tersenyum canggung.
Riko tidak menyadari bahwa orang tuanya salah paham, dia hanya fokus menghabuskan sarapannya kemudian berangkat ke kantor.
Next.
Romi sudah tiba di kantor, dia berjalan menuju ruangan Riko, dia berhenti sejenak saat dia tiba di ruangan Silfa, dan menyadari Silfa belum datang.
"Tumben dia belum datang." gumamnya, lalu masuk ke dalam ruangan Riko.
Romi menghela nafasnya dengan kasar, saat melihat meja kerja Riko masih kosong, itu artinya Romi kerja sendirian hari ini, karna Silfa belum datang dan Riko sudah hilang. Batinnya.
__ADS_1
Romi kemudian mencoba menelfon Silfa, untuk mengingatkan dia agar ke kantor tepat waktu, tapi tidak ada jawaban.
Romi terus menghubungi nomor Silfa sampai berkali-kali tapi tetap tidak ada jawaban, wajah Romi terlihat kesal saat telfonnya tidak di jawab oleh Silfa.
"Nasib gue gini amat sih,, udah jomblo, kerjapun harus jomblo." gerutu Romi
"Penyebab dari kejombloan gue ini adalah Riko,, tuh anak sebenarnya kemana sih,, telfon gue ngga diangkat, pesan gue ngga di balas, lama-lama gue jadi perjaka tua gara-gara terus menerus kerja sama dia." Gerutu Romi kesal. Kekesalannya sebenarnya bukan karna kerjaan, melainkan karna telfonnya yang tidak di respon oleh Silfa.
Sementara Riko yang sudah berada di depan pintu ruangannya, mendengar semua gerutu Romi, Riko pun segera membuka pintu dengan keras dan mengejutkan Romi.
"Jadi lo udah ngga mau kerja lagi sama gue, ya udah lo boleh pergi dari sini." ucap Riko tiba-tiba sambil berjalan menuju meja kerjanya.
Romi pun salah tingkah, karna ketahuan oleh Riko.
"Bukan gitu Rik, lo jangan marah dong." bujuk Romi lalu duduk di depan Riko.
Riko hanya melirik Romi dengan tatapan malas.
"Gue sebel aja sama si Silfa, masa jam segini dia belum dateng juga." ucap Romi membela dirinya dengan menyalahkan Silfa.
"Silfa ngga masuk hari ini, dia udah izin sama gue, dia lagi ngga enak badan." ketus Riko.
Mendengar perkataan Riko, membuat Romi khawatir.
Riko melihat ekspresi khawatir Romi dan mengingat perkataan papanya beberapa menit yang lalu, saat Riki hendak ke kantor, yang mengatakan bahwa sepertinya Romi suka sama Silfa.
"Ya udah, gue kasi lo cuti selama 2 hari." ucap Riko tiba-tiba.
"Maksud lo apaan Rik?" tanya Romi bingung, karna selama ini Riko tidak pernah memberinya cuti.
"Tadi lo mengeluh karna lo udah lama jomblo, dan lo nyalahin gue, ya udah gue kasih lo cuti 2 hari buat mengganti status jomblo lo itu, gue juga ngga mau lo jadi perjaka tua." ketus Riko membuat Romi senang sekaligus kesal.
"Eh Rik,, gue mana bisa nemuin cewek dalam 2 hari, lo fikir cewek itu barang online, nyampe dalam 2 hari." gerutu Romi kesal karna cutinya hanya 2 hari.
"Lo kan udah nemuin ceweknya, tinggal lo ungkapin perasaan lo ke dia, dia nerima lo, lo ngga jomblo deh, kan beres." ucap Riko lagi.
"Siapa maksud lo?" tanya Romi penasaran.
"Bukannya lo suka sama Silfa, udah sana lo temuin dia, rawat dia terus nyatain perasaan lo ke dia, jangan terus menerus di pendem, malu-malu kucing, sok-sok'an gak suka, padahal ngebet banget." ketus Riko.
"Gue bukannya ngga mau nyatain perasaan gue ke dia, cuma gue nunggu waktu yang pasa aja buat ungkapin perasaan gue." ucap Romi salah tingkah karna Riko mengetahui perasaannya.
__ADS_1
"Sampai kapan,, memangnya cowok yang Silfa kenal cuma lo,, hati-hati lo keduluan sama cowok lain." ketus Riko memperingatkan Romi.
Romi pun merasa takut dengan perkataan Riko, dia pun memutuskan untuk melangkah sekarang, karna memang perkataan Riko ada benarnya sekarang PHO dimana-mana. Padahal mereka belum jadian malah mikirin PHO.
"Rik." ucap Romi yang masih di ambang pintu.
"Paan." ketus Riko, tanpa melihat Romi.
"Lo ngga ppa gu tinggal." ucap Romi khawatir.
"Ngga ppa, lagian hari ini kerjaan gue cuma tanda tangan berkas doang, udah lo pergi aja, itu bonus buat lo, karna udah ngurus kerjaan selama beberapa hari selama gue ngga ada." ucap Riko dengan nada yang sedikit lembut ke Romi, membuat Romi merasa tersentuh karna moodnya Riko sedang baik.
"Rik,, bisa minta tambah cuti lagi ngga." ucap Romi dengan wajah memohon memanfaatkan mood Riko yang sedang baik.
Riko mengerutkan keningnya mendengar permintaan Romi.
"Lo di kasi hati, malah minta jantung,, gue berubah pikiran, ngga ada cuti." ucap Riko kesal.
"Ehhhh, jangan dong Rik, iya 2 hari gue terima." ucap Romi gugup lalu berlari meninggalkan Riko menuju ke rumah Silfa.
Next..
Mama Ratna dan Papa Bram sudah tiba di rumah besannya,, mereka datang untuk menjenguk Citra, karna semalam mama Ayu memberitahu mereka kedatangan Riko dan Citra.
Setelah saling sapa, mama Ayu dan mama Ratna kemudian berjalan menuju kamar Riko untuk membangunkan Citra yang masih tertidur.
Saat mama Ayu dan mama Ratna membuka pintu, mereka terkejut saat melihat Citra masih tertidur, dan seluruh tubuhnya masih ditutupi selimut, seketika mereka tersenyum licik,, pikiran mereka ke arah itu.
Mama Ayu mendekati Citra dan membangunkan Citra dengan mengelus pipi Citra dengan lembut sambil memanggil namanya.
Citra mengeliat saat mendengar namanya di sebut, dia membuka matanya pelan-pelan, dan terkejut saat mama dan mertuanya berada di kamarnya.
Citra langsung duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubunya, Citra meraa heran kenapa dia tidak memakai pakaian, sementara semalam dia tidak melakukan hal itu bersama Riko.
"Mama ngapain disini?" tanya Citra canggung dengan ibu-ibu itu yang sudah tersenyum senang melihat keadaannya.
"Mama mau bangunin kamu sayang,, ini udah hampir siang, kamu belum sarapan, sekarang kamu mandi terus turun sarapan." ucap mama Ayu sambil terus menatap Citra aneh.
"Iya mah.." jawab Citra canggung akibat tatapan mereka berdua.
Mereka pun meninggalkan Citra, Citra kemudian mengingat kembali kejadian semalam, ternyata Riko yang melepas semua pakaiannya saat tiba di rumah.
__ADS_1
Dia pun melihat jam dinding dan menyadari waktu memang sudah siang.
"Kok kak Riko ngga bangunin aku sih." gumamnya, lalu diapun bergegas masuk ke kamar mandi.