
Kevin bergabung dengan Maba Fakultasnya.
Indah melihat wajah Kevin yang terlihat sangat khawatir, karna memang barisan fakultas mereka berdekatan jadi Indah bisa melihat wajah Kevin.
"Kok Kevin sendiri sih, Citra mana, apa Citra baik-baik aja?" batin Indah khawatir.
Lusi juga sudah bergabung dengan senior yang lain.
"Lo dari mana sih?" tanya Dona teman Lusi juga senior.
"Gue habis liat Citra di hukum." ketus Lusi.
"Terus..."
"Dia Pingsan..."
"Haa seriusss, Terus sekarang dimana dia."
"Di bawa Doni,, mungkin ke ruang perawatan." jelas Lusi.
Doni sudah sampai di ruang perawatan, Doni memebaringkan Citra di atas ranjang.
"Dia kenapa?" tanya Luna dia adalah Perawat yang di tugaskan di ruangan perawatan. Luna menghampiri Citra dan memeriksa denyut nadi Citra.
"Dia pingsan." ucap Doni.
"Dia habis lari yahh,,?" tanya Perawat dan Doni hanya mengangguk.
"Dia mungkin belum sarapan,mengakibatkan perutnya keram dan akhirnya dia pingsan." jelas Luna itu.
"Tapi, dia ngga apa apa kan?" tanya Doni khawatir.
"Iya dia ngga apa apa, dia cuma butuh istirahat, ngga lama lagi dia bakal siuman kok." ucap Luna itu.
"Syukur deh." ucap Doni tenang.
Perawat itu menatap Doni Curiga.
"Siapa dia? sepertinya lo khawatir banget." ucap Luna itu.
"Iyalah gue khawatir, karna dia pingsan gara-gara gue, yang ngehukum dia lari keliling lapangan."
"Ya ampun senior-senior,, kejam banget sihh,, ngehukum junior sampai segitunya,, lo ngga tau apa lapangan kampus kita itu luas banget,, bisa-bisanya lo nyuruh dia lari keliling lapangan dengan perut kosong." ucap Luna itu ngga percaya.
"Gue juga ngga mungkin ngehukum dia tanpa sebab. Dia terlambat, dan aturan tetap aturan." ucap Doni.
"Hayeuhh,, emangnya lo nyuruh dia lari berapa kali putaran?" tanya Luna penasaran.
"Awalnya gue nyuruh dia lari 1x putaran, tapi Lusi tiba-tiba datang dan protes karna dia fikir gue ngasih hukuman ke dia terlalu ringan, makanya dia tambahin 2x putaran lagi." jelas Doni.
Luna hanya geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Doni yang dalangnya adalah Lusi.
Semua Maba sudah masuk ke dalam ruangan masing-masing Fakulta sesuai arahan Senior. Gosip menyebar dengan cepat bahwa Citra pingsan membuat Indah khawatir dengan Citra.
Indah berusaha mencari cara agar bisa keluar dari ruangan itu untuk melihat keadaan Citra. akhirnya dia mendapatkan ide, dia meminta izin keluar dengan alasan ke toilet.
Indah berusaha mencari ruang perawatan Citra.
__ADS_1
"Ruang perawatan dimana sih?" gumam Indah bingung sambil melihat sekeliling.
Dia melihat senior sedang berjalan ke arahnya.
"Kalau aku bertanya sama kakak ini,,apa aku akan ketahuan." batin Indah menatap senior itu yang jaraknya sudah semakin dekat.
Indah ragu-ragu untuk bertanya tapi dia tetap mencobanya.
"Emm, kak maaf, aku mau nanya ruang perawatan dimana yah?" tanya Indah menunduk.
"Kamu sakit?" tanya senior itu membuat Indah bingung mau jawab apa.
"Kamu lurus aja dari sini, terus nanti kamu belok kanan, disitu udah deket kok, nanti kamu bisa cari ruangan yang bertuliskan ruang perawatan." jelas senior itu lalu meninggalkan Indah.
Indah segera berlari menuju arah yang di tunjukkan senior itu. Kini Indah sudah berdiri di depan ruangan perawatan, Indah bermaksud membuka pintu, tapi Doni sudah lebih dulu membuka pintu itu..
"Ehh,, Indah kan,, kamu kesini mau jenguk Citra?" tanya Doni.
"Iya kak." jawab Indah.
"Ya udah masuk dia di dalam, dia udah siuman kok, kalau gitu aku pergi." ucap Doni tersenyum ke arah Indah.
"Iya kak." Jawab Indah.
Indah menatap punggung Doni..
"Dia senior yang paling ramah di kampus ini." batin Indah lalu masuk ke dalam.
"Kamu siapa, kamu sakit..?" tanya Lunamelihat Indah yang masuk ke dalam.
"Ngga kak, aku cuma mau liat keadaan Citra." Ucap Indah canggung.
Indah segera menghampiri Citra. Indah menatap Citra dengan tatapan yang khawatir.
"Pasti Kamu ngga sarapan lagi kan." tanya Indah khawatir.
"Tadi ngga sempet soalnya aku telat bangun." ucap Citra lemas.
"Perut kamu masih sakit? muka kamu pucat banget Cit." tanya Indah khawatir sambil memegang wajah Citra.
Citra mengangguk " Iya ndah Perut aku masih sakit, soalnya aku juga lagi dapet,," ucap Citra.
"Ya ampun,, bentar yah.." ucap Indah lalu meninggalkan Citra menuju Luna yang sedang mencari-cari obat.
"Kak,, apa kakak punya obat penghilang nyeri haid." tanya Indah.
"Nihh.." ucap Luna lalu menyerahkan obat yang tadi dia cari, Luna dari tadi mendengar pembicaraan mereka.
"Makasih kak." ucap Indah lalu kembali ke Citra.
"Ini obat kamu, kamu istirahat disini dulu, aku beliin kamu makanan, habis itu kamu minum obat ini. yah." Ucap Indah menatap Citra yang sudah terlihat lemas.
Luna hanya sesekali melirik mereka berdua dari mejanya, Luna sangat kagum dengan persahabatan mereka yang saling memberikan perhatian.
"Indah,, anterin aku sampai di depan kampus yah,, untuk cari taksi aku mau pulang aja. Aku ngga nyaman disini." ucap Citra.
"Kalau kamu pulang, siapa yang merawat kamu di rumah?" tanya Indah khawatir.
__ADS_1
"Di rumah ada suami aku kok, dia bisa ngerawat aku." ucap Citra meyakinkan.
"Kamu yakin.." ucap Indah dan Citra hanya mengangguk.
"Ya udah aku anterin." ucap Indah lalu berusaha membantu Citra untuk turun dari tempat tidur lalu memapah Citra.
"Kak aku anterin Citra dulu." ucap Indah lalu tersenyum ke arah Luna itu, Luna pun membalas senyuman Indah.
"Kamu harus sarapan dengan teratur, dan 1 lagi, kalau kamu merasa sangat sakit di perut kamu saat haid, kamu bisa mengusap perut kamu dengan lembut." ucap Luna kepada Citra, dan Citra hanya mengangguk.
"Makasih yah kak. aku anterin dia dulu." ucap Indah lalu meninggalkan ruang perawatan.
Next..
Kantor Riko.
Romi Masuk ke dalam ruangan Riko dan melihat meja kerja Riko kosong, dia kemudian keluar dan bertanya kepada sekretaris Riko.
"Riko belum datang?" tanya Romi.
"Iya dia belum datang, padahal ada berkas penting yang harus dia tanda tangani." ucap Silfa tanpa menatap Romi.
"Kemana dia, ngga biasanya jam segini dia belum ke kantor." gumam Romi.
"Lo udah telfon dia?" tanya Romi lagi.
"Udah, tapi ngga di angkat." ucap Silfa.
"Ya udah biar gue coba telfon lagi.." ucap Romi lalu menelfon Riko.
*tuuuuuuttt...
"Ada apa*?" Ucap Riko di seberang telfon.
"Lo ngga ke kantor Rik, disini ada berkas penting yang harus lo tanda tangani." Jelas Romi.
"Iya gue tau,, ini gue juga udah mau jalan." Ketus Riko lalu memutuskan telfon.
"Kebiasaan." ucap Romi kesal karna Riko memutuskan Telfon sepihak.
"Bentar lagi dia dateng." ucap Romi kepada Silfa. Silfa mengerutkan keningnya bingung ke arah Romi.
"Kenapa?" tanya Romi.
"Kenapa lo ngasi tau gue,, kan yang nyariin pak Riko itu lo." ketus Silfa yang membuat Romi salting lalu meninggalkan Silfa.
Skip..
Riko yang sudah siap-siap untuk ke kantor turun ke lantai bawah sambil membawa komputernya dia duduk di ruang tamu dan memeriksa sesuatu di komputernya.
Sementara Citra yang sudah tiba diantar oleh taksi, berjalan masuk ke dalam rumah dengan lemas sambil menahan sakit perutnya akibat nyeri haid.
Citra masuk ke dalam rumah dan mendapati Ruang tamu yang sangat berantakan.
"Ya ampun kenapa berantakan gini sih." batin Citra mengeluh lalu pandangannya tertuju ke Riko yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Citra hanya menatap Riko sinis sambil menahan sakitnya lalu berjalan menuju kamarnya dengan lemas tanpa memperdulikan Riko.
__ADS_1
Riko yang cuek itu juga sama sekali tidak menghiraukan Citra. dia tetap fokus mencari sesuatu di laptopnya.
Setelah dia mendapat file yang dia cari. Riko segera berangkat ke kantornya.